Kezia Story

Kezia Story
BAB 32



Gelak tawa dan canda di ruangan tempat Lie Mey Yui dan kedua orang kedua pria yang ia sayangi terdengar. Mereka bertiga berbicara ke sana kemari dengan menggunakan bahasa gaul jaman Modern.


Tiba-tiba kesenangan mereka terganggu dengan datangnya kawanan pria dengan bertubuh kekar dan bertampang seram mendatangi ruangan Mey Yui dengan menendang pintu ruangan dengan keras.


“Wah ternyata ada gadis cantik di sini! Tidak rugi aku mendatangi kedai ini!” ucap salah satu dari kawanan itu


“Cepat serahkan gadis itu pada kami dan tinggalkan tempat ini, kami tidak akan membuat perhitungan dengan kalian!” sahut temannya.


Ming Se dan A Sen wajahnya merah menahan marah karena adik kesayangan mereka dilecehkan oleh kawanan pria yang mendatangi mereka


“Kami tidak akan menyerahkan gadis ini pada kalian! Kalian pikir siapa menyuruh kami untuk mematuhi kalian,” teriak Ming Se dengan keras.


“Hahaha… Kalian cari mati menentang keinginan kami!” teriak pria itu


“Kami tidak cari mati tapi kami cari minum!’ balas A Sen.


“Kurang ajar kamu berani mempermainkan kami, akan kubunuh kau! maki salah satu kawanan pria tersebut.


“Siapa takut! Balas A Sen menaikkan bahunya acuh tak acuh.


Brrraaakk!!!


Suara kursi di tendang oleh pria yang emosi dengan A Sen, kemudian melancarkan serangan pada A Sen.


Kalian jangan turun tangan untuk menghadapi curut-curut ini biar aku saja yang gebukin mereka,” ucap A Sen dengan pelan.


Dengan santai A Sen menghindarinya, karena ia tahu mereka semua bukan lawan A Sen apalagi dengan Ming Se atau Mey Yui. Kawanan curut itu kultivasi mereka hanya di ranah Bumi level 2 dan 3.


“Ye.. tidak kena…! ledek A Sen dengan mimik muka mengejek membuat pria itu semakin geram.


“Bajing*n! Ku bunuh kau…! maki nya karena kesal serangannya tidak mengenai A Sen.


“Siapa takut! Yang ada kalian semua aku gebukin sampai penyet!”


Mey Yui dari tadi tidak mengeluarkan suaranya, mengkode untuk membawa pertempuran di luar, kemudian ia dan Ming Se melesat keluar melalui jendela.


“Jangan kabur kalian berdua! Kejar mereka jangan sampai lolos! Bawa gadis itu!” teriak ketua kawanan tersebut.


Melihat Ming Se dan Mey Yui melesat keluar ia pun segera menyusul.


Di tempat yang lapang dan agak jauh dari kedai Ming Se dan Mey Yui menunggu kemudian disusul oleh A Sen berdiri sambil menatap ke arah kedai menunggu kawanan pria pengganggu.


“Dasar curut-curut cari mati, ganggu waktu santai kita saja!” gerutu A Sen.


Di balik cadar Mey Yui tersenyum dan berkata,” sabar, kak! Anggap saja olahraga! Sudah lama kakak tidak menggerakkan badan, porsi makan di gedein.”


“Benar juga lama-lama perutku bukannya sixpack tapi onepack,” ucap A Sen sambil tersenyum.


“Curut-curut itu lama sekali mengejar kita! Aku akan gebukin mereka semua, kalian tidak usah turun t5angan. Mereka pasti kawanan pemberontak,” kata A Sen.


“Iya.. iya.. mereka bagianmu! Bikin bonyok mukanya, kak! Jangan lupa mereka suka menculik gadis sebelum kakak bunuh, tebas habis kutilangnya!” perintah Mey Yui.


Mendengar permintaan Mey Yui, kedua kakaknya langsung spontan menangkupkan kakinya reflek menyembunyikan kutilang mereka.


“Mey Yui…! Mengerikan sekali kau, anak nakal ini! Tidak bisa terbayangkan bagaimana rasanya... bahan produksi anak kecebong di tebas habis!” ucap A Sen.


Ming Se hanya tersenyum, percakapan mereka terhenti dikarenakan para curut telah tiba.


“Hanya segitu kemampuan kalian? Mengejar aku saja harus menunggu lama, sampai menghabiskan satu piring makan!” ejek A Sen.


“Brengsek..!! Diam kamu..! Serang mereka..!” teriak ketua kawanan.


Buumm…!!!


Suara ledakan terdengar dan semua anak buah kawanan itu langsung jatuh ke tanah bersimbah darah.


Melihat hal itu ketua kawanan itu marah dan melancarkan serangan ke arah A Sen.


“Bajingan…! Kau membunuh semua anak buahku! rasakan seranganku ini.


“Huuukk…!!


Pria itu terbatuk dan mengeluarkan darah segar di sela-sela mulut nya dan akhirnya roboh.


A Sen menepuk-nepuk pakaiannya untuk membersihkan debu dengan tingkahnya yang sok jaga kebersihan.


“Selesai sudah! Gebukin para curut-curut itu tidak perlu lama-lama,” ucapnya dengan sombong.


“Hehehe.. ya.. ya.. kamu hebat kak!” sanjung Mey Yui.


“Ayo kita kembali ke kedai kakek itu, kasihan barang-barangnya banyak yang rusak! Kamu harus tanggung menjawab untuk menggantinya, kak A Sen,” ucap Mey Yui.


“Wah kalo di suruh tanggung jawab aku lebih baik tanggung menjawab saja!” balas A Sen


“Hahaha…! Lagu lama… giliran mengeluarkan uang pasti ngeles seperti belut!’ ucap Mey Yui tak mau kalah.


“La.. aku dan Ming se mana punya uang? Mau bayar pakai doa saja,” balasnya.


“Ya.. ya.. ya.. kali ini kamu menang! Aku yang akan bayar ganti rugi kepada kakek itu. secara aku adalah gadis yang baik hati dan tidak sombong dan teramat mengasihanimu.. karena saat ini kau teramat miskuin,” Mey Yui tertawa ngakak.


Ming Se pun tak kalah juga ia tertawa membenarkan ucapan adiknya, jika dirinya dan A Sen miskuin.


“Hahaha…! Benar dek, kami berdua saat ini memang miskuin dan hanya ingin mendapatkan belas kasihanmu. Kamu harus memberikan kantong uang pada kami,” ucap Ming Se.


“Baiklah kakak-kakakku yang paling ganteng, berhubung adikmu yang paling cantik, imut dan baik hati dan tidak sombong akan memberikan uang yang banyak.” ucap Mey Yui sambil menyerahkan kantong uang pada kedua kakaknya.


Mereka berdua menerima kantong uang tersebut dan menyimpannya.


“Oh iya, kak! Akan lebih baik kakak mempunyai cincin ruang untuk penyimpanan. Saat kita di ruang dimensi aku lupa memberikan pada kalian, ini kalian terima dan teteskan darah kalian ke cincin itu,” ucapnya sambil menyerahkan kepada mereka berdua.


“Makasih, dek!” ucap mereka berdua.


‘Ayo kita cuzz.. ke kedai da melanjutkan perjalanan daripada kemalaman di jalan,” ajak Mey Yui.


Mereka bertiga melesat meninggalkan tempat bekas pertarungan untuk menuju ke kedai yang telah di porak-porandakan kawanan dari pemberontak.


Sesampainya mereka di kedai kakek tua, tampak kakek duduk termenung melihat pintu dan beberapa perabotan telah dirusak oleh kawanan curut. Kakek tua pemilik kedai terlihat mengusap air matanya.


Kawanan curut tersebut sebelum mengejar dan meninggalkan kedai rupanya mereka telah menghancurkan kedai kakek. Padahal mereka keluar dari kedai untuk menghindari kekacauan pada kedai namun kawanan curut malah menghancurkan kedai.


Kakek pemilik kedai tidak menyadari kedatangan mereka bertiga. Mey Yui mendekati kakek dan menepuk pundaknya.


“Kakek, maafkan kami telah menyebabkan kedai kakek hancur,”ucap Mey yui.


Kakek mengusap air matanya dan berkata,” bukan salah kalian, mereka memang selalu seperti itu jika kami sedang menerima tamu yang berkunjung.”


“Maaf kek, terimalah uang dari kami untuk memperbaiki kerusakan pada kedai kakek,” ucap Mey Yui sambil menyerahkan kantong uang kepada kakek pemilik kedai.


Kakek pemilik kedai menerima kantong dengan berkaca-kaca dan buka kantong untuk melihat isinya.


“Nak, ini terlalu banyak,”ucap kakek setelah melihat isi kantong.


“Tidak, kek! Terimalah! jika lebih kakek bisa menyimpannya untuk keperluan tak terduga,” ucap Mey Yui.


Kakek pemilik kedai langsung bersujud kepada Mey Yui dan Mey Yui terkejut. Kakek tiba-tiba bersujud. Mey Yui langsung memapah kakek untuk segera berdiri dan mengajak kakek untuk duduk.


“Jangan seperti itu, kek, anggaplah kami cucu kakek, ya,” ucap Mey Yui


Kakek pemilik kedai terharu dan mengangguk-anggukkan kepalanya.


“Kek kami pamit dulu untuk melanjutkan perjalanan, jika kami ada waktu kami akan mengunjungi kakek lagi,”pamitnya kepada kakek.


“Hati-hati di jalan, Nak! jika kakek di beri umur panjang kita akan bertemu kembali,” ucap kakek.


Setelah berpamitan merek bertiga meninggalkan kedai kakek untuk melanjutkan perjalanan.