
Di kediaman Perdana Menteri Qian Bun Ho, ia sangat marah dengan orang suruhannya yang telah gagal dalam melaksanakan perintahnya.
"Dasar bodoh, kalian hanya membunuh seekor tikus saja tidak mampu!” teriaknya
"Kalian semua pantas mati! aku tidak menerima kegagalan”, makinya sambil menyerang semua orang suruhannya yang masih hidup. Semua Tubuh pembunuh bayaran terlempar dan mati seketika.
"An Hui cari tikus itu dan bunuh dia", perintah Bun Ho pada orang kepercayaannya sambil mengepalkan tangannya menahan marah yang sangat besar.
Setelah menerima perintah dari tuannya An Hui segera melesat pergi untuk menjalankan perintah.
Perdana Menteri Qian Bun Ho sangat marah karena markas besar keduanya ketahuan Ming Se dan sangat bahaya jika terdengar oleh kaisar Tang.
Rencana yang telah disusun bertahun-tahun berantakan, karena kebodohan anak buah.
Untuk menghilangkan rasa kesalnya ia menuju ke kediaman selir yang baru dinikahi beberapa bulan.
Qian Bun Ho memiliki enam isteri, satu istri sah dan 5 selir, salah satunya ibu dari selir Chu Min yang dulunya merupakan selir kesayangannya. Namun sekarang posisi kesayangan telah bergeser darinya setelah keluarga Chu Min mengalami kemerosotan dalam usahanya.
Qian Lin jie adalah ibu dari selir Chu Min, sekarang ia bagaikan seonggok sampah yang tidak berharga di kediamannya. Sejak munculnya selir-selir baru yang lebih muda darinya, Bun Ho tidak pernah datang di kediamannya.
Masa kejayaannya sudah pudar, ia masih bisa mempertahankan statusnya karena ia melahirkan dua anak. Hanya Istri sah dan dia yang melahirkan anak, salah satunya selir Chu Min yang merupakan anak keduanya. Sedangkan anak pertamanya seorang laki-laki yang bernama Qian Chu Tong, semua selir tidak ada yang bisa melahirkan anak. Karena ia telah meracun pada selir-selir tersebut agar tidak bisa mempunyai anak.
Qian Bun Ho sebenarnya mengetahui hal tersebut tapi ia biarkannya, karena pada saat itu ia masih membutuhkan keluarga selir Lin yang sangat kaya raya untuk membantu pendanaan pemberontakannya. jika ia tidak membutuhkan uang keluarga selir Lin, pasti sejak lama selir Lin dibunuhnya.
Saat ini Qian Bun Ho sudah menemukan selir yang lebih kaya daripada selir Lin, sehingga ia tidak memperdulikan selir Lin lagi. Ia berencana menyingkirkan selir Lin karena sudah tidak bermanfaat, namun ia bertahan karena hanya selir Lin yang memiliki satu-satunya anak laki-laki.
****
Nampak seorang pria melesat ke arah hutan kematian, Ia mencari gadis yang telah menolongnya saat diserang oleh musuhnya.
“Tuan, kami tidak menemukan jejaknya, saat itu kita buru-buru kembali ke istana. karena kondisi permaisuri sedang kritis,” ucap pengawal setianya.
Pria itu melihat ke atas langit dan mengingat kejadian saat ia bertempur melawan musuhnya. Ia hampir terbunuh dan tiba-tiba seorang gadis bercadar menyelamatkannya.
Gadis itu membawanya ke dalam sebuah gua dan memberikan sebuah pil pemurnian jiwa level 4, ia teringat saat kejadian itu.
Saat itu ia baru terbangun dari tidurnya di dalam gua dengan luka dalam dan luka luar telah sembuh,hanya tersisa balutan dari luka-lukanya. Ia mendengar teriakan pengawal setianya dari dalam gua. Seketika ia bergegas keluar gua untuk mencari pengawal setianya dan menghiraukan gadis yang menolongnya sedang tidur di sampingnya karena kelelahan.
Akhirnya ia berhasil bertemu dengan pasukan pengawalnya.
"San bin mohon ampun pada pangeran, silahkan memberikan hukuman pada hamba yang lalai menjaga keselamatan pangeran". ucapnya sambil duduk bersimpuh, kedua tangannya yang memegang pedang ia berikan pada tuannya dan di ikuti semua anak buahnya yang ada di belakang.
Pria itu adalah Li Yuan Putra mahkota Kerajaan Liang, kerajaan Liang adalah kerajaan yang paling kuat di daratan tersebut.
"Kalian semua berdirilah! ini bukan salah kalian, aku yang terlalu meremehkan musuh, sehingga masuk dalam jebakannya,” ucapnya pada para pengawalnya.
Semua pengawal berdiri, " Tuan kita harus segera kembali ke istana, kondisi permaisuri sedang kritis" kata San bin.
Mendengar ibundanya kritis Li Yuan langsung melesat pergi tanpa menghiraukan pengawalnya bahkan ia telah melupakan gadis yang sudah menolongnya.
Setelah 4 hari melakukan perjalanan tanpa henti, akhirnya sampailah ia di gerbang kerajaan Liang. Ia langsung menuju ke istana dan bergegas menuju ke kediaman ibundanya.
Ia masuk ke dalam kamar ibunda permaisuri, para tabib istana sedang berkumpul di dalam ruangan tersebut. Nampak ketua tabib mengecek nadi ibundanya, dan ayahanda Kaisar Li Bing menatap sendu wajah ibundanya.
“Tabib ketua, bagaimana kondisi ibundaku?” tanya putra mahkota Li Yuan.
“Hamba sudah berusaha dan sedang membuat obat, namun masih kurang satu bahan obat. Saat ini kami sedang mencarinya,” jawab tabib ketua sambil menundukan badannya.
“Sebutkan bahan yang kurang, aku akan berusaha mencarinya,” kata Putra mahkota.
“Bahan yang masih kurang adalah Teratai hitam, pangeran. Bunga ini hanya tumbuh di kolam naga yang ada di hutan bambu yang berada di kerajaan Tang,” kata tabib ketua.
“Konon katanya kolam tersebut dijaga seekor naga yang jahat, banyak pembudidaya dan kultivator mencoba untuk mencarinya namun mereka tidak ada yang kembali. Hamba sudah memerintahkan beberapa tabib untuk mencari teratai hitam tersebut namun sampai sekarang mereka semua belum ada yang kembali,” ucap tabib ketua.
“Baiklah aku akan mencari Teratai hitam itu sendiri,” ucap Li Yuan sambil melangkah menuju ayahandanya.
“Ayah, ananda akan mencari teratai hitam untuk ibunda, mohon doa restu semoga ananda berhasil mendapatkannya," pamitnya pada ayahanda kaisar Li bing.
"Doa ayah selalu menyertaimu," ucap kaisar Li bing
Setelah berpamitan kepada ayahnya, ia segera keluar dari kamar ibundanya untuk pergi menuju hutan bambu di Kerajaan Tang.
Baru saja ia keluar dari kamar ibundanya, tiba-tiba seseorang memanggilnya.
"Kak Yuan," teriak gadis tersebut.
Li Yuan menoleh dan tersenyum, ternyata adik kesayangannya yang memanggilnya. Dua gadis berjalan menuju ke arahnya.
"Kakak mau kemana lagi? Baru datang mau pergi lagi,” tanya putri mahkota Li Bai lan.
“Apakah kakak merasakan jika ada seseorang yang merindukanmu?” kata putri mahkota Li Bai lan sambil mendorong gadis yang ada di sampingnya.
“Hamba memberi salam kepada putra mahkota,” kata gadis itu sambil menundukkan badannya.
Ekspresi Li Yuan acuh tak acuh tidak menjawab salam bahkan tidak melirik Chen Xio Lin putri dari menteri keuangan kerajaan Liang.
Wajah Chen Xio Lin merah menahan malu dan mengepalkan tangannya karena telah diabaikan oleh Li Yuan.
"Sialan, kamu telah mengabaikanku! Lihat saja nanti akan aku pastikan kamu bertekuk lutut padaku,” batinnya.
Li Yuan mengabaikan adiknya dan Chen Xio Lin, ia kesal karena terburu-buru ingin segera mencari teratai hitam untuk menyelamatkan nyawa ibundanya tertunda dengan hal yang tidak bermutu.
Ia melambaikan tangannya dan meninggalkan kedua gadis tersebut tanpa berkata apapun.
Putri mahkota Li Bai lan merasa tidak enak hati kepada Xio Lin.
Karena perilaku kakaknya dan berkata “Kak Xio Lin, jangan marah pada kak Yuan! Ia pasti sedang dalam suasana hati yang tidak enak, kak Yuan pasti sedang bersedih hati melihat kondisi ibunda permaisuri.”
Baginya Xio Lin adalah gadis yang pintar, baik, perhatian dan penyayang, sehingga Bai Lan yang masih polos sangat mengidolakan Xio Lin.
Ia tidak tahu jika aslinya Chen Xio Lin adalah gadis yang jahat dan licik, ia pandai menyembunyikan sifat aslinya.
XIo Lin selalu menjaga citra baik sebagai putri seorang menteri, semua orang tidak mengetahui sisi jahatnya, hanya orang di kediamannya yang mengetahuinya. Terutama para pelayan yang banyak disiksanya sampai mati.
Chen Xio Lin hanya memanfaatkan kepolosan Bai lan untuk mendekati Li Yuan, ia telah mencintai Li Yuan sejak pertama bertemu di acara ulang tahun permaisuri. Saat itu ia berusia 10 tahun, namun Li Yuan mengabaikan.