
Suasana hati Yuan sangat tidak baik, ia meninggalkan Mey Yui dan kedua kakaknya keluar gua untuk menenangkan hatinya
Saat mengetahui Yuan berjalan keluar, Mey Yui memberi kode dengan melihat kakaknya. Ia harapan kakaknya mengerti dan mengizinkannya untuk menyusul Yuan.
Ming Se mengangguk, setelah mendapat ijin dari kakaknya Mey Yui beranjak dari duduknya dan menyusul Yuan keluar.
Yuan termenung menatap mulut gua ia tak menyadari jika Mey Yui menyusulnya.
“Greeppp!”
Mey Yui memeluknya dari belakang dan menempelkan kepalanya di punggung Yuan.
Yuan tersenyum dan memegang tangan Mey Yui.
“Sayang..! Maafkan aku,” ucap Mey Yui.
“Kenapa kamu minta maaf? Kamu tidak salah dalam hal ini. Aku yang salah karena tidak bisa mengontrol perasaanku, sayang” ucap Yuan menarik Mey Yui dan memeluknya.
“Aku sendiri tak mengerti mengapa aku tak bisa mengontrol emosiku dan tidak bisa mengendalikan diri. Aku sangat mencintaimu dan takut kehilanganmu,” ucap Yuan dan mengecup kening Mey Yui
“Selama kak Yuan tidak mengkhianatiku, aku tak akan meninggalmu,” jawab Mey Yui mengelus pipi Yuan.
“Aku tak akan mengkhianatimu, sayang!” Yuan mencium bibir Mey Yui.
Saat mereka berciuman, di kejutkan dengan kedatangan A Sen yang sengaja mengganggu mereka.
“Ehemm...! A Sen sengaja mengganggu kemesraan Yuan dan Mey Yui.
“Ups...! Maaf sudah mengganggu kalian! Ada hal yang lebih penting yang harus Mey Yui lakukan,” ucap A Sen.
Mey Yui malu ketahuan sedang berciuman, wajahnya merona.
“Sialan kak A Sen! Bisa gak ya.. gangguin orang. Bikin tengsin saja,” gumam Mey Yui pelan namun di dengar oleh Yuan.
Yuan tersenyum mendengar ucapan Mey Yui. Dan menyembunyikan Met Yui di belakangnya.
“Apa kamu gak bisa nunggu sampai kami masuk ke dalam? Gangguin orang saja!” ucap Yuan.
“Tidak bisa ini penting menyangkut keselamatan orang,” jawab A Sen dengan santai.
“Ada apa, kak?” Apa kak Ming Se terluka?” tanya Mey Yui kuatir.
“Ming Se tidak terluka, tapi kami sedang kelaparan dan kamu harus segera menyiapkan makan. Daripada mengurusi si kunyuk ini,” ucap A Sen menyengir.
“Sialan kau! Urusan perut saja yang kau pikirkan!” omel Yuan.
“Ho... Ho.. tidak bisa.. urusan perut paling utama. Dan harus segera di urusi tidak boleh di tunda lagi,” balas A Sen sambil menarik Mey Yui dan merangkulnya.
Tangan A Sen di hempaskan oleh Yuan dari bahu Mey Yui.
“Jaga tanganmu jangan sentuh kekasihku,” bentak Yuan.
“Kekasihmu? Memangnya kami setuju jika kau menjadi kekasih adik kami?” ucap A Sen dengan cuek.
“Ayo sayang, kita masuk! Ming Se sudah menunggu,” ucap A Sen menggandeng Mey Yui masuk ke dalam gua.
“Sialan kau A Sen! Tunggu...!” teriak Yuan yang kesal karena di acuhkan oleh A Sen.
Mereka bertiga masuk ke dalam gua menghampiri Ming Se yang duduk di bebatuan.
“Dek, pergilah ke ruang dimensimu! Kami lapar! Kamu masak dulu nanti setelah selesai panggil kami untuk makan,” perintah Ming Se yang sengaja menyuruh pergi Mey Yui.
Ming Se dan A Sen ada sesuatu yang ingin dibicara dengan Yuan. Mey Yui mengetahui kakaknya ingin berbicara dengan Yuan, ia pun menyetujui perintah kakaknya.
Meskipun kuatir dan takut kedua kakaknya akan marah dengan Yuan. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa memberi kesempatan kakaknya menginterogasi Yuan.
“Baiklah, kak! Aku akan memasakkan kakak, setelah masakkan siap aku akan memanggil kalian,” ucap Mey Yui.
“Aku tinggal masak dulu, kak” pamit Mey Yui pada Yuan. Yuan menganggukkan kepala.
Dalam sekejap Mey Yui menghilang pergi ke ruang dimensinya.
Tinggallah ketiga pria di dalam gua, mereka saling berpandangan.
“Apa ada yang ingin kau sampaikan? Aku akan menunggumu mengatakannya” tanya Ming Se pada Yuan
A Sen memandang wajah Yuan dengan menyelidik.
“Aku tak tahu dari mana aku mulai mengatakan padamu,” jawab Yuan dengan santai.
“Sejak kapan kau menyukai adik kami?” tanya A Sen
“Sudah sejak lama aku mencintainya,” jawab Yuan dengan tegas.
“Aku mengetahuinya,” jawab Yuan
“Aku tidak menyetujui pria yang tidak jelas berhubungan dengan adik perempuanku!” ucap Ming Se tegas dan tanpa basa basi.
“Beri aku kesempatan untuk membuktikan bahwa aku sangat mencintai Mey Yui dan akan selalu membuatnya tersenyum. Aku memang bukan pria romantis tapi aku akan berusaha membahagiakannya,” ucap Yuan bersungguh-sungguh.
“Siapa kamu sebenarnya dan dari mana asalmu?” tanya A Sen
“Beri aku alasan mengapa aku harus memberimu kesempatan?” ucap Ming Se.
Mereka berdua menginterogasi Yuan.
“Sebenarnya aku adalah putra mahkota kerajaan Li,” ungkap Yuan.
“Wah.. aku tidak setuju jika kau berhubungan dengan Mey Yui,” potong A Sen.
“Kau seorang putra mahkota yang akan menjadi kaisar di kerajaan Li, sorang kaisar pasti memiliki banyak selir. Lebih baik Mey Yui kami carikan pria yang hanya mencintainya dan tidak akan memiliki wanita lebih dari satu,” tolak A Sen.
Ming Se mengangguk tanda setuju dengan ucapan A Sen.
“Aku hanya mencintai Mey Yui dan tidak ada wanita lain dalam hidupku selain Mey Yui,” ucap Yuan dengan tegas.
“Hanya dia satu-satunya wanitaku!” tegasnya lagi.
“Jangan terlalu percaya diri! Saat ini kau mengatakan seperti itu. Namun saat kau menjadi kaisar dan di bawah tekan para pejabat kerajaan yang menginginkan kau mengambil selir, kau melupakan janjimu,” balas A Sen
“Tak aku biarkan para pejabat kerajaan menekan diriku,” balas Yuan.
“Apakah hanya itu yang ingin kamu katakan pada kami?” tanya Ming Se yang dari tadi mendengar perdebatan antara Yuan dan A Sen.
Yuan terdiam dan kemudian menghela napas panjang.
“Kita dipertemukan dengan perbedaan satu sama yang lain tapi kita akan saling melengkapi dan menutupi kekurangan kita. Sahabat sejati bisa di pisahkan dengan jarak namun tidak dengan hati kita. Di mana pun kita berada hati kita akan menuntun kita untuk saling bertemu kembali,” Yuan mengucapkan sumpah dari persahabatannya saat berada di jaman modern.
Ming Se dan A Sen mendengar kalimat yang di ucapkan oleh Yuan langsung memeluk Yuan bersamaan dan menangis hari.
Ternyata Yuan salah satu sahabat mereka di jaman modern.
“Benarkah kamu adalah Ardi,” ucap A Sen terbata-bata menahan tangis.
Yuan atau Ardi tidak mampu berkata-kata menahan tangisnya hanya bisa mengangguk. Mereka bertiga berpelukan erat sambil menepuk-nepuk bahu Ardi.
Ming Se mengeluarkan air matanya ia sangat terharu, kecurigaan mereka ternyata benar.
“Bagus..! Baguslah..! Kamu bersama kami,” ucap Ming Se.
“Aku bahagia dengan adanya kamu di sini, Kezia bisa merasakan kebahagiaan yang tertunda dan tak merasa bersalah,” ucap Ming Se lagi.
“Kamu benar! Aku tak tega melihat Kezia bersedih. Apakah dia mengetahui kebenaran Yuan adalah kamu, Ar?” tanya A Sen.
“Aku belum memberitahunya, awal aku masih belum yakin jika Mey Yui adalah Kezia. Aku hanya sebatas curiga dan berpikir aku hanya merasa kangen dengannya sehingga menganggap Mey Yui sebagai Kezia.
“Namun setelah kami semakin dekat, aku merasakan Mey Yui benar-benar mirip dengan Kezia. Dari gerak geriknya, gaya bicaranya dan semuanya mirip sekali. Ada satu hal yang membuatku yakin jika Mey Yui adalah Kezia. Saat dia malu!”
“Saat Kezia malu dia pasti akan menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan kakinya di hentak-hentakan ke tanah,” jelas Yuan.
“Hahaha.. jelas saja kamu cepat mengetahuinya. Selama dia masih kecil kau selalu memperhatikan semua kebiasaannya. Dasar pedofil!” ledek A Sen
“Lalu kapan kau akan memberitahunya?” tanya Ming Se.
“Nanti aku akan memberitahunya,” ucap Yuan.
“Bagaimana dia bisa menerimamu? Sedangkan di hatinya hanya ada nama Ardi di jaman modern!” tanya A Sen.
“Apa maksudmu di hatinya hanya ada nama Ardi? Apakah selama ini dia juga mencintaiku? Sialan kau! Kenapa tidak memberitahuku? Jika kau memberitahuku, aku tak akan merasa menyesal!” protes Yuan.
“Jangan ngegas, dunk! Kami juga baru mengetahuinya saat pertemuan kami yang pertama dengannya di sini. Dia mengungkapkan isi hatinya,” jelas A Sen.
Yuan mengepalkan tangannya, ia dulu merasa takdir tidak adil untuknya. Cinta dalam diam dan bertepuk sebelah tangan.
“Kita tunggu dia selesai masak, setelah kita makan aku harap kamu mengatakan sendiri dengannya. Jangan kamu tunda-tunda lagi, aku kuatir kau akan menyesal lagi seperti di jaman modern,” ucap Ming Se.
“Benar kata Ming Se, jangan menunda lagi ingat pengalaman kau di jaman modern,” ucap A Sen.
“Ya, aku tidak akan mengulangi kesalahanku lagi,” ucap Yuan.
“Baguslah jika kamu paham!” ucap A Sen.
Mereka bertiga sambil menunggu Mey Yui menyelesaikan masakkannya. Mereka bercerita tentang kehidupan mereka bertiga di jaman kuno