Kezia Story

Kezia Story
BAB 63



Setelah selesai sarapan bersama putrinya, Jun Ho penasaran siapa yang ingin bertemu dengan putrinya di pagi hari.


“Yui’er... siapa yang datang?” Tanya Jun Ho.


“Orang suruhannya kak Yuan, ayah. Sebelum pergi, kak Yuan menyuruh bawahannya untuk menemani Yui’er” jawab Mey Yui.


“Bagus jika Yuan menyuruh bawahannya untuk menemanimu. Ayah pikir mereka bukan orang sembarangan yang di kirim ke sini. Ayah sedikit lebih lega jika kamu ada yang menjaga.”


“Karena ayah tidak bisa setiap saat menemani, jika ada orang-orang yang kuat menjagamu akan lebih baik. Nanti ayah akan mengirim pengawal bayangan yang akan menjagamu,” ucap Jun Ho.


“Ayah tidak perlu mengkhawatirkan Yui’er, orang yang di kirim ke sinj ada lima,” balas Mey Yui.


“Lima orang? Yuan sangat mencintaimu, semoga kalian selalu diberi kebahagiaan!” ucap Jun Ho.


“Sebenarnya Yui’er sudah menolaknya, Yui’er jadi repot tidak bisa bebas. Namun kak Yuan tidak menerima penolakan,” ucap Mey Yui dengan cemberut


“Hahaha.... Bagus.. bagus.. ayah senang memiliki calon menantu sepertinya. Kamu tidak akan bisa nakal lagi, suka menyusup malam-malam,” goda Jun Ho.


“Ayah.. Yui’er menyusup karena ingin mengetahui apa yang akan di lakukan oleh selir Chu Min. Dan ternyata benar dugaan Yui’er, selir Chu Min akan memberikan obat perangsang buat ayah,” balas Mey Yui kemudian ia tersenyum.


“Putri ayah sudah besar dan mulai nakal,ya! Jadi kami yang memberi catatan kecil di meja kerja ayah?” ucap Jun Ho sambil mengusap kepala putrinya.


Mey Yui hanya mengangguk dan tertawa, ia ingin sekali mengusili ayahnya. Jun Ho yang mengetahui gelagat putrinya yang mau menggodanya, lalu ia menghindar dengan mengingatkan putrinya yang sedang di tunggu bawahan Yuan.


“Yui’er... Cepat temui orang-orang yang dikirim oleh Yuan, jangan sampai mereka menunggu lama” ucap Jun Ho.


“Oh iya.. Yui’er sampai lupa. Ayo, yah.. kita temui mereka,” ajak Mey Yui.


Mereka berdua keluar untuk menemui kelima orang tersebut.


“Nona... mereka yang ingin bertemu,” ucap Phu-phu kepada Mey Yui.


“Salam hormat kami, nona Mey Yui!” ucap kelima gadis muda yang di kirim oleh Yuan sambil menundukkan badan.


Mey Yui yang tidak biasa di beri penghormatan sedikit risi. Dan mengode Phu-phu.


“Kalian semua jangan bersikap terlalu sopan. Nona Mey Yui tidak menyukainya, jika kalian ingin memberi salam! Cukup dengan ucapan saja tidak perlu membungkukkan badan,” jelas Phu-phu.


“Baiklah sekarang perkenalkan nama kalian satu per satu,” ucap Mey Yui.


“Hamba biasa di panggil gadis satu, hamba gadis dua, hamba gadis tiga, hamba gadis empat dan hamba gadis lima,” ucap mereka satu per satu memperkenalkan diri.


Mey Yui rasanya mau tertawa ngakak mendengar nama-nama dari kelima gadis itu. Namun ia menahan agar tidak tertawa.


“Ada-ada saja kak Yuan memberikan nama pada kelima gadis ini,” batinnya


“Apakah kalian hanya berlima saja yang menjadi bawahan kak Yuan?” tanya Mey Yui.


“Kelompok kami ada 15 orang, nona! Yang terdiri dari 10 pria dan 5 gadis,” jelas gadis satu.


“Jadi yang 5 orang gadis yang di kirim ke sini untuk menjagaku?” tanya Mey Yui


“Tidak nona, kami satu kelompok yang harus menjaga keselamatan nona,” jawab gadis dua.


“Apa....? Maksud kamu 15 orang menjagaku?” seru Mey Yui terkejut.


“Benar! Nona, kami semua sudah datang di kediaman nona,” jawab gadis satu.


“Kak Yuan...! Rasanya aku tak tahu harus menangis, tertawa, sedih atau bahagia! Jika yang menjagaku 5 orang masih bisa di terima. Itu normal lah, tapi ini 15 orang! Ayah... kak Yuan bukannya mau menjagaku tapi ingin menghukumku!” rengek Mey Yui kepada ayahnya.


“Hahaha... bagus... bagus... calon menantuku memang yang terbaik. Harusnya kamu bangga di perhatikan oleh Yuan, kenapa jadi kesal?” ucap Jun Ho senang.


“Bangga bagaimana? Yui’er tidak bisa apa-apa... pusing! Ada-ada saja kak Yuan, bikin kesal,” balas Mey Yui.


“Sudah sewajarnya jika kamu mendapatkan 15 bawahan yang menjaga dan membantumu! Ingat jati diri Yuan, apakah kamu lupa? 15 itu sedikit, putriku. Jika nanti kalian menikah, tidak cukup dengan 15 orang yang melindungi dan menjagamu,” jelas Jun Ho


“Oh... tidak.. bisa sakit kepala!” jawab Mey Yui sambil mengentak-entakkan kakinya.


Semua orang yang ada di sana tersenyum melihat tingkah Mey Yui.


Dalam hati kelima gadis pengawalnya mengira calon putri mahkota mereka adalah gadis yang sombong dan tidak menghargai mereka.


Namun pemikiran mereka di hapus saat bertemu langsung dengan Mey Yui.


Biasanya nona muda dari keluarga pejabat sangat senang jika mendapatkan pengawal lebih.


Sangat berbeda dengan Mey Yui, ia merasa sakit kepal jika mendapatkan pengawal yang banyak.


Kelima gadis tersebut merasa senang telah mendapatkan calon putri mahkota yang baik.


“Lalu ke mana temanmu yang 10 orang itu,” tanya Mey Yui.


“Mereka sudah ada di sini nona, mereka adalah pengawal bayangan.” Jelas pelayan tiga


“Panggil semua ke sini, aku ingin bertemu mereka semua,” perintah Mey Yui.


Setelah Mey Yui memberi perintah untuk memanggil kesepuluh orang pengawal pria, tiba-tiba bermunculan pria berpakaian hitam di hadapan Mey Yui membungkuk memberi hormat.


“Salam hormat hamba nona!” ucap 10 pria tersebut.


“Sudahlah jangan membungkukkan badan kalian, aku tidak suka!” ucap Mey Yui.


“Hamba tidak berani, nona!” jawab mereka serentak.


Mey Yui memutar bola matanya mendengar ucapan kesepuluh pria tersebut.


“Jika kalian setiap bertemu denganku selalu membungkukkan badan lebih baik kalian kembalilah ke kak Yuan,” ucap Mey Yui dengan santai.


Mendengar ucapan Mey Yui mereka semua spontan bersimpuh di tanah secara serentak memohon ampun kepada Mey Yui.


“Ampun...! Nona jangan suruh kami kembali! Kami telah diberi perintah untuk mengikuti semua perintah nona. Jika nona tidak menginginkan kami maka kami semua akan mati. Itu perintah untuk kami,” ucap kesepuluh pria tersebut.


“Hai.. siapa yang memberi perintah seperti itu? Aku tidak menginginkan kalian mati semua, kalian pikir nyawa kalian seperti ayam! Ya sudah kalian aku terima, tapi aku tidak mau kalian membungkukkan badan setiap bertemu denganku,” ucap Mey Yui dengan tegas.


“Baik... nona,” ucap mereka serempak.


“Sekarang sebutkan siapa nama kalian,” perintah Mey Yui.


“Hamba pria satu, hamba pria dua, hamba pria tiga,” belum sempat pria ke empat memperkenalkan diri, Mey Yui menghentikannya.


“Berhenti... aku sudah mengetahui nama kalian semua! Pasti nama kalian berurutan dari satu hingga sepuluh,” ucap Mey Yui menahan tawa nya.


“Benar.. nona,” jawab mereka serentak.


Mey Yui benar-benar sakit kepala pagi ini, tak tahu ia harus tertawa, kesal, menangis atau bahagia. Yuan memberi nama pengawalnya dengan gender dan angka.


“Apakah kalian mau jika aku memberi nama untuk kalian semua?” tanya Mey Yui.


“Hamba bersedia, nona!” jawab mereka serentak.


Mey Yui menjulingkan matanya dan menggembungkan pipinya. Ia harus berpikir memberi nama 15 orang pengawalnya.


*Ini PR untuk authornya biar sakit kepala, mencari nama buat 15 orang*


“Baiklah, untuk yang para gadis aku beri nama Li Li, Li La, Li Lui, Li Lun, Li Lan,” ucap Mey Yui menahan tawa setelah mengucapkan nama-nama tersebut. Paling tidak lebih baik dirinya daripada Yuan.


“Terima kasih, nona!” jawab para gadis serempak.


“Kalo untuk kalian para pria...! Mey Yui menggantung ucapannya sambil berpikir. Memberi nama 10 orang pengawal sangat membuatnya sakit kepala.


“Benar-benar dibuat sakit kepala, harusnya aku memberi nama anak yang akan aku lahirkan... ini memberi nama pengawal! Kak Yuan, mau mengerjai aku!” gerutu Mey Yui dalam hati.


“Baiklah... nama kalian adalah Ju No, Ju Ni, Ju Na, Ju Ned, Ju Ju, Ju Long, Ju Kong, Ju Bang, Ju Rin, Ju Men,” ucap Mey Yui menahan tawa. Beruntung ia tak memberi nama para pria dengan nama buah.


“Terima kasih, nona!” jawab para pria serentak.


“Kalian semua boleh pergi! Jika perlu sesuatu kalian bisa minta tolong kepada kak Phu-phu,” ucap Mey Yui.


Kelima belas orang berpamitan dan meninggalkan Mey Yui dan ayahnya.


Jun Ho tersenyum bangga kepada putrinya, Mey Yui menghampiri ayahnya dan bergelayut manja.


“Ayah... kak Yuan membuat Yui’er sakit kepala! Masa memberi nama para pengawalnya dengan jenis kelamin dan angka,” rengek Mey Yui pada ayahnya.


“Hahaha... itu untuk mempermudahnya untuk memanggil dan mengingat. Jangankan Yuan mu itu, ayah pun melakukan hal yang sama. Pasukan kita tidak hanya 15 orang, namun ribuan bagaimana kita menghafal mereka semua,” jelas Jun Ho.


“Iya juga, ayah. Siapa yang mau mengingatnya,” balas Mey Yui dengan santai.


Jun Ho sangat gemas melihat tingkah putrinya yang sudah ia lewatkan beberapa tahun. Ia mencubit pipi anaknya sambil tertawa bahagia.