Kezia Story

Kezia Story
BAB 74



Semua orang yang berada di kediaman Qian berusaha mencari bibi Ong yang telah meninggalkan rumah. Para pengawal bayangan mencari dan terus mencari namun hasilnya nihil. Ia harus kembali melaporkan kegagalan mereka.


Hal tersebut membuat Bun Ho murka, namun kebalikan dengan Song Cai Lin. Ia sangat senang dan bahagia karena saingan cintanya telah pergi.


Cai Lin merayakan kepergian bibi Ong di kediamannya. Ia minum arak dan makan-makan dengan para pelayannya.


“Hari ini aku sangat senang, kalian semua makan sepuasnya!” ucapnya sambil tertawa bahagia.


Para pelayannya tersenyum dan mereka ikut berpesta dengan nyonyanya. Berbeda dengan yang di luar pintu, prajurit jaga hanya menggelengkan kepalanya saat mendengar kegaduhan di dalam ruangan Cai Lin.


Prajurit jaga sangat waswas jika tuannya datang dan murka melihat kelakuan istrinya. Mereka takut jika tuannya melampiaskan kemarahannya kepada mereka.


“Kita harus bagaimana menghadapi nyonya yang sedang berpesta di dalam. Sementara tuan sedang marah karena nona Ong telah pergi,” ucap penjaga A.


“Lebih baik kita melapor pada tuan Wen An, daripada kita di salahkan!” balas temannya.


“Kamu saja yang melapor pada tuan Wen An, aku akan berjaga di sini!” ucapa prajurit A.


Salah satu prajurit jaga meninggalkan temannya untuk melapor kepada Wen An.


Sementara Wen An yang sedang bersama Bun Ho berdiri menemani tuannya yang sedang mabuk. Bun Ho sedang sedih karena kepergian bibi Ong dan melampiaskannya dengan minum arak.


“Tuan, hentikan jangan terlalu banyak minum. Hamba kuatir hal ini akan di manfaatkan oleh nyonya Cai Lin!” ucap Wen An pelan.


Bun Ho menatap Wen An dengan tatapan tajam dan matanya merah. Hatinya sangat kacau, rasa bersalah pada bibi Ong dan menyesali kebodohannya.


“Pelacur itu...! Ingin rasanya aku membunuhnya!” ucap Bun Ho geram sambil mengepalkan tangannya.


“Tenangkan diri tuan, ada hal yang lebih penting daripada mengurusi nyonya Cai Lin. Kita harus secepatnya menemukan nyonya Ong,” balas Wen An.


“Kau benar! Temukan Ong’er meskipun harus ke ujung dunia! Kerahkan semua pasukanmu, cari dia! Jangan ada yang terlewatkan,” perintah Bun Ho.


“Hamba laksanakan, tuan! Hamba akan berusaha untuk menemukan nyonya Ong!” balas Wen An dengan tegas.


“Jika kita menemukan nyonya Ong, apakah tuan akan membawanya kembali untuk tinggal di sini?” tanya Wen An.


Bun Ho terenyak menyadari saat kekasihnya di temukan, pasti tidak akan mau jika harus kembali di kediamannya. Terlalu banyak kenangan yang menyakitkan.


“Aku akan mengikuti keinginan Ong’er, aku tidak akan memaksanya untuk kembali ke sini. Asalkan dia masih mau bersamaku, buatku sudah cukup. Dia sudah mengikutiku ke sini tapi aku tak bisa menjaganya dengan baik. Sekarang giliranku untuk mengikutinya,” jawab Bun Ho berkaca-kaca.


Saat mereka berbincang, prajurit jaga mendatangi mereka untuk melapor.


“Hamba memberi hormat dan ingin melapor! Ada prajurit yang menjaga kediaman nyonya Cai Lin datang untuk melapor pada tuan Wen An,” ucap prajurit jaga sambil memberi hormat.


Wen An melambaikan tangannya tanda setuju, kemudian datang prajurit yang menjaga kediaman Cai Lin.


“Hamba memberi hormat kepada Tuan besar Bun Ho dan tuan Wen An! Saat ini nyonya Cai Lin sedang berpesta bersama para pelayannya, tuan!” lapor


“Sialan! Pelacur itu merayakan kepergian Ong’er! Aku akan membunuhnya!” maki Bun Ho dan beranjak dari duduknya.


Wen An langsung duduk bersimpuh menghadang dan mencegah Bun Ho.


“Ampuni hamba tuan, tahan emosi tuan! Jika tuan marah akan membuat nyonya Cai Lin senang. Rencananya berhasil dan ia akan merasa menang. Ampun, tuan! Tolong kendalikan emosi tuan,” ucap Wen An sambil menahan kaki Bun Ho.


Bun Ho marah karena di halangi oleh Wen An. Namun ketika Wen An memberikan alasannya, emosinya pun mulai mereda.


“Baiklah! Aku akan menahan emosiku! Tapi aku tidak akan membiarkannya bahagia di atas penderitaan Ong’er. Dia harus merasakan sakit juga,” ucap Bun Ho dengan geram.


“Hamba mohon, jika tuan bertemu dengan nyonya Cai Lin harus menahan diri!” jawab Wen An.


“Antar aku ke tempa Cai Lin,” ucap Bun Ho singkat dan mereka pun pergi menuju ke kediaman Cai Lin.


Sementara Cai Lin yang tidak mengetahui jika suaminya akan mendatanginya. Ia tertawa-tawa bahagia sambil minum arak. Ia mengira suaminya akan sibuk mencari j*l*ngnya.


Saat Bun Ho sudah di depan pintu ruang kediaman Cai Lin, terdengar suara gelak tawanya dan diiringi umpatan-umpatan terhadap bibi Ong.


“Hahaha...! Hari ini aku sangat puas! J*l*ng itu telah pergi tanpa harus aku repot-repot menyingkirkannya,” ucap Cai Lin diiringi dengan gelak tawanya.


“Brak...!”


Suara pintu di tendang dari luar, Bun Ho dan Wen An memasuki ruangan tersebut. Para pelayan yang sedang menemani Cai Lin langsung bersimpuh memberi hormat. Mereka tidak ikut minum arak, hanya ikut makan-makan yang telah di sediakan.


“Dasar J*l*ng sialan! Apa yang kau lakukan!” maki Bun Ho sambil mendorong Cai Lin. Ia sudah benar-benar muak dengan tingkah Cai Lin.


“Oh... suamiku kau telah datang! Apakah kau merindukanku? Apakah kau rindu dengan kehangatan yang kuberikan? Aku tahu.. kau pasti bisa merasakan perbandinganku dengan j*l*ngmu itu. Aku lebih memuaskan daripada j*l*ngmu itu!” ucap Cai Lin dengan mabuk.


Bun Ho sangat marah sekali, ia ingin menebas leher Cai Lin dengan pedangnya. Namun ia tahan, karena ia ingin menyiksa Cai Lin terlebih dulu.


“Kau tidak bisa di bandingkan dengan Ong’er! Wanita menjijikkan sepertimu jika tidak menjebak pria, siapa yang mau menidurimu!” balas Bun Ho dengan sengit.


Sakit sekali hati Cai Lin mendengar ucapan dari suaminya. Suaminya lebih memilih wanita miskin daripada dirinya seorang putri bangsawan.


“Hahaha...! Kenapa kau marah? Apakah kau sedang berduka karena kau telah di tinggal pergi oleh j*l*ngmu!” teriak Cai Lin tak mau kalah.


“Bedebah kau! Jika bukan karena pelacur sepertimu! Ong’er tak akan meninggalkanku. Jika terjadi apa-apa dengannya, aku akan membunuhmu!” ucap Bun Ho.


“Kau lebih memilih dan membela j*l*ng itu daripada istri sahmu! Wanita miskin yang tidak jelas asal usulnya! Kau sangat kejam, Bun Ho!” teriak Cai Lin sambil terisak.


“Ong’er jauh lebih baik daripada dirimu! Kaulah j*l*ng yang tak punya malu. Jika tidak merengek kepada ayahmu agar bisa menikah denganku, kau tidak akan laku menikah! Kau lebih pantas menjadi penghuni rumah harum (rumah b*rdil),” maki Bun Ho.


Cai Lin menangis dan melempar semua barang yang ada di dekatnya. Ia sangat sedih dan sakit hati.