
“Ada yang bisa aku bantu,kak?” tanya Yuyu yang baru saja keluar dari ruang dimensi.
“Yuyu, kenapa A Sen pingsan lagi?” tanya Mey Yui.
“Bukannya dia tadi sudah sadar? Yuyu balik tanya kepada Mey Yui.
“Yuyu, aku tanya serius! Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku tapi malah kamu tanya balik ke aku. Bener-bener bikin kesal telur ini, kamu mau aku jadikan telur goreng?” Mey Yui kesal tidak mendapatkan jawaban yang diharapkan.
“Jangan.., jangan goreng aku,kak! Baiklah! Akan aku katakan padamu, kepala A Sen terluka pada saat dia bertempur. Dia bisa mengalami hilang ingatan, jika kita memaksa dia untuk mengingat tidak baik untuk dirinya. Akan ada efek sampingnya, seperti kepalanya sakit jika dia tidak tahan rasa sakit di kepalanya maka dia akan jatuh pingsan bahkan dia bisa koma kembali,” jelas yuyu.
“Kami tidak memaksa dia untuk mengingat sesuatu,” kata Ming Se setelah mendengar penjelasan dari Yuyu.
“Kak, beri A sen air surgawi dan air emas surgawi agar cepat sadar kembali,” ucap Yuyu.
Sekejap Mey Yui sudah membawa air surgawi dan air emas surgawi di dalam gelas, kemudian ia meminumkan air pada A sen dengan bantuan sang kakak.
“Semoga kak A sen cepat sadar setelah minum air surgawi dan air emas surgawi,” ucap Mey Yui.
Ming Se mengelus-elus kepala adiknya, “ A Sen sangat kuat dia akan segera sadar, kamu jangan kuatir.”
Jari-jari A Sen bergerak-gerak dan perlahan matanya terbuka, Mey Yui segera mendatanginya dan mengecek nadinya.
“Kak A Sen apa yang kamu rasakan? Apakah kepala kakak masih sakit?” tanya Mey Yui.
A Sen hanya diam dan mengamati Mey Yiu dan Ming Se, ia masih bingung.
“Kepalaku sudah tidak sakit lagi, tapi aku agak bingung,” ucapnya.
“Bingung? Kenapa kakak bingung, katakanlah kami akan mencoba membantu kak A Sen,” ucap Mey Yui.
“ Kalian kenapa menggunakan hanfu dan riasan wajah dan rambutmu, kenapa seperti itu?” tanya A Sen.
“Maksud kak A Sen gimana? Bukankah model pakaian di kerajaan Tang memang menggunakan pakaian seperti ini,” jawab Mey Yui
A Sen geleng-geleng kepala, ”lama-lama aku bisa gila kalo seperti ini” gumamnya.
Mey Yui menoleh ke kakaknya untuk minta bantuan menenangkan A Sen.
Ming Se memegang bahu A Sen dan berkata,” beristirahatlah dulu agar kondisi tubuhmu membaik dan jangan terlalu banyak pikiran. Nanti kita bicarakan lagi jika kamu sudah tenang.”
A Sen mengangguk tanpa berkata apapun, ia menuruti saran dari Ming Se. Ia benar-benar stres dengan apa yang terjadi pada dirinya dan ia tidak mau depresi gara-gara situasi ini.
Ming Se mengkode Mey Yui untuk meninggalkan A Sen sendiri biar dia menenangkan pikirannya, mereka pergi meninggalkan A Sen.
Sementara Yuyu melayang mengikuti mereka dari belakang dan berkata,” Kak, Aku akan kembali ke ruang dimensi untuk berkultivasi bersama Xio-xio. Setelah Kak A Sen sehat, kak Ming Se dan Kak A Sen harus berendam di kolam air surgawi dan emas surgawi untuk menyembuhkan datian dan meridian kalian”
“Setelah A sen sehat, kami akan kembali ke ruang dimensi Mey Yui untuk menyembuhkan datian dan meridian kami,” jawab Ming Se.
Setelah mendengar jawaban Ming Se, Yuyu pun menghilang dari hadapan mereka berdua.
“Kak, kamu merasa curiga dengan sikap A Sen apa gak?” tanya Mey Yui yang dari tadi merasa penasaran dengan sikap A sen.
“Apa yang kamu curigai dengan sikap A Sen? Apakah sama dengan kecurigaan kakak? Jika A Sen saat ini adalah jiwa yang terdampar dari zaman kita? Kakak merasakan sangat dekat dengan dia seperti kakak berinteraksi dengan Yoseph,” jelas Ming Se.
“Sama,kak! Aku juga merasa seperti apa yang dirasakan kakak. Kalau itu benar kita harus pelan-pelan memberitahunya, aku gak ingin kak A Sen depresi karena belum bisa menerima kenyataan berpisah dengan keluarga dan orang-orang yang dicintainya. Seperti saat pertama kali aku membuka mataku dan semuanya sudah berubah,” ucap Mey Yui.
“Ya, sayang! Kamu pasti sedih sekali saat itu, tak bisa kubayangkan kamu menghadapi hal ini sendirian. Kamu adikku yang paling kuat dan tegar,” ucapnya sambil memeluk Mey Yui dan mengelus-elus kepalanya.
“Aku sangat beruntung saat terbangun sudah bersamamu meskipun di awal sempat linglung, terima kasih, adikku sayang kamu telah menemukan dan menyembuhkan aku.”
“Paling tidak kita bisa berkumpul,kak. Suatu anugrah meski buat kita,” balas Mey Yui.
“Sebenarnya kakak ingin memberitahu sesuatu yang penting padamu,” Ming Se menarik tangan adiknya agar duduk di dekatnya.
“Tentang apa,kak? Katakanlah, aku gak mau ada rahasia diantara kita. Karena di dunia ini aku hanya punya kakak saja,” kata Mey Yui.
“Mengenai Ardi! Apakah kamu tahu kalau Ardi sangat mencintaimu? Sejak kamu SMP, dia sudah mencintaimu,” kata Ming Se.
Mey Yui menundukan kepalanya dan terisak, ia tidak mengetahuinya. Bahkan ia sendiri juga mencintai Ardi tapi ia tak berani mengungkapkan perasaannya.
“Apakah itu benar,kak? Aku tidak pernah merasakan jika kak Ardi mencintaiku, dia sangat cuek dan tidak pernah menunjukkan rasa cintanya padaku. Yang aku rasakan dia hanya menganggapku seperti adiknya sendiri. Sikapnya sama seperti kak Radit dan kak Yoseph,” cicit Mey Yui.
“Hehehehe… ! Itu karena dia menunggu kamu tumbuh dewasa dulu, dia sudah berjanji padaku untuk tidak mengganggu pendidikanmu. Apakah kamu tidak merasakan jika ada teman cowok mu datang ke rumah dia pasti pasang muka masam,” ledek Ming Se.
“Ardi mencintaimu, kamu ingat jika pergi ke mana-mana selalu diantar jemput oleh ardi?”
“Aku tidak tahu, ku pikir kakak malas mengantarku.” jawab Mey Yui.
Ming Se menggelengkan kepalanya,” kamu salah jika beranggapan aku malas mengantarmu. Perlu kamu ingat, kamu adalah adik satu-satunya yang aku sayangi. Kenapa aku malas mengantar adik kesayanganku. Itu karena Ardi memintaku, agar setiap kegiatanmu keluar rumah dia yang mengantar jemput. Ia ingin menjaga dan mengawasimu jangan sampai ada cowok lain mendekatimu.”
Mey Yui mengingat momen-momen bersama Ardi, ia meremas bajunya dan meneteskan air mata.
“ Semua tinggal kenangan yang tidak bisa disesali, kak. Aku juga mencintainya tapi sekarang hanya tinggal kenangan yang terukir indah di hatiku yang paling dalam. Kak Ardi cinta pertamaku, kak! Tapi sekarang kita sudah dipisahkan dengan alam yang berbeda, kita tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya,” Mey Yui terisak dalam pelukan kakaknya.
“Kita doakan saja agar orang-orang yang kita cintai bahagia dan sehat selalu,” kata Ming Se.
Ia tak bisa berkata apa-apa mengenai kisah cinta adiknya, ia sendiri sedih dan terkadang masih belum bisa menerima kenyataan yang ada. Beruntung ada adiknya yang menemaninya, jika ia sendiri tak tahu bagaimana menjalaninya. Zaman kuno masih menggunakan asas kekuatan, siapa kuat dia yang menang.
“Ya,kak! Kita doakan saja,” jawabnya tak bersemangat.
“Ayo kita lihat A Sen dulu, sudah lama kita meninggalkannya,” ajak Ming Se.
“Cuzz…,kak,” beranjak dari duduknya sambil tertawa.
Mereka berjalan sambil bergandengan tangan menuju tempat dimana A Sen berada. Mereka sengaja meninggalkan A Sen yang butuh waktu untuk menenangkan diri. Karena tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh A Sen, mereka hanya bisa mengira-ngira saja.
A Sen duduk termenung di atas lempengan batu, tatapannya kosong. Melihat Ming Se dan Mey Yui datang ia langsung berdiri. seperti ada yang ingin dibicarakan.