
Ketiga pria sangat mengawatirkan kondisi Mey Yui yang masih belum sadar. Ming Se memanggil Yuyu yang telah selesai berkultivasi.
“Yuyu, tolong kamu lihat kondisi adikku. Dari kemarin belum sadar, membuat kami kuatir,” ucap Ming Se panik.
Yuan pun tak kalah panik, di satu sisi ia ingin menolong Mey Yui namun di sisi lain ia takut jika dirinya membantu berakibat tidak baik bagi Mey Yui.
“Kalian jangan kuatir, kak Mey Yui tidak apa-apa! Jika kak Mey Yui mengalami sesuatu hal yang buruk kami sebagai hewan kontraknya akan merasakan hal yang sama,” jawab Yuyu.
“Tapi mengapa sampai sekarang belum sadar?” tanya A Sen.
“Kalian tunggu saja, aku juga tidak mengetahui kenapa kak Mey Yui belum sadar,” jawab Yuyu dengan tenang.
Sementara di alam bawah sadar Mey Yui, ia melihat sinar yang sangat menyilaukan melesat ke arahnya dan berubah menjadi seorang gadis yang mirip dengannya.
“Siapa kamu?” tanya Mey Yui.
“Aku Mey Yui pemilik tubuh asli yang kamu tempati,” jawab Mey Yui asli.
“Kamu putri Mey Yui?” Maafkan aku! Aku tidak tahu kenapa aku menggantikanmu di sini,” ucap Mey Yui.
“Kamu tidak perlu minta maaf, Kezia! Kamu bisa menempati tubuhku, hanya saja aku minta tolong padamu membalaskan dendamku pada ibu dan kakak tiriku.”
“Jangan kau salahkan ayahku, tolong sayangi ayahku karena ayahku sangat menderita ketika ibundaku meninggal. Tolong bantu aku menjaga dan menyayanginya. Dan tolong bantu aku menjaga Chu-chu, hanya dia yang tulus menyayangiku,” ucap putri Mey Yui.
“Kamu jangan kuatir aku akan membalaskan dendam untukmu! Setelah selesai kultivasiku, kami berencana membalaskan dendam kepada keluarga ibu tirimu,” balas Kezia.
“Terima kasih, Kezia! Kami merasa tenang jika kamu mau membantuku,” ucap putri Mey Yui.
“Kami pasti membalaskan denda kalian. Apakah kamu mengetahui jika kakakmu dan A Sen juga telah dibunuh oleh mantan perdana menteri tua,” ucap Kezia.
Putri Mey Yui berkaca-kaca mendengar informasi dari Kezia.
“Aku sudah mengetahuinya, karena kak Ming Se dan kak A Sen sudah bertemu denganku. Kami menjadi jiwa yang berkelana karena masih menaruh dendam kepada keluarga ibu tiriku,” ucap putri Mey Yui
“Mereka bukan manusia, hanya karena keserakahan dan silau dengan kekuasaan tega membunuh kalian,” ucap Mey Yui.
“Tidak hanya kami yang mereka bunuh, namun ibundaku juga telah di racuni hingga meninggal,” jawab putri Mey Yui.
“Sejak kedatangan selir Chu Min di kehidupan keluarga kami, banyak korban berjatuhan. Ayahku terlambat mengetahuinya,” ucap putri Mey Yui lagi.
“Aku akan menepati janjiku untuk membalaskan dendam kalian,” ucap Kezia tegas dan tangannya mengepal karena marah.
“Baiklah Kezia aku akan pergi, tolong rawat dan sayangi ayahku dan Chu-chu. Kami sangat berterima kasih kepada kalian. Kamu bisa menggunakan tubuhku sesuka hatimu” ucap putri Mey Yui.
“Kamu jangan kuatir aku pasti akan menjaga dan menyayangi ayahmu dan Chu-chu. Aku berterima kasih padamu! Kamu merelakan tubuhmu untukku sehingga aku mendapatkan kesempatan kedua untuk hidup,” ucap Kezia.
Putri Mey Yui mengangguk dan melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan. Tubuh putri Mey Yui berubah kembali menjadi sinar putih dan kemudian menghilang.
Setelah kepergian putri Mey Yui, Kezia merasa ada yang memanggil namanya. Ia berusaha mencari di mana asal suara tersebut. Sebuah sinar yang menyilaukan dan ia melihat sebuah bayangan yang memanggilnya.
Ia pun melangkah menuju sosok tersebut. Ternyata sosok Yuan yang datang mencarinya dan ingin membawanya kembali keluar dari alam sadarnya.
Kezia berhasil di tarik tangannya oleh Yuan. Dan di ruang dimensi tepatnya di tempat tubuh Mey Yui berada, mulai ada tanda-tanda kesadarannya kembali.
Perlahan Kezia yang kembali ke tubuh Mey Yui perlahan membuka matanya. Ia melihat para pria yang ia sayangi sedang mengawatirkan dirinya
“Sayang! Akhirnya kamu sadar,” ucap Ming Se memeluk tubuh adiknya yang baru sadar
“Kenapa kamu memaksakan diri untuk berkultivasi! Dasar gadis nakal membuat kami semua mengawatirkanmu!” ucap A Sen ikut memeluk Mey Yui.
“Kakak... Aku tidak apa-apa! Tidak terjadi sesuatu yang buruk padaku. Hanya saja di bawah alam sadarku, aku bertemu dengan putri Mey Yui yang asli,” ucap Mey Yui.
“What....! Kamu bertemu arwah putri Mey Yui?” A Sen terkejut mengar ucapan Mey Yui
“Lebay sekali kak A Sen ini!” ledek Mey Yui.
“Apa yang ia katakan padamu, sayang?” tanya Ming Se
“Dia minta tolong pada kita untuk membalaskan dendam keluarganya. Dia minta tolong agar kita menjaga dan menyayangi ayahnya serta Chu-chu,” jawab Mey Yui.
“Kita harus berterima kasih dan balas budi kepada mereka. Kita harus segera membalaskan dendam mereka. Tanpa mereka kita tidak akan bisa bertemu dan di beri kesempatan hidup kedua,” ucap Ming Se
Mereka menganggukkan kepalanya tanda setuju.
“Sekarang kamu telah sadar, aku dan A Sen akan menjalankan rencana mematahkan sayap si tua bangka itu. Sedangkan kamu diantar Yuan kembali ke kediaman” ucap Ming Se.
“Ya, kak! Kapan kalian akan berangkat? Aku akan mengeluarkan kalian dari ruang dimensiku,” tanya Mey Yui.
“Semakin cepat semakin bagus! Akan lebih bagus lagi kita berangkat sekarang,” ucap A Sen sambil menoleh ke arah Ming Se meminta persetujuan.
Ming Se menganggukkan kepalanya tanda ia setuju pergi sekarang. Ia tak mau menyia-nyiakan waktu lagi.
“Baiklah! Aku akan mengeluarkan kalian ke dunia nyata. Berjanjilah untuk menjaga diri dengan baik. Jangan sampai terluka lagi,” ucap Mey Yui sambil melihat kedua kakaknya.
Ming Se dan A Sen mengangguk dan memeluk Mey Yui bersamaan. Yuan spontan langsung menghampiri mereka ikut memeluk Mey Yui.
“Jaga adikku baik-baik! Jika dia tergores sedikit saja, aku tidak akan memaafkan kamu. Kami akan membuat perhitungan padamu,” ucap Ming Se.
“Benar, kami akan mencarimu meskipun kamu sembunyi di kolong jembatan,” ucap A Sen sambil tersenyum dan mengelus kepala Mey Yui.
Yuan menepis tangan A Sen yang sedang mengelus rambut di kepala Mey Yui.
“Apaan sih kamu, ganggu saja!” bentak A Sen tak terima tangannya di tepis oleh Yuan.
“Kondisikan tanganmu! Jangan pakai mengelus-elus rambut kekasihku. Aku merelakan kau memeluknya karena kita akan menjalankan rencana balas dendam yang berbahaya,” ucap Yuan dengan sorot mata seakan ingin membunuh A Sen.
“Sok posesif! Dia adik kesayanganku!” balas A Sen.
“Tapi dia kekasihku!” balas Yuan tak mau kalah.
Melihat Yuan dan A Sen berdebat, masing-masing tak mau kalah membuat kepala Mey Yui pusing.
Sementara Ming Se hanya tersenyum melihat keposesifan Yuan. Sedangkan A Seng tak mau kalah mengerjai Yuan.
“Stop....! Kalian berdua membuatku sakit kepala!” bentak Mey Yui kepada mereka berdua.
Yuan dan A Sen langsung diam, mereka tak mau membuat Ibu harimau dan ibu rubah semakin marah.
“Rasain kalian! Ratu singa marah!” ledek Ming Se kepada Yuan dan A Sen.
“Kak Ming Se juga stop jangan memperkeruh keadaan,” ucap Mey Yui pada Ming Se.
“Rasa in lu, suka banget memancing,” ucap A Sen.
“Memancing apa...? Kamu tu yang suka usil,” balas Ming Se.
“La.. kamu bukannya suka memancibg keributan,” jawab A Sen dengan santai.
“Sialan kamu, ya!” gerutu Ming Se di kerjai A Sen.
Melihat Ming Se kesal, semua tertawa karena jarang-jarang mereka melihat Ming Se kesal karena berhasil di kerjai oleh A Sen
“Sudah... sudah...! Ayo kita keluar bersama, aku dan kak Yuan juga kembali ke kediaman hari ini juga. Biar cepat selesai,” ucap Mey Yui.
“Siapa takut? Ayo kira pergi!” seru A Sen.
Akhirnya mereka berempat bertransportasi ke dunia nyata. A Sen dan Ming Se pergi bersama menuju markas mereka. Sedangkan Yuan dan Mey Yui pergi menuju ke kediaman jenderal Lie Jun Ho.