
Setelah mendengar cerita perjalanannya hingga mendapatkan teratai hitam, raja Li Yuan menatap wajah putranya yang kelihatan sangat lelah karena telah melakukan perjalanan tanpa henti. Raja Li Bian memerintahkan anaknya untuk beristirahat.
“Yuan’er, lebih baik kamu beristirahatlah di istanamu. Sudah berapa 4 hari kamu tidak beristirahat, kamu pasti kelelahan. Nanti jika gundahmu telah sadar, ayahanda akan memanggilmu,” ucap raja Li Bian dengan pelan sambil memegang tangan putra kesayangannya.
“Ayahanda, Yuan’er akan menunggu ibunda dulu. Yuan’er akan memastikan ibunda minum pil obat teratai hitam dan melihat kondisi ibunda. Tolong jangan suruh ananda beristirahat,”pinta Yuan pada raja Li Bian.
Raja Li Bian mendesah, kemudian menyantap anaknya yang mirip dengannya yang keras kepala. Biak wajah maupun sifatnya sama seperti dirinya, sehingga mau tidak mau ia membiarkan putranya.
“Baiklah! Ayahanda akan membiarkanmu menunggu ibundamu meminum obat, tapi setelah itu kamu harus beristirahat. Ayahanda tidak mau kena omelan ibundamu karena membiarkanmu tidak tidur selama 4 hari,” kata raja Li Bian menyerah dengan Yuan.
Ayah dan anak berbincang menghabiskan waktu sambil menunggu tabib ketua dan tabib senior menyelesaikan obat untuk permaisuri Lin Xin Xia.
Selang beberapa jam, tabib ketua dan rombongan memasuki kamar permaisuri.
“Yang mulia, obat untuk yang mulai permaisuri sudah selesai bisa diberikan sekarang,” lapor tabib ketua dengan menunjukkan pil obat yang telah dimasukkan botol keramik dan ramuan obat berbentuk cairan yang ditaruh cawan mangkok.
Yuan meminta pil obat dan cawan mangkok berisi ramuan obat juga, ia melangkahkan kakinya menuju ranjang ibunya. Disusul dengan ayahandanya berjalan menuju ranjang istri tercintanya, mereka berdua ingin memberikan obat pada permaisuri.
“Yuan’er, ayah akan menopang tubuh ibundamu dulu. Setelah itu kamu masukan pil obat dan suapi ibundamu dengan ramuan obat secara perlahan jangan sampai ibundamu tersedak!” perintah Li Bian pada putranya.
“Percayakan ananda mu ini, ayah. Kalau ayahanda kuatir dengan ananda mu ini akan mencelakakan istri tersayang ayahanda, bagaimana jika kita bertukar posisi. Ananda yang menopang ibunda dan ayahanda yang memberikan obat pada ibunda,” ucap Yuan pada ayahnya dengan sengaja, Sebab ia tahu ayahnya tidak akan mengijinkan yuan menyentuh ibundanya apalagi menopang istri tercintanya. Ayahandanya terlalu posesif terhadap istri tercintanya.
“Anak tengik, tidak akan ayahanda ijinkan kamu menyentuh istri tercintaku! Bocah tengik!,” kesal karena putranya menggodanya.
“Istri tercinta ayahanda adalah ibundaku tercinta, ayahanda tidak bisa melarangku untuk menopang ibunda,” balas Yuan tak mau kalah sambil menarik sudut bibirnya samar.
“Sudah jangan cerewet, cepat berikan obatnya pada ibundamu!” ucap raja Li Bian.
Yuan segera memasukkan pil obat ke dalam mulut ibundanya dan kemudian menyuapi obat yang ada di cawan mangkok sedikit demi sedikit dengan pelan-pelan. Ayahandanya mengusap sisa obat di sela-sela mulut ibundanya.
Semua obat telah diberikan dan cawan mangkok diberikan kepada tabib, Raja Li Bian menaruh tubuh permaisurinya berbaring di ranjang dengan perlahan. Raja Li Bian duduk di tepi ranjang istrinya sambil memegang tangannya, sementara Yuan berdiri di samping ayahandanya sambil melihat ibundanya.
Mereka berdua menunggu permaisuri Li Xin Xia, perlahan wajah pucat permaisuri berangsur-angsur kembali normal. Wajah pucatnya berubah menjadi merona merah, jari tangannya mulai bergerak dan perlahan membuka matanya.
Melihat keajaiban tersebut raja Li Bian bahagia tak terasa di sela-sela sudut matanya keluar air mata dan dengan cepat ia menghapusnya agar tidak diketahui istri dan putranya.
“Sayang kamu sudah sadar?” Haru melihat istrinya telah sadar dari komanya yang panjang ia langsung memeluk istrinya yang sedang berbaring di ranjang.
“Ayahanda menyingkir dari ibunda!” Yuan kesal melihat ayahandanya yang memonopoli ibundanya yang baru sadar.
“Anak tengik, mengganggu kesenangan ayahandamu saja,” omel ayahandanya.
“Ibunda baru sadar kalo ayahanda peluk dengan erat ibunda tidak bisa bernapas,” balas Yuan.
“Bilang saja kamu juga ingin memeluk istri tercintaku!” jawab ayahandanya tak mau kalah.
“Ananda adalah anak kesayangan ibunda dan aku juga ingin memeluk ibunda,” serang Yuan tak mau kalah.
“Sudah sana pergi! Jangan ganggu ayahandamu memeluk ibundamu, kalo kamu ingin memeluk carilah istri biar ada yang bisa kamu peluk,” kata ayahandanya.
“Ananda belum mau menikah dan masih ingin bermanja-manja dengan ibunda,” ledek Yuan.
“Bocah nakal! Sana pergi! Kembalilah ke istanamu sendiri dan istirahatlah, ibundamu sudah sehat,” usir ayahandanya.
Melihat pertengkaran suami dan putra tercintanya beradu mulut tidak ada yang mau mengalah hanya tersenyum. Kedua lelaki di depannya sangat menyayanginya, dari Yuan masih kecil selalu beradu dengan ayahandanya untuk merebutkan kasih sayang darinya.
“Sayang putramu ini sudah dewasa tapi masih manja denganmu, dia sudah waktunya untuk menikah agar tidak terus-terusan manja dan mencari perhatian darimu,” adu raja Li Bian pada permaisuri.
Mendengar aduan suaminya permaisuri tersenyum dan melihat putranya.
“Yuan’er… Kenapa wajahmu terlihat sangat lelah dan lesu? Lingkaran mata menghitam? Apakah kamu selalu menjaga ibunda dan tidak beristirahat” tanya permaisuri.
“Istriku, Yuan’er selama 4 hari ia tidak istirahat bahkan tidak tidur. Putramu itu mencari Teratai hitam untuk bahan obatmu. Lebih baik kamu suruh kembali ke istananya biar dia bisa istirahat,” ucap raja Li Bian sambil menarik sudut bibirnya dengan samar. Ia mengadukan Yuan pada istrinya agar istri menyuruh pergi Yuan.
Yuan mendengus mendengar ucapan ayahandanya yang sengaja kepada ibundanya, agar ayahandanya bisa berduaan dengan ibundanya. Pasti ibundanya menyuruhnya pergi beristirahat.
“Apa benar yang dikatakan ayahandamu, nak? tanya permaisuri
“Benar ibunda, tapi ananda ingin menemani ibunda,” jawab Yuan.
“Yuan’er, ibunda sangat berterima kasih kamu telah mencari bunga teratai untuk obat ibunda. Tapi ibunda tidak mau kamu kelelahan dan jatuh sakit akibat tidak mau beristirahat! Kembalilah ke istanamu dan beristirahatlah, kamu bisa datang ke sini setelah kamu istirahat,” perintah ibundanya.
Raja Li Bian tersenyum mendengar perintah istrinya pada putranya, ia bisa berduaan dengan istrinya tanpa di ganggu putranya.
“Baiklah ibunda, ananda akan kembali ke istana untuk beristirahat. Setelah ananda cukup istirahat akan menemui ibunda sebelum ananda pergi ke suatu tempat,” ucap Yuan.
“Yuan’er… kamu akan pergi lagi? Kamu sudah lama berkelana di luar, baru juga datang. Kini kamu akan pergi lagi, “ protes ibundanya
“Ibunda, ananda harus pergi karena ada sesuatu yang sangat penting,” jawab Yuan
Permaisuri Li Xin Xia menghembuskan napas panjang.
“Putraku sekarang sudah dewasa, sehingga kamu harus banyak menambah pengalaman sebelum menggantikan ayahmu. Ingatlah usiamu sudah cukup untuk menikah, Saat kamu kembali ke istana kamu harus membawa calon permaisuri putri mahkota! Jika kamu tidak membawa calon permaisurimu jangan salahkan ibunda mencarikan calon untukmu,” ucap ibundanya
Raja Li Bian tersenyum mengejek putranya, ia senang istrinya mengomeli putranya.
“Ibunda jangan memaksa ananda untuk menikah, ananda masih belum siap! Ananda masih mencari pengalaman banyak dan belajar di luar kerajaan,” balas Yuan yang merasa malas dengan permintaan ibundanya.
“Apakah kamu mempunyai seseorang di hatimu dan menunggunya? Sehingga kamu selalu menolak setiap ibunda memperkenalkan anak gadis dari para menteri dan bangsangsawan di negeri ini,” selidik permaisuri Li Xin Xia, nalurinya merasakan jika putranya memiliki seseorang di hatinya dan menunggu saat yang tepat.
“Ibunda jangan bertanya seperti itu, ananda pamit akan kembali ke istana dulu,” Yuan selalu menghindar jika disinggung mengenai pernikahan.
“Baiklah jika kamu akan kembali,” balas permaisuri Li Xin Xia.
Yuan langsung pergi meninggalkan kamar ibundanya.
Permaisuri Li Xi Xia menoleh ke arah suaminya, mereka bertatap mata dan permaisuri menghela napas panjang.
“Hhhhfff… Lihatlah putramu itu sayang, selalu saja beralasan untuk menghindari pertanyaan mengenai pernikahan. Dia selalu kabur!” ucap permaisuri Yuan kesal.
“Hahaha... Dia memang putraku! Apakah kamu ingat saat ibundaku menyuruhku untuk segera menikah? Aku selalu menghindari karena aku masih menunggumu, ibunda kesal sehingga membawa gambar semua anak gadis dari para menteri dan bangsawan agar aku memilih salah satu dari mereka,” raja Li Bian mengingatkan kenangan masa lalu kepada permaisurinya.
“Benar juga, sekarang aku kena karmanya! Bisa merasakan bagaimana perasaan ibu Suri pada saat itu,” balas permaisuri Xin Xia sambil tersenyum.
“Sayang, kamu baru sembuh! Lebih baik kamu istirahat dulu, aku akan menghadiri rapat dengan para menteri. Setelah selesai rapat aku akan mengunjungimu kembali,” pamit raja Li Bian pada istrinya.
“Baiklah, aku akan beristirahat. Tubuhku masih lemah,” kata permaisuri Xin xia.
Raja Li Bian mengecup kening istrinya dan kemudian meninggalkan kamar untuk menghadiri rapat dengan para menteri.