Kezia Story

Kezia Story
BAB 30



Setelah selesai makan mereka berkumpul dan berdiskusi mengenai apa yang akan mereka lakukan di dunia luar jaman kuno.


“Kak, sudah saatnya kita keluar dari ruang dimensi ini,” ucap Mey Yui membuka pembicaraan mereka.


“Kamu benar, kita sudah sudah waktunya keluar dan kita harus pulang dulu ke kediaman kita, Mey,” jawab Ming Se


“Benar aku akan membalaskan dendam pemilik tubuh asli ini pada ibu kunti dan anak kunti itu, kak. Aku harap kakak juga melakukan balas dendam, kita harus bekerja sama menghancurkan mereka sampai ke akar-akarnya. Tapi kita harus atur strategi, kak!” jelas Mey Yui.


“Apa itu ibu kunti dan anak kunti?” tanya A Sen


“Ibu kuntilanak dan anak kuntilanak! Bukannya mereka iblis,” jawab Mey Yui sambil nyengir


“Benar, kita harus menjebak mereka sekeluarga! Mereka benar-benar iblis berkedok manusia, dari yang tua sampai yang kecil semua tidak ada yang bisa dipilih,” geram Ming Se


“Sebaiknya kita main drama dech, kak!” ucap Mey Yui


“Kalian berdua mau main drama apa?” tanya A Sen yang sedari tadi hanya menjadi pendengar yang setia.


“Ibu kunti dan anak kunti itu paling sirik jika Mey Yui mendapat kasih sayang dari ayah dan ayah, untuk menghindari kewaspadaan mereka lebih baik kita main drama kalo kakak tak peduli sama aku bahkan membenciku. Mereka pasti senang dech! Dan semakin gencar mencari cara agar kita semakin bermusuhan dan korbannya adalah aku. Anak dan adik yang diabaikan dan teraniaya,” jelas Mey Yui


“Bagaimana menurut kalian?” tanya Mey Yui


“Aku tidak setuju,” jawab Ming Se dan A Sen serentak.


“Aku tidak setuju jika harus menyakitimu dan jahat padamu,” kata Ming Se


“Benar aku juga tidak setuju,” ucap A Sen mendukung Ming Se.


“Ini kan cuma drama saja, kak!” bantah Mey Yui


“Jawaban kakak tetap sama, ya tidak A Sen,” ucap Ming Se sambil menoleh pada A Sen


“Ya, betul…! Aku sepakat denganmu, Ming Se!’ balas A sen sambil menganggukkan kepalanya.


“Kalian berdua ini sebenarnya tidak mau main drama karena takut tidak bisa makan masakanku tiap hari! iya, kan?” Mey Yui gemas dengan kedua kakaknya.


“Hahaha…”


Tawa Ming Se dan A Sen.. mereka saling pandang dan berkedip mata memberi isyarat satu sama lain.


“Salah satunya itu juga, tapi ada yang lain. Aku tidak bisa jika berpura-pura cuek, ketus bahkan bertindak jahat atau kejam terhadapmu,” jelas Ming Se.


“Sepakat..!” A Sen mendukung Ming Se.


“Kalau kalian tidak mau main drama, aku tidak akan mau memasakkan kalian lagi,” kesal sekali Mey Yui dengan mereka.


“Ok.. ok.. Kamu menang! Kita akan menurut skenariomu!” ucap Ming Se pasrah.


“Tapi kamu harus masakkan kami dan kita makan bersama di ruang dimensimu,” potong A Sen tidak mau kehilangan cita rasa masakan Mey Yui.


“Baiklah, kita pulang tidak bersamaan. kakak akan pulang dengan kak A Sen da aku pulang sendiri,” jelas Mey Yui.


“Tidak bisa begitu dunk, kami tidak mau berangkat terpisah dengan kamu,” kata A Sen dengan tegas.


Sementara Ming Se mengangguk tanda ia setuju dengan A Sen.


“Kita tetap pulang bersama tapi aku masuk dulu, kalian menunggu dulu 1 jam an setelah itu kalian baru masuk,” kalau seperti itu, ok?


“Kalo pengaturan seperti itu baru sepakat,” ucap A Sen menepuk pundak Mey Yui


“Kakak benar! Aku belum mengetahui wajah ayah pemilik tubuh asli ini, kak. Bagaimana wajahnya? Apakah mirip dengan ayah Robert, kak? Aku takut bertemu dengan ayah pemilik tubuh asli ini, kak!” Mey Yui menangis teringat orang tuanya, Ming Se dan A Sen langsung memeluk adiknya. Mereka bertiga berpelukan saling menguatkan.


“Kita harus kuat, kalian masih beruntung bisa bertemu dengan saudara kandung kalian. Bagaimana dengan diriku? Hanya kalian yang aku miliki di sini,” ucap A Sen dengan bata merah berkaca-kaca.


Ming Se dan Mey Yui mendengar keluh kesah A Sen merasa tertusuk dengan egois merasa mereka sendiri yang kehilangan orang tua mereka. Ada sahabat yang sudah seperti saudara sendiri juga terdampar di jaman kuno. Mereka melupakan perasaan A Sen yang di sini hanya sendiri dan Ia berpisah dengan keluarganya. Masih beruntung Ming Se bertemu dengan adik kandungnya dari jaman modern.


“Maafkan kami, kak! Kami melupakan perasaan kakak! Jangan pernah merasa sendiri di sini, kak? Ada kami yang selalu ada untuk kakak,” ucap Mey Yui


Tangis A Sen yang ia tahan akhirnya meledak, ia menangis dalam pelukan Ming Se dan Mey Yui. Beruntung masih ada orang-orang terdekatnya di jaman kuno ini.


Setelah mereka menumpahkan perasaannya masing-masing dan berjanji saling terbuka dan mendukung tanpa ada kebohongan, akhirnya mereka bersiap untuk kembali ke dunia luar.


Mey Yui memanggil semua hewan kontraknya, ia memberi tahu pada mereka jika Mey Yui akan meninggalkan ruang dimensi. Ia sengaja berpamitan agar si rubah kecil Xio-xio tidak mencarinya dan bikin kekacauan di ruang dimensi.


“Ayo kak, kita berangkat sekarang sebelum tengah malam!” Ajak Mey Yui kepada kedua kakaknya.


Dalam sekejap mereka bertiga menghilang dari ruang dimensi dan berpindah di dunia luar.


“Akhirnya bisa melihat indahnya dunia ini, meskipun tak seindah kecantikan adikku tersayang,” A Sen ngegombal sambil cengar-cengir dan bergaya seperti seorang penyair


“Kakak sehat?” tanya Mey Yui.


“Bisa tidak kalo tidak menghancurkan imajinasiku menikmati karya Tuhan yang begitu indah, Kamu ini benar-benar adik lucknut! Kamu pikir aku gila kamu?” sewot A Sen.


“Hahaha… Habisnya kakak seperti orang sakit jiwa yang kehabisan obat!” Mey Yui tertawa ngakak sampai mengeluarkan air mata.


A sen yang gemas dengan Mey Yui langsung memiting leher Mey Yui agar Mey Yui mencium bau ketiak A Sen.


“Kak A Sen…. Sialan! Bau ketiakmu!” Mey Yui marah di kerjai A Sen.


“Hahaha… Makanya jangan berani-berani mengerjai kakakmu ini! Sedapkan! Itu Jurus Ketty maut,” ledek A Sen sambil tertawa ngakak.


Ming Se melihat kekonyolan dua orang yang ada di depannya hanya tertawa dan geleng-geleng kepala.


“Puas-puasin kalian bercanda bersama selama kita hanya bertiga, nanti jika kita sudah berinteraksi dengan orang kalian tidak boleh banyak bersentuhan. Zaman kuno ini masih menganut jaman katrok. Perempuan tidak boleh bersentuhan dengan laki-laki! Mey Yui jangan lupa menggunakan cadarmu! Kakak tidak ingin banyak mata lelaki melihatmu dan berpikiran mesum,” perintah Ming Se.


“Benar! Ambil cadarmu dan pakai! Jangan buat kami punya banyak musuh! Hanya gara-gara orang jaman katrok ini melihat wajahmu,” A Sen ikut berbicara.


“Huuft…”


Mey Yui mendengus dan menuruti perintah kedua pria yang ada di depannya.


“Ok.. Aku akan memakai cadar! Kalau aku tidak mengikuti perintah kalian pasti membuat telinga tuli karena mendengar nyanyian sumbang yang bersahutan dari kalian! Panjang kali lebar kali tinggi… tra.. la.. la…la…!” omel Mey Yui


“Yang benar dunk kalo pakai cadar, cari cadar yang warna gelap! Kalo cadar seperti ini justru membuat orang penasaran! Wajahmu masih bisa terlihat samar di balik cadar!” perintah Ming Yui


“Wah.. Ngajak gelut anak nakal ini!” sahut A Sen.


“Kalian….! Cerewet bin bawel! Kalo aku menggunakan cadar warna gelap dan hari ini panas bisa engap aku di balik cadar! Mungkin lebih baik aku menggunakan masker dan kacamata hitam biar semua orang di sini bingung!” seru Mey Yui kesal.


“Hahaha… Boleh juga ide kamu! Pakai kacamata hitam saja! Aku lihat dilihat ada di ruang dimensi! Buruan ambil lalu kamu pakai!” goda A Sen.


“Dasar kakak lucknut! senang sekali kalau banyak orang melihat adikmu ini seperti orang aneh!” umpat Mey Yui


“Hahaha..”


Ming Se tertawa juga, mereka bercanda bersama sambil berjalan menyusuri hutan bambu.