
Sampailah Lie Mey Yui di gerbang kediaman Jenderal Lie Jun Ho, ia dihadang oleh penjaga.
"Siapa kamu? Mengapa ingin memasuki kediaman Jenderal Lie Jun Ho! tidak sembarang orang bisa masuk ke kediaman jendral,” bentak penjaga tersebut.
“Mengapa aku tidak boleh memasuki rumahku sendiri?” jawab Lie Mey Yui acuh tak acuh.
“Siapa kamu? Jangan macam-macam, mengapa kamu mengaku ini rumahmu? Pergi dari sini jika nyonya besar mengetahui, tamatlah riwayatmu,”teriak penjaga tersebut.
Penjaga mengusir Lie Mey Yui agar segera pergi.
Ia dengan santainya melangkahkan kakinya untuk memasuki gerbang kediamannya.
Sambil berkata,” jika kalian berani menghalangi aku, jangan salahkan aku jika bertindak kasar.”
“Kalian sudah berani kurang ajar dengan putri tertua jenderal Lie Jun Ho,” ucapnya kepada penjaga.
“Hahaha..! kalau mimpi jangan di siang bolong gadis kecil, nona kami ada ada di dalam rumah. Kalo kamu mabuk lebih baik pergi dari sini dan jangan buat onar dengan mengaku-ngaku putri jenderal Lie Jun Ho,” jawab penjaga dengan tertawa.
Salah satu penjaga mendekatinya berusaha mengusir dan mendorong Lie Mey Yui, belum sempat tangan penjaga meraih tubuhnya.
"Kraaak.. Aaarrrggghhh!".
Bunyi patah tulang diiringi teriakan kesakitan.
“Sialan, kamu berani mematahkan tanganku,” umpat penjaga yang tangannya dipatahkan Lie Mey Yui.
Melihat temannya meringis kesakitan, penjaga yang lain langsung menyerang Lie Mey Yui. Serangan dari penjaga di hindari dan di balas dengan tendangan di wajahnya, salah satu penjaga tersungkur kena tendangan.
Seorang gadis muda menggunakan baju warna kuning dengan cambuk di ikat pinggangnya, berjalan dengan anggun menghampiri keributan di depan gerbang pintu masuk kediaman jenderal Lie.
“Siapa kamu berani-beraninya membuat keributan di rumahku?” teriak Lie Mey Fang.
“Oh, adikku yang baik hati datang menyambut kedatanganku. Apakah kamu merindukan kakakmu ini?” ledek Lie Mey Yui
"Bedebah siapa kamu?" teriak Lie Mei Fang geram melihat tingkah laku Lie Mey Fang.
“Adikku tersayang! apakah kamu melupakan kakakmu, ini? kakak yang telah kamu dorong ke jurang, setelah kalian meracuninya,” kata Lie Mei dengan sinis.
Lie Mey Fang terkejut mendengar itu dan berusaha menenangkan hatinya.
“Tidak mungkin, aku melihat sendiri kakakku telah terjatuh di dasar jurang. Lie Mey Yui sudah mati, kamu pasti pelacur yang menyamar sebagai kakakku untuk menipu keluargaku,” elaknya.
“Ha.. Ha.. Ha… Kamu mengelak dan tidak mengakuinya! Apakah perlu aku katakan di sini, bagaimana kamu dan ibu pelacurmu itu memperlakukanku selama ini. Aku adalah Lie Mey Yui putri sah dari jenderal Lie Jun Ho,” ucapnya dengan tatapan mata yang tajam mengarah Lie Mei Fang.
“Kurang ajar penipu sialan akan ku bunuh kau,” teriak Lie Mey Fang sambil mengayunkan cambuknya ke arah Lie Mey Yui.
Dengan cekatan Lie Mey Yui menangkap cambuk tersebut dan dihentakkan kembali ke arah Mei Fang.
Lie Mei fang yang tidak siap mendapatkan serangan balik, ia terhuyung-huyung. Ia tidak menyangka akan mendapatkan serangan balik, ia yakin bisa melukai dan membunuh gadis bercadar itu.
Sekali hentakan cambuk berpindah tangan, cambuk berpindah tangan ke Lie Mey Yui. Ia tidak menyia-nyiakan kesempatan dan ia mulai mengayunkan cambuk ke tubuh Lie Mey Fang.
“Aku kembalikan cambuk ini kepadamu, seperti apa yang sudah pernah kamu lakukan padaku” ucap Lie Mey Yui.
Potongan-potongan ingatan dari pemilik tubuh asli sangat menyedihkan, kesalahan yang tidak berarti dan terkesan dibuat-buat agar Mey Fang dan ibunya mendapatkan alasan untuk menghukum pemilik tubuh asli. Di siram air, di cambuk, belum lagi para pelayan tidak menghargai dan berani kepada pemilik tubuh asli. Melihat ingatan pemilik tubuh asli, ia geram dan menahan marah.
Cambuk diayunkan ke tubuh Lie Mey Fang dengan keras.
" Cetaarr…"
"Aaarrrrgghhhh!"
Suara cambuk dan teriakan Lie Mey Fang sangat kencang saat ia menerima cambuk berkali-kali menghantam tubuhnya. Luka di tubuhnya sangat banyak, pakaiannya sobek dan menampilkan punggung putih bercampur darah segar.
"Bunuh pelacur penipu ini" teriak Mey Fang pada para pengawal yang kaget melihat nona kesayangan tuan jenderal terluka.
Mereka tidak habis pikir nonanya bisa terluka parah, karena nona mudanya termasuk seorang jenius yang kuat. Di usia 13 tahun sudah mencapai ranah bumi level 4 pencapaian yang sangatlah langka. Selama ini Lei Mey Fang sangat sombong dan arogan, sering menganiaya orang yang lemah. Tak jarang banyak pelayan yang telah di siksanya dengan kejam bahkan diantaranya terbunuh dengan sadis.
Melihat kondisinya saat ini mereka tercengang dan tanpa sengaja melihat punggung mulus Lie Mey Fang, meskipun bercampur darah tidak menghilangkan bagian mulus yang tidak terluka oleh cambuk. Ada yang menatap dengan tatapan nafsu.
" Bajingan, aku congkel matamu yang berani melihat tubuhku!" teriak Lie Mey Fang marah menahan rasa sakit dan malu.
Tersadar dengan apa yang sudah mereka lakukan, para pengawal dan sebagian penjaga gerbang yang tidak terluka mengepung Lie Mey Yui dan menyerangnya.
Lie Mey Yui mengibaskan kipasnya dan angin kencang menghempaskan tubuh para pengawal tersebut. Tubuh mereka terhempas, terlempar beberapa meter dan jatuh ke tanah dengan mengeluarkan darah dari mulutnya karena mengalami luka dalam.
“Huft..! Cuma segitu saja kekuatan pengawal dari kediaman seorang jenderal perang di Kerajaan Tang” katanya sambil menepuk-nepuk pakaiannya membersihkan debu yang ada.
Kemudian Lie Mey Yui menghampiri Lie Mei Fang, dia berjongkok dan mencengkram dagu adik tirinya kemudian mengangkat sedikit ke atas lalu berkata, “adikku tercinta betapa sombongnya dirimu dan lihatlah apa yang terjadi! Ini tidak seberapa, nantikan pembalasanku berkali-kali lipat dari apa yang sudah pernah kalian lakukan padaku. Aku bukanlah Lie Mey Yui yang dulu! yang tidak berani pada kalian saat kalian menindasku. Nantikan pembalasanku padamu dan ibu jalangmu.”
Kemudian menghentakan dagu Lie Mei Fang sampai menoleh karena kerasnya hentakan tersebut.
Lie Mey Fang menahan sakit dan marah, selama ini ia dimanja dan dituruti semua permintaannya oleh ibunya merasa sangat terhina harga dirinya.
“Siapa takut!” balas Lie Mei Fang dengan gaya khasnya yang cuek melangkah masuk ke dalam dan menuju ke arah dimana ia selama ini tinggal berdua dengan phu-phu pelayan setianya dari kecil.
Sampailah ia di bangunan kecil dan reyot yang tidak layak di huni, ia menatap sendu.
“Putri sah dari Jenderal perang tinggal di tempat seperti ini, bahkan pelayan saja mendapatkan tempat yang lebih bagus dari tempat ini. Sialan! setelah membalaskan dendam pemilik tubuh asli aku harus segera meninggalkan tempat reyot ini” gumam Lie Mey Yui sambil membuka pintu untuk mencari Phu-phu.
"Krieet" suara derit pintu terdengar
“Di mana phu-phu, kenapa tak nampak biasanya dia menjahit di dalam kamar” gumamnya dalam hati sambil membuka pintu kamar yang tertutup.
Di tempat tidur usang nampak seorang gadis tergeletak dengan tubuh penuh dengan darah kering dan wajah membengkak kebiruan.
Lie Mey Yui mengepalkan tangannya, ia marah melihat pelayan setianya tergeletak dengan tubuh penuh luka. Ia melangkah menuju Phu-phu untuk mengecek kondisi phu-phu.
“Sialan, apa yang sudah mereka lakukan kepada phu-phu! Kejam sekali, rasanya tak sabar aku membalaskan dendam pada iblis-iblis itu” batinnya.
Setelah mengecek nadinya phu-phu yang sangat lemah ia memberikan pil pemurnian jiwa level 4 dan air surgawi kepada Phu-phu dan kemudian membaringkan kembali.
“Phu-phu kamu harus cepat sadar, kamu adalah pelayan setia yang dimiliki oleh pemilik asli tubuh ini dan paling disayanginya. Kalian dari kecil tumbuh bersama, sejak kamu diberikan pada pemilik tubuh asli ini oleh ibu Lie Mey Yui. Aku akan menjaga dan melindungi kamu seperti nonamu yang asli” gumamnya dalam hati.
Tak lama terlihat tanda-tanda Phu-phu sadar. Jari tangannya bergerak-gerak kemudian perlahan matanya terbuka. Belum sadar betul Phu-phu menangis, sedih kehilangan nona mudanya yang telah dia jaga dari umur 7 tahun.
“Hikz.. Hikz… nona kamu di mana? Saya menyesal tidak bisa melindungi anda, seharusnya saya tidak membiarkan anda ikut dengan nona kedua. Nyonya Lie, maafkan hamba yang tidak mampu menjaga kepercayaan yang telah nyonya berikan pada hamba . Untuk menjaga dan melindungi keselamatan nona Mey Yui”, ucap Phu-phu sambil menangis.
Dia tidak mengetahui jika nona mudanya duduk sambil menahan dagunya dengan tangan.
Dahi Lie Mei berkerut mendengar perkataan Phu-phu kemudian ia bangkit dan berjalan ke ranjang menghampiri Phu-phu yang masih lemas. Luka-lukanya sudah mengering karena minum air surgawi. Hanya sisa darah kering yang melekat pada tubuhnya.
Mendengar suara orang berjalan ke arahnya, Phu-phu menengok dan membelalakan matanya karena terkejut.
“Benarkah anda nona mudaku?” tanya Phu-phu sambil berusaha bangkit dari tidurnya namun tak sanggup karena masih lemas dan tidak mempunyai tenaga.
Melihat hal itu Lie Mey Yui lari ke arah Phu-phu, ia tidak membiarkan phu-phu bangun dari ranjang.
“Sudah dalam kondisi seperti ini malah ngotot mau bangun, sebelum kamu kuatir dengan kondisiku yang masih sehat, akan lebih baik kamu mengkhawatirkan kondisimu sendiri” omel Lie Mey Yui.
Spontan Phuphu memeluk Lie Mey Yui dan menangis dengan keras.
“Terima kasih dewa sudah melindungi nona ku,” ucap Phu-phu sambil menangis.
Lie Mey Yui melepaskan pelukan Phu-phu ia akan mengecek kondisi phu-phu lagi.
Tersadar dengan apa yang telah phu-phu lakukan pada Mey Yui yang sudah berani memeluk majikannya, Phu-phu menundukkan kepalanya
“Maafkan kelancangan hamba nona, terlalu bahagia melihat nona kembali dengan keadaan sehat. saya melupakan sopan santun, saya layak dihukum,” ucap Phu-phu ketakutan.
“Mulai sekarang dengarkan aku, mungkin kamu akan terkejut dengan apa yang akan aku lakukan!
Pertama, jangan memanggilku nona. Panggil aku Lie Mey Yui dan aku akan memanggilmu kakak.
Kedua, kamu harus cepat sembuh dan berlatih denganku yang pasti agar kamu bisa melindungi dirimu sendiri sebelum kamu melindungi aku.
Ketiga, aku akan membalaskan dendam atas perilaku mereka padaku. Aku akan membalas mereka berkali-kali lipat..
Untuk yang keempat, aku akan meninggalkan kediaman yang penuh dengan kebusukan. Untuk poin ini, aku tidak memaksamu untuk ikut bersamaku. Pilihan ada di tanganmu! Hanya untuk poin keempat,” tegas Lie Mey Yui
Mendengar perkataan Lie Mey Yui, ia kaget dengan perubahan sikap nona mudanya. Mulutnya seperti terkunci, kagum dan tak percaya dengan ketegasan majikannya.
“Phu-phu, apakah kamu mendengar dan paham dengan ucapanku? tanya Mey Yui
Mendengar itu, phu-phu tersentak kaget dan menjawab, " paham nona kan tetapi jika nona akan balas dendam, hamba kuatir dengan keselamatan nona” ada keraguan di mata Phu-phu.
“Hal itu kamu tidak perlu kuatir, yang perlu kamu lakukan adalah percaya dan menuruti perkataanku,” tegasnya.
“Baiklah hamba akan menuruti perkataan nona,” jawab Phu-phu.
“Sekarang ceritakan apa yang terjadi selama aku tidak ada di sini,” tanya Lie Mei yang geram melihat kondisi badan Phu-phu memar bahkan tidak ada ruang yang tidak memar dan terluka.
“Saat nona kedua kembali tidak bersama nona, hamba menanyakan di mana keberadaan nona dan kenapa tidak kembali bersama. Nona kedua marah dan menganggap saya lancang dan menyuruh pelayan Chiu untuk menghukum hamba. Saya diikat di pohon dan semua pelayan memukuli hamba, Setelah itu hamba tidak begitu ingat yang saya ingat bibi Hong membantu melepaskan tali yang mengikat tubuh hamba. Itulah yang terjadi pada hamba, lalu bagaimana dengan nona?” Phu-phu menceritakan garis besarnya yang terjadi pada dirinya.
"Biadab, itu bukan perilaku seorang nona kedua dari keluarga terpandang. Mei Fang seperti iblis yang seharusnya dibakar dengan api neraka” geramnya sambil mengepalkan tangannya.
Lalu mengusap air mata Phu-phu.
“Kakak jangan menangis dan ingat jangan pernah menganggap dirimu pelayanku. Saat ini kamu adalah kakakku, panggil aku Mei. Kamu adalah orang yang aku sayangi,” ucapnya dan kemudian memeluk Phu-phu.
Dengan terisak Phu-phu berkata “hamba tidak layak anda perlakukan seperti ini, hamba hanya seorang budak”.
“Tidak ada penolakan lakukan saja seperti yang aku perintahkan dan istirahatlah untuk memulihkan kondisi tubuhmu,” jawab Lie Mey Yui dengan kesal lalu pergi meninggalkan Phu-phu yang terbengong-bengong heran.