Kezia Story

Kezia Story
Bab 36



Selamat Hari Raya Idul Fitri 1444H, mohon maaf lahir dan batin 🙏🙏🙏


Ketika Mey Yui sudah berada di kamarnya ia berencana ingin mencari Phu-phu, namun karena Yuan ada bersamanya maka ia belum bisa melaksanakan keinginannya.


Yuan selalu mengekori ke mana Mey Yui, terkadang Mey Yui merasa tidak nyaman. Akhirnya ia memutuskan malam akan pulang ke kediaman hanya untuk menengok Phu-phu, ia akan menyelinap keluar.


Malam pun telah tiba, Mey Yui sudah tak sabar untuk menyelinap pulang ke kediamannya. Namun Yuan masih saja di dalam kamarnya dan belum ada tanda-tanda ia akan kembali ke kamarnya.


“Kak Yuan, aku sudah mengantuk. Apakah kakak tidak kembali ke kamar?” tanya Mey Yui.


“Maafkan aku, jika kamu merasa tidak nyaman karena aku masih berada di kamarmu. Baiklah jika kamu sudah mengantuk aku akan kembali ke kamarku,” ucap Yuan yang sebenarnya enggan kembali ke kamarnya.


“Aku bukannya tidak nyaman, tapi aku benar-benar mengantuk, kak” jawab Mey Yui.


“Baiklah, Selamat malam. Besok aku akan mengantarmu untuk membeli kuda yang bagus,” ucap Yuan kemudian ia meninggalkan kamar Mey Yui.


Setelah kepergian Yuan Mey Yui menghela nafas panjang.


“Kenapa juga kakak nyuruh kak Yuan untuk menjagaku, aku jadi nggak bisa pergi kemana-mana. Kak Yuan mengekori ku terus, tadi alasan mau cari kuda yang bagus juga mau diantar. Ribet banget,” gerutu Mey Yui.


“Untung dia cepat balik ke kamarnya, kalo ngotot nungguin aku tidur? Bisa kacau rencanaku,”ucap Mey Yui dalam hati.


Mey Yui segera bergegas menyelinap keluar untuk menemui Phu-phu yang telah ditinggalkan lama di kediaman Jenderal Lie Jun ho.


Sementara Yuan yang sudah kembali ke kamarnya duduk termenung. Pikirannya melayang saat pertemuan pertamanya dengan Lie Mey Yui.


“Siapa kalian yang sebenarnya? Kenapa gaya bicara kalian seperti gaya bicara orang jaman modern? Aku merasa ada perasaan yang sangat dekat dengan mereka, Mey Yui kenapa kalian begitu mirip sekali dengannya? Membuatku pusing,” gumamnya sambil mengusap wajahnya.


Yuan menuju tempat tidurnya dan merebahkan tubuhnya untuk menenangkan pikirannya, tak terasa ia terlelap.


Suasana di kediaman jenderal lie Jun Ho sangat tenang, nampak sosok bayangan hitam melesat ke arah gubuk reot di belakang bangunan utama.


Sosok ayangan hitam menyelinap masuk di gubuk reot tersebut, sosok bayangan hitam itu masuk ke kamar Phu-phu.


Phu-phu tersentak kaget melihat ada orang berpakaian hitam masuk ke kamarnya. Spontan berteriak, mulutnya dibekap oleh orang itu.


“Kak Phu-phu ini aku! Mey Yui,” ucap Mey Yui melepas bekapan mulut Phu-phu.


Phu-phu langsung memeluk Mey Yui, ia sangat merindukan dan mengkhawatirkan Mey Yui. Ia menangis sambil memeluk Mey Yui.


“Kenapa kamu baru kembali? Kemana saja kamu selama ini?” tanya Phu-phu dengan meraba-raba tubuh Mey Yui. Ia mengecek apakah Mey Yui baik-baik selama meninggalkan rumah.


“Aku baik-baik saja, kak, jangan mengkuatirkan aku bersama kak Ming Se dan kaka A Sen,” jelas Mey Yui.


“Benarkah kamu dengan bersama tuan muda?” tanya Phu-phu.


“Benar, kak” jawab Mey Yui.


“Syukurlah kalau tuan muda baik-baik saja, kabar yang aku dengar tuan muda di serang oleh perampok dan menghilang sampai saat ini belum diketahui keberadaannya,” jelas Phu-phu.


“Rahasiakan pada siapapun tentang kak Ming Se, agar musuh tidak meningkatkan kewaspadaan,” ucap Mey Yui.


“Aku akan merahasiakan dari siapapun,” jawab dengan tegas.


“Kak, datang hanya merindukanmu dan akan kembali pergi lagi. Masih ada susuatu yang harus aku kerjakan dengan kak Ming Se. Jika semua urusan di luar sudah selesai kami akan kembali,” jelas Mey Yui kepada Phu -phu agar tidak mengkhawatirkan dirinya.


“Berhati-hatilah saat di luar dan jaga kesehatanmu, aku akan menunggumu kembali,” ucap Phu-phu.


Setelah puas bertemu dengan Phu-phu, Mey Yui pamit. Ia meninggalkan Phu-phu dan kembali ke penginapan.


Sesampainya di penginapan Mey Yui segera mengganti pakaiannya dan merebahkan dirinya di tempat tidur.


“Kenapa aku memikirkan kak Yuan? Kak Ardi maafkan aku! Aku tidak bermaksud menduakan hatiku dengan pria yang baru aku kenal di jaman ini. Mungkin aku mersa kak Yuan memiliki banyak kesamaan denganmu,ucapnya dalam hati.


“Apakah hanya kebimbangaan sesaat sehingga aku salah mengartikan perasaanku? tanyanya pada dirinya sendiri.


“Lebih baik aku harus menghilangkan pikiran dan perasaanku pada kak Yuan, aku takut itu hanya sebuah pelarian saja,” gumamnya kembudiannia memejamkan matanya agar bisa tidur.


Tak terasa waktu sudah pagi, Mey Yui yang baru saja terlelap mendengar pintu kamarnya diketuk oleh seseorang.


Dengan kesal ia membuka matanya namun ia tidak segera beranjak dari tempat tidurnya.


“Siapa sih pagi-pagi sudah mengganggu? Aku baru tidur, memang nggak ada akhlak orang yang mengganggu waktu tidurku.


Ketukan masih terdengar suara ketukan, dengan kesal ia bangkit dari tempat tidur dan melangkah menuju pintu kamarnya.


“Siapa sih pagi-pagi sudah mengganggu tidurku? teriaknya


“Pintu dibuka dan nampak wajah Yuan tersenyum dengan wajah tanpa dosa, tak menghiraukan gadis yang ada di depannya kesal.


“Maaf, sudah mengganggu tidurmu?” kata Ming Se.


“Hhmm…” Mey Yui tak menbalas ucapan Yuan.


“Hari sudah pagi tak baik anak gadis jika belum bangun,” ucap Yuan sok bijak.


“Masih pagi, kak! Aku masih mengantuk!” jawabnya tanpa melihat Yuan dan meninggalkan Yuan. Ia kembali merebahkan diri ke tempat tidur tanpa memperdulikan dan merasa canggung dengan Yuan.


Yuan tersenyum melihat tingkah Mey Yui yang menurutnya menggemaskan.


“Kenapa kamu tidur lagi? Ayo bangun! Gadis nakal…! “Yuan membangunkan Mey Yui lagi.


“Satu jam lagi, kak. Masih ngantuk” gumam Mey Yui.


“Kenapa kamu sangat menggemaskan, boleh tidak aku meyekapmu dan aku bawa ke kamarku agar aku selalu bersamamu,” ucapnya dalam hati kemudian menarik sudut bibirnya dan menggelengkan kepalanya.


Yuan meninggalkan Mey Yui yang sedang melanjutkan tidurnya, ia duduk di kursinyang tak jauh dari tempat tidur Mey Yui. Yuan memandangi Mey Yui yang sedang tidur pulas.


“Apakah semalam kamu kurang tidur? Apa yang kamu lakukan? ucap Yuan dalam hati.


Sementara Mey Yui yang tidak sadar jika Yuan menunggunya di dalam kamar


Yuan berselancar dalam pikirannya sambil memandangi wajah Mey Yui, ia tak ada bosannya ia memandang wajah itu.


Tanpa sadar Yuan ikut tidur di meja, Mey Yui perlahan membuka kedua matanya, namun ia masih merasa malas untuk bangun . Melihat Yuan tertidur di meja sambil menopang wajahnya dengan tangan kanannya.


“Kak Yuan belum pergi! Ia menunggu sampai ketiduran,” gumamnya.


Mey Yui memandangi wajah Yuan yang sedang tertidur, wajahnya terlihat polos saat tidur tidak menunjukkan seperti pria mesum.


Yuan yang memiliki kepekaan yang sangat kuat merasakan bahwa ada orang yang memandangnya. Namun ia berpura-pura masih tidur, ia Ingin mengetahui apa yang akan dilakukan oleh Mey Yui.


Mey Yui bangun dari tidurnya dan berjalan ke Yuan, ia ingin membangunkan Yuan. Namun saat berada di dekat Yuan ia tergoda ingin memandangi wajah Yuan dari dekat.


Ia sangat ingin melihat wajah Yuan


“Wajahnya sangat polos saat tidur, bulu matanya panjang.”


Mey Yui ingin melihat wajahnya, pun mengulurkan tangannya ke wajah untuk mengelus wajahnya.