
Di ruang dimensi nampak Lie Mey Yui dan Lie Ming Se sendang berbagi cerita saat mereka mengalami kecelakaan dan terbangun sudah berada zaman kuno hingga ia menyembuhkan Ming Se dan pengawal setianya.
“Kak, kapan kamu akan memperbaiki datian dan meridian mu?” tanya Mey Yui
“Setelah A Sen siuman, akan lebih baik jika dia juga ikut serta. Kondisi A Sen sangat memprihatinkan, dia rela mengorbankan nyawanya untuk kakak,” jawab Ming Se.
“Jika itu sudah menjadi keputusan kakak, aku hanya bisa mendukung” balas Mey Yui
“ Makasih, sayang! Beruntung aku memiliki adik sepertimu, kamu selalu mendukung apapun yang menjadi keputusanku. Bersyukur di sini, kita bisa berkumpul kembali.”
“Aku juga beruntung memiliki kakak yang baik dan sayang padaku,” Mey Yui memeluk Ming Se dengan kasih sayang.
“Mey, kakak ingin melihat kondisi A Sen. Sudah lama kita meninggalkannya sendiri di dalam gua,” kata Ming Se.
‘Ayo, kak! kita melihat kondisi A Sen, kalo dia sadar dan tidak menemukanmu pasti akan kebingungan,” ajak Mey Yui sambil menggandeng tangan Ming Se, keluar dari ruang dimensi.
Mereka sudah berada di dalam gua, tempat A Sen yang masih belum sadar setelah diobati oleh Mey Yui.
“Kenapa A Sen belum sadar dari komanya?’ tanya Ming Se.
“Meski racun sudah dikeluarkan namun luka dalamnya dan luka luarnya sangat parah,kak,” jawab Mey Yui.
“Kasihan sekali dia pasti sangat menderita, semoga cepat sadar. Dia sangat setia terhadap tuannya, aku jadi ingat sahabat-sahabatku,” kata Ming Se dengan mata merah menahan tangis kerinduan terhadap para sahabatnya.
“Kalo di lihat-lihat A Sen kok mirip sama Yoseph, ya kak?” seru Mey Yui sambil mengecek kondisi A Sen.
“Benar juga katamu, A Sen mirip Yoseph jika rambutnya dipotong pendek. Jangan-jangan ini Yoseph di masa lalu,” kata Ming Se sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
“Kakak jangan halu, masa semua orang-orang yang kita sayangi pada pindah ke jaman jadul,” dengan terkekek Mey Yui mematahkan imajinasi kakaknya.
“La siapa yang tahu, buktinya kamu dan aku terdampar di sini, beruntung kita cepat bertemu kembali. Bagaimana kalo harus menunggu lama atau bahkan kita tidak pernah bertemu sama sekali. Padahal kita di satu zaman yang sama,” jelas Ming Se.
“Benar juga,ya kak! kita tidak tahu rahasia apa yang telah terjadi. Kita kecelakaan saat pulang dari pantai, papa dan mama meninggal begitu juga denganku. Kondisi kakak masih koma dan tidak tahu sekarang bagaimana, tapi yang kita tahu saat ini, kita sudah berkumpul bersama,” balas Mey Yui.
“Kalau boleh meminta, meski di zaman modern kita berpisah tapi kita bisa berkumpul kembali di jaman kuno ini tidak masalah,” kata Ming Se.
“Iya,kak! aku ingin berkumpul dengan papa,mama, dan orang-orang yang kita sayangi meskipun mereka menempati tubuh orang yang tidak ada hubungan darah sama kita,” ucap Ming Yui.
“Kita kok jadi halu! Kamu tadi cek kondisi A Sen, apa sudah aman?” tanya Ming Se.
“Sudah baik,kak. Racun sudah keluar, harusnya tak lama lagi ia sadar,” Jawab Mey yui.
“ Kita tunggu saja,” jawab Ming Se.
Tanpa mereka sadari, A Sen sudah sadar setelah Mey Yui mengecek kondisinya. Dia hanya terdiam mendengarkan semua pembicaraan kakak beradik, ia mendengar Ming Se menyebut nama Yoseph.
Namun ia hanya diam dan berpikir dan ia tidak menemukan jawaban yang diinginkan.
A Sen merasa gelisah, Ming Se dan Mey Yui menyadari adanya pergerakan pada A sen. Mereka menoleh ke arah tubuh A Sen seperti tidak nyaman, mereka langsung menghampiri A sen.
Mey Yui mengecek nadinya sambil duduk di lempengan batu tempat tidur A Sen, tiba-tiba tangannya dihempaskan oleh A Sen.
“Siapa kamu?” hardiknya.
Melihat A Sen marah, Ming Se mendekat dan berkata, “ Dia adalah adik perempuanku, dialah yang menolong kita.”
Ming Se dan Mey Yui saling tatap, dalam benak mereka berpikir yang aneh-aneh.
“Wes tambah lagi orang amnesia, bikin kepalaku pusing. Harus jelasin siapa, dimana, kenapa, mengapa, lawan orang hilang ingatan bisa darah tinggi. Biar kak ming Se saja yang jelasin, sudah cukup aku jelasin dan cerita sama kak Ming Se kalo suruh ngulang lagi bisa ruwet,” kata Mey Yui dalam hati.
“Jangan-jangan A Sen seperti aku, jiwa modern nyasar ke jaman kuno,” pikir Ming Se.
“Aku adalah Lie Ming Se jenderal muda dari kerajaan Tang dan kamu adalah A Sen pegawal setiaku,” Ming Se berusaha menjelaskan.
Dahi A Sen berkerut dan sudut bibirnya tersenyum sinis sambil memandang mereka berdua.
“Hahaha… ! kalian sekarang pintar berbohong,ya!” kata A Sen sambil tertawa dan mencoba bangun.
Ming Se dan Mey Yui bingung dan heran dengan perkataan A Sen, mereka pikir A Sen mulai kurang waras akibat luka di kepalanya.
“Kak, sepertinya A Sen kurang waras,” kata Miey Yui sambil mengkode tangan di taruh di dahinya tanda kode orang miring alias gila.
Ming Se melihat kode adiknya, ia pun tertawa ngakak. Ia ingat keusilan adiknya pada saat mereka di era modern.
“Sialan kalian berdua! Kamu pikir aku gila! atau konslet?” teriak A Sen.
Ming Se dan Mey Yui yang mendengar protes dari A Sen, langsung tertawa ngakak.
“Hahahaha…”
“Kak Ming Se, dia tahu kode orang gila! jangan-jangan dia juga terdampar seperti kita,” kata Mey Yui.
“Mungkin saja, tapi kita tak tahu juga,” jawab Ming Se.
“Apa yang kalian katakan? kalian sekongkol ngerjain aku,” dengan dongkol A sen memiting leher Ming Se.
Ming Se dan Mey Yui terkejut melihat aksi A Sen, yang seperti kelakuan sahabat-sahabat kakaknya jika mereka bercanda.
Mey Yui menangis melihat mereka saling memiting, Ming Se menyadari adiknya menangis langsung berusaha melepas tangan A Sen. Dan meraih tangan mey yui dan memeluknya, A sen tertegun melihat hal itu.
Ia masih belum paham dengan apa yang terjadi, pikirannya seperti benang yang ruwet.
Tiba-tiba kepalanya sakit rasanya mau pecah.
Aaarrrrggghhh….
A Sen berteriak sambil memegang kepalanya dan kemudian jatuh pingsan,
Ming se segera menolong A sen, ia menggendongnya di bawa ke batu tempat tidurnya.
Mey Yui sedikit panik dan segera memeriksa nadinya, ia takut terjadi sesuatu dengan A Sen.
“Yuyu, keluarlah! Aku butuh bantuanmu,” Mey Yui memanggil Yuyu karena kuatir dengan kondisi A Sen.
Sementara Ming Se hanya diam dan kuatir, meskipun tidak nampak di wajahnya tapi ia sangat mengkhawatir kondisi A Sen.
Tiba-tiba jatuh pingsan setelah mereka salimg memiting. Ia kuatir ada kesalahan saat dirinya memiting leher A Sen. Rasa bersalah terhadap A Sen membuatnya tak bisa berkata apapun.