Kezia Story

Kezia Story
BAB 55



Guys maaf ya.. Kemarin tidak update! Authornya lagi kurang enak badan. Jangan lupa dengan like dan comment.


Suara beberapa langkah kaki mulai terdengar, tanda mereka yang akan mendatangi gubuk Mey Yui sudah mulai dekat.


Tak lama terdengar suara teriakan dari luar. Phu-phu bergegas keluar untuk melihat siapa yang datang.


“Pelayan sialan di mana majikanmu, panggil dia keluar!” bentak bibi Ong pelayan setia selir Chu Min.


“Apakah majikanmu tidak ada di rumah? Apakah dia sedang bersama seorang pria?” ucap selir Chu Min.


“Nona Mey Yui sedang beristirahat, nyonya,” jawab Phu-phu.


“Kau jangan banyak alasan! Kamu ingin melindungi majikanmu yang sedang bersama seorang pria dan berkeliaran di luar,” bentak selir Chu Min.


“Ampun nyonya, hamba tidak berbohong. Nona sedang istirahat!” jawab Phu-phu sambil bersimpuh


Bibi Ong menghampiri Phu-phu dan menendangnya. Phu-phu terjengkang dan jatuh. Mey Yui segera keluar karena mendengar teriak kesakitan dari Phu-phu.


“Berani-beraninya kamu menendang Phu-phu!” bentak Mey Yui sambil mendorong bibi Ong.


Bibi Ong sempoyongan dan jatuh ke tanah. Bibi Ong marah karena di dorong oleh Mey Yui.


“Sialan kau! Berani mendorongku! Jangan salahkan aku jika aku membalasmu!” teriak bibi Ong.


“Kau pikir dirimu siapa? Pelayan yang tak tahu diri, berani kurang ajar dengan putri sah jenderal Jun Ho. Kau hanyalah pelayan tapi kelakuanmu seperti seorang majikan,” bentak Mey Yui.


“Aku adalah pelayan dari nyonya kediaman jenderal Jun Ho. Kamu hanyalah anak yang tidak diinginkan dan terbuang,” balas bibi Ong.


“Hahaha...! Nyonya besar! Hanya seorang selir menganggap dirinya sebagai nyonya besar! Ingat ya nyonyamu itu hanya selir dan bukan istri sah dari jenderal Jun Ho,” ucap Mey Yui dengan tegas.


“Kau...! Anak sialan! Berani-beraninya kau menghina diriku! Aku akan membuat perhitungan denganmu,” teriak selir Chu Min dengan sangat marah.


“La...! bukannya benar kamu hanya seorang selir! Siapa yang menghina? Kenyataan bahwa kamu selir yang di tinggal suami yang lebih memilih tinggal di perbatasan daripada di kediaman,” ledek Mey Yui


“Kurang ajar kau! Beraninya kau!” selir Chu Min sangat emosi sampai tak bisa mengeluarkan kata-kata.


“Ada perlu apa kalian berbondong-bondong ke sini!” tanya Mey Yui.


“Siapa pria yang bersamamu? Kau di luar bertemu dengan banyak pria! Kau tak pantas bertunangan dengan putra mahkota,” ucap selir Chu Min.


“Plok... plok...plok...”


Suara tepuk tangan Mey Yui


“Wah...wah... kamu sudah tak sabar ingin membatalkan pertunanganku dengan putra mahkota?


“Apa maksudmu! Jangan memutar balik! Kau di luar bermain-main dengan banyak pria! Sangat tak pantas bertunangan dengan putra mahkota,” ucap selir Chu Min.


“Aku bermain dengan pria? Apakah tidak salah dengar? Yang aku tahu adalah anakmu sedang mengejar-ngejar dan mencari perhatian putra mahkota,” balas Mey Yui.


“Apa yang kau bilang! Anakku adalah gadis yang baik dan cantik! Sangat berbeda dengan dirimu, gadis jelek yang suka bermain dengan pria di luar,” teriak selir Chu Min.


“Santai..! Tak perlu emosi, aku memang jelek tapi hati dan pikiranku tidak jelek. Berbeda dengan anakmu, kau bilang anakmu baik dan cantik. Baik dari mananya? Cantik? Cantik dari mana? Dilihat dari sudut pandang mana pun anakmu itu seperti ondel-ondel,” ledek Ming Yui.


“Deg...”


Hati Mey Yui sangat sakit mendengar ucapan selir Chu Min. Ia membenarkan ucapan dari selir Chu Min, ayahnya sama sekali tidak mencarinya. Namun ia menepis semua rasa kecewa dan sakit hatinya. Ia tak mau selir Chu Min melihatnya bersedih hati.


Hal itu akan membuat selir Chu Min senang jika melihat Mey Yui sedih.


“Aku tidak peduli ayahku mencari aku atau tidak yang penting aku bahagia melihatmu kesepian karena ayah lebih suka di perbatasan,” ucap Mey Yui dengan santai.


Wajah selir Chu Min merah padam, ia merasa tersindir dengan ucapan Mey Yui, selir Chu Min sangat marah.


Selir Chu Min sangat malu, dalam hatinya membenarkan ucapan Mey Yui. Ia sudah mendapatkan jenderal Jun Ho namun ia tak bisa mendapatkan hatinya. Meski sedikit perhatian atau kasih sayang dari Jun Ho tidak pernah ia dapatkan.


Cinta yang ia paksakan tak seindah dengan apa yang ia harapkan. Seli Chu Min pikir jika ia telah menjebak jenderal Jun Ho dan berhasil menjadi selir akan lebih mudah mendapatkan kasih sayangnya. Bahkan ia telah membunuh Xia Xio Lan tidak bisa menggantikannya.


“Awas kau gadis jelek! Tak akan aku biarkan kau hidup tenang!” teriak selir Chu Min.


“Kamu tak perlu mengancamku! Karena aku tidak takut dengan ancamanmu dan aku bukanlah Mey Yui yang dulu, yang selalu kau siksa dan tak berani melawanmu!” balas Mey Yui dengan kantang.


“Pelayan tampar mulutnya! Berani sekali dia melawanku!” teriak selir Chu Min marah.


Para pelayan saling pandang dan kemudian memandang ke arah bibi Ong. Mereka ingat saat bibi Ong terkapar muntah darah. Para pelayan takut akan mengalami nasib yang sama seperti bibi Ong. Sementara bibi Ong sendiri juga waswas dan kuatir jika akan terluka kembali.


Mey Yui tersenyum sinis melihat ekspresi para pelayan.


“Kalian ingin merasakan seperti bibi Ong seperti dulu? Jika kalian ingin merasakan, ayo maju dan tampar aku,” tantang Mey Yui.


“Kenapa kalian diam saja! Tampar j*l*ng itu!” perintah selir Chu Min.


Para pelayan mau tak mau melaksanakan perintah dari majikannya meski mereka tahu jika akan terluka. Selir Chu Min sudah sangat marah melihat pelayannya tidak segera melaksanakan perintahnya.


“Pelayan bodoh! Untuk apa aku menggaji kalian! Jika kalian tidak segera menjalankan perintahku!” maki selir Chu Min.


“Para pelayanmu tidaklah bodoh! Mereka tahu dan paham jika mengikuti perintahmu akan aku pastikan jadi bubur, makanya mereka ragu menjalankan perintahmu! Lebih baik kau jangan mempersulit para pelayanmu. Kembalilah ke kediamanmu dan carilah cara agar ayahku melirikmu.”


Harusnya kamu sibuk merias diri dan memanjakan ayahku agar ayah tertarik padamu. Bukannya kamu datang ke sini mencari gara-gara denganku. Kenapa semakin lama kamu semakin bodoh!” ledek Mey Yui.


Selir Chu Min mengepalkan tangannya, wajahnya merah padam menahan marah.


“Kau benar-benar gadis sialan! Ibu dan anak sama saja! Membuatku tidak bisa merasakan ketenangan sedikit pun,” maki selir Chu Min.


“Siapa suruh kau tidak tenang? Ibuku tidak pernah merasa membuatmu tidak tenang. Apakah tidak sebaliknya? Kau yang merusak kebahagiaan ibuku! Kehidupan rumah tangga ibuku yang harmonis dan bahagia telah kau rusak dengan menjebak ayahku.”


“Bahkan aku meragukan, apakah Mey Fang adalah anak kandung dari ayahku. Wajah dan sifatnya sama sekali tidak ada yang miripnya dengan ayahku!”


“Jika saja ada alat yang bisa mengecek darah untuk mengetahui kebenaran darah yang mengalir pada Mey Fang itu adalah darah ayahku. Aku orang pertama yang akan mencobanya, untuk mengetes Mey Fang,” sindir Mey Yui.


“Kurang ajar! Jaga ucapanmu! Akan aku potong lidahmu yang banyak bicara!” teriak seli Chu Min tak terima.


“Dari tadi kau teriak-teriak, mengancam, memaki! Apa tidak lelah! Pergi saja kau dari sini, aku lelah ingin beristirahat! Tak ada untungnya kau datang ke sini, lebih baik kau rayu ayahku. Ingat gadis muda dan cantik sangat banyak begitu juga janda muda dari panglima kerajaan Tang. Kau sudah tua dan keriput! Lebih baik kau menjaga dan mempertahankan ayahku agar tidak tergoda gadis atau janda cantik,” ledek Mey Yui.


Spontan selir Chu Min memegang wajahnya dan meraba-raba. Ia merasakan wajahnya sudah mulai keriput. Tanpa membalas sindiran dari Mey Yui ia langsung tergopoh-gopoh meninggalkan kediaman Mey Yui. Selir Chu Min kuatir jika apa yang di katakan Mey Yui adalah benar.