Kezia Story

Kezia Story
BAB 6



Tak terasa waktu telah berlalu, sudah 3 hari semenjak Kezia melakukan kultivasi di kolam air dalam dimensi.


Kezia merasakan gemuruh di aliran darahnya merasa akan ada terobosan.


Duaarrr!


Suara ledakan terdengar dari kolam, kemudian menyusul ledakan kedua, ketiga dan sampai tujuh kali ledakan dari kolam.


Duaaarrr!


Mao-mao langsung lari ke arah kolam melihat kondisi Kezia.


“Nona Mey mencapai level 7, aku pikir hanya naik 2-3 level. Ini pencapaian yang luar biasa”, kata Mao-mao dalam hati.


Kezia membuka matanya, merasakan aliran darah di dalam tubuhnya terasa lancar. Ia juga merasakan ada kekuatan yang bertambah besar, ia pun menghelakan nafas panjang.


"Aku masih di dalam kolam, untung di ruang dimensi yang penuh dengan kepadatan energi qi. Jadi gak kuatir masuk angin atau kena flu, coba kalo dulu.. bisa-bisa masuk UGD". Ia menarik sudut bibirnya, memikirkan apa yang dialami saat ini.


Kezia keluar dari kolam dan di sambut oleh Mao-mao dengan membawakan baju kering untuknya. Dengan cara menggigit baju tersebut, mao-mao berlari meloncat ke arahnya. Ia menerima dan mengganti baju lamanya yang sobek-sobek dan basah, di balik batu besar yang ada di sekitar kolam. Setelah berganti baju dan berjalan menghampiri Mao-mao.


"Mao-mao, berapa lama aku berendam di dalam kolam?" tanya Kezia


“Nona Mey berendam selama 3 hari dan saat ini sudah naik ke level 7”, jawabnya


"Kamu menungguku dan tidak pergi selama ini?" tanya Kezia lagi


"Ya nona Mey, saya di sini menunggu nona”, jawab Mao-mao.


“Ternyata cepat juga aku naik level, aku harus giat berlatih agar aku bisa cepat keluar dari sini”, pikir Kezia.


“Mao-mao, apa nama kolam itu? Airnya bersih dan hangat. Seperti ada aliran air dari pegunungan lewat celah-celah tebing itu”, ia menunjuk ke arah tebing atas kolam.


“Itu adalah kolam surgawi yang bisa membantu nona!. Air Surgawi sangat bermanfaat menyembuhkan berbagai jenis penyakit, menetralisirkan racun yang mematikan, melancarkan aliran darah yang tersumbat. Dan masih banyak lagi kegunaannya, tidak hanya untuk manusia tapi untuk tanaman dan hewan”, jawab Mao-mao.


" Air kolam surgawi memang sangat berkhasiat, seingat aku dulu pernah baca di perpustakaan air ini sangat mujarab”, ia teringat pernah membaca buku kuno yang menjelaskan tentang air kolam surgawi..


Tak di sadari oleh Kezia, wajahnya jadi semakin cantik dan bersinar dan kulitnya putih bersih.


Mereka berjalan sambil berbincang, tak terasa mereka menuju ke ruang masak dan melihat kondisi dapur yang ada di ruang dimensi.


Kezia dulu sering membantu mamanya memasak, jadi tak heran jika ia bisa memasak dan masakannya sangat lezat. Ia mulai menyiapkan bahan yang ada memasak di ruang dimensi dan mulai memasak.


Yang membuatnya heran, kenapa dapur di ruang dimensi seperti telah di sediakan semua bahan dan bumbu-bumbu masakan yang ada di zaman modern.


“Gila, ini kenapa semua alat masak yang ada di dapur mama ada di sini semua?”, gumamnya.


Akhirnya Kezia memutuskan untuk memilih membuat sirloin steak, kebetulan dia melihat ada daging segar di lemari pendingin.


“Masakan sudah siap”, mari kita makan. Tak lupa ia membagikan sirloin steak kepada Mao-mao.


Mao-moa melompat-lompat kegirangan, mencium aroma sirlion steak. “Daging bakar” menurutnya.


Mao-mao buru-buru menggigit steak dan melompat-lompat sambil berkata, “panas-panas… dagingnya panas tapi enak!”.


“Hahaha.. Makanya, kalo makan jangan buru-buru! masih panas sudah di gigit, lidah kamu jadi kebakar”. Hahaha..,Kezia tertawa.


“Nona Mey, jangan meledek Mao-mao dong”, rajuknya.


“Ulu..ulu.. Kamu malu, ya… anak baik, ya sudah, mari kita lanjut makan”.


Tanpa disuruh lagi, Mao-mao langsung melibas daging steak itu.


Setelah selesai makan, Kezia menggendong Mao-mao sambil mengelus-elus kepalanya.


“Mao-mao, aku ingin ke perpustakaan yang ada di samping piramida itu. Aku ingin tau buku apa saja yang ada di sana”, ucapnya sambil berjalan.


Di kehidupannya dulu, dia suka membaca dan keluarganya mempunyai perpustakaan sendiri yang mempunyai banyak koleksi buku.


Kezia memutuskan untuk mengunjungi perpustakaan itu, penasaran dengan koleksi buku yang ada di sana dan berharap ada buku yang menarik dan bermanfaat buat dirinya.


Ruang perpustakaan lumayan besar, buku tertata rapi di rak-rak buku.


Ia tertarik dengan buku besar yang sudah tua , dia melangkah dan mengambil buku itu.


"Alkemis”, Kezia membuka sampul buku dan mulai membaca lembar pertama. Ia manggut-manggut seolah mengerti apa yang di tulis di dalam buku tersebut.


Dulu ia pernah belajar dengan seorang kakek tua yang pernah ditolongnya, saat hampir tertabrak motor.


Kakek Gu seorang tabib dari Tiongkok dan ahli akupuntur, ia hidup seorang diri karena keluarganya telah meninggal karena kecelakaan. Dan kebetulan rumah kakek Gu tidak jauh dari rumahnya, hampir setiap hari ia berkunjung dan belajar mengenai jenis-jenis bahan untuk obat tradisional dan belajar teknik akupuntur.


Kakek Gu sangat sayang dengannya dan sudah menganggap Kezia seperti cucunya sendiri.


Bahkan ia sering tidur di rumah kakek Gu, mama dan papanya tidak mempermasalahkan kedekatan mereka. Tak jarang mereka juga ikut berkunjung di rumah kakek Gu, kebetulan papa Kezia mempunyai bisnis yang sejalan dengan kakek Gu. Yaitu dalam bidang pengobatan, papa Kezia adalah salah satu pemegang saham di rumah sakit milik keluarga besarnya. Mereka sering bertukar pikiran mengenai pengobatan kuno dan modern.


Ketertarikan Kezia dalam dunia pengobatan sudah sejak lama. Dia bercita-cita ingin menjadi dokter internis. Apalagi sejak bertemu dengan kakek Gu saat dia masih duduk di bangku SMP kelas 1, ia semakin bersemangat dan memantapkan keinginannya untuk menjadi dokter.


Sejak saat itu pula Kezia belajar mengenai berbagai macam jenis tanaman obat dan racun serta akupuntur.


Ia membawa buku itu menuju tempat duduk dengan fokusnya ia membaca dan berusaha untuk memahami buku tersebut.


Pembuatan pil pemurnian jiwa, cara pembuatannya campuran bahan dan teknik ekstrak. Pembuatan elixir dan lain-lain, semua dijelaskan secara terperinci di dalam buku.


“Mantap… !“ seru Kezia, setelah membolak balik buku alkemis itu.


“Aku harus mencoba membuat pil pemurnian jiwa dulu, agar bisa membantuku untuk mencapai terobosan ke level 9. Setelah itu aku akan membuat beberapa elixir dan pil-pil yang lainnya. Siapa tau bisa naik ke ranah bumi”,ucapnya.


“Mao-mao, disini apakah ada laboratorium yang bisa aku pakai untuk membuat pil?”, tanya Kezia.


“Itu ruang yang tertutup di samping guci adalah ruang laboratorium yang bisa digunakan untuk pembuatan pil dan banyak macan bahan-bahan yang kamu butuhkan”, jawab Mao-mao yang bermalas-malasan di bahu Kezia.