
Setelah mengantar ayahnya, Mey Yui kembali ke kediamannya di temani dengan ke lima gadis pengawalnya.
Sementara selir Chu Min di dalam kamarnya sangat marah, ia sangat marah dan menghancurkan barang-barang yang ada di kamarnya.
“Sialan...! Akan aku balas semua penghinaan ini! Aku membencimu! Ini semua gara-gara gadis sialan itu. Bagaimana mungkin dia bisa sembuh dari racun yang telah aku berikan,” ucap Chu Min dengan sangat marah.
“Nyonya... tolong kendalikan emosi! Jangan sampai orang-orang dari tuan besar mengetahui dan melaporkan nyonya kepada tuan,” ucap bibi Ong mengingatkan.
“Aku kesal sekali rasanya ingin segera membunuh gadis tengik itu,” teriak Chu Min.
“Hamba paham, nyonya! Tapi kita harus cerdik untuk menghadapinya. Cobalah meminta bantuan tuan besar Qian,” balas bibi Ong.
“Kau benar... kenapa aku sampai melupakan ayah? Aku terlalu emosi sehingga melupakan ayah. Ayah juga sudah berjanji akan membantu Mey Fang untuk menjadi putri mahkota,” ucap Mey Yui.
“Segera kirim kabar kepada tuan besar, agar tuan besar membantu nyonya,” jawab bibi Ong.
“Kamu benar, aku akan mengirim surat kepada ayah!” ucap Chu Min.
“Baik, nyonya!” jawab bibi Chu Min.
Selir Chu Min menyiapkan surat yang akan ia berikan kepada ayahnya. Ia sangat murka dan ingin membunuh Mey Yui.
Bibi Ong menyuruh pelayan membersihkan kamar yang telah di hancurkan oleh selir Chu Min.
Surat yang akan di berikan kepada ayahnya telah siap. Ia menyuruh bibi Ong mengantar surat tersebut. Karena ia tidak bisa memanggil pengawal bayangannya. Penjagaan di kediaman Jun Ho sangat ketat, para penjaga bayangannya tidak bisa memasuki area kediaman.
Saat ini selir Chu Min bagaikan katak dalam tempurung. Ia dan putrinya di hukum di dalam kamar. Pengawal bayangannya ada yang tertangkap, satu-satunya yang bebas keluar masuk hanya bibi Ong.
“Antar surat ini kepada ayah, berhati-hatilah! Saat ini situasi sangat berbahaya,” perintah Chu Min pada bibi Ong.
“Baik, nyonya! Hamba akan berhati-hati, hamba berharap nyonya bisa mengendalikan emosi nyonya. Jangan sampai semuanya jadi berantakan gara-gara nyonya tidak bisa menahan emosi. Kasihan nona Mey Fang, ”ucap bibi Ong.
“Aku mencoba menahan diri,” jawab Chu Min.
Setelah berpamitan bibi Ong meninggalkan kamar selir Chu Min, ia akan mengantar surat rahasia tersebut.
Setelah bibi Ong meninggalkan kamarnya, selir Chu Min berteriak memanggil penjaga yang sedang berjaga di pintu kamarnya.
“Hai kalian...! Penjaga sialan... cepat panggil tuanmu.. . Aku ingin bicara!” Selir Chu Min berteriak tak henti-hentinya.
“Nyonya jangan mempersulit hamba! Hamba hanya menjalankan tugas, tuan tidak ingin menemui nyonya,” balas prajurit jaga.
“Sialan kau...! Cepat panggil tuanmu!” maki selir Chu Min.
Prajurit jaga kesal dengan teriakan selir Chu Min. Mereka takut jika tidak melaporkan kepada tuannya, tapi jika tidak lapor teriakan selir Chu Min membuat sakit kepala.
“Bagaimana in?” tanya penjaga A
“Nyonya sangat berisik sekali,” ucap penjaga B.
“Lebih baik kita laporkan kepada ruan Wen An daripada kita di salahkan,” balas penjaga C.
Setelah berunding para penjaga memutuskan yang melapor kepada Wen An adalah penjaga C. Ia segera mencari Wen An untuk melaporkan selir Chu Min.
Tak lama penjaga C datang bersama dengan Wen An. Penjaga A memberitahu kedatangan Wen An kepada selir Chu Min.
“Nyonya, tuan Wen An telah datang dan ingin menemui anda,” ucap penjaga A.
“Bodoh...! Aku tidak ingin bertemu dengan pengawal rendahan sepertinya. Aku ingin kalian memanggil suamiku!” makinya.
Penjaga A ketakutan karena ucapan dari selir Chu Min. Ia takut jika Wen An marah dan penjaga yang menjaga selir Chu Min kena imbasnya.
“Hamba mohon maaf, tuan! Tidak menjaga nyonya dengan baik,” ucap penjaga A sedikit gemetaran. Karena ia melihat raut wajah Wen A terlihat menahan marah.
“Ini bukan salahmu, kalian juga tidak akan bisa mengatasi nyonya Chu Min,” jawab Wen An dengan cuek.
“Nyonya anda percuma saja berteriak sampai urat suara anda putus. Tuan tidak akan menemui anda saat ini. Lebih baik nyonya beristirahat dan mengumpulkan tenaga daripada anda berteriak-teriak yang tidak ada gunanya,” ucap Wen An dari depan pintu kamar selir Chu Min.
Selir Chu Min semakin murka dengan jawaban dari Wen An.
“Dasar pengawal rendahan yang tak berguna! Cepat pergi dan katakan kepada suamiku jika aku ingin bertemu dengannya. Jika dia tidak menemuiku akan aku hancurkan semuanya,” teriak selir Chu Min dari dalam kamar.
“Terserah nyonya akan melakukan apa di kamar! Tapi hamba sarankan lebih baik nyonya tidak melakukan hal yang konyol untuk menarik perhatian tuan besar. Jika anda ingin segera bertemu dan bebas dari hukuman yang di berikan oleh tuan besar,” balas Wen An yang sudah muak dengan selir Chu Min yang selalu mengancam
“Berani sekali kau melawanku! Akan aku balas perlakuanmu padaku,” ucap selir Chu Min.
“Hamba tidak berani melawan anda, hamba hanya menjalankan perintah tuan besar. Hamba pamit dulu, nyonya! Karena banyak pekerjaan yang harus hamba kerjakan,” ucap Wen An.
Selir Chu Min tidak menjawab namun terdengar suara pecahan benda-benda yang terjatuh. Yang telah di banting dan di rusak oleh selir Chu Min.
Wen An mengabaikan tindakan selir Chu Min, lalu ia meninggalkan kediaman selir Chu Min.
Setelah kepergian Wen An, selir Chu Min tersenyum. Ia sengaja melakukan itu untuk mengalihkan perhatian dan kewaspadaan Wen an. Agar bibi Ong bisa keluar dari kediaman jenderal Jun Ho tanpa ada hambatan.
Saat ini hanya bibi Ong saja harapannya agar bisa menemui ayahnya. Bibi Ong yang bisa dengan bebas keluar masuk di kediaman Jenderal Jun Ho. Apalagi saat ini dirinya dan putrinya telah di hukum.
“Dasar pengawal bodoh! Untung penjaga di depan memanggil Wen An untuk datang kemari. Jika yang datang suamiku akan lebih merepotkan,” gumamnya dalam hati.
“Aku harus segera membuat putriku menikah dengan putra mahkota sehingga kedudukanku lebih aman! Semoga saja bibi Ong berhasil memberikan suratku kepada ayah dengan selamat. Jika terjadi apa-apa dengan bibi Ong, aku akan mendapatkan kesulitan yang lebih besar di sini,” pikir selir Chu Min.
“Saat ini segalanya telah berubah, aku harus berhati-hati jika tidak semuanya menjadi kacau. Pastinya ayah tak akan memaafkanku, jika rencananya yang disusun telah lama berantakan gara-gara aku,” gumam selir Chu Min.
Selir Chu Min benar-benar kacau, posisinya di kediaman sudah tidak seperti dulu. Ia masih bisa menerima jika suaminya pulang dari perbatasan ke kediaman, mengabaikan dirinya dan tidak peduli dengan Mey Yui.
Namun sekarang berbeda, suaminya telah mengabaikannya tapi dekat dengan Mey Yui. Hal itu yang tidak bisa ia terima.
********
Mohon maaf agak slow update, sehari hanya satu bab. Authornya sedang kurang enak badan, kalo sudah sehat author janji akan up double.
Jangan lupa like dan komentarnya, terima kasih.