
“Bagaimana perasaanmu? apakah sudah lebih tenang? Jika kamu sudah merasa tenang mari kita bicara,” ucap Ming se pada A Sen.
“Ya…, aku sudah lebih tenang.” jawab A sen
“Apakah kamu sudah mengetahui siapa dirimu? Maksudku, siapa namamu, apa pekerjaanmu, dimana tinggalmu?” jelas Ming Se.
A Sen menatap wajah Ming Se tak berketip seolah mencari jawaban yang diinginkan tapi dia ragu-ragu dengan apa yang di dalam benaknya.
“Aku hanya tahu saat terbangun, kalian memanggilku dengan sebutan A Sen,” jawabnya.
“Namamu adalah A Sen seperti yang sudah aku jelaskan, kamu adalah pengawal setiaku yang sedang terluka parah saat kita mengalami penyergapan di hutan kematian,” jelas Ming Se
“Kita berdua terdesak dan akhirnya jatuh ke jurang dan aku berhasil membawamu di gua ini. Adikku telah menemukan kita di dalam gua dalam keadaan tak sadarkan diri karena kita terluka parah dan terkena racun. Beruntunglah adikku bisa mengobati kita berdua. Racun kita sudah dikeluarkan dari dalam tubuh kita.”
“Dari apa yang aku katakan, apakah ada pertanyaan atau ada yang kurang mengerti?” tanya Ming Se, ia menjelaskan perlahan kepada A Sen.
“Namamu Lie Ming Se dan adikmu bernama Lie Mey Yui?” tanya A Sen.
“Ya, Aku putra pertama jenderal Besar di kerajaan Tang, aku seorang Jenderal muda. Kamu adalah pengawal setiaku, kita tumbuh bersama sejak kita berumur 12 tahun. Kita bertemu saat ibuku baru meninggal dunia, kamu datang ke acara pemakaman bersama dengan pamanmu. Kebetulan paman dan ayahmu adalah sahabat ayahku, dari situ kita selalu bersama,” jelas Ming Se.
“Sungguh aku tak mengerti situasi ini, aku benar-benar bingung mengatakan apa yang terjadi padamu. Apakah kamu percaya dengan ucapanku atau justru kamu menganggapku gila,” ucap A Sen sambil mengusap wajahnya sendiri.
“Aku pikir, diriku sudah gila atau saat ini aku sedang bermimpi dari tidur panjangku,” sambil menghela napas ia menoleh ke Mey Yui.
“Wajah kalian mengingatkan aku pada orang yang aku sayangi,” kata A Sen.
Deg..
Deg..
Ming Se dan Mey yui berkata,” jangan.. jangan…!” mereka serempak mengucapkan kata yang sama. Kemudian mereka bertatap mata dan tersenyum, berharap apa yang mereka pikir adalah benar.
Mey Yui mendekat pada A Sen dan meraih tangannya, kemudian berkata,” Apakah orang yang kak A Sen sayangi adalah adik kakak double K?” tanya Mey Yui hati-hati.
A Sen tersentak kaget, matanya melotot melihat ke arah Mey Yui. Istilah adik kakak double K adalah sebutan dari sahabatnya. Hanya saja ia ragu, siapa kedua adik kakak yang ada di depannya.
Ming Se nerka-nerka siapa A Sen ini, Radit atau Yoseph. Hati kecilnya mengatakan bahwa yang ada di depannya bukanlah A Sen yang asli namun dia adalah Yoseph sahabatnya. Namun ia menepis perasaannya, takut hal itu salah dan ia akan kecewa.
“Jawab kak A Sen, jangan bengong,” sentak Mey yui kesal menunggu jawaban dari A Sen.
“Siapa kalian, kenapa kamu tahu adik kakak double K,” bentaknya pada mey Yui.
“Siapapun kami, kamu tidak perlu tahu, kak Yoseph!” ucap Mey Yui, ia berspekulasi dengan memanggil A Sen dengan Yoseph.
A Sen yang dipanggil Yoseph, tiba-tiba tubuhnya menggigil dan kakinya lemas seperti tak bertulang. Ia terkejut saat Mey yui memanggilnya Yoseph.
Sebelum A Sen roboh ke tanah, Ming Se menopang dan memeluknya erat sambil terisak. Mey Yui juga tak mau kalah, ia juga ikut memeluk A Sen.
“Tak salah lagi, kamu pasti kak Yoseph!” ucap Mey Yui sambil menangis bahagia.
Menemukan dan berkumpul dengan orang-orang yang ia sayangi.
Mereka berdua mengangguk bersama, pecah tangisan mereka bertiga. A Sen masih belum menyadari jika ia terdampar di jaman kuno, ia melupakan apa yang sedang terjadi. Bahagia yang dirasakan saat ini, bertemu dengan Kenzo dan Kezia yang sudah meninggal di jaman modern.
“Tunggu-tunggu, kenapa kalian berdua bisa bersama di sini? Bukankah kalian sudah meninggal karena kecelakaan? Jangan bilang kalau kalian adalah hantu gentayangan,” tanya A Sen sambil mendorong Ming Se dan Mey Yui, ia merinding dan kuatir jika Kenzo dan Kezia adalah setan gentayangan .
Mendengar ucapan A Sen, mereka berdua tertawa ngakak.
“Hahaha…! jika kami setan gentayangan, berarti kami adalah setan cantik dan ganteng yang baik hati dan tidak sombong,” jawab Mey Yui sambil terkekeh.
“Sialan, kalian kalo sudah jadi dedemit jangan ganggu aku, donk!” makinya.
“Asal kalian tahu saat kalian koma dan akhirnya Kezia meninggal, kami sangat berduka dan terluka. kehilangan adik kecil yang kami sayangi.”
“Ardi menggila dia mencari dalang dari kecelakaan kalian."
"Kita bekerja sama dengan pamanku, dan menemukan siapa dalang dari kecelakaan kalian. Dia adalah saingan bisnis ayahmu, orang ini selain punya bisnis legal ternyata dia juga memiliki bisnis ilegal. Bisnis ilegalnya bekerjasama dengan mafia yang menjadi musuh dari keluarga Ardi."
"Mengetahui adanya campur tangan dari orang-orang bawah tanah, Ardi nekat datang ke markas mereka tanpa persiapan yang matang."
"Dia seperti sengaja mencari mati, aku mendapat informasi itu langsung menyusul dia. Tapi aku terlambat datang, Ardi tertembak saat aku sampai di sana. Dia tertembak tepat di dadanya dan seketika meninggal, aku menyesal tidak bisa menolongnya. Saat menemukan Ardi yang sudah tak bernyawa, rasanya hampir gila. Kehilangan 2 sahabat baikku dan adik kesayanganku dalam kurun waktu 1 bulan.”
“Aku tak menghiraukan pihak polisi dan mafia baku hantam menggunakan senjata api. Dalam pikiranku hanya ingin membawa jasad Ardi pergi dari tempat itu, aku menggendong jasad Ardi menuju mobilku. Tak ku duga ada yang menembak kakiku, aku jatuh terkena tembakan, kemudian aku merasakan peluru menembus kepalaku,’ cerita A Sen.
“Tunggu-tunggu! kepalaku tertembak saat mengangkat jasad Ardi! Berarti aku juga sudah mati, donk!” seru A Sen tersadar dengan cerita kejadian di jaman modern.
A Sen memijat tengkuknya, dan menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian menatap Ming Se dan Mey Yui.
“Apakah kita jadi hantu yang gentayangan? Jadi hantu pun kita berkumpul!” ucapnya.
Ming Se memukul kepala A Sen
“Bug..!
“Aduh!” keluh A Sen sambil memegang kepalanya.
“Kamu ini kalau halu jangan ke tingkat dewa,” ucap Ming Se.
“Siapa yang kau sebut hantu gentayangan?” tanya Mey Yui.
“Kalau bukan hantu gentayangan apa donk? Kamu! sambil menunjuk Mey Yui, kamu sudah meninggal dan aku ikut mengurusi pemakamanmu begitu juga dengan Kenzo. Apa aku salah jika menyebut kalian dan diriku sendiri hantu gentayangan?” ucapnya tak mau kalah.
“Lama-lama aku bisa gila masuk rumah sakit jiwa,” kata A sen.
“Kau pikir disini ada rumah sakit jiwa? Boro-boro rumah sakit jiwa, listrik saja belum ada,” jawab Mey Yui sambil tertawa, ia senang mempermainkan A Sen yang belum mengerti jika mereka bertiga terdampar di jaman kuno.
“Sudah, dek! Kamu jangan menggoda A Sen lagi, lebih baik kita jelaskan pelan-pelan agar dia mengerti,” potong Ming Se yang melihat gelagat keusilan adik kesayangannya.
Akhirnya mereka menjelaskan situasi dan kondisi mereka bertiga pada Yoseph yang menggantikan pemilik tubuh asli A Sen. Jiwa Mereka bertiga yang dari jaman modern pindah ke tubuh orang di jaman kuno.
Mau gak mau Yoseph harus bisa menerima kenyataan yang ada.