
Ketika bibi Ong sudah terlelap sebuah bayangan hitam memasuki kamar bibi Ong. Sosok bayangan tersebut menghampiri bibi Ong yang sedang berbaring di tempat tidur.
Sosok tersebut memandangi wajah bibi Ong dengan penuh kerinduan. Ia adalah Bun Ho yang menyelinap ke kamar kekasihnya. Ia takut jika datang secara langsung, kekasihnya belum bisa menerimanya.
“Maafkan aku, sayang! Aku sangat merindukanmu, aku akan menurutimu jika kamu tidak ingin kembali ke kediaman Qian. Asalkan kamu tidak meninggalkanku,” ucap Bun Ho sambil membelai wajah kekasihnya. Kemudian ia merebahkan tubuhnya di samping kekasihnya.
Bibi Ong merasa terusik tidurnya merasakan ada yang datang, namun karena sangat lelah ia sudah tak sanggup membuka matanya. Ia membiarkan orang tersebut, sebab ia yakin penjagaan yang di berikan oleh Bun Ho sangat ketat dan kuat. Tak mungkin ada yang bisa mencelakainya. Bibi Ong yakin jika yang datang adalah kekasihnya dan ia membiarkannya.
Tak terasa hari telah berganti, bibi Ong merasa perutnya sangat berat. Perlahan ia mulai membuka matanya, dan ia melihat Bun Ho tidur di sampingnya sambil memeluknya. Bibi Ong melihat kekasihnya dengan perasaan yang sangat sulit diungkapkan. Ia pun pura-pura tidur kembali. Saat ada pergerakan dari Bun Ho.
Bun Ho membuka matanya dan terkejut karena ia tidur dengan pulas hingga tak terasa waktu sudah berganti. Ia segera bangkit dari tempat tidur kekasihnya.
“Sialan! Kenapa aku bisa ketiduran! Hanya bersamanya aku merasakan kenyamanan. Bahkan tidurku sangat pulas jika berada di sampingnya. Jika Ong’er melihatku di sini, dia akan marah padaku.
Bun Ho mengecup kening kekasihnya kemudian meninggalkan kamar kekasihnya.
Setelah kepergian kekasihnya bibi Ong membuka matanya kembali. Ia sedih saat mendengar ucapan kekasihnya. Namun kemudian ia abaikan karena ia masih belum bisa menerima dan memaafkan Bun Ho. Rasa kecewanya masih sangat besar hingga mengalahkan rasa sayangnya kepada Bun Ho.
“Terima kasih kamu mengerti diriku dan memberi waktu untukku,” gumam bibi Ong sambil beranjak dari tempat tidurnya.
Mendengar suara dari dalam kamar, pelayan memasuki kamar bibi Ong.
“Selamat pagi, nyonya! Apakah nyonya ingin membersihkan tubuh?” tanya pelayan sambil membungkukkan badannya.
“Tolong bantu aku ingin membersihkan tubuhku,” jawab bibi Ong.
Pelayan bergegas meninggalkan kamar untuk menyiapkan air untuk bibi Ong.
Setelah siap dan bibi Ong membersihkan diri dan makan pagi ia keluar dari kamarnya untuk melihat-lihat rumah yang ia tempati.
Berbeda dengan Bun Ho yang sudah kembali ke kamarnya. Ia nampak bahagia dan wajahnya nampak ceria. Meski bibi Ong tidak tinggal di kediamannya namun ia sudah menemukan dan menempatkan bibi Ong di rumah yang telah ia siapkan.
“Wen An kamu perketat penjagaan Ong’er! Aku tidak ingin terjadi apa2 dengannya,” ucap Bun Ho kepada Wen An.
“Hamba laksanakan, tuan!” jawab Wen An yang ikut merasakan kebahagiaan tuannya.
“Jangan sampai Cai Lin maupun ayah dan ibundaku mengetahui keberadaan Ong’er di luar!” perintah Bun Ho.
“Hamba laksanakan, tuan!” jawab Wen An dengan tegas.
Bun Ho keluar dari kamarnya, ia akan pergi mengurusi pekerjaannya. Banyak pekerjaan yang ia lalaikan sejak bibi Ong meninggalkan kediamannya.
Tak terasa waktu telah berlalu berganti bulan, Bun Ho mendapat kabar dari Wen An jika Cai Lin telah mengandung dan ingin bertemu dengannya.
Permintaan Cai Lin tidak langsung setuju hingga lima bulan usia kandungannya barulah Bun Ho mendatanginya.
Mendengar suaminya akan mengunjunginya, Cai Lin merias dirinya agar terlihat cantik. Ia berharap, Bun Ho akan senang dengan anak yang ia kandung. Meskipun Bun Ho baru mengunjunginya ketika usia kandungannya beranjak lima bulan. Namun ia tetap berusaha membohongi dirinya sendiri jika Bun Ho akan bahagia.
Harapan tidak sesuai kenyataan, Bun Ho mengunjunginya dengan ekspresi wajah seperti biasa. Dingin dan acuh tak acuh tidak nampak bahagia dengan kehamilan Cai Lin.
Cai Lin terperangah mendengar pertanyaan dari suami yang ia cintai.
“Tega sekali kau bertanya seperti itu! Aku hamil anakmu, darah dagingmu! Kau masih bertanya, perlu apa! Sungguh keterlaluan!” teriak Cai Lin marah.
“Siapa yang menginginkan anak darimu! Kau sendiri yang mempersulit keadaan! Jika kau ingin mengandung bukankah sudah tercapai keinginanmu! Jangan harap kau menggunakan anak dalam perutmu itu untuk menahanku atau menjebakku. Aku tidak akan peduli denganmu dan anak dalam perutmu!” balas Bun Ho.
“Sungguh tak punya hati, kau! Bahkan darah dagingmu sendiri kau tak mau! Hewan saja tidak sepertimu!” maki Cai Lin.
“Itu salahmu sendiri! Kau yang membuatnya menjadi rumit untuk dirimu sendiri. Jangan kau kira setelah membunuh anakku dengan Ong’er, lalu kau bisa menggantikannya dengan anak yang kau kandung itu! Mimpi saja, kau,” jawab Bun Ho dengan marah dan mengepalkan tangannya, ia ingat bayi yang ada di kandungan bibi Ong.
“ Dasar b*jingan!” Teriak Cai Lin sambil memberantakkan meja yang berisi kue dan minuman.
Bun Ho tidak mengucapkan kata-kata lalu ia beranjak dari duduknya dan meninggalkan Cai Lin.
Saat Bun Ho hendak melangkahkan kakinya, Cai Lin memeluknya dari belakang dengan kesulitan karena perutnya sudah membesar. Namun hal itu tidak membuat Bun Ho iba.
“Lepaskan tanganmu! Jangan membuatku bertindak kasar terhadapmu! Kau sangat menjijikkan! Aku tak sudi kau sentuh,” ucap Bun Ho sambil melepas tangan Cai Lin.
Pelukan Cai Lin terlepas, ia sempoyongan akan jatuh. Pelayannya segera membantu menopangnya. Ia menangis hingga perutnya bergerak-gerak akibat tangisannya yang sangat keras.
Berteriak dan menangis pun tidak dapat menghentikan kepergian Bun Ho dari kamarnya. Ia membanting semua benda-benda yang ada di kamarnya. Pecahan keramik memenuhi lantai kamarnya.
“Nyonya hentikan! Ingatlah anak dalam kandungan nyonya,” teriak pelayan setianya.
Cai Lin sadar jika dirinya hamil kemudian ia menghentikan aksinya dan ia pun menangis. Semua pelayan segera membersihkan bekas pecahan keramik yang ada di lantai.
Tiba-tiba salah satu dari pelayan berteriak.
“Darah...! Darah...! Nyonya ada darah!” teriak pelayan panik saat melihat darah merembes di pakaian Cai Lin dan mengalir di kakinya.
“Panggil tabib! Cepat panggil tabib,” teriak pelayan setianya.
Pelayan berlari ke luar kamar dan meminta bantuan prajurit jaga untuk memanggil tabib.
“Tidak... tolong selamatkan bayiku...! Bayiku... jangan tinggalkan aku...!” Cai Lin menangis sambil memegangi perutnya.
Cai Lin merasakan perutnya sakit yang teramat sakit. Ia menangis sambil memegangi perutnya dan menahan rasa sakit.
Semua pelayan sangat panik dan takut jika terjadi sesuatu mereka semua akan mendapatkan hukuman yang sangat berat.
“Siapkan air panas dan kain!” teriak pelayan setia Cai Lin.
Mereka panik dan berlarian menyiapkan air panas dan banyak kain. Darah yang keluar sangat banyak sekali, tabib juga belum datang juga. Bahkan Bun Ho sudah di beri tahu mengenai Cai Lin, namun ia tak datang menjenguk istrinya.
*****
Terima kasih sudah mampir dan memberi supoort, jangan lupa Like dan Komentarnya. 🙏🙏🙏