
Selir Chu Min sementara mengabaikan keberadaan Mey Yui, ia sedang panik mendengar kabar bahwa suaminya akan pulang.
Ia bingung menjalankan perintah ayahnya untuk membunuh Lie Ming Se. Jika Ming Se meninggal di saat sang jenderal ada di rumah, urusannya jadi panjang.
Setelah mendapatkan informasi dari pengawal suaminya, ia bersiap menunggu kedatangan sang jenderal di gerbang kediaman.
Selir Chu Min dan Lie Mei Fang menuju ke gerbang dengan beberapa pelayan dan pengawal yang mengikuti mereka dari belakang.
Jenderal Lie Jun Ho tiba dengan menggunakan kereta kuda, ia turun dari kereta dengan gagah dan berjalan menuju gerbang kediamannya. Ia mengerutkan dahinya dan menengok ke kanan dan ke kiri seolah-olah mencari seseorang.
“Mengapa Lie Mey Yui tidak datang menyambutku,” batin Jenderal Lie Jun Ho.
Selir Chu Min dan Lie Mei Fang menghampiri sang Jenderal, mereka membungkukkan badan dan mengucapkan salam.
"Selamat datang, tuan,” ucap selir Chu Min
"Selamat datang ayah, aku sangat merindukanmu,” ucap Lie Mey Fang dengan manja kemudian ia menggandeng tangan ayahnya dan mengajak masuk.
Lie Mey Fang memonopoli kedatangan Jenderal Lie Jun Ho, dirinya merasa seolah-olah ia putri sah dari Jenderal Lie Jun Ho.
“Di mana Lie Mey Yui? mengapa dia tidak menyambut kedatanganku,” tanya Jun Ho.
“Saya sudah memerintahkan dayang untuk menyampaikan kabar bahwa tuan akan kembali,” kata selir Chu Min.
“Mungkin kakak sedang sibuk atau sedang pergi menemui pria dicintainya,” kata Lie Mey Fang tak mau kalah untuk menghasut ayahnya.
“Nanti saya akan memanggilnya kembali, sungguh anak yang tidak berbakti,” hasut selir Chu Min.
Jenderal Lie Jun Ho yang baru sampai dari perjalanan jauh yang melelahkan, sangat marah mendengar laporan dari selir dan anaknya. Meski kecewa dan marah, ia berusaha menahan dan diam.
Mereka berjalan bersama dengan di ikuti para pelayan dan pengawal menuju kediaman.
Baru saja jenderal Lie Jun Ho duduk, seorang prajurit datang melapor kepada sang jenderal.
“Ada apa kau mencariku?” tanya jenderal Lie Jun Ho.
“Maafkan hamba mengganggu waktu istirahat tuan, di depan ada pengawal tuan muda Lie Ming Se yang datang untuk melapor. Tapi kondisinya terluka parah,” mendengar laporan prajurit penjaga gerbang ia langsung berdiri dan bergegas keluar.
Selir Chu Min yang ada di ruangan tersebut dan mendengar laporan prajurit jaga, pikirannya menjadi kacau dan was-was. Ia segera bergegas mengikuti jenderal Jun Ho keluar menuju gerbang kediaman, ingin mengetahui kabar mengenai Lie MIng Se.
Pengawal Lie Ming Se yang selamat dari penyergapan di hutan kematian berusaha pulang dan melapor ke kediaman jenderal Jun Ho.
Kondisi tubuhnya terluka sangat parah, ia tetap berusaha sampai di kediaman Jenderal untuk melaporkan kejadian yang menimpa tuannya. Sesampainya di gerbang ia terjatuh dari kudanya dan di datangi oleh penjaga gerbang.
Setelah memberitahu penjaga gerbang mengenai tuan mudanya, penjaga gerbangpun langsung berlari mencari jenderal Jun ho untuk melapor.
Jenderal Jun Ho melihat kondisi pengawal anaknya yang sudah tak sadarkan diri lalu ia memerintahkan prajurit.
“Bawa pengawal itu ke dalam dan panggilkan tabib untuk mengobatinya,” ucap Jun Ho.
Sebagai ayah dari Ming Se Ia sangat kuatir akan keselamatan Ming Se, meski ia sudah terbiasa melihat kematian. Tapi ia tak sanggup jika harus mendengar kabar kematian anaknya sendiri, pengawal Ming Se masih belum sadar sehingga belum bisa dimintai laporan tentang kejadian yang menimpa anaknya.
Tabib datang dengan tergopoh-gopoh, kemudian tabib mengikuti jenderal Jun ho menuju kamar pengawal tersebut. Setelah tabib memeriksa dan memberikan obat tak lama pengawal sadar meski sangat lemah, ia berusaha melaporkan kejadian yang menimpa tuan mudanya.
Mendengar laporan pengawal mengenai penyergapan tersebut, jenderal Jun Ho menahan amarahnya dan mengepalkan tangannya.
Jenderal Jun Ho keluar dari kamar pengawal, ia berjalan menuju ruang kerjanya dan memanggil pengawal setianya.
“Siapkan semua prajurit untuk mencari Ming Se dan A sen, cari di area hutan kematian dan hutan bambu. Sisir tempat itu jangan sampai ada yang terlewatkan,” perintah Jenderal Jun Ho.
Wen An keluar segera melaksanakan perintah dari tuannya.
Sementara selir Chu Min berdoa dan berharap Ming Se tidak ditemukan atau ditemukan dalam keadaan sudah meninggal.
Jika Ming Se meninggal dalam penyergapan yang sudah di rancang oleh ayahnya, ia bisa terbebaskan dari perintah ayahnya untuk membunuh Ming Se.
Selir Chu Min berusaha mencari tahu informasi mengenai kondisi Ming Se, ia membawa teh yang sengaja disiapkan agar bisa menemui jenderal Jun Ho.
Ia mendatangi ruang kerja jenderal Jun Ho, “silahkan diminum, tuan” Ia meletakan teh di meja kemudian ia mendekati suaminya.
"Apakah tuan lelah?” ia berdiri di belakang suaminya yang sedang memeriksa beberapa laporan.
“Chu Min akan memijat tuan untuk menghilangkan rasa lelah,” rayunya sambil memijat bahu Jun ho.
“Mengapa tubuh pengawal Tuan Lie Ming se terluka?" Ia mulai mengorek informasi pada Jenderal Jun Ho
Jenderal Ju Ho tidak menjawab pertanyaan dari selirnya, ia harus waspada dengan kejadian yang menimpa Ming Se.
“Untuk apa kamu bertanya mengenai pengawal itu,” tanya jenderal Jun ho dengan ketus.
"Maafkan saya, tuan! Melihat pengawal tuan muda terluka parah saya terkejut dan sangat mengkhawatirkan tuan muda,” ucapnya
Selir Chu Min berusaha senormal mungkin agar tidak menimbulkan rasa curiga suaminya.
“Keluarlah dari ruang kerjaku dan jangan menggangguku, masih banyak berkas yang harus aku periksa,” usir jenderal Jun Ho dengan sedikit nada agak keras.
Selir Chun Min yang sedang memijat bahu Jenderal Jun Ho merasa kesal dan marah karena telah diusir keluar dari ruang kerja suaminya.
“Saya pamit undur diri, tuan. Maafkan saya jika sudah mengganggu waktu kerja tuan,” ucapnya dengan kesal dan bergegas keluar dari ruang kerja suaminya.
“Siapa mata-mata yang membocorkan keberangkatan Ming Se, aku sudah merubah rencana keberangkatannya,” batin jenderal.
Memikirkan kejadian yang menimpa anak lelakinya Ia menghela nafas panjang
“Aku harus secepatnya mencari mata-mata yang ada di sekitarku, hal ini sangat berbahaya jika tidak segera ditemukan.”
“Penyergapan Ming Se pasti bertujuan menggagalkan rencana datang ke istana untuk melaporkan markas pemberontak kepada kaisar Tang, siapa dalang di balik semua ini? Pasti ada pejabat kerajaan di balik semua kejadian di daerah sekitar perbatasan dan kekacauan yang ditimbulkan oleh perampok yang membuat resah dan ketakutan rakyat.”
“Sudah sangat lama aku mengasingkan diri di perbatasan, sejak istri tercintaku meninggal.
Aku tidak mengetahui bagaimana situasi ibukota sekarang ini. Saat masuk ke gerbang kota, aku banyak mendengar informasi mengenai Menteri dan para pejabat yang menyalahgunakan kekuasaannya sehingga membuat rakyat banyak yang menderita” Jun Ho merenungkan setiap kejadian yang ia temui saat perjalanan pulang.
“Aku berharap tidak terjadi apa-apa pada Ming Se, jika sampai terjadi hal-hal yang buruk, bagaimana aku mengatakan pada Xio-xio Lan,” tanpa sengaja ia mengeluarkan air mata di sela-sela sudut matanya.
“Xio Lan, aku sangat merindukanmu, maafkan aku yang tidak bisa membahagiakanmu. Kesalahan terbesarku padamu sangatlah besar, sebagai seorang laki-laki dan suamimu yang tidak bisa menepati janjiku. Aku telah mengkhianatimu cinta kita, Ming Se sudah menjadi seorang jenderal muda yang nantinya akan menggantikanku.”
Lie Mey Yui juga sudah cukup umur untuk menikah, putrimu sudah bertunangan dengan putra mahkota. Namun sayangnya Putrimu sangat mengecewakanku, tidak bisa menjaga nama baiknya. Dia terlalu arogan dan sombong, tidak mencerminkan seorang putri bangsawan. Mengapa dia tidak menurun dari sifat dan kelembutanmu.”
Jenderal Jun Ho menghelakan napas panjang, sampai sekarang ia tidak bisa melupakan mendiang istri tercintanya.