Kezia Story

Kezia Story
BAB 59



Selir Chu Min tak pernah menduga jika selama ini suaminya hanya menganggapnya sebuah hiasan saja. Sakit hati dan kecewa yang ia rasakan, namun semua kesalahan ada pada dirinya.


Chu Min yang terlalu egois dan naif, ia merasa segala sesuatu yang ia inginkan pasti tercapai. Namun apa daya semua tidak sesuai dengan keinginannya. Ternyata suami yang ia dapat dengan cara menjebak tidak pernah bisa menerima kehadirannya.


Ia mengira jika dirinya telah menang dari Xio Lan, karena sudah bisa merebut suaminya dan menyingkirkannya. Tapi kenyataannya dialah yang kalah telak terhadap Xio Lan. Setelah kematian Xio Lan, ia masih bisa memuaskan rasa benci dan sakit hatinya dengan membalaskan dendamnya kepada putri kesayangan Xio Lan.


Menyiksa Mey Yui dari usia 9 tahun hingga dia dewasa. Memberinya racun sehingga Mey Yui tidak bisa berkultivasi dan wajahnya rusak akibat racun yang ia berikan sedikit demi sedikit.


Chu Min membenci wajah Mey Yui yang sangat mirip dengan ibunya. Setiap melihat Mey Yui, ia serasa melihat wajah Xio Lan muda. Jika dewasa kecantikan Mey Yui sangat membahayakan nasib Mey Fang. Namun jika wajah Mey Yui rusak pasti yang lebih unggul putrinya.


Kebenciannya semakin membesar saat mendapat berita jika Mey Yui sudah di jodohkan dengan putra mahkota. Perjodohan tersebut sudah ada saat Mey Yui masih kecil namun perjodohan tersebut akan di laksanakan saat Mey Yui berusia 17 tahun.


Hal tersebut membuatnya ingin membunuh Mey Yui dan menggantikan perjodohan tersebut dengan Mey Fang. Chu Min merencanakan untuk membunuh Mey Yui dengan mendorongnya di tebing jurang.


Chu Min sangat sakit hati mendengar ucapan suaminya.


“Tuan.. kau sungguh tak punya hati! Kau menghukumku seperti ini, aku sudah mengorbankan masa mudaku dengan setia aku mendampingiku. Di saat aku melahirkan Mey Fang kau sama sekali tak mendampingiku!”


“Berbeda sekali perlakuanmu terhadap Xio Lan. Saat dia melahirkan kau mendampinginya dan menunggu saat proses melahirkan. Kau mondar-mandir dj depan kamar dengan gelisah. Bahkan saat ajal menjemputnya, kau berduka hingga tak keluar kamar berminggu-minggu. Siapa pun tak kau perbolehkan masuk untuk menemuimu,” protes Chu Min.


“Bahkan setelah bertahun-tahun Xio Lan meninggal, kau tak mau menjadikanku sebagai istri sahmu, padahal aku telah memiliki anak darimu ,” ucap Chu Min lagi. Ia tak bisa menerima perlakuan Jun Ho padanya


“Harusnya kamu sadar diri! Kau ingin aku mengangkatmu menjadi istri sahku dan menggantikan status istri tercintaku denganmu? Hapus mimpimu di siang bolong. Kau tak sebanding dengan Xio Lan. Aku tidak pernah mendatangimu apalagi menyentuhmu. Dan kau menuntutku untuk menjadikanmu istri sahku?” Hina Jun Ho pada selir Chu Min.


“Sudah sangat bagus kau aku beri gelar seorang selir. Jangan meminta lebih jika kau masih ingin tinggal di kediamanku. Aku sudah berbaik hati, memberikan wewenang dan kekuasaan di rumah ini. Tapi apa yang kau lakukan! Hah!” bentak Jun Ho kemudian mendorong kasar Chu Min agar tidak dekat dengannya


Selir Chu Min sempoyongan dan menatap sendu Jun Ho.


“Aku menjaga dan mengatur kediaman dengan baik selama ini. Apa yang aku lakukan?” teriak Chu Min yang tak terima di dorong oleh Jun Ho.


“Kau pikir aku tidak mengetahui apa yang kamu lakukan dengan anak gadisku yang paling aku sayangi! Kau menyuruh semua pelayan membully nya. Kau pikir selama ini aku buta yang tidak mengetahui semuanya!” bentak Jun Ho.


Tubuh Chu Min bergetar menahan takut, hal ini benar-benar di luar perkiraannya. Suaminya telah mengetahui apa yang telah ia lakukan terhadap Mey Yui. Namun ia berusaha mengelak apa yang telah ia lakukan.


“Apa yang telah aku lakukan? Aku mengajari Mey Yui agar menjadi seorang gadis yang baik. Bukannya sering menemui beberapa pria di luar. Kau tidak selalu di rumah, makanya kau tidak mengetahui kelakuannya yang sering menyelinap keluar rumah hanya untuk bersenang-senang bertemu pria dan mabuk-mabuk kan seperti seorang pelac*ur saja,” elak Chu Min yang tak mau mengakui.


“Plak....!


Terdengar suara tamparan, Chu Min memegang pipi kanannya yang mengecap jari tangan Jun Ho.


“Kau menamparku!” teriak Chu Min.


“Kenapa jika aku menamparmu? Kau tak terima? Hatimu busuk namun mulut lebih busuk lagi! Apa yang kau katakan mengenai putriku bukankah sebaliknya? Bukankah itu kelakuan putrimu? Kau pikir aku bodoh dan buta, yang tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah!” bentak Jun Ho yang sangat geram.


“Panggil kepala pelayan!” teriak Jun Ho dengan sangat keras. Suaranya terdengar hingga di luar ruang kerja.


Kepala pelayan dengan tergopoh-gopoh menghadap jenderal Jun Ho


“Hamba Su Jie menghadap, tuan besar” ucap Su Jie sambil membungkukkan badannya.


Su Jie bergegas menjalankan perintah dari tuannya. Ia keluar dan mengumpul semua orang yang ada di halaman.


Mey Yui di atas yang menyaksikan kehebohan di ruang kerja ayahnya merasa heran dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia berpikir jika ayahnya tidak menyayanginya dan mengabaikannya, ternyata ayahnya sangat menyayanginya.


“Ternyata jenderal Jun Ho sangat menyayangi putrinya. Tapi mengapa selama ini dia tidak memperlihatkan jika dia menyayangi putrinya. Ada misteri apa di balik semua ini, tapi semuanya sudah terlambat. Putrinya telah tiada dan sekarang sudah tergantikan dengan orang lain,” batin Mey Yui.


Su Jie datang melapor kepada tuannya, jika semua orang sudah berkumpul.


“Tuan besar semua pelayan dan prajurit sudah berkumpul di halaman,” lapornya sambil membungkukkan badannya.


Su Jie sangat ketakutan melihat tuan besarnya sangat marah. Selama dia di bawa oleh selir Chu Min masuk dan mengabdi di kediaman belum pernah melihat tuan besarnya marah.


“Bawa selir Chu Min keluar! Jika tidak mau seret dia keluar!” Jun Ho memerintahkan Wen An kemudian meninggalkan ruang kerjanya dan menuju ke halaman.


Selir Chu Min sangat marah di perlakukan seperti itu oleh suaminya. Ia meronta-ronta saat di pegang oleh Wen an dan anak buahnya. Dia pikir jika tidak mau ikut keluar, Jun Ho akan membiarkannya bahkan mungkin suaminya akan merayunya untuk ikut bersamanya. Namun semua itu hanya khayalannya saja.


“Dasar pengawal rendahan! Jangan kau sentuh aku dengan tangan kotormu!” maki selir Chu Min.


“Maafkan hamba selir Chu Min! Hamba hanya menjalankan perintah dari tuan besar,” ucap Wen An dengan tenang.


“B*jing*n kau! Panggil aku nyonya besar!” bentak Chu Min.


“Hamba tidak berani selir Chu Min! Anda bukanlah nyonya besar kami, nyonya besar kami adalah Nyonya Xia Xio Lan,” jawab Wen An.


“Kurang ajar! Xia Xio Lan sudah di liang kubur! Akulah nyonya besar di sini! Jika aku sudah diangkat menjadi istri sah jenderal Jun Ho, akan aku pastikan kamu adalah orang pertama yang aku pecat!” bentak Chu Min.


“Hamba akan menantikan saat itu! Tapi apa yang kamu inginkan tidak akan terjadi. Setelah kejadian ini lebih baik kamu memikirkan nasibmu sendiri,” jawab Wen An dengan santai. Kemudian memerintahkan anak buahnya untuk membawa selir Chu Min keluar


Selir Chu Min meronta-ronta saat di bawa paksa keluar oleh para pengawal. Sesampainya di halaman yang sudah di penuhi oleh para pelayan dan prajurit yang sedang menunggu kedatangannya.


“Kenapa kalian lama sekali membawa dia!” bentak Jun Ho sambil menunjukkan jari telunjuknya ke muka selir Chu Min.


“Maafkan hamba tuan besar! Selir Chu Min tadi sedikit merepotkan saat kami akan mengajaknya dengan baik-baik,” jelas Wen An.


“Kalo dia merepotkan kenapa tidak kamu seret saja! Menghadapi satu perempuan tua saja, lama sekali,” ucap Jun Ho kesal.


“Kamu sungguh keterlaluan mengataiku perempuan tua! Apakah kamu akan mengambil gadis muda untuk kau jadikan selirmu?” maki selir Chu Min.


“Kamu menolak di panggil perempuan tua! Harusnya kamu sadar diri jika kau sudah tua! Lebih baik kau diam jangan banyak bicara lagi. Aku sudah muak mendengar ocehanmu,” bentak Jun Ho.


Selir Chu Min dan semua orang yang berkumpul di halaman sangat terkejut dengan perubahan Jun Ho. Mereka tidak pernah mengira jika Jun Ho sangat kasar dengan selir Chu Min.


Banyak para pelayan tua yang telah lama mengikuti Jun Ho saat ia baru menikah dengan Xio Lan. Di mata mereka Jun Ho sangat menghargai wanita dan tidak pernah berkata kasar. Sejak kematian istri tercintanya, Jun Ho tidak banyak bicara. Selama ini ia membiarkan selir Chu Min menguasai kediaman.


Mereka semua berpikir Jun Ho sangat menyayangi selirnya. Sehingga banyak di antara pelayan yang mencari muka dengannya. Namun setelah mendengar ucapan Jun Ho, pelayan dan prajurit yang menjadi antek-antek Chu Min ketakutan.