
Jun Ho baru bertemu dan berinteraksi kembali bersama putri kesayangannya setelah bertahun-tahun lamanya. Ia merasakan bahagia dan merasa beruntung masih diberi kesempatan menemani putri kecilnya.
“Yui’er... besuk akan diadakan pesta penyambutan kedatangan ayah di istana. Ayah ingin kamu ikut menghadiri acara tersebut,” ucap Jun Ho.
“Apakah Yui’er harus ikut serta, ayah?” Tanya Mey Yui
“Harus, sayang! Ayah akan seperti Yuan kamu... tidak ada penolakan!” jawab Jun Ho sambil tersenyum.
“Kenapa ayah jadi ikutan seperti kak Yuan? Dengan kak Yuan saja Yui’er sudah sakit kepala, ini ayah ikutan juga,” gerutu Mey Yui dengan manja.
“Hahaha... tentu saja ayah ikutan gaya Yuan, jika tidak kamu pasti menolak untuk hadir di acara besuk!” balas Jun Ho.
“Ayah... aku harap ayah membebaskan selir Chu Min dan ajak serta ke pesta besuk. Yui’er ingin segera melihat rencana mereka untuk menggagalkan pertunangan Yui’er,” ucap Mey Yui.
“Baiklah jika itu keinginanmu ayah akan mengabulkannya,” balas Jun Ho.
“Terima kasih, ayah!” Mey Yui tersenyum dan mengecup kedua pipi ayahnya.
Jun Ho tersenyum bahagia dan tak terasa mengeluarkan air mata di sudut matanya. Air mata kebahagiaan yang tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.
Melihat ayahnya meneteskan air mata, Mey Yui mengusap air mata ayahnya.
“Ayah jangan bersedih! Jika ayah sedih, Yui’er akan ikut sedih!” ucap Mey Yui.
“Ayah tidak sedih, sayang! Ini air mata kebahagiaan, kau membuat ayah bahagia dan mengingatkan ayah pada ibumu.” Jun Ho tersenyum kepada putrinya.
“Apakah betul yang di ucapkan ayah? Ayah ceritakan tentang ibu, Yui’er ingin mengetahuinya lagi. Sejak Yui’er jatuh dari jurang ingatan Yui’er tentang ibu telah hilang semua,” pinta Mey Yui.
Jun Ho menghela napas panjang kemudian memandang langit. Ia mengingat semua kenangan indah bersama istrinya.
“Ibumu sangat cantik seperti dirimu, dia pengertian dan tidak banyak menuntut apa pun dari ayah. Dia selalu setia menemani ayah dan selalu membantu memecahkan suatu masalah jika ayah mengalami suatu masalah yang sulit. Ibumu sangat mencintai kita dengan tulus dan rela berkorban untuk kebahagiaan kita,” cerita Jun Ho secara singkat.
Mata Jun Ho merah menahan tangisnya, mengingat kenangan indah bersama istrinya.
“Kita sangat bahagia dan bisa dikatakan jauh dari pertengkaran, hingga musibah ayah datang. Ayah terjebak permainan licik Tua bangka Qian Bun Ho dan Chu Min. Selama ini ibumu tidak pernah ayah biarkan meneteskan air matanya, karena kejadian itu ibumu sangat kecewa dan diam-diam sering menangis,” ucap Jun Ho.
“Ayah... bolehkah Yui’er bertanya sesuatu? Yui’er ingin membantu ayah memecahkan misteri masa lalu,” ucap Mey Yui.
“Katakanlah apa yang ingin kamu tanyakan kepada ayah,” balas Jun Ho.
“Seingat ayah dulu... ayah seperti bersama ibumu karena ayah sangat mencintai ibumu. Sehingga menganggap Chu Min adalah Ibumu,” jawab Jun Ho.
“Maaf, ayah.. Maksud Yui’er.. saat berhubungan badan dengan selir Chu Min, apakah ayah merasakan hal yang sama seperti saat ayah melakukan dengan ibu saat pertama kali. Maaf, Yui’er hanya ingin memecahkan kasus ini jadi ayah jangan merasa malu atau canggung pada Yui’er,” ucap Mey Yui.
Mendengar ucapan Mey Yui wajah Jun Ho merona malu, kemudian ia tepis rasa malunya. Karena ingin membagi cerita dengan putrinya dan bersama-sama memecahkan kasus yang menjebak dirinya.
Jun Ho mulai mengingat-ingat kejadian pada malam itu.
“Setelah ayah ingat-ingat tidak sama saat melakukan dengan Chu Min, lancar-lancar saja tidak hambatan. Kamu benar sekali putriku, ayah tak terpikirkan ke arah sana. Saat itu keadaan sangat rumit, ayah sangat bersalah kepada ibumu.”
“Sehingga tidak memperhatikan secara teliti. Tak lama kejadian itu Mey Fang hamil... Jangan-jangan anak dalam kandungan itu bukan milik ayah! Mey Fang bukan anak kandung ayah, sebelum menjebak ayah Chu Min sudah mengandung!” seru Jun Ho baru menyadarinya.
“Itulah yang ingin Yui’er pastikan pada ayah. Yui’er curiga dengan jati diri Mey Fang. Sejak saat Yui’er mengejar bayangan hitam yang melesat di kediaman kita. Yui’er pikir penyusup yang di kirim oleh orang jahat. Setelah Yui’er kejar ternyata orang itu adalah pengawal setia dari ayah selir Chu Min,” jelas Mey Yui.
“Apa yang mereka bicarakan, nak?” tanya Jun Ho geram menahan emosi.
Ia sangat marah telah di bohongi selama bertahun-tahun. Ia menyayangi Mey Fang yang dianggapnya sebagai putri kandungnya meski wajah dan sifatnya tidak ada yang mirip dengannya.
“Saat itu pria itu membawa perintah dari ayah selir Chu Min agar membunuh kak Ming Se, karena markas kedua mereka telah diketahui oleh kakak. Jika rencana mereka gagal dalam penyergapan, seperti yang Yui’er ceritakan pada ayah kemarin. Selir Chu Min harus membunuh dengan memberikan racun pada kakak.”
“Saat itu dia menolak, namun selir Chu Min diancam jika dia menolak perintah ayahnya maka Bo Xin Yan akan di bunuh oleh ayahnya. Selir Chu Min marah, yah! Saat pria itu menyebut nama Bo Xin Yan, Yui’er pikir kita harus menyelidiki siapa sebenarnya Bo Xin Yan,” cerita Mey Yui.
“Dasar tua bangka! Aku akan membunuhnya jika sampai kakakmu mengalami sesuatu,” ucap Jun Ho marah.
“Ayah.. yang utama saat ini kita harus mencari tahu jati diri Bo Xin Yan. Apakah dia kekasih dari selir Chu Min? Yui’er curiga ada hubungan di antara mereka. Jika tidak ada hubungan maka selir Chu Min tidak akan takut dan melaksanakan perintah dari ayahnya,” balas Mey Yui.
“Kau benar putriku, ayah akan perintahkan Wen An untuk mencari tahu siapa Bo Xin Yan,” ucap Jun Ho.
“Ayah harus hati-hati dalam penyelidikan itu. Yui’er yakin jika di sekitar ayah banyak mata-mata,” ucap Mey Yui mengingatkan ayahnya.
“Putri ayah tak perlu kuatir, ayah akan berhati-hati!” jawab Jun Ho.
“Terhadap selir Chu Min, ayah jangan menimbulkan kecurigaan padanya. Yui’er kuatir semua rencana kak Ming Se jadi berantakan,” ucap Mey Yui.
“Baiklah.. ayah akan menuruti saran kamu, meski sangat berat ayah lakukan. Harus bersikap baik dengan Chu Min, rasanya ayah ingin memenggal kepalanya,” balas Jun Ho geram.
Jun Ho merasa kesabarannya sangat diuji terhadap keluarga Qian. Emosinya sudah tak terbendung lagi, namun ia harus bisa menahan semuanya agar semua yang telah direncanakan oleh anak-anaknya berjalan sesuai dengan keinginan mereka.