Kezia Story

Kezia Story
BAB 70



Semua mata memandang Jun Ho dan Mey Yui yang sedang menuruni panggung. Para pria senang karena pertunangan Mey Yui dan putra mahkota telah dibatalkan sehingga mereka bisa mendekati Mey Yui.


Banyak pria yang menginginkan Mey Yui untuk menjadi istrinya atau bahkan ada Tang ingin menjadikan Mey Yui sebagai selirnya. Sungguh pemikiran yang sangat luar biasa.


“Ayah... aku tidak nyaman di sini! Apakah bisa kita pulang sekarang?” rengek Mey Yui kepada ayahnya.


“Mari kita pulang! Ayah sangat kesal dan rasanya ingin membunuh orang saja!” balas Jun Ho.


Jun Ho langsung menggandeng putrinya dan mereka akan berpamitan kepada kaisar. Saat mereka berjalan, pria tampan yang telah berteman dengan Mey Yui menghampiri mereka dan menyapa.


“Apa kabar paman Jun Ho!” sapa pria tersebut.


Jun Ho mengerutkan dahinya saat pria tampan tersebut menyapa dirinya. Jun Ho mengingat-ingat, siapakah pria tersebut.


“Zhang Xing Yang...! Kau kah itu?” tanya Jun Ho dengan gembira.


“Benar, paman! Aku Zhang Xing Yang keponakan paman yang paling tampan,” balasnya dengan narsis.


“Kau memang benar keponakan paman yang paling tampan dan paling nakal!” Ucap Jun Ho dengan tertawa.


Zhang Xing Yang menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia sekarang mengetahui dari mana sepupunya memiliki lidah pedas. Karena keturunan dari pamannya yang dari ia kecil selalu di ledek.


Mey Yui baru mengetahui jika pria yang tadi telah diusili adalah sepupunya sendiri.


“Gak ayahnya gak putrinya... kalian suka sekali meledekku! Tadi Yui’er mengusiliku, sekarang paman,” gerutu Zhang Xing Yang dengan gaya teraniaya.


“Hahaha...!” tawa Jun Ho terdengar, ia senang bertemu keponakannya yang sudah lama sekali tidak bertemu. Jun Ho sejenak melupakan kemarahannya kepada Mey Fang.


Mey Yui merasa namanya disebut, ia pun mulai bersuara.


“Salah sendiri baru pertama ketemu sudah percaya diri. Kak Xing Yang tadi tebar pesona, ayah! Saat Yui’er duduk sendiri dihampiri kak Xing Yang. Dia mencoba merayuku, ayah! Sok tampan padahal wajah pas-pasan, lalu Yui’er kerjai!” adu Mey Yui.


Jun Ho bukannya marah tapi justru tertawa sampai banyak mata memandangnya. Mereka penasaran dengan pria tampan yang berbincang dengan Jun Ho dan Mey Yui


“Hahaha... kamu kena batunya!” Ucap Jun Ho tertawa ngakak.


“Ayah... sudah jangan tertawa terus, kita pamit undur diri dengan kaisar Tang lalu kita pulang. Jika kak Xing Yang masih ingin ngobrol kita lanjut di kediaman saja,” Ucap Mey Yui.


“Oh iya... Ayah hampir lupa, gara-gara bertemu keponakan ayah yang paling tampan!” ledek Jun Ho.


“Jangan ledek aku terus, paman! Bolehkah aku ikut bersama kalian? Aku sangat merindukan sepupuku yang nakal ini,” tanya Xing Yang.


“Sudah jangan banyak drama, kak Xing Yang. Cepat kita pamit dulu, lalu kita pulang. Aku dari tadi sudah tidak nyaman di sini,” Ucap Mey Yui kesal.


Akhirnya mereka pergi menghadap kaisar untuk berpamitan. Setelah berpamitan mereka langsung pulang tanpa menghiraukan orang-orang.


Sementara selir Chu Min yang tidak dianggap oleh suaminya dari awal datang. Ia bergabung dengan keluarganya sedangkan Mey Fang berkeliaran bersama temannya.


Mereka tidak mengetahui jika Jun Ho dan Mey Yui sudah meninggalkan istana. Ketika acara pesta telah usai, selir Chu Min mencari-cari Jun Ho dan Mey Yui namun mereka tidak berhasil menemukan. Kemudian mereka meninggalkan tempat tersebut memutuskan mencari kereta kudanya.


“Kereta kuda Ayah sudah tidak ada!” Ucap Mey Fang.


“Tuan sudah sejak tadi meninggalkan tempat ini, nyonya!” jawab kusir kuda.


“Sialan! Tega sekali ayahmu meninggalkan kita tanpa memberitahu!” ucap Chu Min dengan marah.


“Mungkin karena Mey Yui yang mempengaruhi ayah. Sejak ibu dihukum oleh ayah, dia selalu berada di dekat ayah!” hasut Mey Fang.


Chu Min mengepalkan kedua tangannya menahan marah.


“Ibu akan membuat perhitungan dengannya, ayo kita pulang dulu. Kita bicarakan di rumah,” ucap Chu Min.


Mereka berdua memasuki kereta, kusir membawa kereta kuda kembali ke kediaman.


Berbeda dengan Jun Ho, Mey Yui dan Zhang Xing Yang mereka sangat bahagia saling melempar canda tawa di ruang utama kediaman.


Saat mereka bercanda dan gelak tawa mereka terdengar.


“Bagus sekali kalian ya! Sudah bercanda di rumah! Pulang tidak memberitahuku!” teriak Chu Min, marah karena di tinggal pulang.


Jun Ho melihat tingkah laku Chu Min sangat muak. Tingkahnya yang tidak tahu malu dan tidak punya aturan, seorang selir saja bertingkah layaknya seorang istri sah.


“Tutup mulutmu yang busuk itu! Semakin lama kau semakin tak punya malu dan tak punya aturan! Kau anggap siapa dirimu? Jika masih ingin tinggal di kediamanku, cepat pergi dari sini kembali ke kamarmu salin seratus kali peraturan keluarga.”


“Jangan keluar jika kau belum menyelesaikannya, kalo kamu tidak mematuhi aturanku! Silakan angkat kaki tinggalkan kediamanku dan kembalilah ke kediaman Qian,” ucap Jun Ho dengan tegas.


“Ayah, kenapa tega sekali kepada ibuku? Apa salah ibu? Ayah meninggalkan kami di acara pesta tanpa memberitahu kami,” ucap Mey Fang membela ibunya.


“Kau juga...! Tutup mulutmu! Aku belum menghukummu karena kelakuanmu terhadap putriku Mey Yui saat di acara penampilan bakat. Masuk ke kamarmu dan tunggu hukuman dariku!” perintah Jun Ho dengan tegas.


Jun Ho benar-benar batas kesabarannya telah habis. Saat ini rasanya ingin membunuh kedua orang yang ada di depannya.


“Ayah kejam! Ayah sudah tidak sayang lagi dengan Mey Fang!” teriak Mey Fang dengan histeris. Ia sangat kecewa dengan Jun Ho, baru kali ini Jun Ho memperlakukannya dengan kasar.


“Wen An...! Bawa mereka dari sini, pastikan semua berjalan sesuai dengan perintahku,” perintah Jun Ho kepada Wen An.


Wen An dan beberapa prajurit membawa pergi selir Chu Min dan Mey Fang. Mereka berdua meronta-ronta dan menolak saat akan di bawa pergi. Namun prajurit bawahan Wen An dengan sigap memegangi mereka berdua agar tidak membuat ulah.


Setelah kepergian kedua wanita yang berbeda usia tersebut, Mey Yui yang sedari tadi diam dan di temani Xing Yang menghampiri ayahnya. Ia tak ingin terjadi sesuatu terhadap ayahnya. Karena ia merasakan denyut nadi ayahnya tak beraturan.


“Ayah redamkan emosi ayah, Yui’er takut ayah sakit.” Ucap Mey Yui dengan lembut.


“Benar kata Yui’er, paman! Lebih baik paman istirahat biar Mey Yui mengantar dan menemani paman. Aku akan kembali, karena ini sudah malam! Pasti ibu akan mencariku, jika putranya yang paling tampan belum kembali,” ucap Xing Yang.


“Pulanglah... jangan membuat kuatir ibumu,” ucap Jun Ho.


“Jika aku pulang pastikan paman istirahat,” ucap Xing Yang kepada Mey Yui.


“Ya... ya.. ya... sudah sana cepatlah pulang! Daripada bawel terus,” omel Mey Yui kepada Xing


Setelah berpamitan Xing Yang meninggalkan kediaman dan Mey Yui mengantar ayahnya ke kamarnya untuk istirahat.