Kezia Story

Kezia Story
BAB 29



Tak terasa waktu telah berlalu, Lie Ming Se dan A Sen sudah 1 bulan berendam di kolam air surgawi. Lie Mey Yui dengan setia menunggu kedua kakaknya, meski A Sen bukan kakak kandung tapi ia sudah menganggap seperti kakaknya sendiri dan tidak ada perbedaan.


“Sudah sebulan, kakak masih belum ada tanda-tanda terobosan, hanya di hari kedua mereka teriak-teriak kesakitan tanda datian dan meridian mereka diperbaiki. Pasti sangat luar biasa sakitnya, rasa sakitnya seperti yang pernah aku alami,” gumam Mey Yui.


“Mudah-mudahan mereka berdua bisa bertahan dan menahan saat akan mencapai terobosan, aku merasakan mereka tak akan lama lagi akan mencapai terobosan awal setelah datian dan meridiannya diperbaiki,” Mey Yui melangkahkan kakinya dan diikuti dua makhluk lucu, siapa lagi jika bukan Mao-mao dan Xio-xio. Mereka sudah tumbuh lebih besar dari awal mereka bertemu dengan Mey Yui.


Sementara di dalam kolam air surgawi Ming Se sedang meditasi dengan posisi lotus, begitu juga dengan A Sen. Mereka berhadapan namun mereka masing-masing mengambil posisi di tepi kolam.


Di dalam kolam, Ming Se merasakan lonjakan-lonjakan dalam tubuhnya ia merasakan akan ada terobosan pada dirinya. Ia merasakan aliran darahnya mengalir dengan cepat dan mulai merasakan letupan-letupan, keringatnya keluar di sela-sela dahinya. Air kolam bergemuruh dan terdengar suara ledakan.


“Duuuaaarrr…!!!


“Aaaaccchhhhh….!


Suara ledakan diiringi suara teriakan dari Ming Se tak lama disusul ledakan lagi dari tempat A Sen dan teriakan darinya.


“Duuuaaarrr…!!!


“Aaaaccchhhhh….!


Air kolam bergolak yang disebabkan ledakan dari kedua orang yang sedang berkultivasi, Ming Se sebelumnya berada di ranah bumi level 7 dan sejak terluka tidak bisa berkultivasi. Saat ini Ming mengalami kenaikan ranah awal, ledakan pertama mencapai body tempering level 6 Sedangkan Ming Se mencapai body tempering level 5.


Air kolam kembali bergolak dan muncul semburan dan cipratan-cipratan air yang disebabkan ledakan kedua yang lebih kuat dari ledakan yang pertama.


“Duuuaaarrr…!!!


“Aaaaccchhhhh….!


Terdengar kembali teriakan mereka berdua saling menyusul, ledakan terobosan dari Ming Se dan A Sen lebih kuat dari yang pertama, tampak darah hitam keluar di seluruh pori-pori mereka berdua. Air kolam berwarna merah bercampur darah kotor dari sisa-sisa racun yang menyumbat datian dan meridiannya.


Pada terobosan kedua, Ming Se mencapai lonjakan ke ranah bumi level 3 sementara A Sen di ranah bumi level 2. Mereka berdua masih bertahan karena masih merasakan adanya letupan-letupan pada aliran darahnya. Ming Seng merasakan sakit yang sangat luar biasa begitu juga A Se, wajah mereka sangat pucat buliran keringat di wajahnya sangat banyak.


“Duuuaaarrr…!!!


“Aaaaccchhhhh….!


Suara ledakan terdengar sangat keras dan disambut dengan suara teriakan dari Ming Se dan A Sen. Ledakan yang sangat kuat air kolam meluap keluar dan percikan air ke mana-mana, mereka berdua merasakan lonjakan akhir tanda latihan kultivasi mereka telah selesai. Tubuh mereka roboh terkulai ke dalam air


Mey Yui yang melihat kedua kakaknya jatuh tenggelam ke dalam air dengan cepat menyambar kedua tubuh tersebut dengan menggunakan tenaga dalamnya, sehingga tak terasa berat membawa dua orang.


“Untung…untung… aku punya tenaga dalam bisa angkat kak Ming Se dan ka A Sen, coba kalo tidak punya seperti di jaman modern? Pasti aku menggunakan jurus lari dan teriak…. toooollloooong… tooolllooong.. ada orang yang tenggelam,” gumamnya sambil tertawa kecil.


Ming Se kultivasinya ada kenaikan dibanding kultivasinya saat dia belum terluka. Sebelumnya ia hanya di ranah bumi level 7 mencapai ranah langit level 2.


Sedangkan A Se yang sebelumnya ranah bumi level 6 kini mencapai ranah langit level 1, pencapaian mereka naik dari sebelumnya.


Mey Yui membawa kedua kakaknya ke kamarnya masing–masing, kemudian ia menyuruh Yuyu untuk mengganti pakaian mereka.


“Lebih baik aku menyiapkan makan untuk mereka jika mereka sadar pasti kelaparan, tingkah mereka jika lapar seperti monyet yang melihat manusia membawa pisang 1 tundun, lompat-lompat sambil melambaikan tangannya,” hahaha… Mey Yui tertawa sendiri membayangkan tingkah kakaknya yang selalu bercanda jika mereka bersama.


“Hanya denganku saja urat malu mereka hilang, coba kalo sama orang lain? Duh.. mur, baut setel kencang sok cool, sok keren dan sok misterius, setelah tidak ada orang langsung kendor tu mur, baut nya!,” Mey Yui geleng-geleng kepala mengingat sifat kakak dan para sahabatnya, terutama A Sen selalu konyol dan sering berdebat dengannya.


Xio-xio mencari Mey Yui, saat dia bangun tidur tidak menemukan Mey Yui di kamarnya. Xio-xio suka manja dan sering tidur di kamar Mey Yui mirip tingkah anak kecil manja dengan ibunya.


“Ibu… ibu… di manakah ibu?” teriak Xio-xio sambil berlari-lari bersama Mao-mao. Sejak ada Xio-xio sifat Mao-mao berubah dia seperti seorang kakak yang menjaga adiknya.


“Xio-xio jangan teriak-teriak, nak! Tidak baik teriak-teriak! Jika kamu mencari ibu, kamu bisa bertanya kepada kak Mao-mao dan kak Yuyu atau langsung mencari di seluruh ruang. kalo ibu akan meninggalkan dimensi pasti ibu memberitahu kalian semua,” ucap Mey Yui sambil mengelus-elus kepala Xio-xio.


“Xio-xio minta maaf, ibu! Xio-xio bangun tidur tidak melihat ibu di kamar lalu panik takut ditinggal ibu,” jawab Xio-xio dengan takut-takut.


“Kali ini ibu maafkan tapi lain kali xio-xio harus jaga sikap, ya?” jelas Mey Yui, ia tak ingin ke depannya Xio-xio jadi liar jika tidak bisa menemukannya. Apalagi jika Xio-xio tumbuh besar bisa menimbulkan kekacauan.


“Ayo bantu ibu memasak, Mao-mao kamu juga ikut aku memasak apa tidak?” tanya Mey Yui


“Aku akan bermeditasi bersama Yuyu, kak!” jawab Mao-mao.


“Baiklah, aku akan menyisihkan makanan untukmu.” Mey Yui dan Xio-xio yang masih dalam gendongannya menuju ke dapur untuk memasak sambil bersenandung.


“Xio-xio ingin makan apa? Daging yang dibakar atau dimasak?” tanya Mey Yui


“Ibu, xio-xio ingin daging yang dibakar,” jawab xio-xio dengan manja.


“Oke kita akan membuat daging bakar, ibu akan buat barbeque. Semua daging kita bakar, ya?” ucap Mey Yui.


“Hore… xio-xio mau.. xio-xio mau, ibu! ucap xio-xio dengan girang karena dituruti keinginannya.


“Mari kita cuzz, kita siapkan semuanya. Nanti jika ada yang mau makan biar memanggang sendiri,” seru Mey Yui.


Mey Yui menurunkan Xio-xio dalam gendongannya dan mulai berselancar dengan bahan-bahan dan alat-alatnya.


Sementara Ming Se yang berada di tempat tidur mulai membuka matanya. Ia sudah sadar dan merasakan kekuatannya bertambah besar dibanding sebelumnya.


“Aku naik ke ranah langit level 2 sebelumnya aku macet di ranah bumi level 7 dan gak bisa naik lagi. Ada hikmahnya aku terluka sehingga aku mendapatkan keuntungan,” gumamnya


“Kruuk..!”


Tiba-tiba perutnya berbunyi tanda-tanda minta diisi


“Hhhmm…! Anaconda di perutku sudah mulai beraksi, sudah berapa lama aku tidak makan. Pantesan anaconda di perutku terbangun waktunya minta makan,” ucap Ming Se pelan.


Kemudian ia turun dari tempat tidurnya dan keluar menuju dapur untuk mencari makan, biasanya Mey Yui menyimpan masakan di lemari dapur.


“Baru harum daging bakar semakin membangunkan anaconda, Mey Yui pasti sendang membuat barbeque,” gumam Ming Se saat mencium bau harum daging barbeque


“kakak sudah bangun? Dimanakah A Sen kenapa gak diajak sekalian? Kita makan bersama, aku sudah siapin porsi besar untuk kalian,” ucap Mey Yui sambil membawa daging yang siap di masukan ke dalam gril.


“Kamu memang adik best! Pengertian sekali, Kakak gak sempat mengecek kamar A Sen sebab anaconda kakak sudah bangun di dalam perut minta diisi. Kamu gak usah mikirin A Sen, dia sudah gede kalau lapar pasti nyari ke dapur,” jawab Ming Se sambil mengambil daging yang sudah selesai dibakar.


“Ya , sebagai adik aku paling pengertian dengan kakak-kakakku! Aku gak mau melihat tubuh kakak seperti orang Ethiopia yang kekurangan gizi jadi busung lapar,” hahaha.. peace… sambil mengacungkan 2 jarinya.


“Anak nakal, kamu pikir kakakmu busung lapar! Sudah kakak sangat lapar, kamu gril daging yang banyak!” perintah Ming Se.


Terdengar suara kaki mendekat diiringi dengan teriakan A Sen


“Kalian tega sekali, ya? Lagi Bbq gak ajak-ajak, bangunin aku, kek.. tokek.. kek.. gak.. emang kalian saudara luncat!” omel A Sen sambil nyomot daging kemudian dimasukkan ke mulutnya.


“Sudah jangan berisik, beruntung aku yang tantik, baik hati dan tidak tombong ini membuatkan kalian makanan. Nikmat apa yang kalian dustakan? Bangun tidur langsung makan bbq!” Mey Yui mengomel pada kedua kakaknya.


Mereka berdua tidak ada yang berani menjawab kalo ibu harimau dan rubah marah, mereka takut kalo gak di masakin menu masakan ala modern. Dengan tenang mereka memakan daging yang sudah siap.