
Di Kerajaan Li tepatnya di istana kediaman permaisuri Li Xin Xia, para dayang disibukkan dengan permintaan permaisuri yang menginginkan pesta kesembuhannya yang mendadak. Sebenarnya hanya alibi permaisuri saja mengadakan pesta dengan alasan kesembuhannya, pesta yang sebenarnya adalah acara ajang mencarikan jodoh putranya. Mengetahui putranya akan pergi berkelana lagi dan ia tak tahu kapan kembalinya, permaisuri langsung gerak cepat mengadakan pesta.
Sementara Yuan di dalam istananya mendengar laporan dari pengawal setianya bahwa ibundanya sedang bersiap membuat pesta, ia segera bersiap-siap kabur untuk menghindari rencana ibundanya yang akan menyodorkan beberapa gadis yang akan dijadikan permaisurinya.
“Aku harus segera pergi meninggalkan istana sebelum ibunda menyuruhku mendekati pada gadis-gadis yang diundang di pesta ibunda,” pikir Yuan
“Ibunda pasti menyebarkan mata-mata untuk menjagaku agar tidak kabur, aku harus memanggil San Bin,” gumamnya dalam hati.
Yuan memanggil San bin tak lama San Bin muncul dengan menggunakan pakaian serba hitam. selama di istana San Bin menjadi pengawal bayangan dan tidak pernah muncul jika tidak dipanggil Yuan.
“Salam kepada putra mahkota,” ucap San Bin
Yuan melambaikan tangan tanda salam diterima, kemudian Yuan duduk dan memanggil San Bin untuk lebih mendekat. Karena ia tak ingin rencananya di dengar oleh orang suruhan ibundanya.
Yuan menulis di meja dengan menggunakan teh yang ada di cawan, setelah San Bin membaca setiap tulisan Yuan, ia pun segera menghapusnya.
Di dalam tulisan Yuan yang ada di meja,
“Siapkan kudaku di luar gerbang ibukota, 3 jam sebelum pesta dimulai aku menyusulmu. Lakukan dengan baik jangan menimbulkan kecurigaan atau ketahuan orang-orang ibunda.”
San Bin hanya mengangguk setelah itu melesat dengan cepat, Yuan berpura-pura tidur kembali. Kasim setia ibundanya datang ke istananya untuk mengecek putra mahkota agar tidak kabur. Namun ditolak oleh pengawal Yuan, karena Yuan masih istirahat setelah bepergian mencari bahan obat permaisuri.
Permaisuri menganggap putranya masih istirahat dan belum mengetahui rencananya, untuk memastikan jika putranya masih istirahat di istananya ia mengirim kasim setianya.
Yuan mendengar jika kasim setia ibundanya kembali, ia bergegas berganti pakaian serba hitam seperti pengawal bayangan. Untuk menghindari kecurigaan para pengawal bayangan milik ibundanya.
Yuan melesat keluar istana menuju keluar gerbang kerajaan Li untuk menemui San Bin yang sudah menunggunya di pinggir hutan kerajaan Li.
“Akhirnya aku bisa kabur dari ajang pencarian jodoh yang ibundanya siakan, ibunda pasti murka,” gumamnya terlihat senyum menyeringai di sudut bibirnya.
Yuan melesat menyusul San Bin yang telah menunggu dengan membawa kesayangannya dan mereka melaju kudanya dengan cepat meninggalkan kerajaan Li. Yuan dan San Bin menyusuri hutan yang lebat tujuan Yuan saat ini ingin berkelana ke kerajaan Tang. Ia merasakan ada sesuatu yang menunggunya di kerajaan Tang, sambil mencari penawar racun untuk naga penjaga yang berada di ruang dimensinya.
Saat Yuan sedang asyik menikmati perjalanannya bersama San Bin, di kerajaan Li di istana kediaman permaisuri Xin Xia mengalami kekacauan dikarenakan Putra Mahkota Li Yuan kabur. Permaisuri sangat murka setelah mendapat laporan dari kasim setianya bahwa putranya telah kabur meninggalkan kerajaan.
“Anak tengik.. Lolos lagi, dia dari rencanaku,” geramnya.
Raja Li Bian yang melihat istri tercintanya ngomel-ngomel hanya tersenyum, karena hal seperti ini sering terjadi. Maka ia tidak kaget dan percuma marah, karena dulu ia saat muda juga melakukan hal yang sama seperti putranya. Kabur!
“Sayang… Lihatlah kelakuan putramu! Aku sudah diam-diam menyiapkan pesta untuk mencarikan calon permaisuri nya, ketahuan juga olehnya, dasar anak licik seperti ayahandanya,” omel permaisuri Xin Xia
“Tunggu.. tunggu sayang…! Kenapa jadi aku yang kena? Apa salahku?” rajuk raja Li Bian
“Bukankan sifat Yuan menurun kamu? Saat kamu muda juga sering kabur saat ibu Suri mengadakan pesta? Sekarang putramu menurun! Buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya!’ seru Permaisuri Xin Xia.
Raja Li Bian tidak bisa berkata apa-apa hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Sayang kenapa kamu marah-marah tidak jelas hanya karena anak tengik itu,” rayu raja Li Bian
“Ayahanda sama putranya sama saja, lebih baik aku pergi melihat kesiapan pesta nanti,”ucap permaisuri Xin Xia lalu meninggalkan suaminya yang terbengong.
“La.. Aku kok ditinggal, sayang? Aku datang kesini karena merindukanmu! Ini gara-gara anak sialan itu kabur.. Istriku jadi marah,” gerutu raja Li Bian
Ia keluar mengejar istrinya yang sedang marah gara-gara putranya kabur, padahal dalam hati raja Li Bian mengunjungi istrinya mau minta jatah kikuk.. Tapi ternyata di luar ekspektasinya, jatah kikuk tidak ada justru dapat penyaluran amarah dari sang istri tercintanya.
Kita tinggalkan raja Li Bian yang lagi kesal karena tidak dapat jatah kikuk dari sang istri tercinta.
Ming Se dan kedua saudaranya telah sampai di desa dekat pinggiran hutan bambu, mereka mencari kedai untuk beristirahat sejenak. Banyak orang yang melihat mereka, terutama para lelaki yang penasaran dibalik wajah cadar Mey Yui.
“Dek, ayo cari tempat buat istirahat,” ajak Ming Se
“Betul, aku malas juga kalo rame kita tidak bisa ngobrol dan bercanda bebas. Kuatir keceplosan menggunakan bahasa gaul jaman modern, bisa-bisa aku dianggap gila,” ucap A Sen.
“Baiklah, ayo kita ke kedai yang ujung itu,” ajak Ming Se.
Mereka berjalan menuju kedai yang agak sepi tersebut, saat mereka melangkahkan kaki memasuki kedai pemilik kedai telah menyambut mereka. Pemilik kedai adalah kakek sudah sangat tua.
“Silahkan datang di kedai saya, tuan-tuan dan nona,” sapa pemilik kedai.
“Kakek, apakah di sini menyediakan ruangan khusus?” tanya Mey Yui.
“Ada nona! silahkan mengikuti saya, akan saya tunjukan,” jawab kakek pemilik kedai.
Mereka Pun mengikuti kakek tersebut menuju ruang privasi untuk mereka bertiga.
“Silahkan, tuan-tuan dan nona,” ucap kakek pemilik kedai mempersilahkan.
“Kakek, kenapa kedai ini sepi? Padahal aku lihat kedai kakek sangat nyaman?” tanya Mey Yui.
“Maaf nona, dulu kedai saya sangat ramai namun sejak kedatangan orang yang membuka kedai di ujung depan dan munculnya kawanan orang jahat yang suka mengancam para pengunjung kedai kakek, tidak ada yang berani lagi datang ke sini. Pemilik kedai baru itu bekerja sama dengan kawanan orang jahat itu,” cerita kakek pemilik kedai.
“Apakah kawanan itu penduduk daei desa ini, kek?” tanya Mey Yui
“Mereka bukan dari penduduk desa ini, nona. Yang saya ketahui kawanan itu berasal dari hutan sunyi dekat perbatasan. Mereka datang ke sini beberapa bulan yang lalu, banyak kekacauan yang ditimbulkan oleh mereka. Banyak anak gadis yang diculik dibawa ke hutan,” jelas Kakek pemilik kedai.
“Sebelumnya saya minta maaf, tuan-tuan dan nona. Kalian bukan penduduk desa ini, saya mengingatkan terutama kepada nona! supaya berhati-hati jangan jauh-jauh dari kedua saudaramu,” ucap kakek pemilik kedai memperingatkan Mey Yui.
“Terima kasih, kek. Sudah mengingatkan adik perempuan kami,” jawab A Sen.
Kakek Pemilik kedai meninggalkan ruangan untuk menyiapkan pesanan meraka.
“Kak, aku curiga para pengacau itu kawanan para pemberontak yang ditemukan markasnya oleh pemilik asli tubuh kak Ming Se,” ucap Mey Yui
“Kamu benar, dalam ingatan pemilik tubuh asli menemukan sarang pemberontak secara tak sengaja,” jelas Ming Se.
“Sebelum kita bertemu, Ibu kunti mendapatkan perintah dari ayahnya agar membunuhmu dengan menggunakan racun. Aku harap kakak berhati-hati pada saat di rumah, mereka pasti menjalankan rencananya,” Mey Yui mengkhawatirkan kakaknya
“Kakak akan berhati-hati, bila perlu racun yang diberikan pada kakak kita oper saja ke anak kunti. Bagaimana menurut kamu? kita buat senjata makan tuan!” ucap Ming Se
“Itu ide yang bagus, kita buat adik tirimu yang minum racun pemberian ibunya sendiri,” seru A Sen.
“Tapi bagaimana dengan ayah, kak? Pasti ayah sedih jika anaknya kena racun dan mati,” kata Mey Yui.
“Aku kok gak yakin kalo Mey Fang itu anak kandung ayah, secara fisik wajahnya tidak ada mirip ayah dan ibu kunti! Coba kalian ingat-ingat wajah anak kunti gak ada mirip sama sekali. Aku yakin pasti anak orang lain. Kasian juga Jenderal perang di bego-begoin sama selir yang seperti ondel-ondel,” ucap Ming Se sambil tertawa
“Bener Ming Se, Apalagi Mey Fang seperti wayang golek kalo berdandan! Gayanya seperti gadis tercantik di kerajaan Tang. Padahal yang benar adalah gadis tercantik di kerajaan kera,” seru A Sen.
Ming Se yang sedang minum teh mendengar perkataan A Sen tidak kuat menahan tawa langsung menyemburkan teh yang ada di mulutnya ke wajah A Sen.
“Hahaha….”
Mey Yui dan Ming Se tertawa ngakak melihat wajah A Sen kena sembur teh.
“Sialan kamu, Ming Se! Kalo mau nyemburin teh kira-kira dunk! Masa wajah seganteng ini kamu nodai,” protes A Sen
‘Hahaha…! Kakak kebiasaan kalo ngomong gak disaring pakai filter, masa tercantik di kerajaan kera, berarti simpanse cewek dunk!” ucap Mey Yui.
Mereka bertiga tertawa ngakak membahas Lie Mey Fang dan ibu nya.