Kezia Story

Kezia Story
BAB 40



Jalanan di ibukota sangat ramai meski panas terik matahari sangat menyengat tubuh. Namun tidak menyurutkan aktivitas orang, mereka bukan hanya penduduk asli dari ibukota.


Kebanyakan orang datang dari luar ibukota kerajaan bahkan ada yang dari luar kerajaan.


Yuan dan Mey Yui menemukan sebuah restoran yang sangat ramai pengunjung.


“Sayang, apakah kamu ingin mencoba masakan di resto itu,” ucap Yuan sambil menunjuk ke arah resto yang sangat ramai.


“Boleh! mari kita mencoba menu masakan di resto itu,” jawab Mey Yui.


Yuan tersenyum kemudian mereka melanjutkan perjalanan menuju resto yang akan mereka datangi.


Mereka sudah sampai di depan resto yang sangat ramai pengunjung. Pelayan tergopoh-gopoh berjalan menghampiri mereka.


“Selamat datang di restoran kami tuan dan nona, silakan masuk saya akan mengantar tuan dan nona ke dalam untuk mencari tempat yang nyaman,” salam pelayan tersebut sambil mempersilahkan masuk.


“Terima kasih, kami ingin ruang pribadi. Apakah restoran kalian menyediakan ruang pribadi?” ucap Mei Yui


“ Restoran kami menyediakan ruang pribadi yang sangat nyaman untuk tuan dan nona,” jelas pelayan tersebut.


Yuan dan Mey Yui tidak menjawab hanya menganggukkan kepala dan mengikuti pelayan dari belakang.


Mereka melewati ruang terbuka di lantai dasar yang banyak pengunjung yang sedang menyantap hidangan mereka.


Yuan tidak melepas gandengan tangan Mey Yui, para pengunjung pria dan wanita memperhatikan mereka berdua dengan tatapan kagum, terutama mata pria muda seperti seorang bangsawan yang melihat Mey Yui seperti ingin menerkam.


Yuan menatap pria yang melihat Mey Yui dengan tatapan membunuh dan mengeluarkan auranya. Membuat tubuh pria itu merasakan tekanan yang sangat kuat menekan dirinya.


Pria itu jatuh dari kursinya dan teman-temannya berusaha membantu pria tersebut.


Sementara Yuan dan Mei Yui melangkah menjauh dari ruang tersebut. Mey Yui tidak mengetahui apa yang sedang di lakukan oleh Yuan. Ia dengan santai melangkahkan kakinya bersama Yuan menuju anak tangga.


Pria yang terjatuh dari tempat duduknya merasa geram dan marah. Ia malu karena tanpa sebab jatuh dari kursi dan teman- temannya datang menolong.


“Sialan siapa pria bertopeng itu?” Tanyanya dengan kesal.


“Mana kita tahu, mungkin dia hanya seorang pengelana yang singgah di ibukota” jawab teman A


“Kenapa kamu bertanya? Jangan-jangan kamu menginginkan gadis yang bersamanya?” tanya teman B


Pria bangsawan itu memegang dagunya sambil menyeringai mesum. Tanpa menjawab pertanyaan kedua temannya.


“Kamu jangan membuat ulah lagi, Jing Ho. Ingat kamu sedang menjalani hukuman dari ayahmu,” ucap teman A mengingatkan.


Teman-temannya yang bergabung di meja makan mengangguk.


“Aku tidak peduli dengan hukuman dan peringatan dari ayahku. Apakah kalian tidak melihat betapa cantik wajah gadis itu di balik cadarnya. Matanya yang indah, kulitnya putih mulus. Tak sabar aku mencicipinya,” ucap Jin Ho anak dari bangsawan Zhao Jin Ho dengan wajah mesum .


“Aku tidak ingin terlibat dengan masalahmu lagi. Aku tidak ingin di tendang keluar dari rumah oleh ayahku,” ucap teman A


“Aku juga,” disusul semua temannya yang bergabung di meja makan.


“Dasar pengecut! Pergilah kalian semua , aku tidak mau mempunyai teman pengecut seperti kalian,” teriak Jin Ho marah.


Teman-teman Jin Ho saling memandang kemudian satu persatu mereka meninggalkan Jin Ho sendiri.


“ Brengsek kalian semua!” Jin Ho kesal di tinggalkan sendiri oleh teman-temannya.


“Aku akan menyewa pembunuh bayaran untuk membunuh pria bertopeng itu dan aku akan merebut gadis cantik bercadar itu,” gumamnya pelan kemudian meninggalkan resto untuk mencari pembunuh bayaran.


Jin Ho meninggalkan resto bersama pelayan setianya dan para pengawalnya yang menunggu di depan resto. Ia menuju ke tempat agen yang menyewakan pembunuh bayaran.


Ia berhenti di kedai yang ramai pengunjung, kedai tersebut menyamarkan situasi dan kondisi yang sebenarnya.


Kedai tersebut adalah tempat bertemunya para penyewa pembunuh bayaran atau pencari informasi.


Pemilik kedai dan pemilik organisasi tersebut sangat misterius dan tidak ada yang mengetahuinya. Mereka yang ingin bertransaksi tidak akan pernah bertemu dengan pemilik atau pembunuh bayaran secara langsung.


Para penyewa atau pencari informasi hanya bisa menyampaikan niatnya pada ketua pelayan dengan menulis surat dan pelayan tersebut akan memberikan jawaban kepada mereka dalam waktu 1x24 jam.


Tidak mudah bagi para penyewa melakukan transaksi dengan organisasi tersebut, pemilik organisasi tidak sembarangan menerima permintaan dari penyewa.


Organisasi tersebut bernama Dragon Pearl, meski organisasi itu baru di bentuk namun sepak terjangnya membuat orang merinding.


Dengan percaya diri Jin Ho memasuki kedai tersebut. Ia di sambut oleh pelayan yang ramah namun dengan angkuh ia mengabaikan dan memotong salam dari pelayan.


“Tidak perlu banyak bicara! Antarkan aku menemui orang yang bisa mengantarkan pesananku. Aku perlu penghubung itu,” ucap Jin Ho dengan sombong.


Pelayan tidak langsung menyetujui perkataan Jin Ho. Karena di kedai tersebut ada peraturan yang tidak memperbolehkan pelayan untuk menyetujui permintaan pengunjung.


“Maaf, tuan muda! Hamba tidak mengerti maksud tuan muda,” jawab pelayan sambil membungkukkan kepalanya.


“Dasar pelayan rendahan, cepat panggil ketuamu,” perintah Jin Ho yang membuat keributan di kedai dengan mendorong pelayan dengan kuat, hingga pelayan terjatuh.


Semua mata pengunjung melihat aksi Jin Ho yang arogan terhadap pelayan kecil tersebut.


Nampak pria setengah baya muncul dari balik pintu dan mendatangi Jin Ho.


“Mohon maaf tuan, apa yang terjadi sehingga membuat tuan muda marah kepada pelayan kecil kami,” tanya pria tersebut.


“Siapa kamu!” tanya Jin Ho dengan sombong


“Hamba adalah orang yang bertanggung jawab di kedai ini,” jawab pria itu dengan sopan.


“Jadi kamu orang yang bertanggung jawab di kedai ini. Pelayan rendahan ini tidak menuruti perintahku agar memanggil dan menunjukkan penghubung Dragon Pearl,” jawab Jin Ho dengan keras.


Semua orang yang mendengar perkataan Jin Ho langsung mengerutkan dahinya.


Mereka menggagap bahwa Jin Ho tidak tahu aturan main dari Dragon Pearl. Jin Ho dengan berani berteriak kencang di kedai tersebut dengan secara tidak langsung membeberkan rahasia cara menghubungi Dragon Pearl.


Hal ini sangat tidak baik jika tercium oleh pemerintah kerajaan yang selama ini mencari dan memburu keberadaan Dragon Pearl.


Jika hal itu terjadi bisa merepotkan orang-orang yang telah menyewa jasanya. Hampir semua pengunjung adalah penyewa jasa Dragon Pearl.


“Maafkan hamba, tuan muda. Kami tidak paham dengan maksud tuan muda. Pelayan kami memang benar, karena kami tidak mengenal dan tidak mengetahui Dragon Pearl,” jawab pria baya dengan sopan.


“Kalian jangan membohongiku! Aku mendengar jika kedaimu bisa menjadi penghubung Dragon Pearl,” teriak Jin Ho


Mendengar teriakan tersebut semua pengunjung sangat geram. Tatapan mata mereka seakan mau membunuhnya. Mereka menunggu tindakan dari Jin Ho.


Jika Jin Ho membuat ulah kepada penanggung jawab di kedai tersebut mereka akan membantunya.


Beberapa pengunjung mengenal keluarga Jin Ho sangat geram dengan tingkah Jin Ho.


“Cepat tunjukkan cara menghubungi Dragon Pearl! Jangan banyak alasan, jika kalian tidak ingin aku menghajarmu,” ucap Jin Ho dengan mengkode pengawalnya mendekat.


“Maafkan hamba tidak bisa membantu, tuan. Hamba rasa tuan muda telah salah informasi,” jawab pria tersebut.


Jin Ho marah dan menendang pria penanggung jawab kedai. Ia memerintahkan pengawalnya memukuli nya.


Kedai menjadi kacau karena ulah Jin Ho, para pengunjung menjadi kacau. Para wanita ketakutan dan lari keluar. Ada pengunjung yang membantu melerai namun pengawal Jin Ho melawan.


Banyak perabot yang rusak karena kekacauan yang di timbulkan oleh Jin Ho dan pengawalnya.


Tiba-tiba muncul beberapa pria berpakaian hitam dengan menggunakan topeng menyerang pengawal Jin Ho.


“Siapa kalian! Beraninya ikut campur dengan urusanku,” teriaknya kepada pria berpakaian hitam dengan menggunakan topeng perak.


Salah satu dari pria berpakaian hitam dan topeng yang berbeda dengan yang lainnya menghempaskan Jin Ho.


“Beraninya kalian membuat kekacauan di kedai ini,” ucap pria tersebut


“Dia sudah berani mengabaikan perintahku,” ucap Jin Ho.


“Besar juga nyalimu! Kau terlalu sombong anak muda! Tidak semua orang bisa menuruti perintahmu. Kau pikir siapa dirimu?” ucap pria bertopeng tersebut.


“Jangan banyak bicara! Serang mereka,” perintah Jin Ho pada para pengawalnya.


Pertarungan tak terelakkan kedai semakin kacau balau, para pengunjung yang masih tersisa lari keluar kedai untuk menyelamatkan diri.