Kezia Story

Kezia Story
BAB 58



Setelah kepergian Yuan dari kediaman jenderal Jun Ho. Mey Yui masuk ke dalam kamar, ia berencana ingin mengintai selir Chu Min. Setelah ia mengganti pakaiannya dengan pakaian serba hitam seta wajahnya juga di tutup dengan kain hitam ia melesat ke arah kediaman selir Chu Min.


Setibanya di atap kediaman selir Chu Min ia membuka genting atapnya dan mulai mengintai. Di bawah nampak selir Chu Min dan Bibi Ong berbicara dengan serius.


“Bibi Ong, apakah kamu sudah menyiapkan teh serta kue kesukaan suamiku?” tanya selir Chu Min.


“Semua sudah hamba siapkan, nyonya. Dan ini obat perangsang yang nyonya inginkan,” balas bibi Ong sambil menyerahkan bubuk perangsang.


“Aku akan mengulang kembali seperti kejadian di masa lalu. Dengan bubuk pesona ini yang bisa mengantarkanku menjadi selir jenderal perang Lie Jun Ho.”


Aku dulu berpikir setelah kejadian itu, aku tidak akan pernah menggunakan bubuk pesona ini,” ucap selir Chu Min sambil memegang bungkusan obat perangsang dan pikirannya menerawang mengingat kejadian di masa lalu.


Tak terasa air matanya keluar dari sudut matanya, kemudian selir Chu Min mengusap air matanya dengan sapu tangannya.


“Nyonya, saat ini bukan saatnya untuk bersedih. Jangan menunda lagi, antarkan teh dan kue kesukaan tuan besar,” ucap bibi Ong.


“Baiklah mari kita pergi ke ruang kerja suamiku,” balas selir Chun Min kemudian ia berdiri dan bercermin untuk merapikan riasan wajahnya.


Sementara Mey Yui berada di atap kediaman selir Chu Min hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan selir Chu Min. Masih saja tidak belajar dari pengalaman, mengejar orang yang tidak mencintainya dengan menghalalkan segala cara.


“Aku akan merusak rencana selir Chu Min, biar ayah mengetahui rencana selirnya. Aku ingin mengetahui reaksi ayah,” gumam Mey Yui.


Kemudian Mey Yui melesat ke ruang kerja ayahnya. Ketika sudah sampai di atap ruang kerja ayahnya ia Tidak menemukan ayahnya. Kemudian ia perlahan memasuki ruang kerja ayahnya melalui jendela ruangan yang terbuka.


Mey Yui berjalan mendekati meja kerja ayahnya. Ia mengambil kuas dan menulis pesan yang di letakkan di sela-sela buku laporan ayahnya. Ia mendengar suara langkah kaki mendekat ke ruang kerja ayahnya. Kemudian ia meninggalkan ruang kerja ayahnya, sebelum kepergok.


Mey Yui kembali ke atap ruang kerja ayahnya. Dan mengintip dari cela-cela genting. Ia melihat ayahnya berjalan menuju meja kerjanya.


Saat jenderal Jun Ho akan membuka buku laporannya ia melihat sebuah pesan singkat.


“Selirmu akan datang dan membawakan teh yang sudah di campur dengan obat perangsang! Siapa yang mengirim pesan ini?” pesan singkat telah ia baca.


Jenderal Jun Ho meremas kertas tersebut dengan geram, wajahnya merah menahan emosinya.


“Chu Min! Masih saja tak tahu diri dan tak tahu malu! Selama ini aku belum mempunyai bukti atas kelicikanmu sehingga aku tidak bisa berbuat apa-apa.”


“Kau telah merusak kebahagiaanku bersama istri dan kedua anak yang sangat aku sayangi. Dia telah menjebakku dan sekarang jika benar informasi dari pesan ini, Chu Min akan mengulangi kembali kejadian di masa lalu,” gumam Jun Ho.


Mey Yui menaikkan kedua alisnya saat mendengar apa yang diucapkan oleh jenderal Jun Ho, ia penasaran dengan apa yang ia dengar. Ada rahasia apa yang di sembunyikan oleh Jun Ho. Kenapa dia mengabaikan Mey Yui.


“Menarik!” batin Mey Yui sambil memperhatikan pintu ruang kerja jenderal Jun Ho yang terbuka.


Selir Chu Min masuk ke ruang kerja suaminya dan diikuti oleh para dayang dari belakang dengan membawa teh dan kotak tempat kue.


Lalu selir Jun Ho mengkode para pelayannya untuk meninggalkan ruang kerja suaminya.


Jenderal Jun Ho tidak merespon, ia masih fokus dengan buku laporannya. Tak memedulikan selirnya yang berusaha menghentikan aktivitasnya.


Jun Ho yang dari tadi sudah menahan emosinya, ia sengaja menepis tangan selir Chu Min yang sedang membawa teh. Teh panas tumpah dan mengenai selir Chu Min.


“Apakah kau buta! Tidak melihatku yang sedang sibuk! Kenapa kau datang kemari tanpa aku panggil! Sebelumnya aku sudah memperingatkanmu untuk tidak datang ke ruang kerjaku jika tidak aku suruh!” bentak Jun Ho.


Selir Chu Min terkejut saat suaminya membentak dirinya. Ia tak menyangka selama ini meski pun Jun Ho tidak pernah memedulikan dirinya, namun ia tak pernah berbicara dengan keras apalagi membentaknya.


Dalam benak selir Chu Min, Jun Ho telah berubah kasar dengannya mungkin ada wanita yang akan dijadikan istrinya atau selirnya.


“Tuan, kenapa kau tega padaku?” Apa salahku jika aku ingin memberikan teh dan kue kesukaan suamiku sendiri,” ucap selir Chu Min sambil menangis.


“HentikaN tangisanmu yang menjijikkan! Aku paling tidak suka jika ada yang mengabaikan perintahku. Aku sudah melarangmu datang ke ruang kerjaku sesuka hatimu! Kenapa kau langgar? Apakah kau merencanakan sesuatu untuk menjebakku?” ucap Jun Ho dengan lantang.


“Apa maksud tuan? Tega sekali tuan memfitnah aku, di mana hati nuranimu? Selama ini aku sangat mencintaimu dan selalu berharap agar kamu membuka hatimu sedikit saja untukku. Namun apa yang aku dapatkan? Sampai sekarang pun hatimu tertutup untukku,” tangis selir Chu Min mulai terdengar pilu.


“Siapa yang menyuruhmu untuk mencintaiku! Dari awal kau sudah mengetahui jika aku telah memiliki istri yang sangat aku cintai. Tapi kau... dengan keegoisanmu telah menjebakku, sehingga mengakibatkan istri tercintaku sakit hati dan menderita,” balas Jun Ho.


“Aku tidak menjebakmu, aku juga tidak tahu mengapa tiba-tiba saat aku terbangun sudah berada di kamar yang sama denganmu,” elak selir Chu Min.


“Jika ingat kejadian masa lalu, aku sangat jijik dengan diriku sendiri! Kenapa aku bisa dengan bodohnya masuk dalam jebakanmu.”


“Bahkan sampai saat ini aku masih meragukan apakah benar aku yang pertama untukmu. Atau kau sengaja menjebakku saat kau sudah berbadan dua sehingga dengan mudah kau bisa melancarkan rencanamu,” maki Jun Ho yang sudah tak kuat lagi menahan kecewanya selama ini.


“Sampai hati kau ucapkan kata jijik padaku, apakah aku begitu menjijikkan sehingga tak pantas untukmu. Kau menuduhku seperti itu! Kau bahkan selama ini tak pernah lagi menyentuhku sejak kejadian itu,” ucap selir Chu Min dengan terbata-bata karena menangis.


“Kau tahu kenapa aku tidak pernah menyentuhmu namun aku membiarkanmu masuk ke dalam kehidupanku. Dan aku menjadikanmu selir sampai istri tercintaku telah tiada. Kau ingin tahu?” ucap Jun Ho sambil memegang dagu selir Chu Min.


Selir Chu Min hanya menggelengkan kepalanya dan meneteskan air matanya


“Dengarkan alasanku!”


“Saat kau menjebakku, aku sengaja membiarkanmu menang di atas angin. Aku menjadikanmu selir dengan untuk menghukummu. Aku sengaja tidak mau mendatangi kediamanmu bahkan aku tidak akan pernah aku menyentuhmu lagi. Bagaimana rasanya? Menunggu dan berharap kedatanganku!”


“Kau telah merusak kebahagiaan keluargaku! Betapa sedih dan menderitanya istri tercintaku di saat dia hamil anak kedua kami, mengetahui suaminya ditemukan oleh banyak para pejabat tidur bersama wanita lain. Apakah kamu memikirkan perasaan seorang istri yang sedang mengandung dan suaminya telah kau jebak?”


“Tentu saja kau tidak akan memikirkan perasaan istriku! Karena kau hanya memikirkan keberhasilanmu! Kau bahagia di atas penderitaan istriku! Itu karena keegoisanmu!” Jun Ho meluapkan emosinya yang selama ini ia pendam.


Selir Chu Min tak bisa berkata apa-apa, ia hanya menangis dan menundukkan kepalanya. Menyesal pun sudah percuma, itulah yang ia rasakan.