Kezia Story

Kezia Story
BAB 56



Selir Chu Min meninggalkan kediaman Mey Yui dan diikuti para pelayannya. Hatinya sangat kacau, rasa kuatir jika jenderal Jun Ho benar-benar ingin mengambil selir atau istri sah. Karena selama ini jenderal Jun Ho belum mengambil istri sah sebagai pengganti Xio Lan. Bahkan dirinya tidak diangkat sebagai istri sah.


“Sialan! Apa yang dikatakan bocah tengik itu sangat benar. Selama ini Jun Ho tidak pernah mengambil selir lagi. Aku pikir jika Xio Lan mati, aku akan menggantikan posisinya,” omel selir Chun Min pelan, hanya bibi Ong yang mendengar.


“Nyonya jangan panik dan jangan terhasut oleh ucapan pelac*r kecil itu. Tuan Besar tidak akan mengambil istri maupun selir lagi,” ucap bibi Ong menenangkan hatinya.


“Bagaimana aku tidak panik! Yang dikatakan bocah tengik itu ada benarnya, aku sekarang tidak muda lagi. Wajahku sudah mulai mengeriput, di luar sana banyak gadis muda yang cantik bahkan para janda muda yang cantik dan mereka pasti menginginkan kehidupan yang lebih baik,” balas selir Chu Min.


“Sabar dulu, nyonya. Hamba yakin tuan besar sangat menyayangi nyonya, sudah terbukti sampai sekarang tidak ada wanita lain selain nyonya!” ucap bibi Ong.


“Menyayangiku? Apakah kau meledekku? Jika Jun Ho menyayangiku, dia tidak akan meninggalkanku sendiri menjadi penjaga rumahnya. Dari Mey Fang lahir sampai sekarang dia tak pernah tidur di kediamanku bahkan tidak mengajakku tinggal di perbatasan,” ucap selir Chu Min dengan marah.


“Maafkan hamba nyonya, bukan maksud hamba meledek. Coba nyonya rasakan, apakah tuan besar pernah membawa wanita lain selama ini? Tuan besar hanya sibuk di perbatasan dan semua kekuasaan di rumah di serahkan kepada nyonya.”


“Itu bukti jika tuan besar menyayangi nyonya. Apa pun yang nyonya lakukan, Tuan besar tidak pernah marah kepada nyonya. Tuan besar tidak pandai dalam mengungkapkan perasaannya,” jelas bibi Ong menenangkan majikannya.


Selir Chu Min berhenti berjalan dan melihat bibi Ong. Ia merasa ucapan bibi Ong ada benarnya.


“Sialan! Kenapa aku terhasut dengan ucapan bocah tengik itu,” ucapnya sambil menganggukkan kepalanya.


“Nyonya jangan mudah terpancing dengan hasutan gadis jelek itu. Jika nyonya terhasut dan bertengkar dengan tuan besar, dia akan senang. Karena tujuannya tercapai,” jelas bibi Ong.


“Kau benar bibi Ong, beruntung kau mengingatkanku. Jika tidak aku akan bertengkar dengan Jun Ho. Kurang ajar sekali bocah itu, berani-beraninya menghasutku,” ucap selir Chu Min.


“Lebih baik sekarang nyonya membawakan teh untuk tuan besar. Saat ini tuan besar sedang banyak pikiran, tuan muda Ming Se belum ada kabar. Lebih baik pergunakan waktu ini untuk menghibur tuan besar untuk mendapatkan kasih sayangnya,” ucap bibi Ong.


“Kau benar bibi Ong, saat ini aku harus mengambil kesempatan untuk merayu Jun Ho. Mari kita kembali ke kediamanku dan siapkan teh dan kue kesukaan Jun Ho,” jawab selir Chu Min bersemangat.


“Mari nyonya,” ucap bibi Ong sambil mempersilahkan selir Chu Min untuk jalan terlebih dulu.


Sementara Mey Yui yang telah ditinggalkan oleh selir Chu Min tanpa pamit. Ia senang karena telah membuat selir Chu Ming kuatir.


“Hahahaha....! Dasar emaknya ondel-ondel, baru di bilang keriput sudah panik. Wajah seperti wayang golek, ibu sama anak gak ada bedanya. Sama-sama gila!” ucap Mey Yui sambil tertawa.


“Apa yang membuatmu gembira sehingga kau tertawa sendiri,” tanya Yuan yang tiba-tiba datang menghampiri kekasihnya.


“Kamu! Bikin jantungku copot! Jangan seperti jailangkung, dunk! Datang tak diundang pulang tak diantar,” ucap Mey Yui dengan manja.


Yuan mengacak-acak rambut Mey Yui dengan gemas.


“Kamu suka punya kekasih jailangkung?” canda Yuan.


“Makanya jangan ceroboh, jangan kamu kendurkan kewaspadaanmu. Saat ini aku yang datang! Bagaimana kalo musuh yang tiba-tiba datang dan menyerang kamu,” ucap Yuan dengan pelan.


“Aku sengaja mengendurkan kewaspadaanku karena ada kamu, sayang. Jika ada kamu kenapa aku harus waspada tingkat dewa,” sanggah Mey Yui.


“Kamu ya..! Bisa saja.. bikin gemas. Kekasih siapa sih ini yang gemesin seperti ini,” canda Yuan.


“Kekasih siapa ya...? Kalo gak salah kekasih si Ardi,” ledek Mey Yui.


“Hahaha... kekasih Ardi yang dari jaman modern itu? Bukannya Ardi sudah alamarahum... eh salah.. almarhum maksudnya,” balas Yuan sambil tertawa.


“Iya itu orangnya yang seperti es balok dan kulkas berjalan,” ledek Mey Yui.


“Wow ternyata kamu kasi julukan kekasihmu dengan sebutan es balok dan kulkas berjalan? Sungguh ter....la....lu....,” ucap Yuan sambil mencubit kedua pipi Mey Yui.


“Sayang... jangan cubit pipiku... ntar jadi kendor... tau...! Kalo pipiku kendor dan tak cantik lagi... kamu pasti ninggalin aku, cari gadis cantik lagi,” manja Mey Yui.


Yuan menarik tangan Mey Yui dan memeluknya kemudian. Mengecup dahi Mey Yui dengan penuh perasaan.


“Kenapa kamu bicara seperti itu, sayang! Apakah kamu meragukan cintaku? Bukankah kau tau Jika aku tak bisa hidup tanpamu,” ucap Yuan penuh perasaan.


“Maafkan aku, sayang. Aku hanya bercanda, sedikit pun aku tak pernah meragukan cintamu,” jawab Mey Yui.


“Jangan pernah kau bercanda dengan meragukan cintaku, sayang. Rasa cintaku bukan untuk di buat candaan. Aku rela mati agar bisa bersamamu,” ucap Yuan.


“Stop sayang! Aku salah.. aku minta maaf, jangan kau ungkit mengenai hal itu. Aku sangat sedih, sayang! Aku juga sangat mencintaimu. Selama ini aku hanya mencintaimu dalam diam. Aku takut jika kamu mengetahui perasaanku, kau akan membenciku. Saat itu aku hanyalah seorang gadis kecil,” ungkap Mey Yui.


“Hal itulah yang sangat aku sesali, kita sama-sama saling mencintai tapi tak ada satu di antara kita yang mengetahui perasaan cinta kita. Namun aku bersyukur di kehidupan kita yang kedua, kita bisa menjadi sepasang kekasih,” ucap Yuan.


“Kamu benar sayang, kita harus bersyukur telah dipertemukan kembali pada kehidupan kedua kita. Betapa sedihnya aku saat terbangun sudah berada di jaman ini. Tidak ada siapa-siapa yang aku kenal. Aku takut, sayang,” tangis Mey Yui meledak.


“Sstttt....! Sudah, jangan menangis, sekarang ada aku di sini yang akan selalu menjaga dan melindungimu. Bahkan Tuhan sudah berbaik hati padamu, mengirim kami untuk menemanimu,” ucap Yuan menenangkan Mey Yui.


“Ya.. sayang... aku merasa sangat beruntung karena orang- orang yang aku sayangi di kirim menemaniku meski tidak semuanya. Aku sudah sangat berterima kasih dan bersyukur. Kita jalani saja kehidupan kedua ini dengan baik, sayang!” ucap Mey Yui.


“Itu pasti sayang, kita harus menjalani kehidupan ini dengan baik. Kita harus bahagia dan jangan pernah menyembunyikan sesuatu dariku,” jawab Yuan.


Mey Yui hanya menganggukkan kepalanya. Lalu Yuan mengangkat dagu Mey Yui dan mencium bibirnya dengan lembut.


Perasaan sayangnya terhadap Mey Yui tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ciuman lembut dan tak ada nafsu yang menyelimutinya. Hanya ciuman kasih sayang yang paling dalam.