
Wen An termenung mendengar ucapan Mey Yui, ia merasa putri angkatnya mempunyai banyak rahasia yang belum ia ketahui.
Kondisi Jun Ho sangat parah, beruntung Mey Yui segera memberinya pil penawar racun dan menotok jalan darahnya bisa dipastikan saat ini sudah meninggal. Racun kalajengking sangat ganas, bibir Jun Ho menghitam karena racun tersebut.
“Ayah Wen An, Yui’er harus segera membawa ayah Jun Ho ke ruang dimensi. Jika sampai terlambat Yui’er takut nyawa ayah Jun Ho tidak bisa di selamatkan,” ucap Mey Yui kepada Wen An.
Ÿ
Wen An tersadar dari lamunannya, kemudian ia memandang sahabatnya yang tak sadarkan diri dengan wajah mulai membiru. Wajah dan sekujur tubuh Jun Ho sebelum di beri pil penawar berwarna hitam. Racun kalajengking bereaksi dengan cepat.
Ia tak bisa menunda lagi dengan banyak pertanyaan, hal terpenting adalah menyelamatkan nyawa Jun Ho terlebih dahulu.
“Cepat bawa ayahmu, kamu jangan kuatir yang di sini. Kamu hanya fokus menyembuhkan ayahmu,” balas Wen An. Ia percaya jika Mey Yui bisa menyembuhkan Jun Ho.
Sebelum pergi, Mey Yui memberi Wen An beberapa botol keramik yang berisi pil penyembuh luka dan luka dalam untuk prajurit yang terluka. Botol keramik ditaruh di dalam tas keranjang.
“Ayah Wen An, di dalam keranjang bambu ini ada beberapa pil untuk menyembuhkan luka dan luka dalam serta ada penawar racun. Berikan kepada prajurit yang terluka, Yui’er kuatir jika pedang perampok yang di gunakan telah di lumuri oleh racun!” ucap Mey Yui sambil menyerahkan keranjang bambu kepada Wen An.
“ Putriku sangat baik, memikirkan prajurit yang terluka. Ayah Wen An serahkan Ayah Jun Ho kepadamu. Cepatlah membawanya pergi, jangan menunda lagi.” Balas Wen An.
“Yui’er pamit dulu, ayah!” ucap Mey Yui sambil memeluk Wen An.
Setelah Mey Yui berpamitan kepada Wen An, ia membawa ayahnya ke ruang dimensinya. Sementara Wen An langsung keluar dari kereta kudanya untuk mengecek kondisi prajuritnya.
Ia menyerahkan keranjang obat kepada Chu Chu agar di bagikan kepada prajurit.
Mey Yui membawa ayahnya ke ruang dimensi dan membawanya ke ruang laboratoriumnya.
Mey Yui mengecek luka tusukan yang ada di perut ayahnya, ia merobek baju yang di kenakan oleh ayahnya. Kemudian membersihkan luka dengan menggunakan kapas dan alkohol. Di laboratoriumnya ruang dimensi lengkap dengan peralatan medis jaman modern.
Setelah membersihkan luka ayahnya, ia menjahit luka dan menutupnya dengan kain kasa. Mey Yui menggunakan jarum akupuntur untuk mengeluarkan racun kalajengking.
Setelah semua jarum akupuntur sudah menancap di tubuh Jun Ho. Mey Yui menyalurkan tenaga dalamnya untuk menekan racun ke tangan Jun Ho agar bisa di keluarkan.
Mey Yui mengeluarkan banyak energinya untuk menekan racun yang bersarang pada tubuh ayahnya. Ia berusaha untuk mengerahkan kekuatannya dan menjaga agar tetap stabil. Jika ia melakukan kesalahan sedikit saja maka nyawa ayahnya menjadi taruhannya dan ia sendiri akan mengalami luka dalam.
Berangsur-angsur tubuh Jun Ho berubah menjadi semula meski belum semua racun bisa hilang, namun ia harus mengeluarkan racun yang bisa di keluarkan melalui jalan darah Jun Ho.
Tangan dan jari Jun Ho membengkak dan berubah menjadi kehitaman. Semua racun sudah di tekan di tangan Jun Ho, sehingga mempermudah mengeluarkan racun yang sudah bercampur darah.
Setelah selesai proses akupuntur, ia mencabut jarum akupunkturnya bersamaan dengan menggunakan tenaga dalamnya.
Racun yang telah bersarang di tubuh Jun Ho tidak hanya racun kalajengking saja. Hal ini membuat Mey Yui agak sedikit kesal. Bagaimana bisa ayahnya di racuni oleh orang.
Mey Yui kemudian mengiris jari tangan ayahnya untuk mengeluarkan racun. Ia mulai mendetok racun, darah hitam pekat dan berbau tak sedap mengalir dari jari tangan ayahnya.
Setelah darah yang bercampur dengan racun telah di keluarkan, ia memberi pil penawar racun, pil pemurnian jiwa dan tak lupa ia memberi minum air surgawi yang telah di campur dengan air kolam emas.
Wajah Jun Ho mulai memerah dan tidak pucat seperti mayat. Mey Yui membaringkan ayahnya kembali dan ia menunggu ayahnya hingga sadar.
Karena kelelahan ia ketiduran di kursi sambil memegangi tangan ayahnya. Tanpa di sadarinya Jun Ho telah sadar dan perlahan membuka matanya. Ia melihat sekeliling ruangan yang sangat aneh.
Jun mengira dirinya sudah meninggal saat ditusuk pedang oleh perampok. Ia bingung dengan sekeliling ruangan dan saat ia menoleh nampak putri kesayangannya tertidur sambil memegangi tangannya.
Jun Ho tersenyum melihat putrinya yang sedang tidur nampak kelelahan. Ia tidak membangunkan putrinya yang sedang terlelap tidur.
Mey Yui merasakan pergerakan dari ayahnya, ia pun terbangun dari tidurnya. Saat mengangkat kepalanya, ia melihat ayahnya telah sadar dan tersenyum padanya. Ia sangat bahagia melihat ayahnya sudah sadar.
Mery Yui langsung memeluk ayahnya dan mencium pipi ayahnya. Melihat reaksi putrinya Jun Ho tersenyum bahagia dan menepuk-nepuk bahu Mey Yui saat berada di pelukannya.
“Syukurlah ayah sudah sadar, Yui’er sangat kuatir dengan keadaan ayah!” ucap Yui’er kepada Jun Ho tanpa terasa air matanya mengalir dengan sendirinya.
“Putri ayah jangan kuatir, ayah tidak akan meninggalkanmu sendiri lagi!” jawab Jun Ho sambil mengusap air.
“Yui’er pegang ucapan ayah!” ucapnya sambil terisak.
“Putriku, kita berada di mana? Kenapa ruangan ini tampak asing sekalian bagi ayah?” tanya Jun Ho kepada Mey Yui.
“Kita berada di ruang dimensi Yui’er, ayah. Saat ayah di tusuk oleh perampok, pedang yang di gunakan telah dilumuri oleh racun kalajengking. Kondisi ayah sangat kritis, sehingga Yui’er memutuskan untuk membawa ayah ke dalam ruang dimensi.” Ucap Mei Yui.
Jun Ho terkejut mendengar penjelasan dari putrinya, yang memiliki ruang dimensi. Bahkan dirinya saja tidak memiliki ruang dimensi hanya memiliki cincin ruang kelas menengah.
“Kamu memiliki ruang dimensi, bagaimana kau bisa mendapatkan ruang dimensi? Banyak para kultivator, alkemis dan banyak dari kalangan bangsawan yang menginginkan ruang dimensi namun tak ada satu pun dari mereka yang bisa mendapatkannya.”
“Rahasiakan ini, jika ada yang membocorkan pada mereka. Nyawamu akan berbahaya,” ucap Jun Ho yang sangat mengawatirkan keselamatan putrinya.
“Ayah tidak perlu kuatir dalam hal ini, hanya orang terdekat Yui’er yang mengetahuinya!” ucap Mey Yui kepada Jun Ho.
Meski Mey Yui menenangkan ayahnya agar tidak kuatir namun sebagai ayah, Jun Ho sangat kuatir dengan keselamatan putri kesayangannya.
******
Terima kasih sudah setia dan memberi support, jangan lupa Memberikan Like dan Komentar 🙏🙏🙏🙏