Kezia Story

Kezia Story
BAB 27



Tubuh ular hitam berubah menjadi butiran kristal debu berwarna hitam kemudian diterpa angin dan menghilang.


Naga penunggu teratai hitam yang telah terluka parah dan harus mengeluarkan tenaga dalamnya untuk memusnahkan jasad ular hitam seketika mengeluarkan seteguk darah hitam yang ketal dari mulutnya dan kemudian limbung jatuh ke tanah.


“Buummm!”


Naga penjaga jatuh ke tanah, Yuan terkejut dan tidak menyangka jika naga tersebut terjatuh. Yuan segera menghampiri naga tersebut.


“Kau terluka parah, aku akan membantumu mengobati lukamu!” ucap Yuan


“Terima kasih! Tuan telah membantuku mengalahkan ular hitam berwarna merah yang merupakan musuh bebuyutanku selama ribuan tahun. Aku tahu kamu kesini untuk mencari bunga teratai hitam yang telah aku jaga ratusan tahun,” balas naga penjaga.


“Ya, sebenarnya aku menginginkan teratai hitam itu untuk menyembuhkan ibundaku yang sedang sakit. Hanya dengan bantuan kelopak bunga teratai hitam bisa menyelamatkan nyawa ibundaku,” Yuan mengatakan niatnya dengan jujur.


“Kamu anak yang berbakti, tidak menghiraukan keselamatan nyawamu untuk mencari bunga teratai hitam. Aku akan menyerahkan bunga teratai hitam padamu, gunakanlah untuk penyembuhan ibundamu,” ucap naga penjaga dengan lemah.


“Terima kasih, kau telah memberikan teratai hitam kepadaku yang selama ini kau jaga dengan mempertaruhkan nyawamu. Aku akan mempergunakan teratai hitam ini dengan baik dan aku akan mencarikan penawar racun yang bersarang pada tubuhmu,” janji Yuan kepada naga penjaga.


“Tidak mudah mencari penawar racunku, hanya masterku terdahulu yang bisa membuat penawar racun yang ada di tubuhku. Sudah ratusan tahun beliau menghilang sejak pertempurannya dengan raja iblis,” jelas naga penjaga.


“Aku tidak akan menyerah untuk mencari penawaran, makanlah pil penawaran racun ini dulu. Setidaknya sedikit membantumu,” sambil menyerahkan pil penawar racun yang ia miliki.


Naga menerima pil tersebut dan langsung memakannya, meski efek dari pil penawar racun tidaklah banyak tapi sedikit membantu melegakan rasa sakit dan sesak di dadanya.


“Lebih baik kau segera meninggalkan tempat ini sebelum banyak makhluk yang mengetahui keberadaan teratai hitam ada padamu,” kata naga penjaga.


“Aku tidak akan meninggalkanmu sendiri dalam kondisi terluka parah di sini, aku akan membawamu serta. Aku akan menempatkanmu sementara di ruang dimensi yang aku miliki, setelah menyerahkan teratai hitam pada tabib ketua di istana Li, aku akan mencarikan obat penawar racun,” jelas yuan, tanpa menunggu jawaban dari naga ia langsung membawa naga penjaga ke dalam ruang dimensi yang ia miliki.


Dalam sekejap mereka berdua menghilang di dunia nyata dan memasuki ruang dimensi.


“Beristirahatlah dulu dan aku akan meninggalkanmu di sini untuk kembali ke istana Lin,” setelah berkata, Yuan meninggalkan naga dan menghilang dari ruang dimensi.


“Aku harus segera kembali ke istana dengan cepat agar ibu bisa segera disembuhkan,”ucapnya dalam hati.


Belum juga ia melangkahkan kaki untuk meninggalkan kolam naga tiba-tiba muncul beberapa orang menghampirimu.


“Hai anak muda bertopeng, serahkan bunga teratai yang kamu ambil dari kolam naga itu,” perintah orang tua bertubuh hitam dan botak.


“Siapa kamu! Berani memerintahkan aku agar menyerahkan teratai hitam. Kau pikir aku memiliki teratai hitam itu,” jawab Yuan sambil acuh tak acuh.


“Sialan kau! Jangan mencoba membohongi kami, hanya kamu yang berada di sini dan teratai hitam yang dijaga naga yang ganas itu menghilang. Jangan banyak alasan cepat serakkan teratai hitam itu!” teriak orang berbadan hitam dan berkepala botak dengan geram.


“Enak saja kamu minta teratai hitam jika kamu mampu kenapa tidak kamu ambil sendiri dari naga ganas itu,” balas Yuan dengan ketus.


“Aku tidak memilikinya, jangan ganggu perjalananku,” ucap Yuan dengan ketus.


“Kami tidak akan membiarkan kau meninggalkan tempat ini sebelum menyerahkan teratai hitam tersebut,” teriak salah satu dari mereka.


“Mimpi saja di siang bolong, kalian tidak akan mendapatkan teratai hitam itu,” balas Yuan.


Sekawanan orang itu menyerang Yuan, dengan lincah ia menghindar dan tak lupa ia memberikan serangan balasan. Pertempuran seru sedang berlangsung namun kawanan itu bukan lawan Yuan, kemampuan mereka semua jauh dibawah Yuan. Dengan mudah Yuan bisa mengalahkan mereka, ia tak mau menyia-nyiakan waktunya dengan mengurusi curut-curut yang tak punya otak.


“Rasakan pukulanku! kalian sudah berani menghambat perjalananku!” teriakan dari Yuan di iringi dengan pukulan yang dahsyat. Dalam sekejap kawanan orang itu memuntahkan darah segar di mulutnya dan tewas seketika.


“Hanya segini saja kemampuan kalian, berani-beraninya menyerangku! Sungguh nyali kalian semua sangat besar, sayang sekali karena keserakahan kalian berakhir di tanganku” ucap Yuan kesal karena perjalanannya terhambat.


Yuan segera meninggalkan tempat itu, ia tak ingin menemui orang-orang yang menginginkan teratai hitam jika dirinya masih di tempat itu kemudian melesat kembali ke tempat dimana ia meninggalkan kudanya.


Setelah menemukan kudanya, ia bergegas kembali ke kerajaannya untuk menyerahkan teratai hitam kepada tabib ketua.


Tak terasa ia melakukan perjalan menuju kerajaannya selama 4 hari, melaju kudanya dengan cepat ia beristirahat hanya sejenak untuk makan dan kemudian melanjutkan perjalanannya tanpa henti.


Tengah malam ia sampai di gerbang ibu kota kerajaan Li, para penjaga gerbang mengetahui putra mahkotanya datang dengan cepat membukakan pintu gerbang kerajaan. Sebelum melakukan kudanya tak lupa ia melempar kantong koin kepada penjaga, penjaga menangkap kantong tersebut dan menundukkan kepalanya.


“Terima kasih putra mahkota!” ucap para penjaga.


Yuan menghentakan kaki ke perut kudanya dan kuda berlari menuju ke istana kerajaan, setelah sampai di istana ia langsung meninggalkan kudanya pada penjaga gerbang istana dengan berlari ia memasuki istana dan menuju kamar ibunda permaisuri.


"Huusst!"


Ia memasuki kamar ibundanya dengan pelan dan memberi kode tangannya ke bibirnya tanda agar semua tabib diam tak bersuara untuk menyampaikan kedatangannya di kamar ibundanya. Tabib ketua dan beberapa tabib senior berjaga diam melihatnya melangkah menuju ranjang ibundanya.


Ayahandanya duduk di tepi ranjang ibundanya sambil memegang tangannya, Yuan melihat ibundanya semakin kurus dan pucat, tak terasa air matanya berlinang.


“Ayah, ananda sudah kembali,” ucap Yuan dengan pelan menyadarkan ayahanda nya yang sedang melamun menatap ibundanya.


“Syukurlah kamu telah kembali anakku,” jawab raja Li Bing setelah sejenak melihat kedatangan anaknya. Ada harapan untuk istri tercintanya ketika melihat putranya.


“Ayah, ananda berhasil mendapatkan teratai hitam,” ucapnya kepada raja Li Bian sambil mengeluarkan Teratai hitam dari ruang dimensinya yang tidak diketahui oleh ayahnya jika dirinya memiliki ruang dimensi.


“Ini teratai hitam yang sangat langka dan dijaga oleh naga yang sangat ganas?” tanya raja saat menerima bunga teratai hitam dari tangan anaknya matanya bersinar bahagia. Tanpa menunggu jawaban dari putranya ia langsung berdiri dari ranjang istrinya.


“Tabib ketua cepat ambil teratai hitam ini dan segera buatkan obat untuk permaisuriku,” raja LI Bian memerintahkan tabib Ketua.


Dengan cepat tabib ketua menerima teratai hitam dan dan berpamitan pada raja Li Bian.


“Hamba akan segera membuat pil obat untuk kesembuhan paduka permaisuri,” jawab tabib ketua sambil menundukkan kepala dan kemudian pamit undur diri.


Tabib ketua dan beberapa senior tabib meninggalkan ruangan untuk membuat pil obat untuk permaisuri dan menyisakan beberapa tabib untuk berjaga.


Raja Li Bian menepuk bahu putrinya dan mengajaknya duduk, ia ingin mengetahui perjalanan putranya.


“Yuan Er, ceritakan perjalananmu pada ayahanda hingga kamu berhasil mendapatkan teratai hitam itu,” ucap raja Lin.


Kemudian Yuan Lin menceritakan poin-poin terpenting dalam usaha mendapatkan teratai hitam.