
Mey Yui dan Yuan melesat menuju ke kediaman jenderal Jun Ho. Pasangan muda yang misterius itu melewati desa-desa di sepanjang jalan.
Tak terasa mereka sudah sampai di ibukota. Sebelum mereka kembali ke kediaman jenderal Jun ho, Yuan mengajak Mey Yui untuk mampir ke sebuah kedai guna melepas dahaga dan beristirahat sejenak.
Banyak mata melihat mereka, pemuda yang menggunakan topeng dan gadis yang bercadar menambah aura misterius mereka.
Para gadis dan pria melihat mereka saat masuk ke kedai tersebut. Mereka menatap takjub dan penasaran. Meski wajah mereka tidak terlihat jelas namun aura ketampanan dan kecantikan mereka tidak dapat di pungkiri.
“Gagah dan tampan sekali pria bertopeng itu,” seru gadis A
“Kamu benar! Meski menggunakan topeng tapi aku yakin di balik topeng itu pasti seorang pemuda yang tampan. Namun sayang dia sudah memiliki kekasih,” balas gadis B.
“Aku rasa gadis itu juga sangat cantik, lihatlah kulitnya putih bersih,” ucap gadis A
“Aku tak yakin jika gadis itu cantik, pasti wajah gadis itu jelek ! Sehingga menggunakan cadar untuk menutupi wajah jeleknya. Aku lebih cantik dan seksi dibandingkan gadis itu,” ucap gadis C yang berdandan menor.
Gadis A dan B menoleh dan tertawa ke temannya yang mengatakan dirinya cantik.
“Kamu jangan terlalu percaya diri! Tidak ada satu pun orang yang mengatakan bahwa dirimu cantik,” ucap gadis B sambil tertawa.
“Siapa bilang aku tidak cantik! Banyak pria mengatakan diriku cantik dan seksi!” balas gadis C tak mau kalah.
“Pria buta mana yang mengatakan kamu cantik dan seksi? Badan seperti gentong wadah air di rumahku! Kau bilang seksi,” balas gadis A tertawa ngakak.
“Sialan kau! Bilang saja kalo kamu iri dengan kecantikanku!” balas gadis C tak mau kalah.
“Biarlah dia mau bilang apa? Kita jangan dekat-dekat dengannya. Aku yakin dia pasti akan membuat masalah. Lebih baik kita pergi dari sini,” ajak gadis B yang mempunyai kepribadian baik dan bijaksana.
Gadis A mengangguk dan bangkit dari tempat duduknya. Ia mengikuti gadis B yang hendak pergi meningggalkan gadis C yang masih duduk di meja.
“Hai kalian mau ke mana? Dasar gadis tak tau diuntung,” maki gadis C.
Gadis A dan B tak menghiraukan makian dan panggilan gadis C. Mereka tidak ingin terlibat dengan urusan gadis C.
Gadis B pandai menilai seseorang, ia merasa bahwa pria bertopeng dan gadis bercadar bukan orang yang bisa mereka singgung.
Melihat temannya meninggalkannya sendiri, tak membuat kendor niatnya untuk menggoda Yuan.
Sementara Yuan dan Mey Yui duduk sambil mengobrol di meja sedang menunggu hidangan dari kedai tersebut, tak menghiraukan kebisingan yang di timbulkan oleh gadis gendut tersebut.
Namun mereka mulai terganggu dengan kedatangan si gendut. Si gendut menghampiri meja mereka.
“Hai tampan, apakah aku boleh duduk bersamamu?” ucap Si gendut dengan percaya diri.
Yuan mengabaikan gadis tersebut, ia kesal kenyamanannya terganggu. Yuan hanya ingin menikmati saat kebersamaannya dengan Mey Yui.
Gadis gendut ini adalah Bao Su Li putri dari seorang saudagar kaya dan ayahnya adalah kakak tertua dari selir yang baru di nikahi oleh Qian Bun Ho. Bao Su Li kesal karena telah diabaikan oleh Yuan.
“Hai.. kau gadis jelek! Minggir dan menyingkirlah dari sini! Aku akan duduk di sini,” usir Su Li kepada Mey Yui.
Namun Mey Yui juga tak menghiraukannya, ia dengan santai menyantap kue yang di suapi oleh Yuan.
Su Li sangat geram melihat kemesraan mereka berdua dan mengabaikan keberadaannya. Dengan marah ia menggebrak meja makan.
“Kalian kurang ajar! Berani-beraninya kalian mengabaikanku!” bentaknya sambil mengepalkan tangannya.
Tak lama ada beberapa gadis menghampirinya.
“Wow...! Kenapa gadis jelek yang tak diinginkan oleh putra mahkota berada di sini?” tanya gadis yang baru datang.
Mendengar ucapan gadis yang baru datang. Yuan dan Mey Yui langsung menoleh pada gadis tersebut. Ternyata Mey Fang bersama teman-temannya yang datang. Su Li dan Mey Fang janji bertemu di kedai tersebut.
Mey Yui mengetahui siapa yang datang, lalu ia tak menghiraukan dan melanjutkan makannya. Yuan pun ikut tak menghiraukannya.
Yuan bertanya kepada Mey Yui melalui gelombang suara.
“Sayang... apakah kamu mengenal gadis yang baru datang?” tanya Yuan menggunakan gelombang suara kepada Mey Yui.
“Dia adalah adik tiri Mey Yui,” jawab Mey Yui dengan menggunakan gelombang suara.
“Apakah perlu aku singkirkan sekarang?” tanya Yuan lagi.
“Tidak perlu, aku ingin tahu apa yang akan dia lakukan,” balas Mey Yui.
“Baiklah, kamu atur saja,” balas Yuan kepada Mey Yui.
“Mey Fang apakah kau mengenal gadis ini?” tanya Su Li kepada Mey Fang.
“Siapa yang tidak mengenal gadis buruk rupa dan cacat ini! Dia adalah kakak tiriku Mey Yui, yang telah di buang oleh putra mahkota bahkan ayah dan kakak tiriku juga jijik dengannya,” ucap Mey Fang dengan lantang.
“Oh.. dia rupanya! Gadis cacat dan buruk rupa putri pertama Jenderal perang Lie Jun Ho,” ucap Su Li.
“Ya... benar! Dia lah gadis yang tidak diinginkan oleh putra mahkota,” ucap Mey Fang lagi.
“Hai gadis jelek! Pergi dari sini dan aku akan mengampunimu. Kau tak pantas dengan pria tampan ini,” ucap Su Li dengan percaya diri.
Mey Yui tak menanggapi ocehan dari Su Li dan Mey Fang. Begitu juga dengan Yuan. Mey Yui menahan Yuan agar tidak ikut campur.
“Sayang! Kamu jangan ikut campur urusan ini. Ini urusan para gadis dan kamu tidak perlu turun tangan. Biarlah aku yang menghadapi ondel-ondel dan gentong berjalan itu,” ucap Mey Yui melalui gelombang suara.
Yuan tidak menjawab, hanya mengedipkan matanya tanda setuju.
“Kau tuli dan bisu, ya! Tak menjawab perkataanku,” bentak Su Li.
“Kau tak perlu terlalu sopan dengan gadis cacat ini. Jangan banyak bicara dengannya langsung saja dengan tindakan,” ucap Mey Fang menyulut emosi Su Li.
“Kau benar, Mey Fang! Gadis seperti ini harusnya kita seret keluar dan kita permalukan,” ucap Su Li dan mengkode pelayannya dan pengawalnya agar menarik Mey Yui keluar kedai.
Semua pengunjung melihat keributan di meja Yuan. Pemilik kedai tak berani menghentikan Su Li yang merupakan keponakan dari selir mantan perdana menteri. Pemilik kedai takut jika ia kena imbasnya.
Pengawal Su Li telah datang dan menghampirinya dan menundukkan kepala mereka tanda hormat kepadanya.
“Cepat kau suruh pengawalmu menyeret gadis cacat itu keluar,” ucap Mey Fang kepada Su Li.
“Seret gadis itu keluar, sekarang!” perintah Su Li kepada pengawalnya.
Tanpa menunggu perintah yang kedua kalinya, para pengawal mendekat dan menghampiri Mey yui.