
Halo guys, jangan lupa like nya
Level kultivasi versi author:
Body tempering level 1-9
Bumi 1-9
Langit 1-9
Dewa 1-9
Surgawi 1-9
Immortal awal
Immortal tengah
Immortal keabadian
Su Li dan Mey Fang baru menyadari jika Mey Yui telah meninggalkan kedai. Mereka menghentikan perdebatan dan geram.
“Sialan Mey Yui meninggalkan kita, itu semua karena kebodohanmu. Dengan mudah dipermainkan oleh Mey Yui,” bentak Mey Fang kepada Su Li.
“Br*ngs*k kau! Kenapa kau salahkan aku! Mey Yui meninggalkan tempat ini karena dia malas dan jijik melihatmu yang munafik,” balas Su Li sambil mendorong Mey Fang dan meninggalkannya.
“Awas kau babi gendut! Awas kamu, ya!” Teriak kesal Mey Yui. Ia meng hentak-hentakan kakinya kemudian pergi meninggalkan kedai tersebut.
Sementara Yuan dan Mey Yui yang sedang menuju ke kediaman jenderal Jun Ho.
Mereka masuk ke kediaman tidak melalui gerbang pintu masuk, namun mereka melompat melalui tembok pagar.
Bayangan mereka berdua melesat menuju gubuk kecil di belakang rumah utama. Sesampainya mereka di tembok belakang gubuk kecil tempat yang di tinggali oleh Mey Yui dan Phu-phu selama ini.
“Sayang...! Jadi selama ini Mey Yui tinggal di tempat ini? Ini bukan seperti rumah, ini sangat tidak layak di huni oleh seorang putri sah seorang jenderal! Sungguh keterlaluan selir ayahmu,” ucap Yuan miris melihat kondisi rumah yang di tempati Mey Yui.
“Itulah sebabnya aku sangat ingin membalaskan dendam pemilik tubuh asli ini. Tak hanya tempat tinggal saja, aku mendengar cerita dari Phu-phu jika dulu mereka makan dari sisa makanan kemarin bahkan sudah basi.”
“Belum lagi perlakuan mereka memperlakukan Mey Yui dengan kejam. Pukulan dan makian itu mereka terima setiap hari. Mey Yui dan Phu-Phu saling melindungi, maka dari itu pemilik tubuh asli sangat menyayangi pelayan setianya.”
Ia menganggap Phu-Phu sebagai kakak perempuannya.,” ucap Mey Yui matanya berkaca-kaca mengingat potongan-potongan peristiwa yang dialami oleh pemilik tubuh asli. Perasaannya sangat sedih dan terluka, mungkin perasaan asli dari pemilik tubuh asli Mey Yui.
“Kejam sekali! Yang membuatku aneh, kenapa dulu Lie Ming Se dan Ayahnya sama sekali tidak memedulikan kondisi putri Mey Yui. Padahal Ming Se sangat menyayanginya, itu yang kita tahu dari potongan ingatan Ming Se. Untuk jenderal Jun ho sendiri kita tidak tahu, apakah dia menyayangi putrinya atau tidak,” balas Yuan.
“Sudahlah, sayang! Aku tak ingin membahas mengenai ayah, lebih baik kita masuk. Aku ingin mencari Phu-Phu,” ucap Mey Yui sambil menggandeng tangan Yuan untuk mengajaknya masuk ke dalam.
“Kreeitttt!!!
Suara pintu terdengar saat Mey Yui membuka pintu, ada langkah kaki dari dalam keluar.
“Mey Yui!” teriak girang Phu-Phu sambil berlari menuju Mey Yui dan memeluknya.
“Hai... jangan menangis dunk! Masa aku kembali disambut dengan tangisan kakak?” ucap Mey Yui sambil mengucap air mata Phu-phu.
“Ini tangisan bahagia, karena kamu sudah kembali” balas Phu-phu.
“Baiklah ayo kita duduk dan berbicara,” ucap Mey Yui.
“Siapa pria ini?” tanya Phu-phu yang baru menyadari jika Mey Yui tidak datang sendirian.
“Perkenalkan aku Yuan, kekasih adik angkatmu,” ucap Yuan memperkenalkan diri.
“Iya kak, dia kekasihku,” ucap Mey Yui.
“Ayo duduk dulu, sebelum kita membahas hubungan kalian” ucap Phu-phu mempersilahkan duduk kepada Yuan.
“Apa yang sebenarnya terjadi , kenapa tiba-tiba kamu pulang dengan Yuan dan memberitahuku mengenai hubungan kalian? Apakah kalian tidak takut jika hubungan kalian diketahui oleh pihak kerajaan? Aku sangat kuatir,” ucap Phu-phu.
“Kakak tidak perlu kuatir, aku akan membatalkan pertunanganku dengan putra mahkota. Bukankah kakak sudah mengetahui jika putra mahkota tidak menginginkan pertunangan ini,” balas Mey Yui.
“Memang benar putra mahkota tidak menginginkan pertunangan ini, tapi kaisar dan permaisuri belum ada tanda-tanda setuju dengan permintaan putra mahkota yang menginginkan pembatalan pertunangan kalian,” jelas Phu-phu.
“Maka dari itu aku pulang! Aku akan membatalkan pertunanganku,” ucap Mey Yui.
“Kamu jangan gegabah Mey, sangat berbahaya jika kamu menyinggung keluarga kaisar. Aku tidak ingin terjadi sesuatu denganmu,” ucap Phu-phu.
“Kakak tak perlu kuatir, aku bisa mengatasinya. Aku akan sedikit menyulut api kepada Mei Fang dan Ibunya. Lalu kita akan menunggu hasilnya,” balas Mey Yui
“Mey Yui! Kamu jangan terlalu berani mengambil risiko, aku benar-benar takut,” ucap Phu-phu.
“Kamu tidak perlu takut atau kuatir kami sudah mempunyai rencana dan sudah memperhitungkan. Saat ini kami bersama Ming Se dan A Sen sedang menjalankan rencana. Kamu tenang saja seperti biasa jangan menimbulkan kecurigaan mereka,” jelas Yuan mengambil alih untuk menjelaskan kepada Phu-phu.
“Baiklah, aku percaya dengan kalian. Terserah apa yang kalian lakukan, aku hanya berpesan sebagai kakak angkat Mey Yui. Agar kalian harus berhati-hati dan selamat,” ucap Phu-phu.
“Terima kasih, kak!” ucap Mey Yui sambil memeluk Phu-phu.
“Lalu bagaimana dengan Yuan? Tidak mungkin dia akan tinggal di gubuk ini, jika ketahuan selir Chu Min pasti sangat berbahaya,” ucap Phu-phu.
“Tenang, kak! Kak Yuan tidak tinggal di sini namun ia akan datang ke sini setiap saat, kak Yuan akan melindungi kita,” ucap Mey Yui.
“Aku jadi tenang dan tidak kuatir,” jawab Phu-phu.
Mereka bertiga bercerita mengenai banyak hal, tanpa terasa sudah mampir sore mereka bercerita. Yuan dan Mey Yui mendengar beberapa langkah kaki menuju ke arah gubuk.
“Sayang, ada beberapa orang datang. Aku akan bersembunyi dulu, kau harus berhati-hati,” ucap Yuan setelah mendapat anggukan dari Mey Yui. Ia kemudian melesat keluar melalui jendela.
“Siapa yang datang ke sini? Apakah selir Chu Min atau Mey Fang mengetahui kamu pulang dengan seorang pria?” tanya Phu-phu dengan perasaan was-was, ia sangat takut jika terjadi sesuatu.
“Kak Phu-phu harus tenang, jangan cemas dan bersikaplah dengan biasa. Jika kakak cemas dan kuatir akan menimbulkan kecurigaan mereka yang datang,” ucap Mey Yui menenangkan Phu-phu.
“Kamu benar, aku harus tenang dan tidak boleh membuat mereka curiga!” jawab Phu-phu.
“Lebih baik kita tunggu dan kita sambut kedatangan mereka. Aku ingin mengetahui maksud dan tujuan mereka datang ke sini,” ucap Mey Yui.
“Aku pikir mereka tidak berani membuat gara-gara untuk saat ini,” ucap Phu-phu.
“Kenapa kakak mempunyai pemikiran seperti itu? Bukankah sangat aneh jika mereka datang ke sini tidak membuat ulah yang mereka sengaja” tanya Mey Yui sambil mengerutkan dahinya.
“Aku lupa memberitahumu! Ayahmu sudah kembali beberapa minggu, tak lama setelah kamu pergi dari sini saat kamu mengobati Ming Se. Ayahmu sangat sedih dan mengirim banyak prajurit untuk mencari Ming Se,” jelas Phu-phu.
“Ayah saat ini berada di kediaman? Apakah ayahku pernah mencariku?” tanya Mey Yui penasaran.
“Ayahmu belum pernah datang ke sini, karena beliau sibuk mencari keberadaan Ming Se. Kamu tahu sendiri bagaimana selir Chu Min yang memblokir berita mengenai dirimu,” ucap Phu-phu.
“Ini kepulangan ayah paling lama, kenapa tak sekalipun ayah mencariku,” ucap Mey Yui dengan sedih. Ia merasakan sesak di dadanya, mungkin perasaan asli dari pemilik tubuh yang sangat merindukan sosok ayahnya.
“Kamu jangan bersedih dan mempunyai pemikiran jelek terhadap ayahmu. Mungkin ayahmu sedang dalam kondisi tidak baik. Sampai sekarang Ming Se belum tahu keberadaannya,” jelas Phu-phu.
Phu-phu sangat bijaksana dan baik, meskipun ia menyayangkan sikap dari tuannya terhadap putri kandungnya. Namun ia tak ingin Mey Yui membencinya. Karena ia telah berjanji kepada ibu Mey Yui untuk menjaga dan melindunginya.
Ibu Mey Yui berpesan agar Phu-phu selalu mengingatkan kepada Mey Yui agar tidak membenci ayahnya. Meskipun ayahnya melakukan kesalahan terhadapnya. Jenderal Jun Ho melakukan sesuatu pasti memiliki alasan yang tidak bisa di katakan kepada orang.