
Mey Yui menenangkan ayahnya yang sangat emosi.
“Ayah...! Janganlah emosi, tak baik untuk kesehatan ayah! Tak ada gunanya ayah emosi dan bukan waktunya ayah marah. Yui’er takut jika emosi, ayah tidak bisa berpikir dengan baik!” ucap Mey Yui mengingatkan Jun Ho.
“Ya, nak!” Kamu benar untuk apa ayah emosi,” ucap Jun Ho.
“Hari ini apakah ayah tidak ada kesibukan?” tanya Mey Yui.
“Hari ini ayah tidak ada kesibukan, makanya ayah mengunjungimu di saat ayah ada waktu,” ucap Jun Ho.
“Bagaimana kalo kita jalan-jalan, ayah?” ajak Mey Yui.
“Baiklah jika kamu ingin jalan-jalan bersama ayah,” ucap Jun Ho.
“Yui’er siap-siap dulu, ayah! Ayah mau menunggu di sini atau ayah kembali ke kediaman?” tanya Mey Yui.
“Ayah tunggu di kediaman ayah saja, datanglah ke kediaman ayah jika kamu sudah selesai,” ucap Jun Ho.
“Tapi kita menyamar saja, ayah! Agar bisa mengetahui sesuatu yang menarik. Nanti jika Yui’er akan merias ayah agar tidak ada yang mengetahui identitas ayah,” ucap Mey Yui.
“Baiklah... Akan lebih menarik jika berdua menyamar, siapa tahu ada informasi penting. Ayah sudah lama tidak di ibukota,” balas Jun Ho.
“Kamu bersiap-siaplah dulu, ayah akan kembali ke kediaman ayah.
Mey Yui menganggukkan kepalanya dan kemudian melambaikan tangannya kepada Jun Ho. Kemudian ia masuk ke dalam rumahnya untuk bersiap-siap.
Setelah selesai membersihkan diri, Mey Yui mengunjungi kediaman ayahnya. Dengan di temani kelima gadis pengawalnya. Sementara Phu-phu tidak diajak karena dia bukan seorang kultivator. Mereka semua sudah menyamar dengan menggunakan pakaian pria. Selama dalam perjalanan, para pelayan yang melewatinya semua membungkukkan badannya untuk memberi hormat padanya.
Namun ia mengabaikan dan dengan santai melewatinya. Sesampainya ia di kamar ayah, Mey Yui mengetuk pintu kamar ayahnya.
“Masuk saja, nak!” ucap Jun Ho dari dalam.
Mey Yui membuka pintu kamar ayahnya dan kemudian masuk ke dalam. Kelima gadis pengawal dan phu-phu menunggu Ia melihat ayahnya sedang duduk di meja, lalu ia menghampirinya.
“Ayah... Yui’er akan merias ayah sekarang,” ucap Mey Yui tanpa basa basi
“Lakukan saja, nak! Ayah juga ingin mengetahui hasil riasan dari putri ayah,” jawab Jun Ho
Mey Yui langsung merias wajah ayahnya dan merapikan tatanan rambut ayahnya.
Jun Ho sangat senang saat Mey Yui mendandaninya. Ia bisa merasakan kasih sayang Mey Yui padanya. Dengan telaten putrinya menyisir rambutnya sambil bercanda dengannya.
“Sudah selesai! Sekarang ayah boleh berkaca,” ucap Mey Yui.
Jun Ho meraih cermin dan berkaca, ia takjub melihat wajahnya di cermin. Berkat riasan Mey Yui, wajah Jun Ho berubah.
“Ini sangat luar biasa, sayang. Wajah ayah terlihat lebih muda dan tampan,” ucap Jun Ho dengan percaya diri.
“Ayah siapa dulu, dunk! Ayah Yui’er pasti tampan, putrinya saja cantiknya tidak ada yang bisa mengalahkan kecantikan dari putri ayah,” balas Mey dengan gaya narsis.
“Kok jadi putri ayah tak mau kalah? Ayah belum melihat wajah cantik dari putri ayah sendiri. Coba kamu lepas cadarmu biar ayah melihat kecantikan yang tidak ada yang bisa mengalahkannya,” ucap Jun Ho.
“Ya.. ampun... Yui’er lupa jika ayah belum melihat wajah Yui’er setelah sembuh,” ucap Mey Yui sambil membuka cadarnya.
Jun Ho tercengang saat melihat wajah putrinya yang sangat mirip dengan istrinya saat masih muda. Bahkan lebih cantik lagi daripada istrinya. Hal ini sangat berbahaya jika banyak pria melihat kecantikan Mey Yui.
“Putri ayah memang paling cantik di kerajaan Tang bahkan mungkin di kerajaan Li tidak ada gadis yang bisa mengalahkan kecantikan putriku. Pakai cadar kamu, jangan kau biarkan orang lain melihat wajah cantikmu. Akan membahayakan dirimu,” ucap Jun Ho sambil membenarkan cadar Mey Yui.
“Iya, ayah! Kak Yuan, kak Ming Se dan kak A Sen juga tidak mengizinkan Yui’er melepas cadar,” adu Mey Yui.
“Baiklah ayah! Yui’er juga sudah terbiasa dan nyaman menggunakan cadar,” jawab Mey Yui.
“Mari kita berangkat sekarang agar tidak terlalu siang,” ajak Jun Ho sambil menggandeng tangan putrinya.
“Ayah kita jangan menggunakan kereta kuda, kita menggunakan berjalan atau menggunakan jigong,” ucap Mey Yui dengan menahan tangan ayahnya.
Jun Ho mengerutkan dahinya mendengar ucapan dari putrinya.
“Putri ayah sudah bisa berkultivasi?” tanya Jun Ho.
“Sudah dunk, ayah! Kultivasi Yui’er disembunyikan untuk mengelabui musuh,” ucap Mey Yui dengan gaya menyombongkan diri.
“Hahaha... Bagus... bagus..! Ayo kita berangkat,” ajak Jun Ho.
Mey Yui bergelayut manja pada ayahnya dan kemudian mereka keluar dari kamar. Dan memberi kode kepada kelima pengawalnya untuk segera berangkat.
Jun Ho dan Mey Yui melesat menggunakan jigong dan diikuti kelima pengawalnya. Mereka melesat dengan cepat menuju ibukota. Jun Ho sangat senang karena ini pengalaman pertamanya pergi bersama putri kesayangannya.
Mereka saling kejar sehingga tak terasa sudah hampir memasuki gerbang ibukota. Dari jauh nampak keramaian ibukota Tang. Jun Ho dan Mey Yui berhenti di dekat pinggiran gerbang ibukota dan memasuki gerbang ibukota.
Saat mereka berjalan terdengar beberapa derap kuda yang berlari kencang. Debu beterbangan diterpa angin, Jun Ho dan rombongan menepi dan memberi jalan rombongan kuda tersebut masuk ke ibukota. Iring-iringan prajurit berkuda berteriak menyuruh semua pengguna jalan minggir agar tidak terluka.
“Ayah mereka rombongan dari kerajaan Tang, apakah ayah mengetahui siapa pemuda yang memimpin rombongan di depan tadi?” tanya Mey Yui.
Jun Ho mengerutkan dahinya dan kemudian teringat jika putrinya pernah jatuh ke jurang ada kemungkinan putrinya melupakan wajah tunangannya.
“Tadi itu yang memimpin rombongan adalah Tunanganmu, putra mahkota Tang Yi Bo!” jawab Jun Ho.
“Oh... dia putra mahkota!” ucap cuek.
“Kenapa kau tanya? Apakah kamu berubah pikiran tidak jadi membatalkan pertunanganmu? Setelah melihat ketampanannya” goda Jun Ho.
“Ayah... Yui’er tidak akan berubah pikiran dan akan tetap membatalkan pertunangan dengannya. Tampan, ayah... di lihat dari sudut mana pun yang paling tampan adalah ayah, kedua Kak Ming Se, ketiga baru kak Yuan dan yang paling akhir adalah kak A Sen,” jawab Mey Yui dengan santai
Jun Ho mendengar ucapan putrinya, ia sangat bahagia. Ia tertawa sesaat melupakan beban pekerjaan yang membuatnya stres.
“Hahaha... Bagus... bagus.. ini baru putri ayah! Ayah kira kamu melupakan ketampanan orang tua ini setelah bertemu dengan kekasihmu” ucapnya dengan bangga.
“Mana bisa Yui’er melupakan ayah meski sudah bertemu dengan kak Yuan. Ayah adalah kekasih pertamaku, cinta pertama Yui’er!” ucap Mey Yui dengan manja sambil menggoyang-goyangkan tangan ayahnya.
Semua yang mendengar ucapan Mey Yui tersenyum, dalam hati kelima gadis pengawal. Calon putri mahkotanya sangat menyayangi ayahnya dan mereka belum pernah melihat putri keluarga bangsawan ataupun putri orang kaya yang berinteraksi seperti Mey Yui.
Jun ho pun merasakan kebahagiaan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ia sangat menyesal kenapa dulu percaya dengan hasutan Chu Min agar tidak menemui Mey Yui yang selalu histeris saat dirinya menemuinya.
“Mulutmu sangat manis! Dasar anak nakal... apakah kamu berani mengatakan hal itu jika ada kekasihmu,” ledek Jun Ho.
“Siapa takut! Memang ayah cinta pertama Yui’er dan pria paling-paling tampan di dunia ini. Pria lain lewat semua dengan ketampanan ayah,” goda Mey Yui sambil mengedipkan matanya kepada ayahnya
Jun Ho menghentikan langkahnya dan menoleh, ia sangat gemas dengan kelakuan putri kecilnya.
“Kamu benar-benar paling pintar membuat ayahmu terbang tinggi, setelah mendengar mulut manismu,” ucap Jun Ho.
Mey Yui tersenyum manja dan kemudian mereka melanjutkan perjalanan sambil menikmati kebersamaan.
* Hai Guys terima kasih sudah mampir dan jangan lupa kasi like dan koment*