Kezia Story

Kezia Story
BAB 82



Tak terasa waktu cepat berlalu Mey Yui berada di ruang dimensinya. Ia sedang membuat beberapa pil tingkat menengah. Mey Yui berencana menjual pil dan elixir di rumah lelang. Letak rumah lelang tidak jauh dari perbatasan.


Saat Mey Yui berada di perbatasan ia akan menyelinap ke rumah lelang. Ia akan mencari uang dan ingin mencari barang langka yang mungkin ia suka.


Setelah Mey Yui selesai membuat pil dan elixir ia kembali ke kamar penginapannya. Mey Yui tidak terlalu banyak waktu berada di ruang dimensinya. Karena pagi hari Mey Yui harus melanjutkan perjalanan bersama ayahnya.


Ia kembali ke kamarnya dan merebahkan badannya untuk beristirahat.


Waktu telah berganti tak terasa sudah pagi, Mey Yui baru tidur terbangun oleh suara ketukan dan panggilan dari pelayannya.


“Siapa sih...! Ganggu bucanku!” gerutu Mey Yui kesal tidurnya terganggu.


Dengan kesal ia bangun dari tidur dan membuka pintu kamarnya.


“Selamat pagi, nona! Maafkan hamba sudah mengganggu waktu istirahat nona,” ucap Lila sambil membungkukkan badannya


Mey Yui melambaikan tangannya dan meninggalkan Lila. Ia masih sangat mengantuk, ia ingin melanjutkan tidurnya lagi.


“Nona! kita akan melanjutkan perjalanan kembali setelah sarapan pagi,” ucap Lila lagi.


Mey Yui tersentak setelah mendengar ucapan Lila. Ia telah berjanji dengan ayahnya untuk menyiapkan sarapan pagi.


“Lila kembalilah terlebih dahulu, aku akan menyiapkan sarapan untuk ayahku,” ucap Mey Yui.


“Apakah nona memerlukan bantuan hamba?” tanya Lila kepada Mey Yui.


“Tidak perlu, aku bisa melakukan sendiri!” jawab Mey Yui.


Lila membungkukkan badannya dan meninggalkan Mey Yui.


“Kenapa aku bisa lupa membuat sarapan untuk ayah! Aku harus kembali lagi ke ruang dimensi untuk membuat sarapan. Aku akan membuat bubur ayam biar cepat,” ucap Mey Yui lirih.


Mey Yui teleportasi ke ruang dimensinya lagi. Ia membuat bubur ayam 2 panci besar yang akan ia bagikan kepada 100 prajurit dan 20 pelayan.


Setelah selesai membuat bubur ayam, tak lupa ia mandi di kamar ruang dimensinya. Semua sudah siap dan Mey Yui sudah mandi, ia kembali ke kamarnya dengan membawa 2 panci besar dan 1 panci kecil bubur ayam.


Mey Yui memanggil Pelayannya untuk membawa bubur ayam yang akan di bagi-bagikan kepada para prajurit dan pelayan. Tak lupa ia menyuruh prajurit memberi tahu ayahnya untuk sarapan bersamanya di kamarnya.


Prajurit dan pelayan membawa 2 panci bubur yang akan di berikan kepada teman-temannya. Mereka sudah menunggu sarapan yang akan di buat oleh nona mudanya. Semalam mereka di beri tahu jika sarapan pagi akan di buat oleh nona mudanya.


Mey Yui sarapan dengan kedua ayahnya, kedua ayahnya memuji masakan Mey Yui. Rasa buburnya sangat berbeda dan tidak pernah mereka jumpai. Selesai sarapan mereka melanjutkan perjalanan menuju ke perbatasan.


Perjalanan sudah di tempuh beberapa jam, rombongan mereka memasuki area hutan yang sangat lebat.


Tiba-tiba kereta kuda berhenti dan terdengar suara perkelahian di luar. Mey Yui mengintip dari tirai jendela keretanya.


Ternyata rombongannya telah di kepung oleh perampok yang jumlahnya sangat banyak. Saat tirai di buka oleh Mey Yui tiba-tiba anak panah melesat ke arahnya.


Wen An yang mengetahui sebuah anak panah meluncur ke arah kereta yang di tumpangi oleh putri angkatnya sepontan ia berteriak.


“Awas Yui’er!” teriak Wen An yang terlambat mengetahui anak panah melesat ke arah Mey Yui yang sedang mengintip.


Jun Ho yang mengetahui hal itu langsung pertahanannya mulai kendor ia lengah karena kuatir putrinya terluka. Hal itu di manfaatkan oleh musuh dan menusuk perutnya. Darah mengalir dari luka tusukannya.


“B*jing*n! Berani sekali kau melukai ayahku!” teriak Mey Yui sambil melesat ke arah kepala perampok yang menusuk ayahnya.


Kemarahan Mey Yui tidak dapat di hentikan. Dia menghajar kepala perampok dengan membabi buta. Ia sangat marah melihat ayahnya bersimbah darah. Ayahnya di tolong oleh prajurit dan Wen An masih menghalau para perampok.


“Bawa ayah ke dalam keretaku dan jaga ayah!” teriak Mey Yui kepada prajurit yang menolong ayahnya.


Prajurit mengangguk dan mengangkat tubuh Jun Ho yang tak sadarkan diri.


“ B*jing*n! Kau melukai ayahku! Tangan mana yang kau gunakan untuk menusuk ayahku. Rasakan ini!” Mey Yui tak segan-segan memotong tangan kepala perampok tersebut.


“Aaarrhhh... dasar j*l*ng! Beraninya kau memotong tanganku. Akan aku balas kau!” ucap kepala perampok tersebut.


Perampok tersebut melempar serbuk ke muka Mey Yui dengan menggunakan tangan kirinya. Ia sangat marah karena tangannya telah dipotong oleh Mey Yui.


Mey Yui dengan santai menepis serbuk racun dari kepala perampok. Banyak perampok yang terbunuh, Mey Yui membabi buta menyerang kepala perampok dan gerombolannya.


“Racunmu seperti racun buatan anak kecil! Jika kau ingin bermain-main dengan racun, aku bisa memberimu racun yang bagus!” ejek Mey Yui.


Tanpa di sadari oleh kepala perampok Mey Yui sudah memberi racun ganas kepada kepala perampok.


“Aaarrrhhh! Dasar j*l*ng ! Apa yang kau berikan padaku? Mataku.. tidak... mataku tidak bisa melihat lagi!” teriak kepala perampok tersebut sambil memegangi kepalanya.


Mata kepala perampok mengeluarkan darah dan kepalanya serasa di hantam oleh palu. Seluruh tubuhnya sakit semua, ia tersungkur dan roboh ke tanah.


“Tolong jangan bunuh hamba dan jangan siksa hamba, nona! Hamba bersalah tolong ampuni hamba!” rengek kepala perampok.


“Apa katamu? Minta ampunan! Oh tentu saja tidak semudah itu felgusu! Kau telah melukai ayahku, dengan mudah kau minta ampunan!” jawab Mey Yui dengan tegas.


Mey Yui menghempaskan kipasnya ke arah kepala perampok tersebut dan meninggalkannya yang sedang sekarat.


Ia bergegas menghampiri ayahnya yang sedang terluka, ia mengecek kondisi ayahnya yang sudah kehilangan banyak darah. Pedang yang di gunakan oleh kepala perampok tersebut telah di lumuri racun kalajengking hitam.


“Sialan! Jika aku tidak segera mengobati ayah pasti tak akan tertolong!” gumamnya sambil memberikan obat penawar racun dan menotok titik syaraf ayahnya agar darah tidak keluar lagi.


Wen An membuka tirai kereta dengan wajah cemas. Kemudian ia masuk ke dalam kereta untuk mengecek Jun Ho.


“Bagaimana kondisi ayahmu, Yui’er?” tanya Wen An.


“Kondisi ayah sangat kritis, ayah kedua! Jika tidak segera diobati, Yui’er kuatir nyawa ayah tidak tertolong. Saat ini Yui’er sudah memberinya penawar racun dan menotok jalan darah ayah, agar tidak keluar!” jawab Mey Yui.


“B*jing*n..! Jika terjadi apa-apa dengannya, aku akan membunuh semua perampok itu!” ucap Wen An marah.


“Ayah kedua, Yui’er ingin mengobati ayah. Namun Yui’er akan membawa ayah ke ruang dimensi, agar Yui’er bisa konsentrasi mendetok racun ayah!” Jelas Mey Yui.


Wen An terkejut mendengar Mey Yui memiliki ruang dimensi. Tidak sembarangan orang memiliki ruang dimensi.


.


****


Terima kasih sudah setia memberi support, jangan lupa memberikan Like dan Komentar. 🙏🙏🙏