Kezia Story

Kezia Story
BAB 25



Setelah Lie Mey Yui menyelesaikan acara masak memasak, ia meminta semua kakaknya segera datang dan makan bersama.


Kedua kakaknya datang dan mengambil duduk di meja makan, namun tiba-tiba A Sen berteriak mengagetkan Lie Ming Se da Lie Ming Yui.


“Jangan mendekat… Jangan mendekat… Pergi… Pergi..!” teriaknya dengan menghentakkan tangannya mengusir sesuatu.


Mei Yui dan Ming Se menoleh dan mencari apa yang membuat A Sen histeris, ternyata Mao-mao dan Xio-xio melonjak-lonjak mau ikut makan juga.


“Hahaha… Aku pikir ada apa? Teriak-teriak seperti kerasukan kuda lumping!” ledek Mey Yui.


“Mao-mao, Xio-xio! kalian belum berkenalan dengan kak A Sen! Ayo cepat kalian berkenalan dengan mereka,” Mey Yui sengaja mengerjai A Sen yang takut dan geli sama hewan berbulu.


Di jaman modern A Sen sangat geli jika ada kucing atau anjing yang bulunya halus. Ia akan histeris dan kabur jika di kerjai Mey Yui.


“Anak tengil! Kau sengaja mengerjai kakak mu ini, ya! Ming Se urus adikmu yang tengil itu, tidak di zaman modern tidak di sini usilnya tidak ketulungan kalo sama aku!” A Sen merajuk


“Kalian bisa diam apa, sih!” bentak Ming Se pada mereka berdua.


“Cepat duduk, jangan banyak drama!’ “Ming Se kesal dengan mereka yang selalu ribut saja jika ada kesempatan. Tidak ada yang bisa dipilih.


Mereka berdua dengan patuh menuruti perintah Ming Se, sementara Mao-mao dan Xio-xio hanya diam tidak berani berulah karena takut dengan Ming Se yang lagi kesal dengan adik dan sahabatnya.


“Ibu..!” Xio-xio memanggil Mey Yui dengan pelan, namun suaranya bisa di dengar semua yang ada di meja makan.


Mendengar rubah kecil memanggil ibu ke Mey Yui, alisnya berkerut dan menarik sudut bibirnya samar. Tidak ada yang menyadari, dalam hatinya punya sesuatu yang bisa dibuat bahan mengerjai Mey Yui.


“Xio-xio memanggil ibu? Ada apa,nak? Oh, maafkan ibu melupakanmu,” Mey Yui mengambil Xio-xio dan kemudian membawanya ke meja makan.


Saat Mey Yui ada di ruang dimensi Xio-xio dibiasakan makan di meja seperti layaknya anak kecil yang sedang makan bersama keluarganya. Begitu juga dengan Mao-mao, mereka makan bersama di meja dan memiliki tempat makan yang khusus untuk mereka.


“Hari ini ibu masak enak, dari baunya membuat xio-xio ingin cepat makan,”ucap Xio-xio.


“Woow… Kamu memasak banyak menu! Ayo kita makan, cacing di perutku sudah protes,” A sen langsung mengisi pengiringnya.


“Beef bulgogi.. Hari ini kamu masak ala menu Korea! Mantap.. mantap… Kamu memang adik paling pengertian di dunia!” dengan mulut penuh dengan makanan A Sen memuji Mey Yui.


“Xio-xio harus makan yang banyak, biar cepat besar. Nanti jika kurang ibu masakan lagi yang enak,” ucap Mey Yui sambil menaruh beef bulgogi ke wadah makan Xio-xio.


Semua masakan Mey Yui habis ludes tak tersisa, mereka tidak menyisakan sedikit pun. Setelah membersihkan peralatan makan dan mencuci, mereka berkumpul dan berbincang dengan santai.


“Kak, kapan kalian akan mulai rendam ke air surgawi? Kalian sudah menunda-nunda, aku gak mau tahu pokoknya harus sekarang kalian berendam di air surgawi” Mey Yui kesal kepada mereka berdua yang sengaja menunda-nunda mengobati luka internal mereka.


“Iyaaa… Kamu tidak perlu mengkhawatirkan kami, Sebentar lagi kami akan berendam di kolam air surgawi” jawab Ming Se.


“Minumlah pil pemurnian jiwa setelah itu kakak harus segera berendam, aku akan menunggu kalian. Kalian harus bertahan menahan merasakan rasa sakit yang sangat luar biasa” jelas Mey Yui.


“Baiklah, kita akan berendam dulu.” Setelah Ming Se Berpamitan pada Mey Yui, lalu ia berjalan menuju kolam air surgawi untuk memulai berkultivasi.


Kita tinggalkan Mey Yui yang sedang menunggu kakaknya yang sedang berendam di kolam surgawi untuk memperbaiki datian dan meridiannya.


Seorang lelaki mengendarai kudanya dengan kecepatan tinggi menuju ke hutan bambu, Dia adalah Li Yuan Putra mahkota dari kerajaan Liang yang sedang terburu-buru menuju hutan bambu untuk mencari bunga Teratai Hitam untuk mengobati ibunya.


Ia melaju kudanya menerobos masuk di hutan bambu untuk mencari kolam naga.


“Sudah sampai di hutan bambu, tinggal mencari di mana letak kolam naga itu. Aku harus segera menemukan kolam itu dan mengambil teratai hitam agar nyawa ibu dapat diselamatkan, gumamnya.


Ia menyusuri hutan bambu hampir setengah hari namun tidak ada petunjuk atau tanda-tanda di mana letak kolam naga tersebut.


“Aku tidak boleh menyerah, aku pasti menemukan jalan menuju kolam naga itu. Seharusnya jika benar letak kolam naga sesuai dengan arah peta yang ditunjukkan kepala tabib istana, tak jauh lagi. Namun dari tadi aku hanya berputar-putar di area sini saja,”


“Sialan! Ini pasti ada array yang dipasang di sini, aku pasti tidak akan menemukan jalan keluarnya dan berputar-putar dan kembali lagi di sini.”


“Aku harus menghilangkan array ini!”


Li Yuan melayang ke udara dan melemparkan tenaga dalamnya ke arah di mana ia berputar-putar, suara ledakan yang sangat keras terdengar dan asap putih tipis muncul dan menghilang seketika diterpa angin.


Ia segera melanjutkan perjalanannya untuk mencari tempat yang bisa dibuat bermalam, karena hari sudah mulai menjelang malam.


Ia menemukan sebuah gua dan ia memasuki gua tersebut untuk beristirahat, besok ia akan melanjutkan perjalanannya lagi.


Tak terasa waktu sudah berganti, sinar matahari sudah mengintip dari cakrawala. Li Yuan bangun tidurnya dan bergegas melanjutkan perjalanannya. Dalam perjalanannya ia mencari sesuatu yang bisa ia makan.


Kuda Li Yuan meringkik dan tak terkendali seperti tidak mau berlari ke arah depan, ia menenangkan kudanya namun tidak bisa tenang semakin tak terkendali meringkik dan menaikkan kedua kaki depannya. Dari kejauhan ia mendengar suara deru segerombolan babi hutan berlarian kencang seperti menggila, Li Yuan dengan cepat melompat ke atas pohon dan meninggalkan kudanya. Kudanya lari menyelamatkan diri dari kawanan babi hutan yang menggila.


Li Yuan mengamati dari atas pohon, mengapa gerombolan babi hutan lari tunggang langgang. Jarak berapa kilometer nampak seekor beruang hitam besar yang sedang mengamuk. Beruang hitam kategori beast hitam yang jahat menggila, Yuan mengamatinya dari atas pohon dan akhirnya ia paham mengapa beruang itu menjadi gila dan mengamuk.


“Guaaarrrr…!”


Beruang hitam itu gagal berkultivasi dan terluka sehingga mengakibatkan kerusakan pada internal dan eksternalnya. Li Yuan mengamati dari atas pohon, beruang merasakan ada bau manusia ia mencari dan menemukan keberadaan Li Yuan diatas pohon. Beruang marah dan memukul-mukul pohon serta menggoncang-goncangkan pohon.


“Sialan.. Pohon ini akan segera tumbang, aku harus segera turun,” umpatnya


Pohon di hantam oleh beruang dan akhirnya roboh, Yuan melompat turun ke bawah. Saat buruannya berada tak jauh darinya, beruang hitam langsung menyerang yuan dengan membabi buta. Yuan menghindari serangan beruang dan membalasnya dengan menendang kepala beruang tersebut.


“Rasakan tendanganku ini,” teriak Yuan geram.


Beruang sangat marah karena serangannya gagal bahkan kepalanya kena tendangan. Pertempuran yang sangat seru beruang hitam sangatlah kuat, namun Yuan berhasil melukai matanya sehingga membuat penglihatan beruang hitam menjadi tidak jelas.


“Guuaaarrr…..!”


Tak menunggu lama Yuan segera menyelesaikan pertempuran dengan menyerang dengan kekuatan penuh akhirnya beruang hitam mati dan yuan mengambil intisarinya dari kepala beruang kemudian dimasukkan ke cincin ruangnya.


Kemudian ia bersiul memanggil kudanya agar bisa melanjutkan perjalannya, tak lama kudanya berlari mendatanginya dan mereka melanjutkan perjalanannya.