Kezia Story

Kezia Story
BAB 78



Kisah cinta Bun Ho dan Bibi Ong sangat tragis, meski bibi Ong tidak tinggal bersama di kediaman Bun Ho namun Cai Lin tetap tidak melepaskannya.


Hingga akhirnya Bin Ho memutuskan untuk mengambil beberapa selir untuk menyiksa perasaan Cai Lin dan mengabaikan putranya.


Saat Bun Ho mengambil selir Lin Jie ia telah memberitahu bibi Ong. Selir Lin Jie memiliki seorang putri yang di beri nama Qian Chu Min. Saat Chu Min berusia 4 tahun, ia di ajak pergi ke rumah bibi Ong.


Chu Min kecil bertemu dengan bibi Ong sangat manja dan bibi Ong juga sangat menyayanginya ia seperti memperoleh pengganti anaknya yang telah tiada. Sejak saat itu bibi Ong sudah menganggap Chu Min seperti anaknya.


Setelah Chu Min menikah bibi Ong mengikutinya dan membantu dan selalu mendukung apa pun yang di lalukan Chu Min.


‘****


Sejenak Bun Ho sadar dari kenangan masa lalunya, bibi Ong melepas pelukan Bun Ho. Setelah menceritakan keadaan Chu Min, dan Bun Ho memberi pesan yang harus di sampaikan kepada Chu Min. Bibi Ong meninggalkan kediaman Bun Ho dan kembali ke kediaman Jun Ho untuk melapor kepada Chu Min.


Bibi Ong kembali dan menyampaikan pesan Bun Ho kepada Chu Min. Chu Min harus menunggu ayahnya beraksi, ia tidak di perbolehkan melakukan tindakan tanpa persetujuan dari ayahnya.


Sementara Jun Ho tidak memedulikan Chu Min, ia memanggil putrinya dan memberitahukan bahwa dirinya ada tugas dari kaisar Tang. Ia harus pergi ke perbatasan yang sedang di kacaukan oleh pemberontak.


Mey Yui menemui ayahnya di kediamannya, ia tak tahu mengapa tiba-tiba ayahnya memanggil. Kelima pengawalnya mengikutinya dari belakang.


Melihat kelima gadis yang mengekorinya dari belakang, ia tersenyum. Dalam hatinya tertawa ngakak.


“Ampun dech! Kalo aku pergi ke mana-mana lima gadis ini mengekoriku terus, kok seperti artis papan atas yang mau konser!” batin Mey Yui sambil senyum-senyum sendiri.


“Aku bisa dianggap gila jalan sambil senyum-senyum sendiri!,” batinnya lagi.


Mey Yui dan kelima gadis yang mengekorinya telah sampai di kediaman ayahnya. Mey Yui masuk sendiri ke dalam kamar ayahnya.


“Ayah, Yui’er memberi hormat!” sapa Mey Yui kepada Jun Ho


“Kemarilah, sayang! Ada yang ingin ayah katakan,” jawab Jun Ho kepada Mey Yui.


Mey Yui melangkahkan kakinya mendekat kepada ayahnya.


“Apa yang ingin ayah katakan?” tanya Mey Yui sambil menggoyang-goyangkan tangan Jun Ho.


Jun Ho tersenyum dan mencubit pipi putrinya dengan gemas.


“Ayah mendapat tugas dari kaisar untuk menumpas para pemberontak yang mulai membuat kekacauan di desa-desa dan area perbatasan,” ucap Jun Ho sambil mengelus-elus kepala putrinya.


“Apakah Yui’er boleh ikut dan membantu ayah? Yui’er ingin sekali mendapatkan pengalaman di luar,” tanya Mey Yui sambil merayu ayahnya.


Jun Ho mengerutkan dahinya, mendengar keinginan putrinya. Lalu ia menggelengkan kepalanya.


“Ayah tak akan mengizinkanmu ikut ke perbatasan. Di sana sangat berbahaya dan belum lagi perjalanan menuju ke perbatasan. Tidak boleh!” jawab Jun Ho dengan tegas.


Mey Yui mulai memainkan drama, ia memasang muka sedih.


“Ayah ijin kan Yui’er ikut dengan ayah, Yui’er bisa menjaga diri. Yui’er janji tidak akan merepotkan ayah dan membuat ayah kuatir,” rayunya kepada ayahnya.


“Tidak! Kamu tidak boleh ikut! Ayah sangat mengawatirkanmu, kamu putri kesayangan ayah! Jika terjadi sesuatu denganmu, ayah tak mau!” jawab Jun Ho.


“Kenapa ayah tega sekali! Yui’er baru berkumpul dengan ayah, sekarang akan di tinggal pergi dan tidak tahu kapan bisa bertemu lagi. Kak Ming Se juga seperti ini, baru bertemu dan bersama dengan Yui’er sudah pergi lagi. Yui’er baru saja merasakan kasih sayang dari ayah dan kakak,” ucap Mey Yui sambil berakting menangis.


Jun Ho tak tega melihat putri kesayangannya menangis kemudian oa memeluk putrinya.


“Yui’er ingin bersama ayah,” ucap Mey Yui dengan terisak di pelukan ayahnya.


“Baiklah! Ayah mengizinkanmu mengikuti ayah tapi kamu harus selalu dekat dengan ayah. Saat perjalanan kamu harus bersama dengan ayah,” jawab Jun Ho.


Mey Yui senang dan tersenyum di pelukan ayahnya.


“Yes.. yes..! Aktingku ternyata bagus juga, bisa jadi aktris Hollywood dan dapat piala Oscar!” batin Mey Yui sambil tersenyum.


Mey Yui melepaskan diri dari pelukan ayahnya. Dan mencium pipi ayahnya dengan gembira. Ia lonjak-lonjak kegirangan seperti anak kecil.


“Terima kasih ayahku sayang!” ucap Mey Yui dan kemudian mencium ayahnya dan berlonjak-lonjak kegirangan.


“Aku akan pergi bersama ayah!” ucapnya sambil tersenyum.


Jun Ho melihat tingkah putrinya hanya tersenyum dan mengingat masa kecil putrinya. Yang tidak pernah berubah meski sudah beranjak dewasa.


Mey Yui kecil di saat mendapatkan sesuatu atau saat ia gembira dengan kedatangan Jun Ho setelah mencium pipinya pasti berlonjak-lonjak kegirangan.


Jun Ho tersenyum bahagia, saat ini ia merasakan kebahagiaan dalam hidupnya telah kembali sejak istrinya meninggal.


“Kapan kita akan berangkat ke perbatasan, ayah?” tanya Mey Yui lepada Jun Ho.


“Besuk kita berangkat pagi hari,” jawab Jun Ho.


“Baiklah, Yui’er akan kembali untuk mempersiapkan bekal dan pakaian yang akan Yui’er bawa,” ucap Mey Yui.


“Kamu tidak perlu membawa bekal makanan! Bawa pakaian dan peralatanmu sendiri saja,” balas Jun Ho.


Mey Yui menganggukkan kepalanya, lalu ia mencium pipi ayahnya lagi dan kemudian ia meninggalkan kamar ayahnya.


Jun Ho hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


“Putrimu tidak berubah sama sekali, Lan’er. Dia cantik sepertimu, tingkah lakunya tak berubah. Dia masih putri kecil kita,” ucap Jun Ho lirih.


Kemudian Jun Ho memanggil Wen An untuk memperketat pengawalan mereka selama perjalanan menuju perbatasan. Karena putri kesayangannya ingin ikut ke perbatasan. .


Wen An mendengar Mey Yui ikut ke perbatasan hanya tersenyum. Ia ingin melihat kejutan apa yang akan mereka dapatkan.


Tanpa di ketahui oleh tuan dan nonanya, Wen An pernah menyaksikan pertarungan Mey Yui dengan pengawal putri salah satu menteri di area pasar.


Namun Wen An belum melaporkan kejadian kepada tuannya. Ia menunggu Mey Yui sendiri yang memberitahu kepada ayahnya.


Wen An pamit undur diri kepada Jun Ho untuk mempersiapkan keamanan dan perbekalan mereka selama di perjalanan.


Sementara Mey Yui kembali ke rumah reyotnya. Ia memanggil semua pelayan dan pengawalnya.


“kalian semua sudah berkumpul di sini, aku ingin menyampaikan pada kalian semua. Besuk pagi aku akan mengikuti ayahku pergi ke perbatasan. Kalian bersiap-siaplah, aku akan memasak. Sebelum kita melakukan perjalanan, aku ingin kita semua makan bersama,” ucap Mey Yui.


Para pelayan dan pengawal bayangan hanya menganggukkan kepala. Karena mereka sudah mengetahui sifat dan karakter dari nona mudanya.


*****


Terima kasih dan mohon maaf jika kurang berkenan dengan ceritanya. 🙏


Jangan lupa Like dan komentarnya