Kezia Story

Kezia Story
BAB 60



Suasana di halaman sangat menegangkan bagi para pelayan dan prajurit di kediaman jenderal Jun Ho. Terutama para pelayan selir Chu Min, mereka takut dan tegang saat jenderal Jun Ho memperlakukan nyonya besarnya dengan tidak baik.


Jenderal Jun Ho melihat para pelayan dengan tatapan tajam seperti ingin membunuh. Ia melihat pelayan setia selir Chu Min yang sedari tadi menundukkan kepalanya yang tak berani menatap wajah tuannya.


“Kalian semua bekerja di sini sudah cukup lama! Bahkan ada yang bekerja sejak aku menikahi istri tercintaku Xio Xio Lan hingga dia meninggal! Dan sejak istriku meninggal semua urusan rumah di pegang oleh selir Chu Min.”


“Kalian pasti mengetahui banyak kejadian yang telah terjadi selama aku dan anak lelaki berada di perbatasan. Mungkin kalian menganggapku tidak mengetahui semua kejadian yang terjadi di sini.”


“Tidak ada satu pun dari kalian yang memberitahuku mengenai kondisi anak gadisku! Bahkan banyak di antara kalian ikut memperlakukan Mey Yui dengan kasar dan kurang ajar!”


Para pelayan tidak menyangka jika tuan besarnya membahas Mey Yui. Mereka yang pernah bertindak kasar bahkan membully Mey Yui sangat ketakutan.


“Kalian yang telah lama ikut bersamaku sejak aku menikah! Kenapa tidak melapor kepadaku? Atas apa yang telah dilakukan oleh selir Chu Min terhadap putriku!” Ucap Jun Ho dengan suara yang cukup keras.


Mata selir melotot ke arah semua pelayan. Tatapan mengintimidasi dari Chu Min membuat para pelayan serba salah. Jun Ho menyadari para pelayan tubuhnya bergetar ketakutan lalu ia menoleh ke arah selir Chu Min.


“Mengapa matamu melotot ke arah para pelayan? Apakah kamu takut jika semua perbuatanmu terbongkar?” ucap Jun Ho.


“Tuan.. aku tidak pernah melakukan hal yang salah selama ini. Kenapa aku harus takut,” balas selir Chu Min membela diri


“Kau tidak melakukan hal yang salah? Kita lihat saja nanti,” ucap Jun Ho mengintimidasi.


“Kalian semua dengar! Jika selir Chu Min selama ini tidak pernah melakukan hal yang salah! Jika benar apa yang dia katakan, maka semua yang kalian lakukan terhadap putriku adalah keinginan kalian sendiri! Sungguh besar nyali kalian sebagai pelayan memperlakukan putriku dengan buruk!”


“Kalian di sini siapa yang memberi uang bulanan, kalian makan dan tidur di rumah siapa? Hanya seorang pelayan saja sudah berani memperlakukan putriku dengan tidak baik dan kurang ajar. Semua atas keinginan kalian sendiri! Sebagai hukuman atas kelancangan kalian maka aku akan bunuh kalian semua!” teriak Jun Ho.


Spontan semua pelayan menjatuhkan tubuhnya ke tanah dan memohon ampun. Kepala pelayan sangat ketakutan karena dia orang yang memerintahkan para pelayan untuk memperlakukan Mey Yui dengan tidak baik.


“Ampun tuan besar hamba bersalah! Hamba hanya menjalankan perintah dari selir Chu Min, tuan!” ucap Su Jie sambil membenturkan kepalanya ke tanah.


“Kau...!” teriak selir Chu Min sambil menunjuk ke wajah Su Jie yang sedang bersimpuh di tanah.


“Tuan.. itu tidak benar! Aku tidak pernah memberi perintah pada Su Jie. Tuan.. tolong hamba.. beri keadilan pada hamba.. hamba di fitnah, tuan!” ucap selir Chu Min lagi.


“Nyonya.. hamba tidak berani memfitnah! Hamba tidak akan berani jika tidak di suruh oleh nyonya,” ucap Su Jie membela diri.


“Katakan semuanya apa yang terjadi!” ucap Jun Ho singkat.


“Maafkan hamba tuan! Setelah nyonya besar meninggal, hamba di jadikan kepala pelayan menggantikan bibi Ling. Sejak saat itu saya di perintahkan oleh nyonya Chu Min memindahkan nona muda di bangunan reyot di belakang bangunan utama.”


Wajah Jun Ho merah dan mengepalkan tangannya menahan marah agar tidak membunuh Su Ji.


“Bajing*n! Bagus sekali kelakuan kalian! Kalian pikir siapa! Orang rendahan seperti kalian berani menghukum putriku! Kalian bukan manusia, pada saat itu putriku baru berusia 9 tahun. Sejak ibundanya meninggal dia mulai menutup diri dan tidak mau bertemu siapa pun.”


“Bahkan tidak mau menemuiku, saat aki ingin bertemu dengannya dia berteriak histeris dan kalap! Apa yang sudah kalian lakukan terhadap putriku!” bentak Jun Ho


“Kau... kau adalah seorang ibu tapi kelakuanmu tidak mencerminkan seorang ibu. Tak pantas kau di sebut ibu! Kau lebih pantas di sebut iblis,” maki Jun ho sambil menunjuk ke wajah selir Chu Min.


“Itu semua fitnah, tuan! Aku sangat menyayangi Mey Yui seperti anak kandungku sendiri! Dia sendiri yang minta untuk tinggal terpisah, dia tidak ingin tinggal di bangunan utama. Dia sangat sedih jika tinggal di bangunan utama. Akan mengingatkan ibundanya,” elak selir Chu Min.


“jika putriku tidak ingin tinggal di bangunan utama, lalu kau suruh dia tinggal di tempat yang bahkan lebih baik tempat tinggal para pelayan rendahan. Dasar sialan kau, Chu Min,” bentak jun Ho.


“Di mana kau taruh otak dan perasaanmu. Anak usia 9 tahun kau taruh di belakang hanya di temani pelayan setianya tanpa kau beri kenyamanan tempat tinggal yang layak. Saat itu kau mengatakan jika putriku sedang dalam pengobatan seorang tabib,” ucap Jun Ho


“Wen An seret kepala pelayan dan semua pelayan Chu Min ke penjara. Beri pelajaran pada mereka agar pelayan yang lain tahu bagaimana menempatkan diri mereka. Sialan! Pelayan berani memperlakukan putriku dengan tidak baik!” Jun Ho sangat marah.


Pengawal setia Jun ho dan beberapa bawahannya menarik paksa semua pelayan selir Chu Min. Mereka menangis dan memohon ampun dan mereka sangat menyesal dengan apa yang telah mereka perbuat.


Namun penyesalan sudah tidak ada artinya. Mereka harus menerima hukuman dari majikan yang sesungguhnya.


Jun Ho memandang sinis selir Chu Min yang penampilannya sudah tak karuan. Rambutnya acak-acakan, riasan wajahnya pada luntur karena kena air matanya. Penampilannya sudah tidak mencerminkan diri Chu Min yang selalu tampil dengan riasan wajah dan rambut yang bagus.


“Tuan... aku tidak bersalah! Aku di fitnah.. tuan harus membersihkan namaku dari fitnah Su Jie,” ucap selir Chu Min yang masih saja mengelak dan melimpahkan kesalahan kepada Su Jie.


“Kau masih saja mencari pembenaran! Memang wanita tak tahu malu!” bentak Jun Ho


“Wen An bawa dan kunci selir Chu Min di dalam kamarnya. Jangan biarkan ada yang menemuinya!” perintah Jun Ho.


“Tidak tuan... jangan hukum aku.. aku tidak bersalah... semua itu hanya fitnah!” teriak selir Chu Min saat di bawa oleh Wen An


Selir Chu Min meronta-ronta dan tangannya menggapai Jun Ho saat melewati Jun Ho, namun Jun Ho menepis tangan selir Chu Min dan mengabaikannya.


Setelah semua sudah meninggalkan halaman , Jun Ho menatap langit . Hatinya sangat sedih namun dirinya seorang jenderal perang dan tak pantas jika kesedihannya terlihat oleh orang lain.


“Lan’er kenapa kau menghukumku seperti ini. Rasanya aku sudah ingin menyerah saja. Aku harus bersabar jika ingin semuanya menjadi baik. Akan sia-sia semuanya jika aku gegabah,” gumam Jun Ho lirih.


Jun Ho menghela nafas panjang, ia berusaha bertahan karena ada sesuatu yang ia sembunyikan. Tidak ada yang mengetahuinya selain orang kepercayaannya