Kezia Story

Kezia Story
BAB 61



Jenderal Jun Ho hanya diam di halaman rumahnya, ia teringat saat- saat indah bersama istrinya ketika pertama kali datang di kediamannya. Xio Lan sangat bahagia bisa di lihat dari pancaran wajahnya.


Sementara Mey Yui berada di atas pohon, ia menyaksikan ayahnya yang sedang mengusap air matanya. Perasaannya sangat sakit dan sedih sekali, mungkin perasaan asli dari Mey Yui. Tanpa terasa ia meneteskan air matanya yang keluar begitu saja.


“Siapa itu! Teriak Jun Ho yang telah sadar dan kewaspadaannya sangat tinggi. Ia merasakan ada seseorang memperhatikannya.


“Aduh.. aku ketahuan ayah, jangan sampai ayah menemukanku. Aku harus cepat-cepat pergi dari sini, ayah bukanlah lawanku. Aku tak bisa merasakan kultivasi ayah,” batinnya.


Mey Yui hendak pergi meninggalkan tempat persembunyiannya. Namun terlambat jenderal Jun Ho sudah menemukannya. Sesuai dengan julukannya jenderal besar, dengan mudah menemukan seseorang yang dianggap musuhnya.


“Berhenti! Jika kau tidak ingin mati! Katakan siapa dirimu dan apa tujuanmu mengintai rumahku,” bentak Jun Ho


“Kabur apa gak ya.. bahaya ini.. jika aku kabur ayah pasti akan menyerangku tanpa ampun,” batinnya.


“Cepat katakan! Aku bukan orang yang sabar menunggumu berbicara!” bentak Jun Ho lagi.


Mau gak mau Mey Yui berhenti dan menoleh ke arah Jun Ho. Mata mereka saling bertatap, Jun Ho terkejut saat melihat bola mata Mey Yui.


Jun Ho sangat mengenal bola mata yang sama seperti istrinya, bola mata yang di miliki oleh putrinya.


“Putriku Yui’er! Kau kah itu?” tanya Jun Ho dengan berkaca-kaca.


Perasaan Mey Yui tak bisa diungkapkan, antara senang, sedih, terluka. Ia meneteskan air matanya dan hanya menganggukkan kepalanya.


Jun Ho langsung memeluk putri kesayangannya dan matanya merah menahan air matanya agar jangan sampai jatuh.


“Maafkan ayah, sayang! Maafkan ayah!” ucap Jun Ho terbata-bata menahan isak tangisnya.


Mey Yui hanya menganggukkan kepalanya dan menangis di pelukan ayahnya.


“Jangan menangis lagi, sayang! Hati ayah sangat sakit jika melihat putri ayah menangis. Semua salah ayah yang tidak bisa melindungi kalian berdua. Ayah sudah gagal menjadi seorang ayah yang baik,” ucap Jun Ho.


“Maafkan putrimu ini, ayah! Sebagai putri yang tidak berguna dan tidak berbakti kepada ayah,” balas Mey Yui dengan terbata-bata karena tangisnya yang tak bisa di hentikan.


Dada Mey Yui terasa sesak, namun setelah ia bisa berbicara dengan ayahnya rasa sakit di dadanya berangsur-angsur menghilang.


Jun Ho menghapus air mata putrinya, dan mengelus-elus rambut putrinya.


“Putri ayah sekarang sudah besar, ayo kita mencari tempat untuk berbicara dan jangan sampai ada orang lain yang mendengar pembicaraan antara ayah dan putrinya,” ajak Jun Ho.


“Ayah lebih baik ke tempat Yui’er saja, di sana akan lebih aman,” jawab Mey Yui.


Jun Ho hanya mengangguk dan mengikuti putrinya.


Sesampainya di gubuk reyot, tempat selama beberapa tahun yang telah di tinggali oleh Mey Yui. Hati Jun Ho seperti di tikam melihat kondisi tempat tersebut.


Sebelumnya ia pernah melihat dari kejauhan dan tidak mengetahui dengan jelas. Setelah ia mengetahui kondisi rumah yang di tempati putri, hatinya sangat sakit.


“Maafkan ayah, sayang! Ayah terlambat mengetahui penderitaanmu selama ini. Mulai besuk kamu harus pindah ke kediaman lamamu.” ucap Jun Ho.


Pertahanan Jun Ho akhirnya runtuh juga, ia mengeluarkan air matanya dan memeluk putrinya. Rasa bersalah yang teramat besar menusuk hatinya.


“Ayah.. jangan merasa bersalah, Yui’er tidak apa-apa. Akan lebih baik Yui’er sementara tinggal di sini dulu, sekarang ada yang lebih penting yang ingin Yui’er sampaikan kepada ayah,” ucap Mey Yui.


“Katakanlah pada ayah, sayang! Apa pun yang kamu inginkan, akan ayah berikan,” jawab Jun Ho.


“Ayah jangan kuatir dengan kak Ming Se, Yui’er telah bertemu dengan kak Ming Se. Saat ini kak Ming dalam keadaan sehat dan sedang menjalankan rencananya. Tapi ayah tetap seperti biasa, seperti tidak mengetahui kondisi kakak,” ucap Mey Yui.


“Benarkah itu, putriku?” tanya Jun Ho senang.


“Benar, ayah!” jawab Mey Yui.


“Lalu bagaimana bisa kalian bertemu?” tanya Jun Ho penasaran dan penuh selidik.


“Saat itu Yui’er menemukan kakak dan kak A Sen di gua yang berada di hutan bambu dalam keadaan terluka dan Yui’er telah menolong mereka,” jelas Mey Yui.


“Mereka terluka? Apakah kau mengetahui siapa yang telah menyerang kakakmu?” tanya Jun Ho.


Mey Yui lalu mengangguk dan menceritakan semua kejadian yang menimpa Ming Se dan A Sen. Penyergapan di lakukan oleh perdana menteri tua. Dan selir Chu ming di perintahkan oleh ayahnya untuk membunuh Ming Se jika di kediaman.


“Dasar tua b*ngka! Masih saja membuat ulah! Kapan kakakmu kembali?” tanya Jun Ho


“Yui’er tidak tahu, ayah!” jawab Mey Yui.


Jun Ho menghela napas panjang dan mengangguk kemudian memegang kedua tangan putri kecilnya. Ia selalu menganggap Mey Yui adalah putri kecilnya.


“Ayah.. bolehkah Yui’er meminta sesuatu?” ucap Mey Yui dengan hati-hati.


“Katakanlah! Ayah akan mengabulkan keinginanmu,” jawab Jun Ho dengan tegas.


“Ayah... bolehkah Yui’er membatalkan pertunanganku dengan putra mahkota?” tanya Mey Yui pelan.


“Jika kamu menginginkan pertunanganmu di batalkan, besuk ayah akan ke istana untuk membatalkan pertunanganmu!” Ucap Jun Ho dengan tegas.


“Kenapa seperti itu? Kamu jangan membahayakan dirimu sendiri, kebahagiaan putri ayah yang paling utama,” jawab Jun Ho


“Ayah tak perlu kuatir, karena kami sudah mempersiapkan semuanya dengan matang” ucap Mey Yui.


“Baiklah! Ayah akan mengikuti apa mau kalian berdua. Jika masalah sudah bisa kita selesaikan, ayah ingin memberitahu sesuatu kepada kalian berdua!” balas Jun Ho.


“Ya, yah...!” balas Mey Yui.


Saat mereka bercerita dan mengungkapkan seluruh perasaan antara ayah dan anak. Tiba-tiba mereka di kagetkan oleh bayangan hitam melesat menyusup masuk menghampiri mereka.


“Siapa kau! Berani sekali memasuki tempat putriku!” bentak Jun Ho dan bersiap menyerang penyusup tersebut.


“Tahan, ayah! Jangan menyerangnya!” teriak Mey Yui yang sangat kuatir dan ketakutan jika ayah dan kekasihnya saling serang.


“Maafkan saya yang telah lancang dan tidak sopan memasuki kediaman putrimu, tuan Jun Ho!” ucap Yuan sambil membungkuk memberi hormat.


Ternyata yang menyusup di tempat Mey Yui adalah Yuan.


“Putriku... apakah kamu mengenal pemuda bertopeng ini?” tanya Jun Ho penuh selidik.


Mey Yui menganggukkan kepalanya dan berkata,” dia Yuan kekasih Yui’er” jawab Mey Yui.


Jun Ho menghela napas panjang dan kemudian mengelus rambut Mey Yui.


“Apakah karena dia? Sehingga kamu ingin memutuskan pertunanganmu dengan putra mahkota?” tanya Jun Ho dengan lembut, ia berharap putrinya mendapatkan kebahagiaan.


“Awalnya Yui’er ingin memutuskan perjodohan ini karena kami tidak saling mencintai. Putra mahkota sangat membenci Yui’er, ayah. Untuk apa di paksakan, kemudian Yui’er bertemu dengan Yuan dan kami saling jatuh cinta. Semakin kuat keinginan Yui’er untuk memutuskan pertunangan ini, ayah!” jawab Mey Yui.


“Apa pun yang kau inginkan, sayang! Ayah akan mengabulkannya asal kau bahagia” Balas Jun Ho


Kemudian Jun Ho melihat ke arah Yuan penuh selidik.


“Katakanlah siapa kau sebenarnya? Aku akan membunuhmu jika dengan sengaja mempermainkan putriku. Putriku selama ini sudah sangat menderita. Jika kau mencintai putriku dengan tulus, aku akan merestui hubungan kalian,” ucap Jun Ho dengan tegas.


“Terima kasih tuan Jun Ho, telah merestui kami! Nama saya adalah Li Yuan putra mahkota kerajaan Li. Saya sangat mencintai putri tuan dan aku tidak bisa menjanjikan untuk tidak membuatnya menangis. Namun saya berjanji pada tuan jika tangisan Mey Yui hanyalah tangisan kebahagiaan,” jawab Yuan dengan tegas.


“Apakah putriku mengetahui jati dirimu yang sebenarnya?” tanya Jun Ho.


“Mey Yui sudah mengetahuinya, di antara kami tidak ada yang di sembunyikan. Kami sudah berjanji untuk saling berkomunikasi dengan baik. Karena suatu hubungan jika tidak ada komunikasi yang baik bisa dengan mudah berpisah atau di hancurkan oleh orang lain,” jawab Yuan


“Apakah benar itu, nak?” tanya Jun Ho kepada anaknya.


Mey Yui hanya mengangguk membenarkan ucapan dari Yuan.


“Lalu apa tujuanmu datang ke kamar seorang gadis malam-malam!” tanya Jun Ho.


Yuan berasa diinterogasi karena ke tangkap calon mertua.


“Maafkan saya, tuan. Kedatangan saya malam-malam ingin menyampaikan berita yang baru saya terima dan sekaligus berpamitan kepada Yui’er,” jawab Yuan.


Jun Ho mengangguk dan memaklumi kedatangan Yuan ke tempat putrinya di malam hari


“Apa yang telah terjadi, kak Yuan?” tanya Mey Yui dengan cemas.


“Maafkan aku, sayang! Ada masalah di kerajaan Li dan aku harus segera kembali ke kerajaan Li,” jelas Yuan.


“Apakah masalahnya sangat serius, kak?” tanya Mey Yui lagi.


“Aku juga belum mengetahui, di dalam surat tidak di jelaskan,” balas Yuan.


“Biarkan dia kembali ke kerajaannya, sayang. Karena tanggung jawab sebagai putra mahkota sangat berat. Dia harus segera menyelesaikan masalah di kerajaannya,” ucap Jun Ho kepada Mey Yui.


Jun Ho menghela napas dan berdiri, ia akan meninggalkan dan memberi ruang untuk kedua insan yang akan berpisah.


“Kalian bicaralah, ayah akan kembali untuk beristirahat,” ucap Jun Ho sambil berjalan meninggalkan mereka berdua.


SeTelah kepergian Jun Ho, Yuan menarik tangan Mey Yui dan menyentakkan tubuhnya ke dalam pelukannya.


“Maafkan aku, sayang! Aku harus cepat kembali ke kerajaan Li. Jangan menangis ya.. kamu harus mengerti jika kita akan berpisah untuk sementara waktu. Aku akan memberimu kabar, setelah semuanya beres! Aku akan menjemputmu,” ucap Yuan sambil mengecup dahi kekasihnya.


“Pergilah, kak! Aku akan setia menunggumu. Dan jangan lupa memberiku kabar padaku,” balas Mey Yui.


“Besuk aku akan mengirim 5 pengawal untuk menjagamu dan mereka bisa kamu atur sebagai pelayan atau apa terserah kamu. Yang penting mereka harus selalu di sisimu. Mereka semua seorang gadis,” ucap Yuan.


“Aku tidak memerlukan itu, kak! Akan sangat merepotkanku,” tolak Mey Yui.


“Tidak ada penolakan! Menurutlah semua demi kebaikanmu selama aku tidak ada di sini!” ucap Yuan kemudian mengecup bibir kekasihnya.


Mey Yui hanya menyetujui apa yang telah diatur oleh Yuan. Setelah berpamitan Yuan dan meninggalkan kecupan di bibir Mey Yui, ia melesat pergi untuk kembali ke kerajaan Li.