Kezia Story

Kezia Story
BAB 35



Mereka meninggalkan tempat tersebut untuk menuju ke kamar Mey Yui, sesampainya di depan kamar Mey Yui mereka tak langsung masuk ke dalam kamar karena Yuan bersama mereka. Pintu diketuk oleh A Sen dan memanggil Mey Yui.


“Sayangku… Cintaku, My bebeb… Buka in pintunya dunk! Kakak-kakakmu yang ganteng sudah di depan pintu kamarmu, jangan marah lagi, ya..” teriak A Sen sambil mengetuk pintu kamar Mey Yui.


Di dalam kamar Mey Yui sedang rebahan di tempat tidur, mendengus dan bangkit dari tempat tidur untuk membukakan pintu kedua kakaknya.


“Bisa nggak sih! Kalian nggak mengganggu kesenangan dan kenyamanan dedek imut, sangat menyebalkan sekali,” omelnya dari dalam kamar sambil membuka pintunya sedikit, ia sengaja hanya mengeluarkan kepalanya di balik pintu.


Pintu dibuka oleh Mey Yui dan tidak menyadari jika ada pria yang membuat jantungnya dangdut-tan. Ia masih menggerutu saat melihat tampang sok imut dari A Sen.


“Dasar sok kecakepan! Percuma pasang wajah sok cakep nggak bakalan ngefek sama aku,” ucap Mey Yui membuka lebar pintunya agar kedua kakaknya bisa masuk.


Mey Yui terkejut saat melihat sosok pria bertopeng bersama kakaknya.


“Drama apa lagi yang mereka mainkan,” batinnya.


Ia segera menyembunyikan perasaannya dan kembali cuek meninggalkan mereka yang masih di depan pintu.


Para pria segera masuk ke dalam kamar, tanpa disuruh mereka langsung duduk. Mey Yui menatap kedua kakaknya dan mengerutkan dahinya minta penjelasan.


“Mey Yui.. Kenalkan ini Yuan, dia sedang mencari obat penawar racun ular hitam bermata merah. Kami pikir kamu bisa membantunya, maka dari itu aku mengajaknya ke sini untuk bertemu denganmu,” jelas Ming Se sambil menoleh ke Yuan memberi kode agar memperkenalkan diri kepada adiknya.


“Maafkan saya sebelumnya telah mengganggu waktu istirahat nona Mey Yui, saya Yuan berasal dari kota yang berada di wilayah kerajaan Li. Seperti yang dijelaskan oleh kakak anda, saya sedang mencari obat penawar racun,” Yuan memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud dan tujuannya


Mey Yui merasa tidak enak dengan Yuan karena perkataan yang dia lontarkan saat akan membukakan pintu, pasti terdengar oleh Yuan.


“Maafkan saya juga tuan Yuan, karena perkataan saya tadi tidak sopan. Saya pikir kedua kakak saya yang datang dan saya tidak mengetahui jika tuan Yuan ada bersama mereka,” balas Mey Yui dengan sopan.


“Mengenai penawar racun yang sedang tuan Yuan cari, mungkin saya bisa membantu. Namun saya belum yakin apakah bisa membantu tuan Yuan untuk membuat ramuan tersebut,” jelasnya kepada Yuan, ia masih belum yakin bisa membuat penawar itu atau tidak.


“Saya sangat berterima kasih karena nona Mey Yui telah berbaik hati mau membantu saya,” balas Yuan dengan sopan.


“Kalian berbicaralah dengan santai jangan terlalu sopan, Mey Yui adalah adikku dan kamu adalah temanku, rasanya tidak enak di dengar jika kalian menggunakan bahasa yang terlalu sopan. Anggaplah Mey Yui adik kamu juga, biar kalian lebih dekat dan tidak ada rasa canggung,” ucap Ming Se kepada Yuan.


“Betul…! Apalagi kalian ke depannya akan sering berhubungan untuk mendapatkan penawar racun. Jika kalian terlalu sopan akan canggung dan tidak nyaman,” sahut A Sen.


“Baiklah…! aku harap Mey yui tidak keberatan dengan saran kedua kakakmu. Benar kata mereka, jika kita terlalu sopan pasti akan canggung,” ucap Yuan pada Mey Yui.


Mey Yui yang terdiam langsung tersentak saat Yuan mengajaknya bicara.


“Oh.. terserah kalian saja,” balasnya.


Ming se memberi kode kepada A Sen agar mereka memberi kesempatan kepada berdua agar lebih dekat. A Sen yang langsung paham, menarik sudut bibirnya samar.


“Kalian berbincanglah! Kami akan keluar beberapa hari! Aku titipkan Mey Yui kepadamu, jaga dia saat kami pergi,” ucap A Sen kepada Yuan.


Mey Yui mengerutkan dahinya, menebak arah drama kedua kakaknya namun dia tidak ambil pusing karena dalam benaknya hanya ingin membantu membuat penawar racun. Jika dia berhasil membuat penawar racun tersebut ia akan mendapatkan keuntungan baru.


“Kami pergi dulu, aku percayakan adikku padamu,” pamit Ming Se sambil menepuk bahu Yuan.


“Jangan kuatir aku akan menjaga Mey Yui walau mempertaruhkan nyawaku,” balas Yuan.


Mendengar ucapan Yuan, jiwa usil A Sen meronta, ia menyeringai kepada Mey Yui.


“Dasar kadal buntung, jelas saja kamu akan melindungi Mey Yui. Kamu pikir aku tidak tahu jika kamu ada perasaan pada Mey Yui! Cinta pada pandangan pertama,” ucap A Sen dalam hati, ia tidak mau merusak rencana Ming Se untuk mendekatkan Mey Yui pada Yuan. Agar bisa mengalihkan pikiran Mey Yui pada Ardi.


Ming Se dan A Sen meninggalkan kamar adiknya untuk mencari informasi mengenai mantan perdana menteri dan pengikutnya,


Mereka membagi tugas agar lebih cepat dan akan menghubungi orang-orangnya yang setia. Ming Se memiliki pasukan bayangan dan mata-mata yang tersebar di seluruh wilayah di kerajaan Tang.


Sementara di kamar Mey Yui mereka mulai mendiskusikan penawar racun yang akan dibuat oleh Mey Yui.


“Kak Mey Yui, Yuyu merasakan ada aura naga emas ada pada diri pria itu namun auranya sangat lemah sepertinya ia sedang terluka,” tiba-tiba Yuyu berbicara dan hanya terdengar oleh Mey Yui.


“Aku akan mencoba untuk bertanya pada kak Yuan, mungkin yang membutuhkan penawar racun itu adalah naga emas,” jawab Mey Yui kepada Yuyu melalui gelombang pikirannya.


“Kak Yuan kalo boleh bisakah kakak menceritakan siapa yang terkena racun ular hitam bermata merah,” tanya Mey Yui pelan-pelan takut Yuan salah paham.


Meskipun Yuan baru bertemu dan kenal dengan Mey Yui tanpa ragu dan menaruh rasa curiga atau waspada sedikit pun, ia menceritakan kepada Mey Yui tanpa harus disembunyikan.


“Sebenarnya yang terkena racun ular itu adalah seekor naga yang aku tolong, awal ceritanya ketika aku mencari bunga Teratai hitam yang akan digunakan untuk mengobati ibuku yang berada di kolam naga."


"Saat aku sampai di kolam naga, aku melihat pertarungan sengit antara naga tersebut dengan ular hitam bermata merah. Dengan licik naga penjaga itu dapat dilukai oleh ular hitam, di saat kritis aku membatu naga penjaga itu. Namun naga penjaga terluka parah dan terkena racun,” Yuan menceritakan semua kepada Mey Yui.


“Lalu di mana naga penjaga itu berada?” tanya Mey Yui


“Aku menaruh naga penjaga di ruang dimensi yang aku miliki,” jawab Yuan tanpa ragu dengan mengatakan jika ia memiliki ruang dimensi, tidak seharusnya pemilik ruang dimensi menceritakan kepada orang yang baru ia kenal.


“Kak Yuan memiliki ruang dimensi? Apakah kakak tidak takut jika aku berniat jahat karena mengetahui kakak memiliki ruang dimensi?” tanya Mey Yui


“Aku tidak akan takut padamu jika kamu berniat jahat,” balas Yuan


Mey Yui mengerutkan dahi mendengar jawaban Yuan.


“Kenapa kak Yuan tidak takut?” tanya Mey Yui lagi.


“Kak Yuan akan mengajakku ke ruang dimensi untuk melihat kondisi naga itu,”tanya Mey Yui


“Tidak hanya untuk melihat naga itu saja, aku ingin kau selalu menemaniku di ruang dimensi atau di mana pun aku berada. aku ingin selalu bersamamu,” jawab Yuan dengan menatap mata Mey Yui dengan tatapan penuh cinta.


Mey Yui sangat terkejut mendengar ucapan Yuan, ia tak bisa berkata apa-apa. Di hatinya masih terukir indah dengan nama Ardi yang tak bisa di hapus oleh siapa pun.


“Hhhmm.. kak! Boleh aku melihat kondisi naga itu?” tanya Mey Yui tanpa merespon ucapan Yuan dan mengalihkan pembicaraan.


Yuan menghela napas panjang, ia menyadari bahwa dirinya terlalu terburu-buru menyatakan perasaannya. Bahkan ia sendiri belum yakin dengan perasaannya yang sebenarnya. Hatinya telah memiliki orang yang sangat ia cintai.


“Baiklah! Aku akan mengajakmu ke ruang dimensiku dan abaikan saja apa yang telah aku ucapkan. Anggap saja aku tidak pernah mengucapkan padamu,” ucap Yuan.


Deg…!


“Kenapa hatiku sangat sakit saat kak Yuan memintaku untuk mengabaikan ucapannya,” ucap Mey Yui dalam hati.


“Mari, kaka,” ucap Mey Yui.


Sebelum mereka meninggalkan dunia nyata, Yuan memasang array pelindung di kamar Mey Yui agar tidak ada yang mengganggu.


Mereka menghilang dari kamar dan masuk ke dalam ruang dimensi Yuan.


“Ruang dimensi kak Yuan lebih besar dari ruang dimensiku dan itu bangunannya sangat bagus dan megah,” batin Mey Yui.


“Di mana naga itu berada, kak?” tanya Mey Yui.


Yuan mengerutkan dahi dan merasa aneh dengan Mey Yui yang tidak terkejut atau kagum dengan ruang dimensinya. Tidak seperti orang yang baru pertama masuk ke dalam ruang dimensi.


“Kenapa Mey Yui tidak terkejut atau kaget dan merasa aneh saat berada di ruang dimensi? apakah sebelumnya dia sudah pernah memasuki ruang dimensi? Menarik! Aku akan menunggumu untuk jujur padaku,” batinnya sambil menarik bibirnya samar.


“Mungkin dia sedang bermeditasi, aku akan memanggilnya,” ucap Yuan.


Namun belum saja ia memanggil tiba-tiba naga penaga telah datang di hadapannya.


“Tuan sudah datang! Siapakah gadis cantik yang bersamamu, ini? Kenapa aku merasakan ada aura yang sangat akrab denganku,” ucap naga itu.


“Gadis ini dia yang akan membantu menawarkan racun yang bersarang pada tubuhmu,” jelas Yuan kepada naga penjaga.


“Gadis cantik siapakah namamu? Apakah kamu bisa membantuku untuk menawarkan racun ular sialan itu?” tanya sang naga.


“Namaku Mey Yui dan aku akan berusaha untuk membuat penawar racun ular hitam namun aku tidak bisa menjanjikan kepadamu hasil yang sempurna,” jawaban Mey Yui.


“Aku percaya kepadamu gadis cantik,” jawab sang naga.


“Apakah aku boleh memeriksamu?” tanya Mey Yui.


“Periksa saja,” jawab naga.


Mey yui akan melangkahkan kakinya untuk mendekat kepada naga penjaga itu, tiba-tiba suara yuyu terdengar.


“Kak Mey Yui, naga itu adalah temanku. Ribuan tahun yang lalu kami selalu bersama, kakak bisa membuat penawar racun si ular jelek itu,” ucap Yuyu.


Kak, bawalah naga emas di ruang dimensi kakak agar bisa mempercepat kesembuhannya,” ucap yuyu lagi.


“Baiklah, aku akan memeriksanya terlebih dulu,” jawab Mey Yui.


Mey Yui mendekati naga dan mulai memeriksa keadaannya, sementara Yuan hanya diam dan memperhatikan.


“Hhhmm…”


Mey Yui bersuara memecahkan keheningan.


“Kak Yuan… bolehkan aku membawa naga ini ke tempatku agar aku bisa fokus dalam pembuatan pil penawar racun?” tanya Mey Yui?


Yuan mengerutkan dahinya mendengar Mey Yui akan membawa naga penjaga ke tempatnya.


“Ke mana kamu akan membawa naga yang sedang terluka parah,” tanya Yuan yang penasaran.


“Hhhmm… Kak Yuan…! Sebenarnya aku juga memiliki ruang dimensi,” ucap Mey Yui dengan malu-malu.


“Aku sudah menduga, kamu tidak merasa terkejut mendengar dan ketika berada di ruang dimensiku. Apakah mungkin arfek ruang dimensi kita terhubung. Karena aku merasakan suatu perasaan yang tidak asing,” ucap Yuan yang merasa bahwa suatu perasaan yang ada pada dirinya mungkin ada kaitan dengan ruang dimensi,


“Mungkin saja, kak! Aku juga tidak tahu, kak,” jawab Mey Yui.


Yuan menganggukkan kepalanya tanda setuju


“Bolehkah aku ikut ke ruang dimensi mu,” tanya Yuan


“Boleh, kak! Tapi sebelumnya aku minta tolong kakak untuk membawaku keluar dari ruang dimensi milik kak Yuan. Aku ingin membeli sesuatu terlebih dulu,” ucap Mey Yui.


“Baiklah, mari kita keluar,” jawab Yuan.


Mereka pun meninggalkan ruang dimensi Yuan dan kembali ke dunia nyata di dalam kamar Mey Yui.