
Bayangan melesat di udara menuju ke jembatan danau cinta melewati hutan yang cukup lebat dan sunyi.
Saat Yuan membopong Mey Yui melintas hutan lebat, mereka melihat pertarungan yang sangat seru. Mey Yui penasaran siapa yang bertarung di hutan tersebut.
“Kak, bisakah kita turun dan melihat siapa yang bertarung? Aku penasaran karena gerakkan dua pria itu sepertinya tidak asing,” ucap Mey Yui.
“Baiklah! Kita turun dan melihat siapa yang bertarung. Aku juga merasakan gerakkan mereka tidak asing,” jawab Yuan.
Yuan melesat turun ke bawah dengan membopong Mey Yui. Mereka menginjakkan kakinya ke tanah dan melihat siapa yang bertarung. Yuan tidak menurunkan Mey Yui ke tanah. Ia masih membopong Mey Yui menyaksikan pertempuran.
Dahi Yuan berkerut melihat gerakan kedua orang berpakaian hitam yang sedang di serang kawanan pria yang menggunakan pakaian prajurit.
“Kenapa gerakkan mereka seperti gerakan dari jaman modern? Siapa mereka? Apakah mereka juga sama denganku?” ucap Yua n dalam hati.
“Kak Yuan, coba perhatikan! Mereka itu seperti kak Ming Se dan Kak A Sen! Tapi mengapa di serang prajurit Tang?,” ucap Mey Yui.
“Kamu benar sayang, mereka seperti Ming Se dan A Sen. Saat kita turun mereka sempat terpaku. Ayo kita bantu, sayang,” jawab Yuan.
“Turunkan aku, kak,” ucap Mey Yui.
“Aku tidak akan menurunkan kamu! Kita berdua bisa melakukan serangan bersama,” jawab Yuan.
“Tidak Kak, tolong turunkan aku! Aku tidak leluasa bergerak. Coba kamu lihat itu banyak prajurit bantuan yang datang,” ucap Mey Yui.
Akhirnya Yuan mau tidak mau ia menurunkan Mey Yui.
“Sayang, kamu jangan jauh-jauh dariku! Aku tak ingin kamu terluka,” perintah Yuan dengan tegas.
Tanpa menunggu mereka langsung melesat dan bergabung di pertarungan tersebut. Yuan tidak mau jauh-jauh dari Mey Yui karena kuatir keselamatan kekasihnya. Mereka menyerang bersama dua orang yang di duga adalah kedua kakaknya.
“Siapa kalian berdua? Mengapa ikut campur urusan kami?” teriak pemimpin prajurit itu.
“Kalian tidak perlu tahu siapa kami! Kami hanya melewati hutan dan melihat pertarungan yang tidak seimbang,” jawab Yuan
“Kalian teman penyusup itu! Serang dan bunuh mereka sisakan gadis itu!” ucap pemimpin prajurit.
“Kau tidak pantas menjadi seorang prajurit! Kau lebih pantas menjadi seorang perampok!” ucap salah satu pria yang berpakaian hitam.
Mendengar suara salah satu pria yang di tolong, Yuan dan Mey Yui yakin bahwa itu kedua kakak Mey Yui. Yang berbicara dengan pemimpin prajurit adalah Ming Se.
“Hahaha... kamu tidak perlu banyak bicara! Karena nyawamu sebentar lagi akan lepas dari tubuhmu,” ucap pemimpin prajurit.
“Atau kalian ingin menyaksikan kami menikmati gadis itu,” teriak salah satu prajurit yang berada di samping pemimpin prajurit.
Ketiga pria marah mendengar ucapan pemimpin dan orang kepercayaannya. Sementara Mey Yui dengan santai mengeluarkan kipas naga nya.
Tanpa banyak kata ia mengibaskan kipasnya ke arah kedua orang tak punya akhlak. Mereka berdua terpelanting ke belakang kena serangan Mey Yui.
“Brengs*k! Beraninya kau menyerangku! Bunuh gadis sialan itu!” perintah pemimpin prajurit yang malu.
“Kau terlalu banyak bicara! Kalian prajurit kerajaan Tang seharusnya sikap kalian lebih baik daripada kawanan perampok. Melindungi dan menghargai wanita,” ucap Mey Yui sinis.
“Tak perlu banyak bicara! Serang mereka!” teriak pemimpin mereka
Pertarungan tak terelakkan, pasukan prajurit menyerang mereka berempat. Yuan dan kedua kakak Mey Yui mengeluarkan pedang mereka masing-masing. Sedangkan Mey Yui menggunakan cambuk naganya.
Mereka di kepung oleh prajurit Tang yang menjadi pengikut mantan perdana menteri tua. Mereka prajurit pengkhianat yang akan membantu pemberontakan perdana menteri.
Banyak prajurit yang tewas hanya tersisa beberapa saja, namun mereka terluka parah. Mey Yui bertarung dengan gesit melemparkan cambuk naga nya. Saat ia berdekatan dengan Ming Se. Mereka berdua saling membantu menghabisi prajurit pengkhianat.
“Sayang! Kenapa kamu ikut bertempur? Tinggalkan tempat ini bersama Yuan, kakak dan A Sen masih sanggup menghadapi curut-curut itu,” ucap Ming Se pelan saat mereka berdekatan.
“Aku tidak akan meninggalkan kakak! Jangan protes!” jawab Mey Yui.
Kemudian mereka berempat saling mendekat dan berkumpul melingkar. Menjaga pertahanan agar mereka bisa menyerang bersama-sama.
Ming Se dan A Sen kesal dengan Yuan karena melibatkan gadis kesayangan mereka.
“Sialan kau! Kenapa kau bawa kesayangan kami ikut bertempur! Seharusnya kau mengabaikan kami! Cepat tinggalkan tempat ini!” ucap A Sen pada Yuan yang berdiri di sampingnya.
“Kau pikir mudah mengajaknya pergi dan meninggalkan kalian dalam pertarungan dengan prajurit-prajurit itu,” balas Yuan.
“Aku pun tidak menginginkan kekasihku ikut bertarung dengan kalian,” ucap Yuan lagi.
“What...!” A Sen terkejut dan menucapkan bahasa inggris. Kemudian ia mengalihkan Yuan yang terkejut terlihat dari sorot matanya. Dan dahinya berkerut.
“Awas di depanmu,” ucap A Sen mengalihkan Yuan agar tidak bertanya apa yang sudah ia ucapkan.
Yuan menangkis serangan prajurit yang melesat ke arahnya.
“Ayo cepat kita bereskan. Habisi semua jangan di sisakan,” ucap Ming Se
A Sen melesat ke udara dan meluncurkan serangan yang dahsyat. Di susul dengan yang lainnya.
“Double kill,” teriak A Sen kegirangan tanpa sadar ia mengucapkan bahasa inggris lagi.
“Dasar Kak A sen! Kamu pikir kita lagi mabar ML!” ucap Mey Yui.
Yuan yang di sampingnya mendengar dengan jelas. Pikirannya berkecamuk mendengar ucapan Mey Yui.
“Siapa sebenarnya kalian bertiga? Apakah kalian benar-benar berasal dari jaman modern yang terdampar sepertiku?” batin Yuan.
Pertarungan menyisakan pemimpin dan orang kepercayaannya. Semua prajurit telah tewas, kedua orang tersebut juga tidak dalam keadaan baik. Mereka terluka parah.
“Dua curut ini biar aku yang beresi,” ucap A Sen.
Ketiga rekannya mundur dan membiarkan A Sen bermain.
“Kalian cecunguk Qian Bun Ho yang ingin melakukan pemberontakan pada pemerintahan kaisar Tang! Rasakan jurus mautku,” teriak A sen.
“Siapa kalian?” tanya pemimpin prajurit yang sudah terluka parah.
“ Tidak perlu tahu siapa aku! Nikmati perjalananmu ke neraka,” ucap A Sen.
“Duaaarrr...!”
“Buuummm!”
Suara ledakan dari tubuh pemimpin dan orang kepercayaannya meledak kena serangan A sen.
“Akhirnya selesai juga, para curut itu bikin repot saja,” ucap A Sen sambil menepuk-nepuk membersihkan debu di pakaiannya.
“Ayo, cepat kita tinggalkan tempat ini. Sebelum ada antek-antek mereka datang,” ucap Ming Se.
“Kak, kita cari tempat yang aman dulu sementara waktu,” saran Mey Yui.
“Ayo cepat! Kita menjauh dulu dari sini!” Ucap Ming Se lagi.
Ia tak mau ada mata-mata yang mengetahui pertarungannya dengan para prajurit antek-antek pengkhianat. Terutama ia mengawatirkan keselamatan adiknya.
Mereka berempat melesat meninggalkan tempat pertarungan tersebut. Setelah mereka sudah jauh dan keluar dari area hutan, mereka berhenti untuk beristirahat.
“Sayang.. lebih baik sementara waktu bagaimana jika kami bersembunyi di ruang dimensimu dulu. Setelah suasana aman baru kami keluar,” ucap A Sen
Yuan sangat kesal saat A Sen memanggil sayang pada Mey Yui. Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa.
“Kalo itu aku pikir Cuma akal-akalan kak A Sen saja supaya bisa menyuruhku memasak,” ledek Mey Yui sambil tersenyum.
“Bukan seperti itu! Tapi lebih aman, memang kita sementara waktu menghilang dulu sambil memperkuat kultivasi,” A Sen menjelaskan alasannya pada Mey Yui.
“Ya.. kak.. aku hanya bercanda.. ! Kak Ming Se dan kak A Sen lebih baik ganti pakaian kalian dulu. Agar tidak mencurigakan,” ucap Mey Yui.
Setelah kedua pria itu mengganti pakaiannya, mereka melanjutkan perjalanan melesat menuju ke penginapan mereka.
Namun saat mereka hendak menuju ke penginapan banyak prajurit berjaga di depan penginapan. Banyak penduduk yang melihat dan ingin tahu mengapa penginapan itu di jaga banyak prajurit.
Yuan bertanya kepada salah satu penduduk yang berdiri di dekatnya.
“Paman mengapa banyak prajurit berjaga di depan penginapan itu,” tanya Yuan pada pria separuh baya itu.
“Mereka mencari penyusup yang telah menyusup di kediaman mantan perdana menteri tua. Menurut berita penyusup itu adalah kawanan pemberontak yang di duga menginap di penginapan itu,” paman paruh baya menjelaskan.
Yuan mengkode Ming Se dan A sen, mereka perlahan meninggalkan kerumunan orang. Yuan menggandeng tangan Mey Yui berjalan beriringan.