
A Sen melihat dan memperhatikan Mey yui dengan pandangan yang sulit diartikan, merasakan seperti dipandangi seseorang Mey Yui menoleh. Mata A Sen dan Mey Yui bertemu, kemudian A Sen menghela nafas panjang.
“Kenapa kakak melihatku seperti itu,” tanya Mey Yui
“Apakah kamu tahu jika Ardi mencintaimu?” A Sen tanya balik ke Mey Yui
Mey Yui terdiam, kemudian Ming Se mendekati adiknya dan berkata, ”Aku sudah memberitahunya, Sen!”
“Aku sangat kasihan dengannya, saat kamu meninggal di jaman modern betapa hancurnya hati Ardi. Dia menangis dan menyesal hingga nekat menyerahkan nyawanya pada Mafia yang menjadi musuh besar keluarganya dan yang membantu dalang dari kecelakaan kalian. Sebelum berangkat ke markas musuhnya dia hanya berpesan jika dia mati menyusulmu, dia minta dimakamkan di sampingmu.”
“Saat itu aku marah mendengar ucapannya, aku tidak ingin kehilangan sahabat lagi. Radit juga marah dan mengingatkannya agar jangan gegabah menghadapi musuhnya. Tapi dia tidak mau mendengar nasihat kami.”
“Di dalam pikirannya hanya ingin bersamamu dimana pun kamu berada.” cerita A Sen sambil berkaca-kaca.
Mey Yui menangis dalam pelukan kakaknya, hatinya sedih dan tak tahu harus bilang apa?
“Jangan menangis lagi, sayang. Kakak tahu kamu pasti sedih, kita doa in yang terbaik saja, ya!” Kenzo berusaha menghibur dan menenangkan adik kesayangannya.
“Sori, Mey! Bukannya kak Asen menambah kesedihan hati mu, tapi kakak hanya ingin kau tahu jika sahabat kakak sangat mencintaimu,” ucap A sen sambil mengusap raut wajahnya
“Stop.. saat ini kita jangan membahas masa lalu dulu. Zaman kuno ini siapa yang kuat dia yang menang, tubuh kita pinjam ini terluka parah akibat penyergapan musuh di hutan kematian. Lebih baik sekarang kita memperbaiki datian dan meridian kita, A Sen! seperti yang disarankan Mey Yui,” ucap Ming Se pada A Sen.
“Kamu benar, aku ikut saja bagaimana baiknya. Aku juga tidak paham apa-apa nie,” balas A Sen sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal
“Dek, ayo anterin kakak dan A Sen berendam di kolam surgawi. Kakak juga sudah kangen sama masakan kamu,”
“Tunggu-tungu, kita mau ke mana ini? Kolam surgawi di mana letaknya? Aku tak sanggup kalo harus jalan kaki, kamu lihat kakiku yang tidak menggunakan alas kaki. Sepatu atau sandal, rasanya nyeri semua kena batu kerikil,” protes A Sen
Ming Se dan Mey Yui saling tatap dan kemudian mereka berdua tertawa ngakak.
“Sialan, kalian berdua. Kalian tertawa bahagia di atas penderitaanku! Lengkap sudah penderitaanku,” ucap A Sen.
Mey Yui yang tidak bisa menahan tawanya, ia ngakak sampai keluar air matanya
“Kak Ming Se, sudah donk! Kasihan tuh lihat wajah kak A Sen seperti orang idiot, dari tadi garuk-garuk kepalanya dan ekspresi wajahnya itu lo! Hahaha…” Mey Yui tertawa terus.
“Ayo ikut saja jangan banyak komen, kamu mau makan steak sama minum jus alpukat apa tidak?” goda Ming Se kepada A Sen.
“Brengsek..! Kamu, ya! Ngerjain aku, jus alpukat? blendernya di colok ke hidungmu? jangan listrik, kompor minyak tanah saja di sini belum ada!” A Sen kesal merasa di kerjain kakak adik yang ada di depannya.
“Hahaha.. “ Ming Se dan Mey Yui tertawa .
“Sudah, kak! Nanti kalian tidak jadi berendam di kolam,” ucap Mey Yui
Mereka bertiga bergandengan tangan dan pergi ke ruang dimensi, dalam sekejap mereka menghilang dari gua.
“Buka mata kak A Sen, kita sudah sampai,” ucap Mey Yui.
A Sen membuka matanya, ia terkejut melihat ruang dimensi Mey Yui, ia berjalan menuju bangunan rumah yang biasa Mey Yui dan Ming Se tinggali.
“Bangunan ini seperti rumah di zaman modern, aku mau tinggal di sini saja,” kata A Sen.
Ming Se dan Mey Yui tersenyum melihat tingkah A Sen seperti anak kecil yang menemukan mainan baru. A Sen membuka pintu setiap kamar dan melihat apa yang ada di dalam kamar, ketika ia menemukan kamar tidur yang biasa di gunakan Ming Se. Ia sangat senang sekali berlari menuju ranjang king size itu.
Ming Se dan Mey Yui saling pandang dan tersenyum., mereka menghampiri A Sen yang sedang berguling-guling di ranjang king size.
“Kak A Sen ini kamar tidur kak Ming Se, masih ada kamar kosong buat kakak,” kata Mey Yui mengganggu kesenangan A Sen.
“Dek! Bisa tidak, ya! Kamu tidak mengganggu kesenangan kakakmu ini, aku salah apa sama kamu? Dari zaman modern sampai mundur ke zaman kuno, kamu paling senang banget lihat kesengsaraanku,” protes A Sen kepada Mey Yui.
Ming Se tertawa melihat A Sen dan Mey Yui, dari Zaman modern yang namanya Kezia kalau ketemu dengan Yoseph pasti seperti tom and jerry berantem melulu. Tapi anehnya kalau salah satu tidak kelihatan pasti dicari.
“hahaha.. bukannya aku mengganggu kesenangan kakak, aku hanya mengingatkan masih ada kamar yang khusus buat kak A Sen. Daripada sudah ngiler terus di bangunin bagaimana, hayoo! Aku tau kalo kakak sudah bau aroma bantal dan guling pasti molor, kalo sudah molor susah banget di bangunin.”
“Oke, kamu menang! Kamu memang adikku yang mengerti aku,” A Sen mengajak keluar kamar minta ditunjukkan kamar untuknya.
Mey Yui tersenyum dan keluar kamar menuju kamar yang akan ditempati oleh A Sen. Kedua kakaknya mengikutinya dari belakang, sampailah mereka bertiga di kamar yang akan di tempati A Sen.
“Ini apartemenku, unit studio! Say thanks, ya! kalian sudah mengantarkan aku ke apartemen! Mey Yui lebih baik sekarang lebih baik kamu masak yang enak, perut kakakmu ini sudah lapar. Dan Ming Se, lebih baik kembali ke kamarku sendiri. Kita tunggu masakan Mey Yui di kamar masing-masing, kalau masakan sudah siap adek pasti memanggil kita” A sen mengusir Ming SE dan Mey Yui secara halus.
“Kalau itu hanya akal-akalan kakak saja untuk mengusir kita biar kakak bisa molor alias tidur,” ledek Mey Yui.
“Nah.. itu tau.. buruan sana pergi.. siapin masakan yang enak buat kakak-kakakmu yang ganteng ini,” A Sen merangkul Mey yui dan mendorong tubuh Ming Se agar segera keluar dari kamar tidurnya.
“Bener-bener kebo, kakakku yang satu ini.” Mey Yui ngomel keluar dari kamar A Sen di susul oleh Ming Se senyum-senyum sendiri.
“Kak Ming Se sehat?” tanya Mey Yui
Ming Se mengerutkan dahinya dan menaruh tangannya di dagu memandang wajah adeknya.
“Maksud loh?” tanya Ming Yui yang sudah tau arah pembicaraan adiknya yang suka usil.
“Maksud aku, kakak sehat-sehat saja,kan? Aku sedikit kuatir keluar dari kamar kak A Sen, kak Ming Se senyum-senyum sendiri. Inget lo kak, di sini gak ada yang namanya rumah sakit jiwa!” selesai bicara Mey Yui langsung mengambil langkah seribu, takut dijitak kakaknya.
“Dasar adek lucknut, kamu pikir kakakmu gila…! Sialan! Dasar anak nakal, jangan lari! Kakak jitak baru tau rasa.”Ming Se mengejar adiknya.
Mereka kejar-kejaran sambil tertawa, sejenak melupakan apa yang sudah terjadi. Gelak tawa mereka sangat keras, sehingga menarik perhatian Xio-xio yang sedang berkultivasi di rumput surgawi. Di area sana ada pohon besar yang rindang, energi qi nya sangat besar.
Perlahan Xio-xio membuka matanya dan ia mencium aroma Mey Yui yang dianggap sebagai ibunya. Ia berlari menuju ke tempat Mey yui bercanda dengan kakaknya.
“Ibu.. ibu sudah kembali, xio-xio sangat merindukan ibu.” Xio-xio melompat-lompat minta digendong Mey Yui.
“Anak pintar, ibu juga merindukanmu. Apakah kamu sudah selesai berkultivasi, sayang?” tanya Mey Yui.
“Sudah, bu! Xio-xio sudah selesai beberapa hari! Kata kak Mao-mao, aku bisa istirahat dulu selama satu minggu. Xio-xio istirahat sambil bermeditasi di pohon kehidupan, bu” ucapnya dengan manja sambil mengibas-ngibaskan ekornya.
“Anak rajin! Ibu akan memasak kamu ikut atau mau bermain dengan paman Ming Se?’ tanya Mey Yui
“Xio-xio ikut dengan ibu saja, xio-xio sangat merindukan ibu,” jawab Xio-xio.
“ Baiklah mari kita ke dapur dan memasak yang enak,” Ajaknya
Mereka pun pergi ke dapur bersama sedangkan Ming Se di tinggal sendiri.