
Mey Yui memasuki penginapan diiringi dengan kelima gadis dan Phu-Phu. Mereka mengantar Mey Yui ke dalam kamar yang telah di siapkan. Phu-Phu saat perjalanan tidak berada di samping Mey Yui. Ia di tugaskan Mey Yui untuk membantu keperluan ayahnya dan ia bekerja sama dengan Wen An.
Setelah sampai di kamarnya, Mey Yui memerintahkan pelayannya untuk memberitahukan ayahnya jika ia ingin mengajak makan malam bersama.
Li La meninggalkan kamar Mey Yui menuju kamar Jun Ho untuk memberitahu pesan dari nonanya.
Tak lama Jun Ho dan Wen An mendatangi kamar Mey Yui. Jun Ho senang putrinya mengajaknya makan malam bersama.
“Silakan duduk, ayah!” sambut Mey Yui ketika ayahnya baru masuk ke dalam kamarnya.
“Putri ayah yang cantik sangat baik, sudah repot menyiapkan makan malam untuk ayah!” ucap Jun Ho sambil memeluk dan mencium kening putri kesayangannya.
“Siapa dulu putri ayah, Yui’er!” ucap Mey Yui dengan gaya centil.
Jun Ho tertawa melihat kecentilan putrinya, sedangkan Wen An yang biasanya seperti es balok dan selalu memasang wajah sangar ikut tersenyum melihat nona mudanya.
“Ini semua Yui’er ayah yang memasaknya?” tanya Jun Ho tak percaya melihat semua makanan dan kue di atas meja besar yang sudah di susun rapi.
“Tentu saja, Yui’er yang memasaknya semuanya. Ayah, Yui’er ingin makan malam bersama ayah dan paman Wen An!” Apakah ayah tidak keberatan?” tanya Mey Yui.
Wen An terkejut dengan ucapan Mey Yui, ia merasa tersanjung namun ia tahu diri.
“Maaf nona, hamba tidak pantas makan bersama tuan dan nona dalam satu meja,” tolak Wen An dengan lembut.
Mey Yui sudah memperkirakan jawaban Wen An, ia sudah mengira pasti ada penolakan dari Wen An. Ia pun mulai memainkan drama sedih di hadapan ayahnya dan Wen An.
“Lakukan permintaan putriku Wen An, jangan membuat putriku bersedih. Dia sudah bersusah payah membuat semua masakan untuk kita,” ucap Jun Ho kepada Wen An.
Wen An merasa tidak enak hati mau tak mau menuruti perintah tuannya. Ia sudah lama mendengar jika nonanya selalu makan bersama para pelayan dan pengawal rahasianya. Awalnya ia tak percaya dan penasaran ternyata sekarang ia telah menemukan jawabannya sendiri.
“Nona muda tidak hanya memasak untuk tuan saja, namun nona muda telah membuat kue untuk semua rombongan kita. Dari informasi yang hamba dapatkan kue yang di buat oleh nona muda sangat enak dan belum pernah di temukan di kerajaan Tang,” ucap Wen An dengan membanggakan Mey Yui.
“Benarkah? Putri ayah sangat baik hati, ayah jadi penasaran ingin mencoba kue dan masakan yang telah kamu buat,” ucap Jun Ho sambil mencomot cake kukus coklat keju.
Jun Ho membelalakkan matanya saat cake kukus menyentuh ludahnya.
“Lezat sekali rasanya, luar biasa baru kali ini ayah merasakan kue seperti ini. Wen An! Cepat, cobalah kue buatan putriku yang sangat enak. Benar informasi yang kamu dapatkan,” ucap Jun Ho senang.
Wen An yang sejak tadi penasaran dan cepat-cepat mencoba kue dan masakan Mey Yui. Tanpa menunggu tuannya memberi perintah kedua kali, ia langsung mengambil cake kukus. Ia tercengang seumur hidupnya baru kali ini merasakan kue yang enak dan lezat.
“Tuan... ini enak sekali,” ucapnya sambil mengunyah cake kukus.
“Hahaha...! Putriku sangat luar biasa,” balas Jun Ho
“Ayah, paman Wen An! Mari kita makan nanti kali sudah dingin rasanya tidak enak. Jika Yui’er ada waktu, akan masak lagi untuk ayah dan paman!” ucap Mey Yui.
Jun Ho dan Wen An yang sudah tak sabar ingin merasakan masakan Mey Yui yang belum pernah mereka temukan di kerajaan Tang.
Ia mengabdikan hidupnya pada Jun Ho. Saat Mey Yui memanggilnya paman dan mengambilkan nasi untuknya, ia sangat terharu dan tanpa sengaja meneteskan air mata kebahagiaan.
“Paman Wen An kenapa menangis, apakah paman sedang bersedih atau mengingat sesuatu? Maafkan Yui’er, paman!” ucap Mey Yui.
Wen An buru-buru mengusap air matanya, ia malu ketahuan menangis. Jun Ho yang mengetahui sahabatnya meneteskan air mata, ia menepuk-nepuk bahunya. Jun Ho paman dengan perasaan sahabatnya.
“Maafkan paman, Yui’er. Makan malam kita jadi terganggu gara-gara paman. Paman sangat terharu saat Yui’er melayani orang tua ini. Paman seperti merasakan memiliki anak gadis yang sangat berbakti,” jawab Wen An.
“Paman Wen An boleh menganggapku sebagai putrimu. Yui’er akan memanggil paman dengan ayah kedua. Sekarang paman sudah memiliki putri, Yui’er pikir ayah tidak akan keberatan!” ucap Mey Yui sambil menoleh kepada ayahnya.
“Ayah tidak keberatan sama sekali, memang betul jika kamu memanggilnya dengan ayah kedua. Sejak kamu dalam kandungan ibumu, pamanmu ini kamu kerjai tiap hari. Saat Ibu mengidam hanya mau kamu yang mencarikan atau melakukannya,” Jun Ho senang bisa memberi sedikit kebahagiaan kepada sahabatnya.
Wen An tersenyum mengingat saat masa-masa mengidamnya ibu Mey Yui. Dirinya menjadi sasarannya untuk memenuhi keinginan Mey Yui saat dalam kandungan.
“Berarti sudah dari kandungan Yui’er sangat usil dengan ayah kedua,” ucap Yui’er sambil tersenyum.
“Baiklah.. ! Mari kita lanjutkan makannya,” potong Jun Ho yang sudah tak sabar mencicipi semua menu masakan Mey Yui.
Mereka bertiga menyantap makanan dengan lahap. Jun Ho dan Wen An tak bisa berhenti mengambil makanan.
“Wen An masakan putri kita ini sangat luar biasa lezatnya,” ucap Jun Ho kepada Wen An.
“Kau benar! Seumur hidupku aku berkelana di seluruh benua ini belum pernah menemukan masakan seperti yang di masak oleh putri kita,” balas Wen An
Wen An dan Jun Ho saat mereka berdua, mereka berbicara layaknya seorang sahabat. Bukan sebagai tuan dan bawahannya, bahasa mereka tidak terlalu formal.
Setelah mereka selesai makan malam dan mengobrol beberapa saat Jun Ho dan Wen An kembali ke kamarnya masing-masing.
Mey Yui kembali ke ruang dimensinya, ia menepati janjinya pada hewan kontraknya.
Ia menyempatkan waktu untuk bermain dan bercanda dengan Mio-mio dan Xio-xio. Setelah mereka puas bermain, Mey Yui membuat beberapa pil dan elixir di ruang obatnya.
Ia menyiapkan beberapa pil yang akan diberikan kepada ayahnya dan ayah angkatnya. Jika mereka sudah sampai di perbatasan dan situasinya memungkinkan, ia akan mendetok kedua ayahnya.
Di dalam tubuh Jun Ho dan Wen An ada racun yang ganas, namun racun tersebut bekerja sangat lamban sehingga pemilik tubuh tidak merasakan ataupun merasa curiga jika ada racun yang bersarang pada tubuh mereka.
Racun bekerja perlahan menggerogoti organ vital dalam tubuh kedua ayahnya. Sehingga efek sampingnya seperti kurang enak badan, rasa sakitnya berpindah-pindah. Saat racun mulai perlahan menyerang paru-parunya, maka kedua ayahnya akan merasakan batuk dan sesak napas.
Sewajarnya sakit dan hal itu tidak akan menimbulkan rasa curiga, seperti orang yang sudah berumur mulai mengalami penurunan fisik.
****
Terima kasih sudah setia dan memberi support🙏🙏🙏
Jangan lupa Like dan komentar