
Tiba saatnya Mey Yui pergi bersama ayahnya, mereka berangkat di pagi hari. Jun Ho menunggu putrinya dengan sabar, tak lama dari kejauhan nampak putrinya berjalan menuju ke arahnya.
Mey Yui bergegas menghampiri ayahnya yang sudah menunggu kedatangannya. Ia menggunakan pakaian pria, dan menggunakan topi capil dengan kain penutup.
“Selamat pagi ayah! Maafkan Yui’er terlambat menemui ayah,” Ucap Mey Yui sambil mencium pipi Jun Ho.
Jun Ho tersenyum bahagia di pagi hari menyaksikan putrinya yang manja. Meski sudah dewasa namun tidak membuatnya merasa canggung.
“Putri ayah ini, manja sekali! Ayah akan sabar menunggu putri kecil ayah,” balas Jun Ho sambil mencubit pipi Mey Yui.
“Ayah...! Yui’er sudah besar dan bukan anak kecil lagi!” ucap Mey Yui dengan manja.
“Bagi ayah, Yui’er adalah putri kecil ayah. Saat kau lahir, ayah menggendongmu untuk pertama kalinya. Tak bisa ayah ungkapkan kebahagiaan yang ayah rasakan. Wajahmu sangat mirip dengan ibumu, kamu adalah kado yang terindah dari ibumu,” balas Jun Ho sambil berkaca-kaca.
“Sudah dunk, ayah jangan mengenang masa lalu. Nanti ayah jadi sedih, mulai sekarang Yui’er yang akan menemani ayah,” ucap Mey Yui.
“Anak baik! Ayo kita berangkat sekarang, agar tidak kemalaman di jalan!” ajak Jun Ho sambil menggandeng tangan putrinya.
Jun Ho membantu putrinya naik ke kereta kuda. Rombongan dari Jun Ho sudah siap untuk berangkat. Ketika Jun Ho akan menaiki kudanya, terdengar suara teriakan memanggilnya.
“Tuan...! Tuan...!” teriak Chu Min sambil berlari menghampiri Jun Ho.
Chu Min marah karena Jun Ho meninggalkan rumah tanpa memberitahunya dan yang membuatnya semakin marah dan kesal. Mey Yui ikut bersama Jun Ho, sedangkan dirinya dan putrinya tidak diajak bersama.
“Kenapa kau kemari dan menghentikanku! Bukankah kau sedang menjalani hukuman dariku!” bentak Jun Ho.
“Mengapa tuan tidak memberitahu hamba jika akan meninggalkan kediaman? Kenapa Mey Yui ikut bersama tuan? Jika Mey Yui ikut bersama tuan, ajak serta Fang’er bersama tuan,” protes Chu Min.
“Lancang sekali kau! Aku pergi atau tidak itu urusanku dan tidak perlu lapor denganmu! Aku mau mengajak siapa pun kau juga tidak perlu mengaturku! Ingatlah statusmu! Siapa kamu! Berani-beraninya menghentikanku! Masuk dan jalani hukumanmu!” bentak Jun Ho dengan kesal.
“Tapi tuan tidak adil dengan kami! Fang’er juga putrimu, kenapa hanya Mey Yui yang tuan ajak! Jika tuan tidak mengajak hamba tidak jadi masalah. Karena hamba sedang menjalani hukuman. Tapi Fang’er! Kenapa tuan tidak mengajaknya?” protes Chu Min tak mau kalah.
“Pengawal seret masuk Chu Min, jangan biarkan dia keluar dan menemui siapa pun. Hukum para penjaga dan pelayan yang telah membantu Chu Min keluar dari kamarnya!” teriak Jun Ho yang sudah tak sabar menghadapi tingkah Chu Min. Yang semakin lama semakin tak tahu aturan. Seolah-olah dirinya istri sah yang sebenarnya.
Selir Chu Min memberontak saat prajurit jaga membawanya pergi.
“Hentikan! Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu! Dasar prajurit rendahan yang tak tahu di untung,” Chu Min memaki prajurit yang ingin membawanya kembali kamarnya untuk menjalani hukumannya.
Prajurit jaga mengabaikan makian Chu Min, mereka menggerendeng Chu Min meski ia berontak dan teriak-teriak.
Sementara di dalam kereta Mey Yui mengintip keluar melalui tirai jendela.
“Hahaha... ! Lama-lama aku bisa gila kalo mengomel sendiri! Bisa di kira gila aku! Kelima cewek pengawal itu kalo aku pikir-pikir bisa di bentuk grup band. Ya.. mereka seperti ITZY ala kak Yuan,” ucap Mey Yui lagi. Ia tidak dapat menahan tawa.
Pikiran usil Mey Yui mulai meronta-ronta, ia membayangkan jika ke lima pengawalnya berubah menjadi grup band yang sedang melakukan debut konsernya.
Menyanyi di panggung dengan lagu jaman modern dan menggunakan kostum kuno.
“Hahaha.. Aku bisa gila beneran ini! Kalo aku sudah bertemu dengan ketiga priaku, akan aku usulkan untuk membentuk grup penyanyi!” Mey Yui tertawa sendiri membayangkan bagaimana reaksi ketiga pria yang berasal dari jaman modern mengetahui idenya.
Mey Yui terdiam saat tirai pintu di buka oleh seseorang.
“Apakah nona baik-baik saja? Tanya Lili sambil menghalau tirai pintu dan hanya menampakkan kepalanya.
“Lili..! Kau membuatku terkejut! Tiba-tiba muncul kepalamu saja dan bertanya! Aku pikir tadi ada hantu kepala!” balas Mey Yui sambil memegangi dadanya.
“Maafkan hamba, nona! Hamba kuatir, tadi hamba mendengar suara dari dalam kereta. Hamba duduk di samping kusir, jika nona memerlukan sesuatu! Panggil hamba, nona!” ucap Lili kepada Mey Yui.
Mey Yui hanya menganggukkan kepalanya. Kemudian Lili kembali menutup tirai pintu kereta.
“Kalo begini caranya aku benar-benar bisa masuk RSJ. Duduk di samping kusir, seperti lagu saja. Naik kereta kuda, duduk samping pak kusir yang sedang bekerja! Hahaha..! Aku tidak tahu harus menangis atau bahagia, terdampar di jaman kuno ini!” ucap Mey Yui lirih. Ia takut Lili mendengar ucapan dan tawanya.
Kereta mulai jalan, Mey Yui di dalam kereta merasakan getaran-getaran saat kereta kuda mulai berjalan.
“Aku heran dengan orang jaman kuno, mereka sangat kuat-kuat! Apakah mereka tidak ada yang sakit encok atau ambeien? Perjalanan jauh naik kereta kuda itu pun yang punya kereta kuda. Jalannya berbatu, kalo kena batu yang di dalam mental-mental goyang semua. Pantat rasanya kapalan dan perut rasanya seperti di kocok-kocok.”
“Belum lagi kalo nanti ada lubang, lama- lama bisa kram perutku. Kalo di pikir-pikir seperti pijat refleksi yang menggunakan alat modern. Seluruh tubuh bergetar semua. Punggungku pegal sekali dan ini pantatku sudah kesemutan. Lebih baik pergi menggunakan digong daripada harus menggunakan kereta kuda.”
“Baru berapa kilometer saja rasanya seperti ini! Bagaimana nanti jika perjalanan sampai berhari-hari. Lebih baik aku ke ruang dimensi saja, bermain dengan kesayanganku. Sudah lama aku tidak bertemu dengan mereka. Aku juga ingin membuat beberapa pil dan elixir. Tapi aku harus memastikan Lili agar tidak mengintipku,” gumam Mey Yui.
Mey Yui membuka sedikit tirai pintu untuk berbicara dengan Lili.
“Lili..! Aku ingin tidur! Kamu jangan menggangguku dan jangan biarkan ada orang yang mengganggu tidurku. Jika kereta berhenti, kamu tidak perlu masuk atau membuka tirai. Cukup memanggilku dari luar,” ucap Mey Yui kepada Lili.
“Baik, nona. Hamba akan laksanakan perintah nona," balas Lili kepada Mey Yui.
Mey Yui menutup kembali tirai pintu dan ia bersiap untuk teleportasi ke ruang dimensinya.
*****
Terima kasih sudah setia dan memberi support. Jangan lupa Like dan Komentarnya🙏