
MeY Yui dan Yuan menyusul kedua kakaknya yang sedang berkultivasi di kolam air emas. Mereka ikut masuk dan mengambil tempat untuk berkultivasi.
Mereka berempat berkultivasi di kolam air emas. Setelah Yuan masuk ke dalam air dan duduk dengan posisi lotus tak lama ia merasakan kesakitan.
Sebagai putra mahkota banyak musuh dalam selimut yang ingin menjatuhkan atau membunuhnya. Sisa racun dalam tubuhnya masih ada.
Yuan merasakan sakit di seluruh tubuhnya, tulang-tulangnya serasa remuk. Ia menahan rasa sakit yang sangat kuat, wajahnya memucat dan keringat di dahinya bermunculan.
“Aaaccchhhh....!!!!
Suara teriakan Yuan memekakkan telinga, darah hitam keluar di seluruh pori-porinya. Air kolam emas di sekitar Yuan menjadi merah bercampur darah kotor dan sisa racun yang bersarang pada tubuhnya.
Yuan tetap mempertahankan kesadarannya, menahan rasa sakit. Ia tahu jika proses membersihkan kotoran dan racun di dalam tubuhnya sangat menyakitkan.
Pemilik tubuh asli Yuan mengalami kemacetan pada kultivasinya yang di sebabkan beberapa racun yang diberikan oleh musuh-musuhnya.
Kultivasinya macet di ranah surgawi level 1, dan tak bisa mencapai terobosan selanjutnya. Jika di paksakan bisa berakibat fatal, sehingga pemilik tubuh asli tidak memaksakan diri sampai ia meninggal karena racun dan digantikan oleh Ardi.
Yuan merasakan letupan-letupan pada aliran darahnya. Ia merasakan akan ada terobosan. Air kolam di sekitarnya bergolak dan mendidih.
“Duuuaaarrrr!!”
“Aaaccchhh....!!!”
Suara ledakan dan teriakan kesakitan dari terobosan Yuan terdengar. Beruntung Mei Yui , A Sen dan Mey Yui telah memasang array pelindung di sekitar mereka. Sehingga tidak berpengaruh saat salah satu di antara mereka mencapai terobosan.
Terobosan pertama naik ke level 4, sebelumnya Yuan di ranah surgawi level 1 naik 3 level.
“Akhirnya bisa naik level, aku harus menahan rasa sakit ini. Aliran darahku mulai meletup-letup,” batin Yuan.
“Duuuaaarrrr!!”
“Aaaccchhh....!!!”
Terdengar ledakan kedua dan teriakan Yuan kembali terdengar. Yuan mencapai kenaikan level 6 dan kemudian di susul dengan ledakan ke tiga.
“Duuuaaarrrr!!”
“Aaaccchhh....!!!”
Yuan sangat kesakitan saat ledakan terobosan ke 3 dan dari terobosan ke 3 ia hanya mendapatkan kenaikan 1 level. Pencapaian kultivasinya sekarang mencapai ranah Surgawi level 7.
“Kurang 2 level lagi aku akan mencapai tingkat immortal awal. Aku tidak akan memaksa dulu, aku ingin menunggu naga penjaga selesai berkultivasi. Setelah selesai aku akan mengikat kontrak dengannya,” batin Yuan.
Yuan membuka matanya dan keluar dari kolam terlebih dahulu. Karena ia sudah menyelesaikan kultivasinya.
Sementara Ming Se yang merasakan akan mencapai terobosan. Ia merasakan aliran darahnya mengalir kuat dan letupan-letupan di aliran darahnya sangat kuat.
“Duuuaaarr!!!”
“Duuuaaarrr!!!
“Aaaccchhhh!!!”
Suara ledakan dua kali sangat kencang dan di susul suara teriakan dari Ming Se. Terobosan pertama mendapatkan kenaikan 4 level, sebelumnya kultivasinya di ranah surgawi level 2 menjadi ranah surgawi level 6.
Ledakan terobosan ke dua Ming Se mencapai kenaikan 3 level menjadi ranah surgawi level 9. Sama dengan pencapaian Mey Yui saat terakhir mereka berkultivasi bersama.
“Pencapaian yang lumayan, aku harus naik ke ranah surgawi. Aku harus kuat, agar aku bisa melindungi orang-orang yang aku sayangi. Sebentar lagi aku akan menghadapi banyak musuh. Aku harus lebih gigih lagi untuk berlatih,” ucap Ming Se dalam hati.
Ming Se merasakan terobosan lagi, aliran darahnya mengalir dan lonjakan-lonjakan sangat kuat ia rasakan. Wajahnya pucat dan keringat dingin membanjiri wajahnya.
Sakit yang ia rasakan kali ini lebih kuat daripada terobosan pertama dan kedua.
“Duuuaaarrr!!!
“Aaaaacccchhhhh!!!!
Suara ledakan dan diiringi teriakan Ming Se yang sangat kencang. Ia berusaha mempertahankan kesadarannya setelah mendapatkan ledakan terobosan.
Ming Se mendapatkan kenaikan tingkat, ia naik ke ranah dewa level 3. Ia merasakan kekuatannya bertambah dan tubuhnya lebih ringan dan segar.
Ming Se membuka matanya dan keluar dari kolam air emas. Ia melihat Yuan yang sedang duduk di pinggir kolam dekat Mey Yui berkultivasi.
“Apakah kamu tidak berkultivasi?” tanya Ming Se pada Yuan.
“Aku sudah menyelesaikan terlebih dulu dan mendapatkan pencapaian yang lumayan. Sebelumnya pemilik tubuh asli mengalami kemacetan karena banyaknya racun yang bersarang pada tubuhnya,” ucap Yuan pada Ming Se.
“Sama! Pemilik tubuh asli ini juga mengalami hal yang sama sepertimu. Awal aku di temukan Mey Yui, kondisiku terluka parah dan mengakibatkan meninggalnya pemilik tubuh asli. Pertama aku berkultivasi di air surgawi, datian dan meridianku dan A Sen rusak.”
“Saat itu rasanya sakit sekali, aku berusaha mempertahankan kesadaranku,” cerita Ming Se pada Yuan.
“Sepertinya A Sen mau mencapai terobosan. Air kolam bergolak mengeluarkan gelembung-gelembung air. Pasang array pelindung,” ucap Yuan sambil menunjuk ke arah di mana A Sen sedang melakukan kultivasi.
“Kau benar wajahnya pucat dan keringatnya banyak mengalir di dahinya,” jawab Ming Se kemudian melakukan gerakan memasang array pelindung.
Tak lama terdengar suara ledakan dan teriakan dari A Sen.
“Duuuuaaarrrr!!!
“Aaaarrrrrhhhhh!!!
A Sen yang sedang mengalami terobosan ia merasakan sakit pada tubuhnya. Ia mendapatkan kenaikan 4 level, kultivasinya menjadi ranah surgawi level 5.
Tak lama terdengar ledakan kedua dan di susul dengan ledakan ketiga.
“Duuuaaarrr!!!”
“Duuuaaarrr!!!”
“Aaaaarrrrcccchhhh!!!!”
Tubuh A Sen akan roboh ke dalam kolam dengan cepat Yuan menyalurkan tenaga dalamnya. Sinar putih menyelimuti tubuh A Sen dan tubuh A Sen terangkat dan tergeser ke tepi kolam. A Sen bersandar dan tidak jatuh ke dalam kolam.
A Sen yang kehilangan kesadarannya, saat mengalami terobosan yang ketiga.
Kultivasinya naik tingkat sama dengan Ming Se, ranah dewa level 3.
Ming Se dan Yuan menjaga A Sen agak jauh mereka tidak berani menyentuh A Sen, mereka hanya bisa menunggu A Sen sadar dan keluar dari kolam.
“Kita tinggal menunggu Mey Yui mencapai terobosan. Aku diberitahu Yuyu, saat Mey Yui mendapatkan terobosan dia tak sadarkan diri. Cukup lama ia pingsan, aku sangat kuatir jika kali ini dia juga mengalami hal yang sama,” ucap Ming Se.
“Aku akan membantunya jika hal itu terjadi,” balas Yuan.
“Jangan gegabah, aku tak ingin Mey Yui terluka gara-gara kamu membantunya,” ucap Ming Se.
“Tidak mungkin aku akan mumbuatnya celaka, aku akan berhati-hati,” jawab Yuan.
“Ming Se, aku belum tahu mengenai kehidupan A Sen di jaman kuno. Bagaimana kehidupan pemilik tubuh asli?” tanya Yuan.
“A Sen sebenarnya adalah seorang pangeran dari kerajaan Tang. Namun dia terlahir dari seorang pelayan Selir Agung. Selir itu murka dan meracuninya, saat mengetahui kaisar telah menghamili pelayannya.”
“Tragis sekali pelayan itu, lalu bagaimana pemilik tubuh asli bisa selamat?” tanya Yuan.
“Pelayan itu di racuni saat hamil dan kemudian saat usia kandungannya 8 atau 9 bulan, pelayan itu di jebak dan diasingkan. Saat di perjalanan menuju pengasingan Selir Agung tidak membiarkan pelayan itu hidup.”
“Dia menyuruh pembunuh bayaran membunuh pelayan itu. Kebetulan ayahku, jenderal Jun Ho sedang melintas di jalan itu. Dan menyelamatkan pelayan itu dan membawanya ke perbatasan. Menyembunyikan dari orang-orang.”
“Hanya ibundaku yang mengetahuinya, saat ibuku yang sedang mengandungku dan tinggal di perbatasan. Saat ayah membawa ke perbatasan dan memberitahu ibuku agar tidak salah paham.”
“Menurut cerita ayahku kandungan ibu dan pelayan itu sama antara 8-9 bulan. Mereka yang sedang menantikan anak pertamanya lahir, merasa iba dan kasihan dengan pelayan itu. Ibuku telah menganggap pelayan itu sebagai adiknya.”
“Pelayan itu menceritakan semua yang terjadi pada dirinya. Kaisar menyukainya dan saat mabuk, memperkosa pelayan itu.”
“Ibuku melahirkan dulu, seminggu setelah aku lahir. Pelayan itu melahirkan A Sen dan meninggal, karena racun yang ada pada tubuhnya. Pelayan mengalami pendarahan dan nyawanya tidak tertolong,” cerita Ming Se.
“Jaman kuno ini benar-benar membuatku pusing. Lalu apakah pemilik tubuh asli mengetahui jati dirinya?” tanya Yuan.
“Ayahku sudah menganggap A Sen sebagai anaknya sendiri. Saat ibuku mengandung Mey Yui dan ibuku merasa nyawanya tidak akan lama lagi memutuskan untuk memberitahunya.”
“Ibuku menyuruh A Sen dan aku untuk bersumpah sebagai saudara angkat. Apa pun yang terjadi kami tetap bersaudara. Dan berjanji menjaga dan menyayangi Mey Yui, adik perempuan kami” lanjut cerita Ming Se.
Ming Se mendengarkan cerita kisah hidup pemilik tubuh asli A Sen. Ia merasa simpati dengan pemilik tubuh asli A Sen.