
Mereka berempat meninggalkan dunia nyata dan bertransportasi ke ruang dimensi. Sesampainya di ruang dimensi Mey Yui, A Sen bergegas di meja makan tanpa memedulikan ketiga saudara angkatnya.
“Sudah berapa minggu aku tidak merasakan masakanmu! Anakoda di perutku sudah berjoget-joget bau masakanmu, adikku tersayang,” Ucap A Sen.
“Huh! Kalo ada maunya!” Sindir Mey Yui.
Mereka berempat duduk di meja makan dan menikmati masakan Mey Yui. Menu masakan Mey Yui adalah menu jaman modern.
“Tidak rugi jika aku harus bersabar dan menahan lapar karena menunggumu selesai masak, kamu memang yang terbaik.” Oceh A Sen sambil mengunyah makanannya.
Ming Se dan Yuan hanya menggelengkan kepalanya.
“Kebiasaan! Kalo makan dikunyah dulu jangan sambil bicara,” omel Mey Yui.
A Sen tidak menjawab hanya menganggukkan kepalanya.
Mey Yui mengambilkan nasi Ming Se dan Yuan.
Mereka makan bersama tanpa ada suara, A Sen sangat semangat dalam menghabiskan masakan Mey Yui.
Setelah selesai makan siang tanpa ada drama dari ke empat orang tersebut, Yuan membantu kekasihnya membereskan peralatan makan dan membantu mencucinya.
Sementara Ming Se dan A Sen sedang mengobrol bersama. Mereka membahas rencana membalas dendam perbuatan mantan perdana menteri tua. Mereka akan mengawali dari selir Chu min dan anaknya.
Saat mereka asyik mengobrol, Yuan dan Mey Yui menghampiri mereka.
“Apa yang sedang kalian bicarakan?” tanya Mey Yui.
“Sini, dek. Duduk dekat kakak! Ada yang ingin kakak bicarakan denganmu,” ucap Ming Se pada Mey Yui
“Apa yang ingin kakak bicarakan?” tanya Mey Yui.
“Kakak ingin kamu kembali ke kediaman dulu. Kita akan segera membalaskan dendam pemilik tubuh asli Ming Se dan Mey Yui.,” jelas Ming Se.
“Kenapa harus terburu-buru,” tanya Yuan yang tak rela berpisah dengan kekasihnya.
“Kau ingin masalah di sini cepat selesai apa tidak? Kalo kau ingin membawa Mey Yui ke kerajaan Li, maka harus secepatnya menyelesaikan segala urusan yang ada di sini,” ucap A Sen.
“Kenapa aku harus pergi ke kerajaan Li? Apakah kakak juga ikut bersamaku?” tanya Mey Yui penasaran dan sedih karena mereka baru saja berkumpul namun harus berpisah lagi.
“Sayang! Jika urusan kita di sini sudah selesai, kamu harus ikut ke kerajaan Li bersama Yuan. Yuan memiliki tanggung jawab yang besar dan tidak bisa terlalu lama di sini. Untuk alasannya biar Yuan yang menjelaskan,” jelas Ming Se
“Kamu harus segera membatalkan pertunanganmu dengan putra mahkota Tang Yi Bo,” ucap A Sen
“Maka dari itu, kamu harus kembali ke kediaman jenderal Lie Jun Ho. Membereskan selir Chu dan anaknya serta membatalkan pertunanganmu,” ucap Ming Se.
“Benar apa yang dikatakan oleh Ming Se, sayang. Kamu harus segera membatalkan pertunangan sialan itu, agar aku bisa segera membawamu ke kerajaan Li,” ucap Yuan yang dari tadi mendengarkan alasan Ming Se, menyuruh kekasihnya kembali ke kediamannya.
“Baiklah aku akan ikuti rencana kakak,” jawab Mei Yui.
“Jika kamu kembali, mereka pasti akan menjalankan rencana mereka untuk memutuskan pertunanganmu dengan putra mahkota. Kamu hanya sedikit memberi api agar mereka cepat menjalankan aksinya,” jelas Ming Se
“Setelah kamu kembali ke kediaman, kamu harus membuat kekacauan pada selir Chu Min dan membuat hidupnya tidak tenang. Sementara kami akan mengacaukan dan menggagalkan rencana Si tua bangka itu,” jelas Ming Se lagi.
“Poinnya kita serang mereka dari dalam dan luar. Agar kita bisa cepat menghancurkan keluarga perdana menteri tua,” ucap A Sen.
“Yuan akan membantu kita,” ucap Ming Se.
“Tapi, kak! Di luar sana kalian berdua dijadikan buron oleh Qian Bun Ho. Bagaimana jika kalian tertangkap?” tanya Mey Yui dengan kuatir.
“Kamu tidak perlu mengawatirkan kami berdua, kami tidak meninggalkan jejak adapun. Mereka tidak akan curiga dengan kami. Pada saat yang tepat kami akan kembali ke kediaman,” balas Mey Yui.
“Baiklah aku akan pulang ke kediaman sore nanti,” ucap Mey Yui.
“Yuan akan mengantarmu pulang, kakak kuatir dengan keselamatanmu,” ucap Mey Yui.
“Kau antar adikku pulang, tapi kamu jangan menampakkan diri di kediaman,” ucap Ming Se kepada Yuan.
Yuan menganggukkan kepalanya, tanda setuju.
“Terimalah plakat ini, jika kamu terdesak dan memerlukan bantuan. Kau bisa mendatangi kedai-kedai yang memiliki plakat matahari di seluruh kerajaan Tang dan tunjukkan plakat itu,” ucap Yuan sambil menyerahkan plakat Dragon Pearl pada Ming Se.
“Kalian harus menjaga diri jangan sampai terluka,” ucap Yuan lagi sambil menepuk bahu Ming Se.
“Sebelum kita keluar dari ruang dimensi, lebih baik kita semua berkultivasi. Kita tidak mengetahui kekuatan musuh di dunia luar,” ucap Mey Yui.
“Baiklah kakak dan A Sen akan berkultivasi, kalian berdua bicaralah. Kakak yakin pasti banyak yang ingin Yuan katakan padamu,” ucap Ming Se dan kemudian meninggalkan adiknya.
Ming Se dan A Sen meninggalkan pasangan kekasih tersebut. Mereka berkultivasi di air kolam emas. Karena di kolam surgawi ada dua makhluk yang sedang berkultivasi.
Yuan menggeser duduknya berdekatan dengan Mey Yui. Banyak yang ingin ia katakan kepada kekasih hatinya.
“Sayang... ada yang ingin aku katakan padamu,” ucap Yuan dengan halus sambil memainkan rambut Mey Yui.
“Apa yang ingin kamu katakan, kak? Jangan bilang jika kamu ingin mengatakan bahwa kamu telah memiliki calon istri atau sudah menikah. Jika itu yang ingin kamu katakan, aku tidak mau mendengar. Aku belum siap!” ucapnya sambil menutup kedua telinganya.
“Hai.. apa yang kamu pikirkan? Aku tidak memiliki calon istri maupun istri! Hanya kamu kekasihku dan satu-satunya gadis yang aku cintai,” jelas Yuan.
“ Bohong...! Kamu bohong jika bilang bahwa aku satu-satunya gadis yang kamu cintai. Hatimu telah terukir nama seorang gadis yang sudah lama kau cintai,” balas Mey Yui dengan berkaca-kaca.
“Aku tidak akan menyalahkanmu, kak. Sebab aku juga menyimpan sebuah nama di hatiku. Nama seseorang yang aku cintai hingga kini dan aku tidak bisa menghapus dan melupakannya. Maafkan aku, kak,” ucap Mey Yui sambil terisak.
Yuan memeluk kekasihnya dan menarik sudut bibirnya samar. Hatinya bahagia dari dulu hingga kini hati kekasihnya tidak berubah.
“Aku minta maaf, kak. Bukannya aku mengkhianati kak Yuan, tapi aku tidak bisa menghapus semua rasa cintaku padanya dan aku juga takut kehilangan kakak. Apakah aku egois, kak?” tanya Mey Yui.
Yuan sengaja membiarkan kekasihnya mencurahkan isi hatinya.
“Ada seseorang yang aku cintai tapi aku tidak bisa bersamanya. Aku juga menyayangimu dan tak ingin kehilanganmu. Betapa jahatnya aku padamu, aku akan belajar melepaskan dan mengikhlaskan perasaanku padanya,” air mata Mey Yui semakin deras.
“Hai...! Dengarkan aku bicara! Jangan pernah merasa bersalah padaku hanya karena kamu masih menyimpan nama pria yang kamu cintai sejak dulu.”
“Aku tidak akan menyalahkanmu, dan tidak melarangmu jika sampai sekarang kamu masih mencintai dan merindukannya. Jangan merasa terbebani dengan perasaanmu,” ucap Yuan sambil mengelus-elus kepala kekasinya dengan lembut. Kemudian mengecup kening kekasihnya.
“Kenapa kak Yuan mengatakan seperti itu? Kakak pasti kecewa denganku yang telah egois,” ucap Mey Yui menyembunyikan wajahnya di ceruk leher kekasihnya.
“Sayang.. lihat mataku! Apakah kamu melihatku kecewa padamu? Aku juga merasakan hal yang sama denganmu. Aku juga memiliki gadis yang sangat aku cintai sejak kami pertama bertemu,” balas Yuan.
Mendengar ucapan Yuan, ia semakin sedih dan menangis. Hatinya sangat sakit, namun ia tak bisa egois. Mencintai seseorang ia harus bisa menerima segala kekurangan dan kelebihannya. Menerima masa lalu dari kekasihnya meski hatinya sakit.
“ Apakah aku mendapatkan karma? Aku sangat mencintai kak Ardi dan sampai sekarang aku belum bisa melupakannya.”
Tapi aku sangat egois tidak ingin kehilangan kak Yuan, aku sudah merasakan kenyamanan dengannya. Apakah kak Yuan hanya sebuah pelarian bagiku? Aku merasa semua yang ada pada kak Ardi, semuanya ada pada kak Yuan,” ucapnya dalam hati.
“Kak, aku takut jika cinta kita berdua hanya lah sebuah pelarian semata. Hubungan kita ini salah, kak?” ucap Mey Yui
“Tidak ada kata pelarian dalam hubungan kita! Kita saling mencintai dari dulu hingga kini, sayang!” jawab Yuan
“Apa maksud kakak dari dulu hingga kini?” tanya Mey Yui bingung.
“Hatimu dan hatiku telah terukir nama-nama orang yang kita cintai. Di hatimu menyimpan namanya begitu juga di hatiku. Kamu menyimpan dan menjaga nama Ardi dengan baik begitu juga aku menyimpan dan menjaga nama Kezia dari dulu hingga kini,” ucap Yuan sambil menatap mata kekasihnya dan tersenyum.
Deg..
Deg...
Detak jantung Mey Yui berdetak dengan kencang, Ia sangat terkejut.
“Mak... maksud kakak...? Kak Yuan adalah kak Ardi?” ucapnya terbata-bata perasaannya bercampur aduk.
Yuan merengkuh kekasihnya dengan perasaan yang sangat sulit diartikan.
“Benar, sayang! Kau tidak egois karena telah menyimpan nama Ardi di hatimu. Karena aku adalah Ardi!” Ucap Yuan.
Air mata Mey Yui keluar tak mau berhenti tenggorokannya seperti kering, ia tak bisa mengucapkan kata.
Bahagia, haru semua perasaan bercampur aduk. Apa yang selama ini berkecamuk di hatinya telah terjawab. Rasa takut, rasa bersalah semua telah terjawab
“Apakah kak Ming Se dan kak A Sen sudah mengetahuinya,” tanya Mey Yui.
Yuan menganggukkan kepalanya dan berkata,” mereka juga baru mengetahuinya saat kami di dalam gua dan menunggumu memasak.”
Mey Yui memeluk erat Yuan seperti tak mau terpisahkan.
“Sekarang jangan galau dan merasa bersalah lagi dengan Ardi. Karena kamu tidak pernah mengkhianati perasaanmu dan tidak bersalah padanya. Karena Ardi ada di depanmu dan selalu berada di sisimu,” ucap Yuan kemudian ia mengangkat dagu Mey Yui.
Kedua mata mereka saling bertatap, pancaran kerinduan yang mendalam tersirat di kedua mata pasangan tersebut.
Yuan mencium bibir Mey Yui dengan lembut, ciuman kerinduan pada kekasihnya yang sangat ia cintai.
“Bernapaslah, sayang. Ini bukan yang pertama kali kita melakukannya” ucap Yuan menggoda kekasihnya.
Mey Yui malu mendengar kekasihnya menggoda, wajah kekasihnya rona merah.
“Sayang.. sebelum kita peri ke kediamanmu mari kita berkultivasi terlebih dulu. Agar kamu lebih kuat sehingga Mao-mao, Xio-xio dan Yuyu bertambah kuat juga,” ajak Yuan.
Akhirnya mereka menyusul Ming Se dan A sen yang sedang berkultivasi di kolam air emas.