
Setelah meninggalkan area penginapan mereka berempat melesat menuju hutan bambu.
Mereka berempat telah memasuki hutan bambu yang sangat sunyi dan menyeramkan. Mereka menuju gua tempat Ming Se dan A Sen bertemu Mey Yui pertama kali.
Mereka masuk ke dalam gua tersebut, Mey Yui memanggil Yuyu untuk memasang array pelindung.
“Yuyu.. keluarlah! Aku memerlukan bantuanmu,” panggil Mey Yui pada Yuyu.
Yuyu keluar dari ruang dimensi setelah mendengar panggilan dari Mey Yui.
“Kak Mey Yui memerlukan bantuan apa?” Tanya Yuyu.
“Tolong pasang array pelindung di luar gua, kami akan berkultivasi bersama di dalam gua,” ucap Mey Yui.
“Baiklah, aku akan memasang array tingkat tinggi agar tidak ada yang bisa menembus array pelindung gua ini,” ucap Yuyu kemudian melayang keluar gua.
Tak lama Yuyu kembali setelah memasang array di luar gua.
“Kak Mey Yui akan berkultivasi di dalam gua?” tanya Yuyu
“Benar, apakah kamu mengetahui tempat yang bagus untuk berkultivasi di dalam gua ini?” tanya Mey Yui.
“Aku tahu tempat yang bagus, kak. Tempat itu lebih dalam lagi tepatnya di bawah lereng gunung tepatnya dekat kolam naga. Gua ini bisa tembus di lereng gunung kolam naga,” ucap Yuyu.
“Kolam naga yang pernah aku datangi saat mengambil teratai hitam?” tanya Yuan
“Benar, kak. Di bawah gunung ada tempat yang banyak mengandung energi qi yang sangat besar. Kalian bisa berkultivasi di sana,” jawab Yuyu.
“Antar kami ke sana, Yuyu!” ucap Mey Yui
“Mari aku tunjukkan jalan menuju tempat itu,” ucap Yuyu.
Yuyu melayang di udara menunjukkan jalan pada keempat orang tersebut.
“Sayang, apakah kamu tidak lapar? Dari tadi kamu belum makan apa pun. Bagaimana jika kita mencari makan dulu sebelum kita menuju lereng gunung kolam naga?” ucap Yuan.
“Betul, aku sudah lapar dan sangat kangen dengan masakkanmu,” ucap A Sen.
“Kalo urusan makan pasti kak A Sen nomor satu,” ledek Mey Yui.
“Kamu memang paling mengerti aku, ngomong-ngomong kami belum menginterogasi kamu ya! Sejak kapan kalian berdua menjadi dekat?” tanya A Sen
Mey Yui hanya diam tak bisa menjawab, ia takut dengan Ming Se. Melihat adik perempuannya salah tingkah, Ming Se mengalihkan pembicaraan.
“Lebih baik kita makan dulu, nanti setelah kenyang baru kita bicarakan lagi,” ucap Ming Se.
“Sayang, ayo antar kami ke ruang dimensimu,” ucap Ming Se tanpa menyinggung hubungan Mey Yui dengan Yuan.
“Yuan.. apakah kamu sudah mengetahui jika Mey Yui memiliki ruang dimensi?” tanya A Sen
“Sudah!” jawab Yuan singkat.
“Wah.. wah.. anak ini ngajak gelud aku tanya! jawabnya singkat, jelas, padat!” ucap A Sen.
“Nanti jika kita sudah kenyang kita gelud,” jawab Yuan santai
Ming Se dan A Sen saling bertatap muka dan mengerutkan dahi.
A Sen mencekal bahu Yuan, kemudian menatap mata Yuan seolah mencari tahu apakah Yuan mengerti maksud dari kata gelud.
Yuan mengedipkan mata kanannya dan menaruh jari telunjuknya ke mulut. Memberi tanda kepada A Sen agar tidak membuka suara.
A Sen mengangguk, kemudian ia menghampiri Mey Yui dan merangkul bahu Mey Yui dan membisikkan sebuah kata pada Mey Yui sambil menyeringai kepada Yuan. Dari jauh nampak seperti A Sen mencium pipinya
“Akan aku buktikan kecurigaanku selama ini, jika kamu adalah Ardi sahabat baik kami dari jaman modern. Tingkah lakumu sangat mirip dengannya, kamu sengaja menyembunyikan dari kami.”
“Kurang ajar sekali, jika benar kecurigaanku. Hanya satu cara untuk membalasmu, akan aku gunakan Mey Yui untuk menghukummu. Kami selalu merindukanmu dan bersedih saat mengingatmu.”
“Ternyata kamu juga terdampar di jaman kuno juga. Tidak mau jujur dan memberitahu kepada kami. Dasar Ardi sialan,” ucap A Sen dalam hati.
Melihat A Sen merangkul bahu kekasihnya dan mencium pipi Mey Yui seperti yang di duga. Yuan marah langsung menghampiri A Sen dan menarik tangannya kemudian Yuan memukul A Sen.
Mey Yui dan Ming Se sangat terkejut melihat Yuan dan A Sen saling memukul. Mereka melerai kedua pria yang sedang berantem.
“Hentikan...! Kalian ini seperti anak kecil yang berebut mainan!” teriak Mey Yui kesal.
“Jika kalian masih ingin beradu pukul, pergi dari gua ini! Aku tak ingin melihat kalian lagi,” teriak Mey Yui lagi.
“Sayang... jangan marah, dunk! Aku kesal dengan A Sen yang telah berani memeluk bahumu dan menciummu,” ucap Yuan merajuk.
Mey Yui matanya melotot melihat Yuan dan menggelengkan kepalanya.
“Siapa yang mencium dan siapa yang dicium? Ingat ya... apa yang kita lihat belum tentu yang sebenarnya terjadi! Aku tidak ingin ke depannya kamu yang tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah, akan mudah di hasut oleh orang!” ucap Mey Yui kesal.
“Jika kamu tidak bisa mempercayai pasanganmu bagaimana kamu bisa menjalani suatu hubungan. Suatu hubungan tidak hanya di dasari dengan cinta! Yang paling utama kepercayaan dan komunikasi!” ucap Mey Yui lagi.
A sen senyum-senyum melihat Mey Yui marah dengan Yuan. Ia sengaja membuat ulah untuk memancing kecemburuan Yuan seperti yang ia lakukan dulu. Ardi akan selalu emosi jika menyangkut Kezia.
“Bingo.. tak salah lagi! Tunggu pembalasanku dan Ming Se. Kami akan mengikuti permainanmu. Kuat-kuatan bertahan menyembunyikan identitasmu pada kami,” ucap A Sen dalam hati.
“Sayang.. aku yang salah tidak bisa mengendalikan emosiku jika menyangkut dirimu! Kau tahu aku sangat menyayangimu,” ucap Yuan.
“Justru kamu tidak bisa mengendalikan emosi itu yang akan mudah di hasut oleh orang-orang jahat,” ucap Mey Yui.
“Baiklah aku akan mencoba mengendalikan emosiku,” ucap Yuan sambil memeluk Mey Yui.
Ming Se yang melihat drama percintaan adiknya hanya menggelengkan kepala dan melihat A Sen memberikan kode padanya.
Ming Se yang mengerti langsung menganggukkan kepalanya. Lalu ia menghampiri adiknya yang sedang berpelukan dan melepas pelukan kedua insan yang sedang jatuh cinta.
“Kalian berdua seenaknya sendiri berpelukan di depanku! Kau anggap apa aku? Setelah mempertontonkan drama percintaan kalian,” ucap Ming Se yang berakting marah.
Mey Yui tersentak saat mendengar ucapan kakaknya, ia malu karena melupakan keberadaan kakaknya.
“Maaf, kak!” cicit Mey Yui dengan wajah merona karena malu.
“Kau..!” ucap Ming Se sambil menunjuk Yuan.
“Aku mempercayakan adikku untuk kau jaga! Bukan kau jadikan kekasihmu! Apakah kau telah meminta ijin padaku? Kau sama sekali tidak menghargaiku!” omel Yuan
Yuan dan A Sen merasakan kecurigaan yang sama terhadap Yuan. Sehingga mereka berdua sengaja mengikuti permainan Yuan. Namun mereka tidak mempermudah Yuan mendekati Mey Yui sebagai hukumannya.
“Maafkan aku! Bukan aku tidak menghargaimu sebagai kakak Mey Yui. Namun spontan dan semua itu di luar kesadaranku. Aku memang belum meminta ijin padamu karena saat itu kau pergi dan saat kita bertemu, sangat tidak memungkinkan untuk membicarakan mengenai hubungan kami,” jelas Yuan kepada Ming Se.
“Aku pikir itu semua adalah alasanmu saja! Jika kami tidak mengetahui hari ini pasti kau menyembunyikannya dari kami!” bantah Ming Se
“Benar..! jika kamu ada niatan untuk minta ijin dan memberitahu hubungan kalian, saat kuta sampai di gua ini kamu pasti mengajak bicara kami,” tambah A Sen membumbui ucapan Ming Se biar rame.
Melihat Yuan di serang omongan oleh kedua kakaknya, Mey Yui mulai angkat bicara.
“Kenapa aku merasa kalian sengaja menekan dan membully kak Yuan, ya...?” Ucap Mey Yui sambil mengerutkan dahi.
“Mengapa kamu bicara seperti itu? Apa salah jika kami sebagai kakakmu mengawatirkan adik kesayangan kami dari buaya darat?” ucap A sen.
“Apa yang dikatakan oleh A Sen itu benar, kami sangat mengawatirkan kamu. Kami sebagai kakak tidak ingin melihat adik kami di sakiti. Kami akan selalu menjaga kamu dari pria-pria yang enggak jelas,” ucap Ming Se
“ Jika kak Yuan, kakak mengawatirkan aku dan menganggap kak Yuan tidak jelas kenapa kalian meninggalkan aku dan mempercayakan aku kepadanya?” tanya Mey Yui.
Yuan mendengar Mey Yui membelanya ia menyeringai kepada A Sen.
A Sen yang melihat seringai Yuan merasa tertantang dan membalas ucapan Mey Yui.
“Sayang... kami sangat mengawatirkan kamu. Saat itu kami dalam posisi, tak ada pilihan selain mempercayakan kamu pada kunyuk ini. Sebagai bahan pertimbangan saat itu dia ingin mencari penawar racun untuk naga penjaga.”
“Kunyuk ini tidak akan berbuat macam-macam denganmu karena sangat membutuhkan keahlianmu dalam membuat penawar racun. Sehingga kami menyerahkan sementara agar kunyuk ini menjagamu.”
“Mengapa Ming Se mengatakan tidak jelas? Karena kami tidak mengetahui dari mana kunyuk itu berasal. Meski kami meninggalkanmu, kami tetap mengawasi dan melindungimu. Kami tetap tidak akan membiarkanmu sendiri bersama kunyuk ini. Pengawal bayangan bertebaran di sekitarmu, di dalam dimensi kami meminta pada hewan kontrakmu untuk menjagamu dari si kunyuk ini,” jelas A Sen.
Mey Yui sangat terharu kepada kedua kakaknya yang sangat menyayanginya.
Ia merasa bersalah telah berpikiran jelek dengan kedua kakaknya. Lalu ia menghampiri kedua kakaknya yang sedang duduk berdekatan. Mey Yui memeluk kedua kakaknya.
“Maafkan aku, kak! Sudah salah paham terhadap kalian berdua,” ucapannya.
A Sen dan Ming Se membalas pelukan Mey Yui dan mengelus kepala adiknya. A Sen sengaja menoleh ke arah Yuan dan menyeringai sambil mengedipkan mata kanannya.
“1:0... rasakan! Kau mau melawan kami? Jika kami sudah main drama.. yang lain lewat,” ucap A sen dalam hati. A Sen benar-benar kesal dengan Yuan.
“Sialan.. awas kau A Sen akan aku balas kau,” batin Yuan saat melihat A Sen meledeknya.
Yuan hanya terdiam melihat adegan mereka bertiga. Tangannya mencengkeram pakaiannya, ia sangat kesal dengan A Sen yang sengaja memojokkan dia.