
Sementara di pinggiran hutan sunyi, seorang pria tampan yang wajahnya mirip Lie Mey Yui menghentakan tali kekang kudanya agar berlari lebih kencang.
Pria itu adalah Lie Ming Se yang mengendarai kudanya menuju istana Tang untuk melapor pada kaisar mengenai markas pemberontak.
Ia pergi sendiri dengan mengendarai kuda kesayangannya hanya didampingi pengawal rahasianya. Ia pergi secara terpisah dari rombongan kereta, untuk mengantisipasi adanya mata-mata dari orang besar yang ada di belakang para pemberontak.
Namun ia tidak menyadari bahwa banyak mata-mata bertebaran di sekitarnya dan sekitar ayahnya.
"Wuuussshh!"
Tiba-tiba anak panah beterbangan melesat ke arahnya, kudanya terkena anak panah dan meringkik lalu roboh di tanah. Lengan Ming Se terkena anak panah beracun, ia langsung melesat dan menghadang anak panah yang beterbangan ke arahnya dengan menggunakan pedangnya.
Segerombolan pria berpakaian hitam dengan menggunakan kain hitam penutup wajah berdatangan dari arah pepohonan dan menyerangnya.
Pengawal bayangan Ming Se juga tak kalah, mereka langsung bermunculan membantu majikannya yang di serang secara tiba-tiba oleh segerombolan orang yang menggunakan pakaian hitam-hitam.
"Siapa kalian, berani-beraninya menghadang perjalananku!" teriak Ming Se marah.
“Serahkan barang berharga yang ada padamu,” kata salah satu pria yang diduga sebagai pimpinan gerombolan tersebut.
“Penyerangan berkedok perampokan dan tidak akan aku biarkan, pasti ada mata-mata di dekatku. Hanya ada beberapa orang yang mengetahui rencanaku,” kata Ming Se dalam hati.
“Mimpi saja kamu, mau minta barang berhargaku, aku tidak memiliki barang berharga. Hanya nyawaku lah barang paling berharga yang aku miliki,” jawabnya dengan lantang sambil mengayunkan pedangnya menyerang.
"Serang dan bunuh dia!" perintah pemimpin perampok tersebut.
Pertempuran tak terelakan,suara dentingan pedang terdengar kencang, pertarungan tidak imbang mengakibatkan kelompok Ming Se terdesak.
Ming Se menyalakan tanda bahaya ke arah langit untuk meminta bantuan pada ayah dan pasukannya yang sedang berpencar.
Dengan harapan pertolongan segera datang.
"Cepat selamatkan diri tuan! kami akan menghadang mereka,” pengawal kepercayaan mengirim perkataan melalui gelombang pikiran.
“A Sen, aku tidak bisa meninggalkan kalian menghadapi perampok ini,” jawab Ming Se melalui gelombang pikiran.
“Tidak, tuan harus selamat dan melaporkan markas pemberontakan kepada kaisar. Itu lebih penting daripada nyawa kami semua, kami bangga dan rela mati untuk melindungi tuan,” jawab A Sen sambil mendorong Ming Se.
“Sialan kau, A sen! Baiklah, kalian berusahalah untuk selamat dan menyusulku” lalu Ming Se melesat meninggalkan pertempuran.
"Kejar dan bunuh, pria itu jangan sampai lolos!" ucap pemimpin perampok.
Sebagian dari perampok melesat untuk mengejar Ming Se namun para pengawal bayangan Ming Se mencoba menghalangi. Pertempuran semakin seru banyak korban dari pihak A Sen, mereka terluka terkena senjata beracun dan ada beberapa yang tewas dengan sekujur tubuh membiru kehitaman.
A sen menghadang dan mengejar perampok yang berusaha menyusul Ming Se.
Ia terdesak karena luka-lukanya namun dia tetap berusaha untuk menghalangi.
Aksi kejar-kejaran di selingi pertarungan mereka hampir sampai memasuki hutan bambu.
"Kaburlah, Tuan!" teriak A Sen sambil menghadang serangan lawan yang mengarah ke Ming Se.
Ming Se dan A Sen terluka parah mereka berusaha kabur dengan menahan serangan lawan, namun mereka terdesak di pinggiran jurang hutan bambu.
Tiba-tiba anak panah melesat menuju jantung Ming Se dan A sen, dengan sisa kekuatan mereka menghadang dan akhirnya mereka berdua jatuh ke dasar jurang.
“Turun ke Jurang! sisir semua tempat, temukan mereka dan bunuh” Pemimpin tersebut memerintahkan anak buahnya untuk turun ke dasar jurang.
Mereka semua bergerak menuruni jurang.
Sementara kondisi Lie Ming Se dan A Sen yang terluka parah tulang-tulangnya banyak yang patah, pingsan akibat jatuh dari atas jurang.
Setelah beberapa saat Ming Se tersadar dan berusaha bangun dengan susah payah. Ia mencari keberadaan A Sen yang jatuh bersamaan.
Tubuh A Se tergeletak tak jauh dari tempat Ming Se, namun karena kondisi ming Se yang terluka sangat sulit ia terjangkau.
Dengan susah payah akhirnya Ming Se berhasil ke tempat A Se yang masih tergeletak tak sadarkan diri.
Ming Se berusaha membawa pergi A Se untuk mencari tempat persembunyian, dengan susah payah ia membawa A Se. Akhirnya Ming Se menemukan sebuah gua, kondisi keduanya terluka parah ia tak saggup menggendong A Se, ia menyeret tubuh A Se masuk ke dalam gua.
Tanpa ia sadari bahwa gua tersebut juga tempat Mey Yui berkultivasi, namun letaknya sangat dalam dan sudah di pasang array pelindung oleh yuyu sehingga mereka tidak bisa merasakan atau mengetahui adanya manusia yang sedang bermeditasi di dalam gua.
Dengan napas yang tersengal-sengal Ming Se berhasil memasuki gua dan langsung tak sadarkan diri.
*****
Di dalam gua yang paling dalam tempat Mey Yui bermeditasi, yuyu merasakan hawa manusia.
Ia melayang untuk melihat siapa yang berani memasuki gua.
Setelah mendekat ke arah kedua manusia tersebut, yuyu melihat dua sosok manusia yang terluka parah. Ia terkejut melihat salah satu manusia tersebut wajahnya mirip Lie Mey Yui dan merasakan ada hubungan darah.
“Siapa mereka? kenapa orang ini wajahnya seperti kak Mei Yui? mereka terluka parah jika tidak cepat di selamatkan pasti mati,” gumamnya.
Yuyu memberi array ilusi di luar gua agar tidak ada yang bisa masuk ke dalam gua. Ia merasa musuh kedua orang ini pasti berusaha mencari keberadaan mereka.
Sebelum Mey Yui selesai berkultivasi ia memberikan pertolongan sementara pada keduanya. Karena ia yakin bahwa pria yang berwajah mirip Mey Yui adalah saudara kandung tuannya. Jika pria itu mati akan membuat Mey Yui berduka dan bersedih. Ia tidak mau salah atau menyesal dengan membiarkan mereka terluka dan mengakibatkan kematian.
Antara sadar dan tidak, Lie Ming Se merasakan ada yang datang. Ia berusaha mempertahankan kesadarannya agar tetap sadar. Namun karena kondisi tubuhnya yang terluka parah, tidak bisa diajak kompromi. Ia tidak bisa menggerakan tubuhnya, sekilas ia melihat sinar kuning keemasan melesat ke arahnya dan A sen.
Sinar kuning keemasan muncul melesat mengitari tubuhnya dan A Sen.
Tiba-tiba ia merasakan tubuhnya terangkat, hanya satu kata yang ada di pikirannya. "Pasrah!" Ia masih merasakan hawa hangat dan menyengat sakit sekali pada tubuhnya. Tubuhnya terasa seperti kapas yang melambung ke udara, setelah itu hilang sudah kesadaran Lie Ming Se.
Tubuh keduanya melayang dan perlahan turun dan biru kehitaman di tubuh mereka sedikit memudar.
Hanya sampai di sini aku bisa membantu, menahan racun agar mereka bisa bertahan beberapa saat sambil menunggu kak Mey Yui keluar dari kolam.