Kezia Story

Kezia Story
BAB 42



Suasana hati kedua insan berbunga-bunga, bagaikan dunia milik mereka berdua. Setelah adegan roman-roman mereka meninggalkan restoran.


Mereka jalan-jalan menyusuri jalanan ibukota yang ramai. Mey Yui sangat bahagia dan menikmati suasana ibukota, meskipun di bawah terik matahari namun tidak menyurutkan suasana hatinya.


“Kak Yuan, aku ingin manisan tanghulu itu,” ucap Mey Yui sambil menunjuk penjual tanghulu.


“Jika kamu mau, mari kita membelinya” jawab Yuan dengan menggandeng tangan Mey Yui, mereka menghampiri pedagang tanghulu.


Mey Yui mengambil manisan tanghulu dengan wajah bahagia seperti anak kecil yang baru mendapatkan mainan baru.


Ia memegang tanghulu sambil memutarkan badannya dan memamerkan manisan tanghulu kepada Yuan.


“Kak Yuan... manisan ini sangat enak... Apakah kakak mau mencicipinya,” ucap Mey Yui sambil menyodorkan tanghulu ke mulut Yuan.


Yuan tersenyum, hatinya sangat bahagia melihat keceriaan Mey Yui. Ia membuka mulutnya saat Mey Yui menyodorkan tanghulu ke mulutnya.


“Kamu benar sayang, rasanya enak. Manis, masam, tapi kamu jangan banyak-banyak makannya. Aku kuatir kamu akan sakit perut,” ucap Yuan sambil mengelus kepala Mey Yui.


“Ya, kak.. Aku hanya penasaran dengan cita rasa manisan tanghulu,” jawab Mey Yui.


Setelah membayar manisan tanghulu mereka melanjutkan jalan-jalan. Banyak mata memandang mereka berdua, pasangan yang sempurna. Bagi para wanita sangat terpesona dengan kegagahan pria bertopeng. Di balik topengnya menyimpan wajah tampan membuat para wanita penasaran. Dan bertanya-tanya dalam hati siapakah pria tersebut.


Sementara bagi para pria yang memandangi Mey Yui kagum seperti mau menerkam, hal ini membuat Yuan geram dan kesal. Ia melupakan bahwa dirinya juga menjadi pusat perhatian para gadis. Namun ia sama sekali tidak memedulikan. Yuan semakin erat menggandeng tangan Mey Yui.


“Kak Yuan, tanganku sakit. Jangan terlalu kuat kalo menggenggam tanganku,” protes Mey Yui.


Yuan tak menyadari jika telah menyakiti Mey Yui. Ia kesal dengan pria yang memandangi Mey Yui dengan tatapan memuja.


“Maafkan aku, sayang! Aku tak sengaja, aku kesal dengan para pria yang memandangimu. Saat ini kamu menggunakan cadar saja, mereka memandangimu seperti itu. Apalagi jika mereka melihat wajah aslimu, membuatku kesal ingin mendongkel matanya,” geram Yuan sambil mengelus-elus dan meniupi tangan Mey Yui yang merah.


“Kak Yuan, sok posesif! Tu lihat banyak mata gadis yang melotot mau keluar. Mereka memandangi kakak seperti mau menerkam saja,” balas Mey Yu.


Yuan mengerutkan dahinya mendengar ucapan Mey Yui dan kemudian tersenyum


“Kamu cemburu, sayang?” goda Yuan


“Siapa cemburu? Kalo pede jangan di gas pol, kak! Ups... salah ngomong! Maksud aku jangan terlalu percaya diri,” balas Mey Yui.


Yuan meraih bahu Mey Yui dan menggeser agar berhadapan dengannya. Kata ‘Pede’ di gunakan oleh orang jaman modern bukan jaman kuno. Yuan memang merasa curiga sejak awal mereka bertemu bersama Ming Se. Namun ia menepis kecurigaannya kali ini ia akan mengorek dari Mey Yui.


“Sayang... dari mana kamu bisa mengetahui kata ‘pede’?” tanya Yuan dengan serius.


“Hadeh.. mati aku.. kenapa keceplosan pula, biasa gaswat ini,” batin Mey Yui


“Hhmm itu...hhmm itu... aku lupa, kak! Aku mendengar dari siapa? Mungkin aku mendengar dari para pelayan saat bercanda, mereka sering menggunakan bahasa yang aneh-aneh tapi menarik. Jadi aku ikutan menggunakan. Dan tak sengaja mengucapkan pada kakak,” jelas Mey yui dengan jantung dak, dik, duk, deng.


“Semoga cowok kuno ini percaya dengan alasanku.. jantungku sudah dangdutan rasanya mau joget-joget,” ucap Mey Yui dalam hati.


“Benarkah? Tapi aku merasa tidak hanya kamu yang menggunakan bahasa aneh. Ming Se dan A sen juga menggunakan bahasa aneh dan kalian mengerti dengan bahasa tersebut,” jawab Yuan yang masih tak percaya.


“Itu karena mereka sudah terbiasa denganku yang sering menggunakan bahasa aneh, kak” jelas Mey Yui


“Baiklah untuk saat ini aku mempercayaimu, namun jika kamu ada sesuatu yang kamu sembunyikan dan kamu masih belum bisa menceritakan padaku. Aku akan setia menunggu hingga kamu siap jujur padaku,” ucap Yuan dengan lembut, ia tak memaksa Mey yui untuk jujur padanya. Namun ia yakin bahwa Mey Yui dan kedua kakaknya menyembunyikan sesuatu.


Mey Yui hanya menganggukkan kepalanya dan menghindari tatapan mata Yuan.


Mey Yui malu mengingat adegan ciuman mereka. Rona wajahnya memerah, ia menundukkan kepalanya.


“Hhmm... Apakah kamu kepanasan? Wajah dan telingamu merah,” tanya Yuan


“Oh.. nggak, kak! Ayo kita ke toko perhiasan itu,” ucap Mey Yui mengalihkan pembicaraan.


“Hhmm... kamu selalu mengalihkan pembicaraan. Apakah kamu sedang mengingat adegan saat kita berciuman, sayang? Sehingga kamu kabur dari pertanyaanku?” goda Yuan yang gemas dengan reaksi Mey Yui yang malu-malu.


“Kak Yuan... Jangan membuatku malu.. Ngga ada lagi cium-cium,” ucap Mey Yui dengan wajah merona dan meninggalkan Yuan.


Yuan tersenyum melihat kekasihnya merajuk. Bukannya marah namun ia tersenyum, gemas dengan kekasihnya.


“Eh.. sayang! Kok aku ditinggali,” ucap Yuan saat tersadar telah di tinggal oleh Mey Yui.


Yuan mengejar Mey yui dan meraih tangan Mey Yui lalu menggandengnya.


“Jangan berani-beraninya meninggalkan aku! Apakah kamu tidak takut jika kekasihmu ini di pungut oleh gadis lain? Karena di tinggalkan kekasihnya di jalan sendirian,” goda Yuan sambil menaik turunkan alisnya dan tersenyum.


“Gadis mana yang berani mengambil kekasihku? Apakah dia mempunyai nyali yang besar? Aku tak akan membiarkan gadis lain memungutmu apalagi dengan terang-terangan mengambilmu dari sisiku!"


"Aku paling tidak suka jika di duakan. Perlu kakak ingat jika kamu mengkhianatiku akan aku pastikan kamu tidak akan pernah bisa bertemu denganku lagi,” omel Mey Yui tanpa sadar mengakui perasaannya dan mengakui Yuan sebagai kekasihnya.


“Benarkah itu sayang? Kamu tidak akan membiarkan gadis lain mengambil kekasihmu ini?” Goda Yuan


“Omg.. sialan kenapa aku tidak bisa mengendalikan mulutku. Emang ini mulut minta di sekolahkan biar tidak ngomong sembarangan. Atau mulutku harus aku pasang rem? Jika keceplosan ngomong ada yang mengerem,” ucap Mey Yui dalam hati


Mey Yui semakin salah tingkah karena secara tak sadar mengakui Yuan sebagai kekasihnya.


“Lalu?” jawab Mey Yui singkat ia benar-benar malu.


“Sayang.. kenapa kamu tidak menjawab?” desak Yuan.


“Apa perlu aku jawab, kak? Jika kakak sudah mendengarnya,” balas Mey Yui yang berusaha sebisa mungkin menghindar.


“Hahaha.. baiklah sayang, aku tidak akan memaksa kamu. Terima kasih, itu sudah cukup bagiku mengetahui perasaanmu,” ucap Yuan bahagia.


Mereka masuk ke toko perhiasan, pintu di buka dan pelayan toko langsung menyambut mereka.


“Selamat datang di toko kami tuan dan nona, apakah ada yang bisa saya bantu?” ucap pelayan toko menyambut kedatangan Yuan dan Mey Yui dengan ramah.


“Kami ingin melihat-lihat dulu,” jawab Mey Yui.


“Tidak masalah nona, silakan melihat barang yang ada di toko kami. Semoga ada yang menarik perhatian nona,” ucap pelayan dengan sopan dan mempersilahkan mereka untuk melihat-lihat koleksi barang di toko tersebut.


Mereka berjalan melihat-lihat koleksi perhiasan di toko tersebut. Mey Yui antusias melihat pernak pernik perhiasan jaman kuno. Yuan mengikuti Mey Yui hanya tersenyum samar, ia benar-benar ingin memanjakan Mey Yui saat bersama.


“Kak Yuan, anting ini sangat cantik dan lucu,” Mey Yui menunjuk sebuah anting kepada Yuan.


Yuan menganggukkan kepala dan berkata,” apakah kamu menginginkan anting ini, sayang?” Tanya Yuan


Mey Yui belum menjawab tiba-tiba ada seorang gadis menyerobot dan mendorong Mey Yui dari samping. Yuan dan Mey Yui tidak menyadari jika gadis yang berdiri di samping Mey yui tiba-tiba mendorong tubuh Mey Yui saat Mey Yui akan mengambil anting.


Yuan dengan cekatan menahan dan meraih tubuh Mey agar tidak jatuh. Meski Mey Yui tidak akan jatuh namun karena mereka melonggarkan kewaspadaan sehingga gadis di samping Mey Yui dengan mudahnya mendorong tubuh Mey Yui.