Kezia Story

Kezia Story
BAB 34



Debu beterbangan yang ditinggalkan oleh jejak kaki kuda yang ditunggangi oleh Li Yuan dan San Bin. Yuan yang berhasil meloloskan diri dari rencana perjodohan dari ibundanya melaju kudanya menuju ke kerajaan Tang.


Yuan merasa ada sesuatu yang menantinya di sana, namun ia tak mengetahui apa itu. Hanya hatinya tergerak untuk pergi ke wilayah kerajaan Tang.


Saat ini mereka sudah memasuki gerbang ibukota kerajaan, dengan gagah ia mengendarai kudanya dan tak lupa topeng yang menutupi wajahnya menambah kesan misterius. Mereka menyusuri jalanan ibukota untuk mencari tempat peristirahatan, jalanan ibukota kerajaan sangat ramai dengan aktivitas penduduknya.


Banyak gadis yang terpesona dengan wajah Yuan meskipun separuh wajahnya ditutup dengan topeng tidak mengurangi ketampanannya.


“San Bin, kita beristirahat di ibukota dan carilah penginapan yang bagus dan nyaman,” perintah Yuan pada San Bin.


“Baik, tuan!” jawab San Bin kemudian menghentakan tali kekang kudanya meninggalkan Yuan untuk mencari penginapan.


Saat menyamar di luar luar kerajaan Li, San Bin memanggil Yuan dengan sebutan tuan muda tanpa harus di beritahu atau diingatkan.


Sambil menunggu San Bin mencari penginapan ia melihat-lihat ibukota dengan mengendarai kudanya.


Tak lama San Bin datang menemuinya dan mereka berdua menuju ke penginapan yang telah disewa oleh San Bin.


Mereka telah sampai di penginapan dan diantar oleh pelayan penginapan menuju kamar yang telah di sewa. Ternyata mereka menyewa penginapan di tempat yang sama dengan Lie Ming Se. Pelayan menunjukkan arah kamar Yuan dan diikuti oleh San Bin, kamar mereka berbeda.


Dikarenakan banyak pengunjung di penginapan tersebut hanya menyisakan 2 kamar yang kosong. Letak kamar mereka tidak berdekatan, sisa kamar yang kosong berada di lantai 2 dan lantai 3. Sehingga kamar yang ada di dilantai 2 akan ditempati oleh Yuan sedangkan kamar yang ada di lantai 3 ditempati oleh San Bin.


Saat Yuan dan pelayan di depan pintu kamar yang akan ia tempati, tiba-tiba kamar yang ada di depan kamarnya terbuka dan seorang gadis bercadar keluar dari kamar tersebut.


Secara tak sengaja pandangan mereka bertemu dan mereka berdua tertegun.


“Deg…


“Deg..


Jantung Yuan dan Mey Yui berdetak dan hatinya berdesir mereka masing-masing merasakan hal yang sama seperti ada sesuatu. Namun Mey Yui menepis perasaan tersebut dan memalingkan wajah kemudian ia berjalan menuju kamar kakaknya.


“Siapa gadis itu, matanya mengingatkanku pada seseorang yang sangat aku cintai,” gumam Yuan kemudian ia masuk ke kamarnya untuk beristirahat.


Sementara Mey Yui yang sedang berjalan menuju kamar kakaknya masih merasakan jantungnya berdetak.


“Haduh… Jantungku kok seperti musik disko! Ada apa denganku? Siapa cowok bertopeng itu? Kenapa aku merasakan seperti ada ikatan batin dengannya?” ucap Mey Yui dalam hati.


“Aaaaa… nggak mau mikir aneh-aneh bikin sakit kepala! Perutku sudah lapar, aku harus segera ke kamar kakak dan mengajaknya makan,” gumam Mey Yui.


Mey Yui mengetuk pintu kamar Ming Se, sementara Ming Se yang di dalam kamar mendengar pintu diketuk ia bergegas membukakan pintu. Ia tau pasti adiknya yang datang menemuinya dan mengajak makan.


“Masuklah! kakak sudah menunggu, sebentar lagi A Sen akan datang,” ucap Ming Se.


Mey Yui masuk dan duduk pikirannya kosong, tatapan matanya berbeda seperti memancarkan kesedihan dan kehampaan.


Ming Se yang mengamati adiknya sejak di depan pintu, merasa gelisah dengan perubahan adiknya.


“Sayang… Apakah ada sesuatu yang mengganggu hatimu?” tanya Ming Se hati-hati.


Belum sempat menjawab pertanyaan dari kakaknya tiba-tiba A sen masuk ke kamar Ming Se tanpa mengetuk pintu. Ekspresi wajahnya seperti orang yang tak berdosa, sekilas ia melihat kode dari Ming Se. Ia langsung paham dan mulai membuat ulah


“Adeknya, kakak ganteng sudah datang?” sapa A Sen dengan menarik-narik cadar Mey Yui.


“Apaan sih..! Datang-datang bikin rese…! Mengganggu tau!” jawab Mey Yui dengan sewot.


“Ho… ho… ho…! Cantiknya kak A Sen terganggu ya.. ulu.. ulu.. kalo marah cantiknya berkurang lo!” balas A Sen.


“Bodo….!” sambil memalingkan mukanya.


“Hahaha… Adikku yang paling cantik di… kera…. jaan ini ngambek.. Jangan ngambek dong sayang,” goda A Sen.


Mey Yui melotot kepada A Sen mendengar plesetan kerajaan.


“Gitu ya… Maksud kakak aku paling cantik diantara kera?” balasnya dengan ketus.


“Ok.. ok.. kita gencatan senjata dulu ya, sayang! Aku nyerah gak ada tenaga buat lanjutin perang somalia, aku kelaparan. Ayo kita makan, sayang. Adikku yang paling cantik, paling seksi dan paling bahenol,” goda A Sen.


Mey Yui tidak jadi marah, akhirnya tersenyum dan mengikuti kedua kakaknya keluar untuk mencari makan.


Mereka menuruni anak tangga turun ke lantai bawah untuk mencari makan, penginapan menyediakan hidangan untuk para pengunjung. A Sen mencari tempat duduk yang pinggir jendela agar bisa melihat suasana di luar penginapan.


Ming Se duduk dengan A Sen sedangkan Mey Yui duduk di depan mereka saling berhadapan. Mey Yui yang sedang dalam suasana hati yang tidak enak langsung duduk tanpa memperhatikan sekelilingnya.


Ia tidak menyadari bahwa ada mata yang memperhatikan dari awal ia masuk ke ruangan tersebut.


“Siapa dua lelaki yang bersamanya? Kenapa hatiku sakit dan ingin marah,” ucapnya dalam hati.


Sementara Ming Se dan A Sen yang melihat ada seorang laki-laki yang menutupi wajahnya dengan topeng tepat duduk di belakang Mey Yui yang berhadapan dengan Ming Se sendang memperhatikan adiknya sejak mereka memasuki ruangan.


Asen juga merasakan hal sama, ia dan Ming Se mulai waspada terhadap pria tersebut.


Melihat kedua kakaknya yang di depannya agak sedikit aneh, tatapan mereka mengarah di belakangnya secara reflek ia menoleh ke belakang. Sambil bertanya dengan bahasa gaulnya.


“Kak A Sen lihatin apaan sih? Ada cewek cakep plus bahenol ya?” tanya Mey Yui sambil menoleh ke belakang.


Deg….!


Deg…!


Saat tatapan mata mereka bertemu, detak jantung Mey Yui tak karuan dan ia berusaha menenangkan diri dan kembali berbalik dan menatap kedua kakaknya.


“Lebay..!” ucap Mey Yui mengabaikan A Sen yang mulai menciptakan drama.


Sementara Ming Se mengamati adiknya yang sedikit berbeda saat menoleh ke belakang.


“Kamu kenal sama cowok itu, dek?” tanya Ming Se penuh selidik


“Nggak kenal, hanya saja tadi saat aku keluar dari kamar saat mo ke kamar kakak ketemu cowok mau masuk kamar yang ada di samping kamarku,” jawab Mey Yui pelan.


“Yakin kalian nggak saling kenal? Dari cara dia melihat kamu seperti kekasih yang sudah lama berpisah?” selidik Ming Se.


“Kenapa kakak berkata seperti itu? Aku benar-benar tidak mengenal cowok itu,” jelas Mey Yi


A Sen mengkode Ming Se untuk tidak melanjutkan debatnya dengan Mey Yui, akhirnya perdebatan berhenti.


Pelayan datang dengan membawa hidangan dan mereka mulai menyantap hidangan tersebut.


“Sayang…! Masakan di sini kalah jauh dari masakanmu, aku nggak nafsu makan. Emang masakan cintaku ini top markotop tiada lawan di jaman kuno,” ucap A Sen sambil mengunyah makanannya.


“Kamu bilang nggak nafsu makan? Apa nggak salah? Hampir semua hidangan kakak sikat semua… itu yang kakak bilang nggak nafsu makan?” ucap Mey Yui sambil geleng-geleng kepala.


“Makanan sudah terlanjur di hidangkan, kalo nggak dihabiskan kasian yang masak. Ntar kecewa terus marah nggak mau masak lagi gimana?”jawab A sen


“Sebahagia kamu saja, kak?” Ucap Mey Yui malas menanggapi A Sen.


Ming Se sudah selesai makan hanya melihat keduanya mulai main drama, dia sudah kebal dengan drama mereka.


“Kita jangan pulang dulu ke kediaman! Kakak dan A Sen mau mencari informasi dan melihat keadaan. Saat kakak dan a Sen pergi kamu di penginapan saja jangan kembali dulu, setelah kami mendapatkan informasi yang kita perlukan baru kita kembali.,” kata Ming Se.


“Aku terserah kakak aja, tapi kalo kakak keluar harus hati-hati. Aku nggak mau terjadi sesuatu terhadap kalian berdua, jangan terulang kembali saat aku pertama menemukan kalian dalam keadaan terluka parah,” blas Mey Yui.


“Sayangku yang paling cantik di kera… jaan… ups salah! paling cantik di kerajaan Tang jangan kuatir dengan kami. Aku tau kamu sangat mencintai kakakmu dan aku,” ucap A Sen yang sengaja mencari gara-gara dengan pria di belakang Mey Yui. Ia melihat dari tadi pria itu selalu menatapnya dengan tajam


“Ming Se, kau lihat itu cowok dari tadi kalo sama aku seperti orang ngajak gelut saja,” bisik A Sen.


“Iya.. Aku melihatnya! Kelihatannya dia sama Mey Yui ada sesuatu! Mungkin bukan dengan Kezia tapi dengan pemilik tubuh yang asli,” balas Ming Se berbisik.


“Kak.. kalian nyuekin aku sih.. !” Mey Yui kesal karena diabaikan oleh mereka berdua.


“Aku mau kembali ke kamar! Kalian nggak asyik!” Mey Yui meninggalkan kedua kakaknya yang lagi berbisik-bisik.


Setelah kepergian Mey Yui, A Sen melangkahkan kakinya ke meja pria bertopeng. Ia dan Ming Se sengaja ingin menghampiri pria tersebut, jika masih ada Mey Yui pasti panjang urusannya. Maka dengan sengaja mereka mengabaikan Mey Yui agar dia kembali ke kamar terlebih dulu.


“Permisi tuan, boleh kami bergabung dengan tuan?” tanya Ming Se, ia sengaja berkata terlebih dulu sebab tatapan pria tersebut tidak bersahabat dengan A Sen.


“Silakan jika tuan ingin bergabung,” jawab Pria bertopeng itu yang tak lain adalah Yuan.


Setelah Ming Se dan A Sen duduk di meja yang sama dengan Yuan, ia tak menyia-nyiakan waktunya dan langsung bertanya.


“Maaf tuan, dari awal saya dan adik perempuan saya masuk ke ruang ini, tuan terus memperhatikan adik perempuanku. Apakah tuan mengenal adikku?” tanya Ming Se langsung tanpa basa basi.


“Maafkan saya! Anda jadi tidak nyaman dengan sikap saya yang memperhatikan adik tuan, sebenarnya adik tuan mengingatkan saya dengan gadis yang sangat saya cintai. Kami terpisahkan karena suatu kejadian yang tidak bisa saya ceritakan, “ jawab Yuan.


“Modus!”


Tiba-tiba A Sen memotong pembicaraan Ming Se dan Yuan, mendengar ucapan A Sen tatapan wajah mata Yuan sulit diartikan.


“Bacot!” balas Ming Se kesal mengkode A Sen agar diam.


A Sen langsung terdiam dan kembali mendengarkan pembicaraan Ming Se dan Yuan.


“Aku turut simpati dengan kondisi tuan! Kalau boleh tahu siapa nama tuan? Nama saya Ming se dan ini sahabat saya bernama A Sen sedangkan adik perempuan saya bernama Mey Yui,” jelas Ming Se.


“Namaku Yuan kebetulan sedang mencari penawar racun ular hitam bermata merah,”ucap Yuan.


“Apakah kamu sudah menemukan dimana penawar itu?” tanya Ming Se hati-hati, ia merasa nyaman dengan Yuan seperti berinteraksi dengan teman lama.


“Aku belum menemukan dan belum mendapatkan petunjuk, tapi aku merasakan jika ada sesuatu yang berhubungan dengan diriku di wilayah kerajaan Tang.


A Sen yang dari tadi mendengarkan pembicaraan mereka berdua merasakan kenyamanan, seperti ngobrol bersama dengan sahabat-sahabatnya di jaman modern.


“Bagaimana jika aku kenalkan dengan adikku? Siapa tahu adekku bisa membantumu, kebetulan adikku sedikit mengerti pembuatan obat dan racun. Kalian bisa saling membantu mendapatkan penawar racun,” tawar Ming Se, ia ingin mencoba mendekatkan Mey Yui dengan Yuan. Entah mengapa ia merasa Yuan pria yang baik dan bisa di percaya.


“Jika anda tidak keberatan, saya akan sangat berterima kasih,”ucap Yuan sambil melihat A Sen.


Ming Se yang tanggap dengan tatapan mata Yuan kepada A Sen, lalu tersenyum


“Jangan kuatir dengan dia! Dia telah menganggap Mey Yui seperti adik kandungnya sendiri,”ucap Ming Se sambil tersenyum.


Sementara A Sen mendengar penjelasan Ming Se kepada Yuan hanya nyengir kuda.


“Aku harap pertemuan kita ini menjadikan kita sebagai sahabat dan jangan terlalu sopan pada kami,” kata Ming Se.


“Ya, aku juga berharap kita bisa berteman baik! Sebenarnya aku juga tidak mempunyai teman,” jawab Ming Se.


“Ayo kita cari gadis nakal itu di kamarnya,” ajak Ming Se.


Mereka bertiga akhirnya menuju ke kamar Mey Yui untuk mencari tahu mengenai penawar racun yang sedang dicari oleh Yuan.