
Setelah meninggalkan kediaman selir Chu Min, Wen An mendapatkan laporan anak buahnya bahwa bibi Ong telah menyelinap pergi meninggalkan kediaman Jenderal Jun Ho.
Dua pengawal bayangan telah mengikuti bibi Ong sampai ke tempat tujuannya. Ia pergi ke kediaman Qian yang tak lain adalah ayah dari selir Chu Min. Salah satu dari mereka kembali untuk melapor kepada Wen An. Sementara yang satu masih mengintai di rumah mantan perdana menteri Qian.
Setelah mendapat laporan dari bawahannya, A Wen segera melaporkan kepada Jun Ho.
Jun Ho hendak merebahkan badan, ia mendengar suara ketukan dan suara Wen An memanggilnya. Kemudian ia melangkahkan kakinya keluar dari kamar tidurnya.
“Tuan! hamba datang untuk melaporkan sesuatu,” ucap Wen An dari luar pintu.
“Masuklah, Wen An!” balas Jun Ho dari dalam.
Setelah mendapatkan balasan dari Jun Ho, Wen An membuka pintu dan memberi hormat kepada Jun Ho.
“Apa yang ingin kamu laporkan,” tanya Jun Ho
“Hamba mendapatkan laporan dari pengawal bayangan yang mengikuti bibi Ong menyelinap keluar dari kediaman. Dia pergi ke kediaman Qian, setelah mendapatkan perintah dari selir Chu Min,” lapor Wen An.
“Pantau mereka dan laporkan padaku setelah mendapatkan informasi,” balas Jun Ho.
“Baik, tuan!” balas Wen An.
“Apakah Chu Min membuat ulah?” tanya Jun Ho.
“Selir Chu Min tadi berteriak-teriak ingin bertemu tuan besar, selir Chu Min sengaja melakukan keributan untuk mengalihkan perhatian agar bibi Ong bisa menyelinap keluar dari kediaman dengan aman!” balas Wen An.
“Ular betina itu tidak ada berhentinya membuat hidupku kacau. Rasanya ingin segera membunuhnya jika aku tidak memiliki tujuan itu!” ucap Jun sambil menghelakan napas panjang.
“ Apakah kita harus mempercepat rencana kita, tuan! Menurut hamba sudah waktu nya tuan memberitahu tuan muda Ming Se dan nona muda Mey Yui,” saran Wen An kepada Jun Ho.
“Akan aku pikirkan lagi, aku tidak mau putriku dalam bahaya. Putriku belum cukup kuat jika terjadi sesuatu,” jawab Jun Ho.
“Hamba pikir nona Mey Yui sekarang berbeda tidak seperti dulu, nona muda sudah membuka diri dan lebih percaya diri. Untuk keamanan hamba pikir kita hanya memberi pengawal bayangan tambahan untuk nona. Menurut laporan dari pengawal bayangan kita ada 10 pengawal bayangan dari tuan Yuan berada di sekitar nona,” lapor Wen An.
“Kau benar, Yuan sangat mencintai putriku. Dia telah memberikan orangnya untuk menjaga keselamatan Mey Yui. Aku akan memberitahu jika Ming Se kembali,” balas Jun Ho.
“Hamba pamit undur diri, tuan!” pamit Wen An.
“Baiklah! Aku sudah sangat lelah dan ingin beristirahat. Lalukanlah pekerjaanmu,” jawab Jun Ho.
Wen An memberi hormat dan kemudian meninggalkan kamar Jun Ho. Sedangkan Jun melanjutkan istirahatnya yang telah terganggu dengan kedatangan Wen An.
“Ada perlu apa kau ingin bertemu denganku?” tanya Qian Bun Ho kepada bibi Ong yang bersimpuh di lantai.
“Hamba di suruh nyonya Chu Min untuk mengantar surat untuk tuan besar,” jawab bibi Ong sambil menyerahkan surat dari Chu Min.
Qian Bun Ho mengangguk dan menerima surat dan kemudian membacanya. Setelah membaca surat tersebut wajahnya langsung memerah dan meremas surat tersebut menahan marah.
Surat tersebut langsung ia bakar dengan kekuatannya. Kemudian ia memandang wajah bibi Ong yang sedang menunduk.
“Apa kabarmu Ong? Apakah kau baik-baik saja bersama Chu Min?” tanya Qian Bun Ho.
“Hamba baik-baik saja, tuan! Bagaimana keadaan tuan? Jangan sering terlambat makan, nanti penyakit tuan bisa kambuh,” balas bibi Ong.
“Hanya kau yang sangat mengerti aku dan perhatian denganku. Apakah kau masih belum bisa memaafkan kesalahanku. Sampai kau menghukumku seperti ini, Ong. Kau tidak mau tinggal di kediamanku dan tak ingin berdekatan denganku. Kau lebih memilih menjaga Chu Min,” ucap Qian Bun Ho sambil berkaca-kaca.
“Hamba sudah memaafkan tuan besar, tapi maafkan hamba belum bisa berada di sisi tuan. Hamba selalu teringat kenangan masa lalu yang sangat menyakitkan, tuan!” balas bibi Ong.
Qian Bun Ho menghela napas kemudian ia bangkit dari duduknya dan menghampiri bibi Ong. Ia menyuruh bibi berdiri, Qian Bun Ho membantu bibi Ong berdiri dan kemudian ia memeluk bibi Ong.
Ternyata bibi Ong adalah cinta pertama Qian Bun Ho. Saat mereka masih muda, keduanya saling mencintai dan Qian Bun Ho berjanji untuk menikahinya. Karena perbedaan status mereka akhirnya Qian Bun Ho di jodohkan dengan putri bangsawan.
Qian Bun Ho menolak perjodohan tersebut. Karena telah memiliki orang yang ia cintai. Orang tua Qian Bun Ho berjanji jika Bun Ho bersedia menikahi putri bangsawan tersebut, ia boleh mengambil bibi Ong sebagai selir.
Bun Ho setuju dengan syarat dari orang tuannya. Pada saat itu bibi Ong sedang hamil muda dan Bun Ho belum mengetahuinya. Sebelum Bun Ho menikah dengan putri bangsawan. Bibi Ong telah di bawa masuk ke kediamannya.
Setelah tiga bulan kehamilan bibi Ong, Bun Ho mengutarakan permintaan orang tuanya. Bibi Ong menyadari kondisinya yang tidak sepadan dengan Bun Ho. Ia hanya bisa menyetujuinya, karena tidak akan mungkin juga dirinya menikah dan menjadi istri sah Bun Ho. Meski kecewa dan sakit hati namun ia tetap menerima keputusan dari Bun Ho.
Bibi Ong memberitahu Bun Ho jika dirinya sedang hamil. Bun Ho sangat bahagia mendengar kehamilan dari bibi Ong. Ia berjanji akan selalu menjaga dan melindungi bibi Ong.
Namun apalah daya, setelah Bun Ho menikah dan istri sahnya masuk ke kediamannya. Saat itulah bencana buat bibi Ong, tanpa sepengetahuan mereka berdua. Istri sah Bun Ho memberikan racun untuk menggugurkan kandungannya. Istri sah Bun Ho sangat marah kepada bibi Ong.
Istri sah Bun kecewa dengan Bun Ho dan kedua orang tuanya yang tidak memberitahunya jika Bun Ho telah memiliki seorang wanita yang kini telah hamil. Ia berusaha membunuh bibi Ong dan bayi dalam kandungannya. Sejak ia menikah dan masuk ke kediaman Bun Ho, belum satu kali pun Bun Ho mendatanginya.
Bahkan Bun Ho meninggalkannya sendiri di dalam kamar pengantinnya. Bun Ho justru menemani bibi Ong di kediamannya. Hal tersebut membuatnya dendam dan ingin menyingkirkan bibi Ong dan janinnya.
Ketika Bun Ho tidak ada di kediaman bibi Ong di siksa oleh istri Bun Ho. Ia juga diancam akan di bunuh jika melapor kepada Bun Ho. Bahkan bibi Ong di paksa untuk minum obat pengguguran kandungan. Bibi Ong menolak saat di suruh minum obat tersebut, namun ia di paksa dengan para pelayannya.
********
Terima kasih sudah setia mampir, jangan lupa like dan komentarnya