
Suasana kedai menjadi kacau, pertarungan berlanjut di luar kedai. Pengawal Jin Ho bukan lawan dari kawanan pria berpakaian hitam dan bertopeng perak.
Meskipun mereka menggunakan topeng perak semua, namun ada satu pria topengnya berbeda motif. Pria tersebut adalah pemimpin mereka.
Pertarungan tak berjalan lama, semua pengawal Jin Ho jatuh ke tanah dengan luka yang sangat parah.
Melihat hal tersebut, Jin Ho sangat marah.
“Dasar pengawal rendahan yang tidak berguna! Sia-sia orang tuaku memperkerjakan kalian. Lebih baik kalian semua mati,” teriak Jin Ho.
“Awas kalian! Aku akan kembali untuk membalas dendam dengan kalian,” teriaknya lagi kepada para pria berpakaian hitam dan bertopeng perak.
Jin Ho akan meninggalkan tempat tersebut, namun niatnya di hadang oleh pemimpin kawanan pria bertopeng perak.
“Siapa yang menyuruhmu pergi? Setelah membuat kekacauan di kedai ini?” bentak pria tersebut, sambil mencekal bahu Jin Ho.
“Siapa kamu berani menghalangi langkahku? Apa kamu tahu siapa aku? Singkirkan tanganmu yang menjijikkan itu,” maki Jin Ho.
“Kau tidak perlu tahu siapa aku dan aku tidak peduli siapa dirimu! Kau telah menghancurkan kedai itu! Kau harus bertanggung jawab! Bayar semua kerusakan kedai!” perintah pria tersebut dengan mengeluarkan tekanan tenaga dalam
“Sialan! Aku tidak akan mengganti rugi kerusakan kedai. Kamulah penyebab kerusakan itu!” balas Jin Ho tak mau kalah.
“Dasar manusia tak berguna! Lebih baik kamu mati daripada menyusahkan orang lain,” maki pria tersebut sambil memukul perut Jin Ho dengan tenaga yang sangat kuat.
Seketika Jin Ho roboh dan jatuh ke tanah, kemudian pria tersebut menginjak kepala Jin Ho dengan keras.
Semua orang tidak ada yang berani menolong Jin Ho. Mereka tahu jika Jin Ho melakukan kesalahan terlebih dulu.
Jin Ho yang terinjak di tanah mengeluarkan darah segar dari sela- sela bibirnya. Sekejap matanya tertutup dan tubuhnya tak bergerak.
Mengetahui kondisi majikannya, pelayan setia Jin Ho bersujud memohon ampun sambil membenturkan kepalanya.
“Ampuni tuan muda hamba, tuan! Jangan bunuh tuan muda hamba! Hamba berjanji akan bertanggung jawab dengan mengganti rugi kerusakan pada kedai tersebut,” ucap pelayan sambil membenturkan kepalanya ke tanah.
“Aku tidak akan mengampuni pria bodoh ini yang telah merusak kedai yang dibawa perlindungan tuan kami,” ucap pria itu sambil menendang tubuh Jin Ho yang sudah tidak bernyawa.
Pelayan setia Jun Ho menangis dan berlari menghampiri tubuh Jin Ho yang sudah tidak bernyawa.
Sekawanan pria berpakaian hitam dan bertopeng melesat meninggalkan tempat itu dan pemimpinnya melemparkan kantong uang kepada pria penanggung jawab kedai.
Pria paruh baya tersebut menangkap kantong uang dan membungkukkan badannya. Mengucapkan terima kasih.
Mereka yang menonton pertarungan satu per satu meninggalkan tempat tersebut dan menyisakan tubuh Jin Ho dan para pengawal beserta pelayan setia jin Ho.
“Tuan muda.. apa yang harus saya katakan jika tuan besar bertanya?” ucap pelayan tersebut sambil menangis dan menyeret jasad Jin Ho ke kereta kudanya.
Dengan susah payah pelayan itu berhasil membawa jasad Jin Ho ke dalam kereta dan meninggalkan tempat tersebut.
Sementara Yuan dan Mey Yui yang sedang menikmati makan siangnya di restoran yang mereka kunjungi.
“Sayang, setelah makan kamu ingin pergi ke mana?” tanya Yuan kepada Mey Yui.
“Aku dengar di sini ada rumah lelang, kak? Aku ingin pergi ke sana,” balas Mey Yui.
“Apakah kamu menginginkan sesuatu?” tanya Yuan lagi
“Aku tidak tahu, jika nanti ada yang menarik perhatianku.. ya aku akan membelinya,” balas Mey Yui.
“Baiklah, setelah selesai makan kita mengunjungi tempat lelang. Jika kamu ingin sesuatu katakan padaku aku akan membelikan untukmu,” ucap Yuan.
“Gadis cerdik,” Yuan mengusap rambut di kepala Mey Yui.
“Kak Yuan.. jangan di berantakan rambutku, betapa sulitnya aku menata model rambutku,” Mey Yui merajuk
“Hahaha...! Maafkan aku, sayang. Kamu sangat menggemaskan,” ucap Yuan.
“Kak Yuan... kata kak Ming Se, kak Yuan bukan berasal dari kerajaan Tang. Dari kerajaan mana kak Yuan berasal?” tanya Mey Yui yang penasaran dengan Yuan.
Ia merasakan Yuan seperti dirinya yang berasal dari jaman modern. Yuan tidak pernah bertanya padanya jika ia salah menggunakan istilah kata jaman modern.
Yuan sepertinya paham dan cuek, hal itu membuat Mey Yui ingin mengorek sedikit demi sedikit. Berawal dari kerajaan mana Yuan berasal.
“Aku berasal dari kerajaan Li, sayang. Jika urusan kalian sudah selesai, maukah kamu ikut bersamaku di kerajaan Li,” tanya Yuan sambil memegang tangan Mey Yui.
“Aku masih belum tahu, kak. Permasalahan kami sangat rumit, nanti jika kak Ming Se kembali kita bicarakan lagi,” jawab Mey Yui bingung.
“Aku tidak akan memaksamu, mungkin kamu masih belum bisa menerima dan mempercayaiku. Aku akan selalu sabar menunggumu. Jangan kau jadikan beban saat aku menunggumu, biarkanlah berjalan seperti air mengalir” ucap Yuan kemudian merengkuh Mey Yui.
“Maafkan aku, kak” balas Mey Yui terisak di pelukan Yuan.
“Katakan dengan jujur padaku, apakah sudah ada hati yang kau jaga?” tanya Yuan sambil mengelus-elus kepala Mey Yui.
“Maafkan aku, kak. Sebenarnya di dalam hatiku sudah terukir nama seseorang yang sangat aku cintai,” ucap Mey Yui terbata-bata.
Deg....
Deg....
Sakit hati Yuan mendengar ucapan Mey Yui, meskipun ia sendiri telah memiliki cinta yang selama ini telah ia jaga. Namun entah mengapa saat Mey Yui mengatakan jika sudah ada seseorang di hatinya. Hati Yuan sangat sakit dan kecewa.
“Jangan minta maaf padaku, masalah hati aku tidak bisa memaksamu, sayang. Sebenarnya aku juga telah memiliki orang yang aku cintai sepenuh hatiku. Namun kami tidak bisa bersama dan bertemu kembali,” ucap Yuan dengan tatapan penuh kesedihan. Ia teringat dengan gadis yang ia cintai.
Tak di sadari air mata Yuan keluar dari sela-sela sudut matanya.
Yuan segera menghapus air matanya, dan menetralkan perasaannya yang sedang kacau.
“Maafkan aku, kak Yuan” ucap Mey Yui lagi.
“Hai.. janganlah kamu selalu minta maaf. Kamu tidak salah! Jika kamu sudah siap ceritakan apa yang telah kamu alami,” ucap Yuan dengan lembut.
Mey Yui mengangguk, kemudian Yuan menghapus air mata Mey Yui dan mencium keningnya. Wajah Mey Yui merah, ia tersipu malu.
Yuan mengangkat dagu Mey Yui dan menatap mata Mey Yui dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia membuka cadar Mey Yui dan melihat wajah Mey Yui hatinya berdebar-debar. Wajah Mey Yui sangat mirip dengan gadis yang ia cintai.
Perasaan rindu dan sedih terhadap gadis yang mirip dengan Mey Yui, tanpa di sadari dorongan dari hati yang sangat merindukan sosok wajah yang mirip dengan Mey Yui.
Yuan mencium bibir Mey Yui dengan lembut. Ia ******* bibir seksi Mey Yui dengan kasih sayang tanpa ada nafsu.
“Ciuman pertama aku... Bibir seksiku.. di cium cowok jaman kuno. Omg.. bagaimana ini,” ucap Mey Yui dalam hati.
Mengetahui jika Mey Yui menahan napas saat di cium, Yuan melepas ciumannya.
“Bernapaslah, sayang. Jangan sampai kamu pingsan gara-gara menciummu,” ucap Yuan sambil tersenyum
Mey Yui tersipu malu menyembunyikan wajahnya di dada Yuan.
Yuan sangat bahagia melihat Mey Yui yang malu-malu. Yuan tidak peduli bagaimana akhir cerita cintanya, saat ini yang terpenting baginya adalah Mey Yui.