
Gadis muda dengan riasan menor dan berpakaian seperti orang gila nggak tahu modelnya. Dengan sombongnya merebut anting di sukai Mey Yui. Dengan sengaja mencari gara-gara untuk menarik perhatian Yuan.
Gadis sombong tersebut merasa dirinya lebih cantik dan kaya dibanding dengan Mey Yui. Ia iri dengan Mey Yui yang bersama pria tampan bertopeng.
Sejak mereka masuk dari pintu toko perhiasan gadis itu sudah memperhatikan Yuan dan Mey Yui. Ia ingin menjadikan Yuan sebagai pria simpanannya.
“Minggir...! Gembel sepertimu tak pantas masuk ke toko perhiasan ini! Selain merusak pemandangan, kamu membuat toko ini menjadi kotor,” ucap gadis tersebut sambil menatap jijik dengan Mey Yui.
Yuan sangat emosi mendengar gadis tersebut, ia ingin memberi pelajaran kepada gadis tersebut. Namun Mey Yui memegang tangannya menahannya.
“Sayang.. ini urusan wanita biarkan aku yang mengatasinya,” ucap Mey Yui yang sengaja memanggil Yuan, sayang.
Mey Yui sengaja membuat kesal gadis tersebut, ia tahu jika gadis itu melihat Yuan dengan tatapan memuja.
Sementara Yuan tersenyum dengan Mey Yui, ia sangat senang saat Mey Yui memanggilnya, sayang.
“Nona apakah kamu tidak memiliki cermin? Jika kamu tidak memiliki cermin dan tidak mampu membelinya, maka aku akan membelikannya untukmu,” ucap Mey Yui dengan santai.
“Sialan.. kau pikir aku gembel seperti dirimu yang tidak mampu membeli cermin? Aku akan memberimu uang dan tinggalkan pria yang bersamamu. Aku akan mengampunimu karena kelancanganmu berani melawanku,” balas gadis tersebut.
“Na tu.. kamu merasa dirimu gembel? Bahkan aku tidak menyebutkan bahwa kamu seorang gembel! Tapi kamu sudah mengakuinya,” balas Mey Yui dengan cuek.
“Gadis gembel beraninya kamu mengataiku gembel!” bentak gadis tersebut.
“Kamu sendiri yang bilang gembel! Kenapa kamu marah? Kalo di pikir-pikir memang kamu mirip gembel! Lihat pakaianmu bukannya seperti gembel? Modelnya tidak jelas, seperti kekurangan bahan dan compang-camping, belum lagi riasanmu seperti wayang golek. Tepung berapa kilo yang kamu gunakan?” ucap Mey Yui.
“Oh ya.. kamu menginginkan kekasihku? Mimpimu terlalu tinggi, nona! Aku tak akan membiarkan kekasihku diambil oleh siapa pun,” ucap Mey Yui lagi.
“Gembel sialan! Besar sekali nyalimu! Kau tahu siapa aku? Jika kau tahu siapa aku dan berani melawanku, akan kupastikan kamu akan terkencing-kencing di celana,” ucap gadis itu dengan sombong.
“Tentu saja nyaliku sangat besar! Menghadapi gadis yang tak punya otak yang hanya mengandalkan nama besar orang tua, aku tidak akan mundur. Dan perlu kamu ingat aku tidak peduli siapa kamu, siapa orang tuamu. Jangan terlalu percaya diri, nona wayang golek,” balas Mey yui.
Gadis menor itu sangat marah karena ada orang yang berani melawan dirinya. Fan Yin nama gadis menor itu, putri tunggal dari menteri kehakiman. Orang tuanya terlalu memanjakannya, sehingga ia tumbuh menjadi gadis yang sombong, egois. Apa yang dia inginkan harus didapatkan.
Fan Yin hendak menampar Mey Yui, namun dengan cepat Mey Yui menahan dan memelintir tangan Fan Yin
“Sialan! Lepaskan tanganku, gadis gembel!” teriak Fan Yin kesakitan.
“Mana kesombonganmu? Baru begini saja kamu sudah teriak-teriak! Dasar muka wayang golek,” ledek Mey Yui dengan ekspresi mengejek.
Fan Yin sangat marah dan malu karena selama ini ia selalu di atas angin. Jika ia melakukan tindakan semena-mena terhadap orang tidak ada yang melawan. Bahkan sering kali ia mengambil tunangan gadis lain untuk di jadikan prianya dengan paksa. Ia benar-benar murka, wajahnya merah menahan marah.
Fan Yin lupa jika tidak semua yang dia inginkan bisa tercapai. Di atas langit masih ada langit, selama ini dia belum pernah kena batunya. Belum pernah mendapat lawan di atasnya. Saat bertemu Mey Yui yang tak merasa takut dengannya, dia sangat marah.
“Kubunuh kau gadis gembel! Pengawal hajar dia, kalian bisa menikmati gadis gembel ini,” teriaknya pada para pengawalnya yang sedang menunggu perindah dari nona mudanya.
Mereka sudah terbiasa dengan kekacauan yang ditimbulkan oleh nona mudanya. Kekacauan yang di timbulkan tidak jauh dari pria yang ingin direbut paksa oleh nona mudanya.
Para pengawal hanya diam tak ada yang bergerak membantu Fan Yin. Saat pengawal berdatangan Yuan tidak tinggal diam ia menekan semua para pengawal dengan aura tenaga dalamnya. Kultivasi pengawal Fan Yin hanya pada body tempering level 4-5 bukan lah lawan mereka berdua.
Pengawal Fan Yin tidak ada yang bergerak, mereka mendapat tekanan yang sangat dasyat. Semua pengawal mengalami luka dalam, Fan Yin tidak mengetahui jika pengawalnya dalam kondisi tidak baik. Ia marah dan memaki pengawalnya.
“Pengawal rendahan bodoh! Kenapa kalian tidak bergerak! Cepat bantu aku! Bunuh gadis gembel ini,” teriak Fan Yin.
Toko perhiasan menjadi kacau karena ulah Fan Yin, para pelanggan sudah pada keluar semua. Mereka tidak ingin terlibat atau kena serangan yang menyasar. Penjaga toko ketakutan dan memanggil pemilik toko untuk menghentikan kekacauan.
Penjaga toko sudah mengetahui sifat dari Fan Yin yang sombong. Pelayan toko tak ingin di salahkan dan di hukum karena kejadian tersebut.
Pemilik toko datang dan mencoba untuk menghentikan kekacauan yang di sebabkan Fan Yin. Ia takut jika tokonya hancur karena ulah Fan Yin dan ia juga takut jika masalah menjadi panjang. Karena ayah Fan Yin seorang menteri kehakiman di kerajaan Tang.
Bagai makan buah simalakama, pemilik toko memberanikan diri untuk menyelesaikan kekacauan.
“Nona muda, mohon lepaskan nona Fan Yin. Kita bicarakan dengan baik-baik,” ucap pemilik toko dengan gemetar.
Aura Yuan sangat kuat, tekanan tenaga dalamnya sangat dahsyat sehingga orang yang tidak memiliki kultivasi tinggi tidak akan bisa menahannya. Mereka pasti roboh dan duduk di tanah.
“Kau pemilik toko bodoh! Bantu aku melepaskan tangan gadis gembel ini yang sudah memelintir tanganku,” teriak Fan Yin.
“Kamu memang gadis tak punya otak! Jika mau minta tolong! Bicaralah yang baik! Siapa yang akan menolongmu jika mulutmu seperti mulut ******,” ucap Mey Yui kesal.
“Diam kau gadis gembel,” maki Fan Yin.
“Cuih..!” Yuan meludah, jijik medengar ucapan Fan Yin.
“Kau tidak sebanding dengan kekasihku! Kau pikir dirimu cantik? Kau adalah ****** yang telah banyak digunakan oleh orang! Sangat menjijikkan! Bahkan aku tidak akan menggunakan ****** umum sepertimu!” ucap Yuan dengan geram.
“Kau.. kau.. berani sekali mengataiku ******! Aku menyukaimu tapi kau terlalu sombong! Siapa yang berani sombong dan menolakku hanya kematian yang akan dj dapat! Jika aku tidak bisa memilikimu maka tidak akan ada gadis yang bisa memilikimu,” teriaknya.
“Gadis gila! Dasar ****** umum! Kak, tak perlu kamu merespon ****** umum ini. Tidak ada untungnya, yang ada nanti kakak kesal,” ucap Mey Yui menenangkan Yuan.
Awalnya pemilik toko ingin melerai dan memohon pada Mey Yui untuk melepaskan Fan Yin namun melihat kesombongan Fan Yin, dia hanya diam.
“Kalian berdua akan menerima balasan dariku. Tidak akan aku biarkan kalian bisa bersama, tidak ada yang bisa menghalangi apa yang aku inginkan. Jika ayahku mengetahui penghinaan pada putrinya kalian akan merasakannya,” ucap Fan Yin dengan sombong.
Mey Yui melepaskan pelintiran tangan Fan Yin dan mendorongnya. Fan Yin sempoyongan hampir jatuh karena di dorong oleh Mey Yui. Ia merasa bahwa Mey Yui takut kepada ayahnya, maka Mey Yui melepaskan pelintirannya.
“ Hahaha...! Kau takut dengan ancamanku! Aku akan mengadukan pada ayahku,” ancam Fan Yin.
“Aku sungguh kasihan padamu! Tidak ada ceritanya aku takut pada ancamanmu! Selama aku benar! Aku tidak akan takut! Aku melepaskanmu agar segera pulang dan melapor kepada ayahmu!” jawab Mey Yui dengan tegas.
“Sombong sekali kau gembel, tunggu aku! Akan kupastikan kalian berdua merasakan penghinaan yang telah kalian lakukan padaku! Tunggu saja kematian kalian,” teriak Fan Yin.
“Siapa takut? Aku akan menunggumu!” ucap Mey Yui.
“Tunggu saja kau!” teriak Fan Yin sambil menunjuk-nunjuk Mey Yui sambil berjalan meninggalkan toko perhiasan.
Pemilik toko segera menghampiri Mey Yui dengan gemetar.
“Tuan, nona! Bagaimana jika Nina Fan Yin melaporkan kalian kepada ayahnya? Kalian dalam bahaya, cepatlah meninggalkan ibukota,” ucap pemilik toko yang baik hati.
“Paman tidak perlu mengawatirkan kami, justru kami sangat kuatir dengan paman. Karena kekacauan berada di toko paman, Fan Yin tidak akan melepaskan paman,” ucap Yuan pada pemilik toko.
“Tuan, jangan kuatir dengan aku! Aku bisa mengatasi tuan Lu Fan Jie jika datang ke tokoku. Aku akan memberikan uang padanya, maka dia tidak akan memperpanjang masalah denganku,” jelas pemilik toko.
“Jadi ayah dari Fan Yin seperti itu? Pantas saja jika anaknya seperti itu. Buah jatuh tak akan jauh dari pohonnya,” ucap Mey Yui.
“Kami bisa melindungi diri, paman tidak perlu kuatir,” ucap Yuan meyakinkan pemilik toko
Yuan memberikan kantong uang pada pemilik toko, tanda permintaan maaf karena membuat kekacauan di toko perhiasan. Meski tidak semuanya adalah kesalahan Yian dan Mey Yui.
“Tuan, tidak perlu memberikan uang padaku. Kalian tidak melakukan kesalahan,” ucap pemilik toko menolak pemberian uang dari Yuan.
“Paman... terimalah kekasihku memberikan uang pada paman sebagai permintaan maaf karena telah membuat bisnis paman kacau. Seharusnya toko paman banyak pembeli yang berdatangan dan membeli koleksi di toko paman, jadi kacau gara-gara ada orang gila,” ucap Mey Yui .
“Baiklah tuan dan nona, aku akan menerima pemberian kalian. Terima kasih banyak,” balas pemilik toko.
Setelah mereka berpamitan dengan pemilik toko, mereka meninggalkan toko perhiasan dengan tangan kosong. Awalnya Yuan ingin memberikan sesuatu untuk Mey Yui jadi gagal gara-gara ada ****** umum yang mengganggu.
Sebenarnya jika hal seperti itu terjadi di negara Li, bisa di pastikan jika Fan Yin akan terbunuh di tempat. Yuan sangat kejam dan tak ada perasaan jika menghadapi orang seperti Fan Yin. Ia bersabar karena Mey Yui.
“Sayang, maafkan! Harusnya kamu tadi mendapatkan anting yang kamu suka. Gara-gara ****** umum yang mengganggu kamu tak mendapatkannya,” ucap Yuan
“Kak, tidak masalah. Aku juga biasa saja, jika tidak bisa mendapatkan anting itu. Tidak semua apa yang kita inginkan bisa kita miliki,” jawab Mey Yui
“Kamu memang yang terbaik, sayang. Mari kita melihat jembatan di danau cinta,” ajak Yuan
“Dari mana kamu mengetahui tempat itu, kak? Aku baru mendengarnya,” tanya Mey Yui.
“Aku sudah lama mendengarnya saat aku berkelana, namun aku belum pernah ke sana. Menurut cerita orang jika kita pergi menyeberangi jembatan itu dengan kekasih kita, maka pasangan tersebut tidak akan terpisahkan. Meski banyak cobaan yang harus di hadapi pasangan tersebut.”
“Itulah mengapa aku belum pernah pergi ke sana, karena aku belum memilik kekasih yang bisa aku ajak pergi menyeberangi jembatan tersebut,” jelas Yuan.
Mey Yui senang dengan penjelasan Yuan yang mengatakan belum pernah pergi ke jembatan tersebut.
“Itu berarti aku orang pertama yang kakak ajak?” tanya Mey Yui malu-malu.
Yuan meletakkan tangan Mey yui di dadanya dan berkata, “kamu adalah orang pertama yang menjadi kekasihku dan orang pertama yang aku ajak pergi ke jembatan itu. Apakah kamu mempercayaiku?”
Mey Yui tersipu malu dan mengangguk, tiba-tiba Yuan membopong Mey Yui dan melesat meninggalkan ibukota. Mereka menuju ke jembatan danau cinta.